
Cottage tempat Apsarini dan Shane menginap
Apsarini menatap Shane yang hanya tersenyum manis. Gadis bermata biru itu menatap mata biru Shane yang memandang nya lembut.
"Benarkah itu Shane?" tanya Apsarini. "Kamu suka sama aku?"
"Benar dan aku tidak mengada-ada. Aku sudah tertarik padamu setahun lalu, saat pernikahan Bayu dan Ajeng. Hanya saja, kamu kan bekerja di Helsinki Finlandia, jadi aku tidak bisa bertemu denganmu seenaknya karena aku tidak ada urusan bisnis disana..." jawab Shane.
"Why?" tanya Apsarini.
"Sebab Sari..." Shane mendekati Apsarini. "Mana ada Cinderella benar-benar melupakan sepatunya demi acara lempar buket bunga."
Apsarini tertawa kecil. "Dan prince charming datang tergopoh-gopoh dengan membawa sepatu milik Cinderella?"
Shane mengangguk.
"Shane, aku bukan gadis baik ... Orang tuaku tidak pernah menikah resmi... Aku pernah ingin merebut suami mbak Mintang..." Apsarini menatap Shane dengan tatapan sedih. "Bagaimana kamu bisa suka dengan gadis seperti ini?"
"Tapi kamu memilih Keluarga bukan? Akhirnya kamu sadar bahwa semua akan menjadi baik jika kita menyadari kesalahan dan hal yang tidak sesuai etika... Aku tahu, kita memang tinggal di negara bebas, yang sering tidak perduli akan norma dan etika tapi kamu adalah seorang Neville, keturunan Pratomo... Suka tidak suka, ada banyak gen baik dalam dirimu .." Shane memeluk pinggang Apsarini. "Aku sudah tahu semua tentang kamu, Sari. Dan aku tahu sebenarnya adalah kamu gadis baik dan aku juga bukan pria suci. We have our own sin..."
Apsarini menatap wajah Shane. "Yakin ini bukan pelarian karena Nadya sudah menikah?"
Shane tertawa. "No, Sari. Sejak bertemu denganmu, aku tidak pernah memikirkan Nadya."
"Tapi Shane... Kamu kan tahu..."
"Kita jalani dulu saja, Sari. Jika memang kita berjodoh, semua syarat keluarga besarmu, akan aku penuhi... Lagipula, syarat yang mereka ajukan adalah syarat yang baik. Bukan syarat yang aneh-aneh..." Shane semakin mendekatkan bibirnya ke bibir Apsarini. "Kita pacaran?"
"Kita jalani..." suara Apsarini menghilang saat Shane mencium bibirnya lembut. Mata gadis itu terpejam dan meresapi rasa yang muncul di hati dan pikirannya saat bibir Shane menyentuh bibirnya. Apsarini merasakan bagaimana pria itu penuh perasaan padanya.
Kedua tangan Apsarini mengalung di leher Shane membuat pria itu semakin dalam mencium bibir gadis itu hingga punggung Apsarini menempel di tembok. Keduanya masih saling berciuman saat telinga gadis itu mendengar suara dering ponselnya.
"Shane... Shane... Stop... itu daddyku telepon..." ucap Apsarini dengan nada terengah apalagi Shane mencium ceruk lehernya.
"Hah?" Shane menatap Apsarini bingung. "Oom Tristan telephom?"
Apsarini melepaskan pelukan Shane dan bergegas mengambil ponselnya dari dalam tas. Gadis itu mengambil nafas dalam-dalam untuk menetralisir getaran tubuhnya baru menerima panggilan ayahnya.
"Assalamualaikum Daddy..." sapa Apsarini.
"Wa'alaikum salam. Kamu dimana Sari?" tanya Tristan Neville.
"Di Maine. Aku liburan mumpung Amerika ada libur tiga hari..." jawab Apsarini dengan nafas yang diatur sedemikian rupa.
"Sama siapa?" tanya Tristan.
"Sama Shane O'Grady. Daddy tahu kan..."
"Sepupunya Bayu, keponakannya mas Abi dan mbak Georgina. Kalian menginap bersama?" selidik Tristan. Meskipun Apsarini sudah dewasa, tapi Tristan tetap mengawasi nya karena dia tidak mau putrinya mengalami hal yang sama seperti ibunya.
"Nginap bersama tapi kamar masing-masing, Daddy..."
"Sari, Daddy minta..."
"Aku tahu Daddy. Don't worry. Percaya sama Sari..." potong Apsarini yang tahu Tristan sampai detik ini masih saja merasa bersalah dengan tunangannya yang juga ibu Apsarini.
"Maafkan Daddy sayang... "
"Daddy, sudah tidak apa-apa. Daddy percaya sama Sari. Oke? Daddy tenang saja."
"Baiklah... Have fun bersama Shane. Nikmati ya" ucap Tristan. "Salam buat Shane."
"Nanti aku sampaikan... Daddy jangan sibuk bekerja ya. Istirahat yang cukup..." senyum Apsarini.
"Wa'alaikum salam." Apsarini meletakkan ponselnya dan menoleh ke arah Shane yang sedari tadi memandang nya.
"Oom Tristan sehat?" tanya Shane.
"Alhamdulillah sehat. Salam dari Daddy."
"Salam kembali. Masih sibuk di Manchester United?" Shane lalu duduk di sofa dan diikuti oleh Apsarini yang duduk di sebelahnya.
"Masih lah ! Manchester United adalah hidupnya Daddy..." senyum Apsarini sambil meletakkan kepalanya di sofa.
"Ada apa Sari?" tanya Shane saat melihat wajah gadis itu sendu.
"Daddy... Ada ketakutan tersendiri aku seperti mommyku ... Hamil di luar nikah."
Shane memiringkan tubuhnya dan menyangga kepalanya dengan tangannya yang berada di sandaran sofa. "Dengar Sari, kekhawatiran ayahmu itu karena rasa bersalah yang terjadi sebelumnya dan itu menjadi ketakutan tersendiri. Wajar. Karena kamu adalah anak perempuan tapi kamu bukan mommymu. Kamu memiliki dua pilihan, seperti ibumu atau kamu memilih tidak seperti ibumu. Mau yang mana, semua itu ada di tanganmu."
Apsarini menoleh ke arah wajah tampan Shane. "Kenapa kalau aku melihat kamu seperti ini, mengingatkan aku pada mas Bayu... Serusuhnya mas Bayu, dia kakak yang bijaksana kalau adik-adiknya minta pendapat padanya."
"Meskipun Bayu itu punya darah Giandra dan Blair, tapi dia juga ada darah O'Grady jadi mirip lah. Aku memang bukan orang yang bijaksana sekali tapi semua hal bisa aku lihat secara obyektif dan logis. Ada sebab akibat sebelum kamu bertindak. Jika aku ambil langkah ini, apa konsekuensinya? Begitu juga langkah lainnya. Mana yang lebih minimal efek buruk jangka panjangnya, itu yang kamu pilih." Shane mengelus pipi Apsarini lembut. "You're smart girl, Sari. Dan aku yakin, kamu tahu langkah apa yang harus kamu ambil."
Mata biru Apsarini mengerjap-ngerjap karena sedikit memanas. "Thank you..."
"Aku hanya ingin mencium bibirmu dan setelahnya kita masuk kamar masing-masing karena aku juga tidak mau jadi orang munafik yang menasehati hal bagus padamu tapi aku mengambil keuntungan disana... " Shane mencium bibir Apsarini lembut. "Aku juga tidak mau dicap perusak anak gadis keluarga Neville."
Apsarini tertawa kecil. "Kita harus masuk ke kamar masing-masing, Shane... Aku ingin beristirahat."
"You're right. Aku juga ingin tidur."
Apsarini dan Shane bangun dari sofa lalu masuk ke dalam kamar masing-masing.
"Good night !" ucap mereka bersamaan.
***
Cottage tempat Hugo dan Thea menginap
Thea langsung membuat teh panas begitu masuk ke dalam cottage untuk menetralisir debar jantung nya karena untuk kali pertama, dia berada satu atap dengan pria yang bukan anggota keluarganya.
"Thea... " panggil Hugo dari meja bar tempat makan.
"Yes ... Mr Melker?" tanya Thea.
"Bisakah kita bicara dari hati ke hati?" Hugo menatap Thea serius.
Thea menyesap teh nya sambil memandang pria keturunan Serbia itu.
"Anda ... Mau bicara soal apa?" jawab Thea pada akhirnya.
Hugo tersenyum.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️