If You Met Me First...

If You Met Me First...
Dicopot



Kantor Blair and Blair Advocate Manhattan New York


Pagi ini Thea datang ke kantornya seperti biasanya dan bertemu dengan Phoenix Hamilton yang juga baru datang.


"Pagi Thea, naik apa kemari?" tanya Phoenix saat mereka menunggu di depan lift.


"Pagi Phoenix. Naik sepeda... Hahahaha. Lihat bajuku masih baju olah raga, gara-gara bangun kesiangan..." jawab Thea yang memang masih mengenakan jaket olahraga dan celana legging serta sepatu sneaker. Di punggung gadis itu ada backpack Supreme yang Phoenix yakin berisikan baju ganti Thea.


"keasyikan liburan ya?" goda Phoenix sambil masuk ke dalam lift.


"Iya. Lumayan lho tiga hari..." senyum Thea dengan wajah sedikit memerah.


Keduanya keluar dari lift yang sudah tiba di lantai tempat mereka bekerja lalu menuju ruang kerja masing-masing. Thea sendiri memilih ke kamar mandi pegawai untuk mandi dan berganti pakaian.


Lima belas menit kemudian, Thea sudah rapih dan profesional, duduk di atas kursinya. Gadis itu mulai bekerja untuk sidang esok, membuat penutup dari kasus pencurian seorang nenek yang mengalami dimensia. Thea hendak meminta juri untuk tidak menghukum nenek itu ke penjara melainkan ke panti jompo mengingat usianya sudah 87 tahun.


Suara ketukan di pintu, membuat Thea mendongak dan tampak wajah dingin Nelson Blair disana. Perasaan Thea langsung tidak enak melihat wajah kakak sepupunya yang juga Bossnya.


"Thea, bisa ke ruangan aku ?" ucap Nelson dingin. "Sekarang."


"I...iya mas..." Thea membereskan laptopnya dan berjalan mengikuti Nelson menuju ruang kerja pria itu.


Nelson membuka pintu ruang kerjanya dan menghela adiknya masuk lalu menutup pintu.


"Duduk, Thea" ucap Nelson sambil berjalan ke kursinya dan Thea pun duduk di kursi depan meja kerja kakaknya.


"Ada apa mas? Apa pekerjaan aku ada yang salah?" tanya Thea menatap kakak nya.


Nelson diam saja tapi menyerahkan foto-foto Thea yang sedang berlibur bersama Hugo, Shane dan Apsarini.


"Apa benar kamu pergi dengan Hugo Melker ke Maine?" tanya Nelson.


"Iya mas."


"Tinggal dalam satu cottage?"


"Iya mas."


"Kalian tidur bersama?" tanya Nelson yang menatap tajam.


"Nggak mas, aku tidur di kamarku sendiri, Hugo di kamarnya sendiri..." jawab Thea apa adanya.


"Apa kalian berpacaran?" Mata hijau Nelson semakin menatap tajam ke arah Thea.


Thea hanya mengangguk pelan.


Nelson mengusap wajahnya. "Thea... "


"Maaf mas... Tapi kami memang berpacaran sejak di Maine kemarin..." jawab Thea. "Aku tidak mau ramai-ramai dulu sebelum Hugo benar-benar bebas dan pembunuh istrinya tertangkap dan dihukum."


"Thea, tapi ini semua keluarga sudah tahu ! Oom Adrian sampai ngamuk ke Mas Nelson karena mas tidak menjaga kamu... Dengar Thea, kita tahu Hugo tidak bersalah tapi saat ini dia masih menjadi klien kita ! Kamu tahu konsekuensinya kan ? Dan mulai detik ini, kamu mas copot jadi pengacara Hugo. Biar Phoenix yang pegang kasus Hugo !" ucap Nelson tegas.


"Tapi mas, aku sudah janji dengan Hugo akan menemaninya ke gedung FBI nanti jam sepuluh. Bang Omar meminta Hugo dan Larry datang..." Thea menatap melas ke Nelson. Gadis itu tahu konsekuensinya berpacaran dengan klien, berarti ditarik menjadi pengacaranya agar tidak ada bias disana.


"Baik. Ini hari terakhir kamu menjadi pengacara Hugo."


Thea mengangguk.


"Thea, mas tidak melarang kamu pacaran tapi kenapa harus Hugo Melker?" tanya Nelson dengan nada lebih lembut.


"Mas Nelson, jika panah cupid sudah menancap, apakah bisa ditolak?" jawab Thea.


Nelson menghela nafas panjang. Thea dan Apsarini memang sebaya, keduanya akhirnya mendapatkan pasangan yang membuat dirinya antara lega dan khawatir.


"Benar. Jika panah cupid sudah menancap mau bilang apa. Tapi Thea..."


"Mas, aku sudah bilang sama Hugo. Kami akan menutup hubungan kami dan Hugo akan menemui Daddy jika sudah selesai semuanya..." jawab Thea yakin.


Nelson menatap wajah cantik adiknya. "Hugo bilang begitu?"


"Iya mas. Memang secara etika salah karena belum ada dua bulan, Hugo sudah move on tapi dia kan pria yang tidak membutuhkan masa Iddah kan ? Lagipula, sejak tahu Salsabila selingkuh, semua perasaannya langsung hilang."


"Aku bisa membayangkan perasaan Hugo dan mungkin kalau aku di posisinya. Sebab bagaimana pun, sebagai pria maupun wanita, yang namanya selingkuh, akan membuat rasa yang pernah ada itu akan hilang. Kecuali kamu memiliki cinta yang dalam tapi kondisinya yang menjadi teman selingkuh nya adalah musuhnya saat perang."


Suara ketukan di pintu ruang kerja Nelson membuat pria itu membuka pintu secara otomatis.


"Son, ada Hugo Melker di lobby mencari Thea.. Apa Thea ada di... Hai, Thea. Dicari klienmu" ucap Phoenix saat pintu sudah terbuka.


"Kamu temui Hugo Melker dulu Thea, mas Nelson mau bicara dengan Phoenix." Nelson memberikan kode ke Thea untuk keluar.


"Baik mas." Thea pun berdiri dan berjalan keluar dari ruang kerja Nelson. "Phoenix" senyum gadis itu saat melewati sepupu Mamoru Al Jordan Hamilton Bradford di pintu.


"Thea" balas Phoenix. Thea pun keluar dari ruang kerja Nelson.


"P, masuk. Ada hal yang harus aku bicarakan padamu." Nelson memberikan kode ke sepupu jauhnya itu.


Phoenix pun masuk ke dalam ruang kerja Nelson sambil menutup pintu.


***


Thea menemui Hugo di lobby yang langsung tersenyum melihat gadisnya datang.


"Pagi Miss Ramadhan" sapa Hugo formal.


"Pagi Mr Melker. Mari ke ruangan saya karena ada beberapa hal yang harus dibereskan sebelum kita ke FBI" ajak Thea sambil melihat Apple watch nya yang menunjukkan pukul 9 pagi.


Hugo mengikuti Thea menuju lift dan saat keduanya di dalam, Hugo mencium bibirnya lembut. "Good morning sayang."


"Hugo, please. Jangan disini !" desis Thea. "Mas Nelson sudah tahu. Pengawal Daddy melihat dan memotret kita saat di Maine ... "


Hugo terkejut. "What? Lalu ... Apa yang akan terjadi pada kita ?"


"Yang jelas, aku dicopot menjadi pengacara kamu. Phoenix yang akan menggantikan aku..." jawab Thea.


Hugo mengusap wajahnya kasar. "Damn it..."


"I'm sorry Hugo ... Aku sudah tidak profesional dalam pekerjaan aku tapi kita tidak bisa mencegah soal perasaan..." ucap Thea pelan.


Hugo memeluk Thea. "Maafkan aku yang membuat kamu jadi mendapatkan hukuman dari kakakmu..."


"Ini sudah konsekuensinya, Hugo." Thea melepaskan pelukan Hugo saat pintu lift hendak terbuka. "Yuk kita persiapkan untuk pertemuan dengan bang Omar dan bang Billy."


Hugo mengangguk dan mengikuti Thea ke ruang kerjanya.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️