If You Met Me First...

If You Met Me First...
Hasil Test DNA



Kantor Blair and Blair Advocate Manhattan New York, ruang kerja Thea Ramadhan


"Tapi bang... Bagaimana mungkin?" Thea menatap Omar bingung. "Permen karet itu milik Jovan Malkovich, Larry Hughes sendiri yang mengambilnya!"


"Ternyata dari permen karet itu menempel sebuah putung rokok dan Larry Hughes tidak berani mengambilnya karena akan mengkontaminasi barang bukti. Dan dari situ kita bisa menganalisa, Thea."


"Dan hasilnya menunjukkan bahwa ada hubungan darah?" ucap Thea sambil melihat lagi tulisan yang ada di kertas itu.


"Dia memang adiknya Jovan Malkovich yang bertugas di sana untuk mengawasi si Bartender."


"Bang Omar sudah pernah bertemu dengannya?" tanya Thea.


"Lace? Dia memang melihat kami dan sedikit curiga. Coba lihat ini Thea. Aku sampai meminta Europol untuk memberikan DNA milik Jovan Malkovich dan kita lihat ada 13 persamaan DNA dimana..."


"Mereka bersaudara... " gumam Thea. "Bang Omar akan menangkap Lace?"


"Berdasarkan bukti tidak langsung, tentu saja bisa. Bahkan sekarang bang Omar sedang meminta Marisol untuk mengeluarkan surat penangkapan untuk Lace Malkovich."


Thea mengangguk. "Aku hanya belum tahu motifnya apa membunuh Salsabila... Tapi kalau aku rasa, ini benar-benar crime of passion..."


"Menurut kamu, Lace suka dengan Salsabila tapi tidak digubrisnya karena memilih kakaknya jadi dia membunuhnya?" Mata coklat Omar menatap adik iparnya.


"Teori itu masuk akal bukan bang?" senyum Thea.


"Make sense ..."


"Omar Zidane ! Apa kamu tidak rindu dengan istrimu yang cantik ini!"


Omar dan Thea melihat ke arah pintu dimana seorang wanita cantik dengan tubuh sintal berambut pirang panjang, tampak menatap judes ke agen FBI itu. Omar pun berdiri lalu menghampiri istrinya yang bar-bar.


"Nadya sayang, maafkan aku. Ada urusan penting soal kliennya Thea jadi aku rasa aku harus segera memberitahukan siapa serta langkah-langkah yang hendak kami ambil..." ucap Omar sambil memeluk Nadya dan mencium kening istrinya.


"Lho, Thea kasus Melker belum selesai?" tanya Nadya sambil melihat ke arah Thea dari balik tubuh besar suaminya.


"Belum mbak" jawab Thea.


"Kok belum selesai, OZ ?" tanya Nadya bingung.


"Makanya kamu dengarkan dulu, jangan marah-marah... Tapi kamu kalau marah tambah cantik deh..." goda Omar sambil tersenyum.


"Manusia Sphinx..."


"Ya?"


"Rayuanmu kurang maut !" ujar Nadya sambil berjalan ke arah meja Thea dan duduk di kursi yang tersedia di sana. "Sekarang, ceritakan padaku."


Omar dan Thea saling berpandangan.


***


"Aku setuju dengan teorinya Thea. Bisa jadi karena itu, bisa jadi soal lain. Kalian baru tahu jika sudah membawa Lace ke ruang interogasi" ucap Nadya usai mendengarkan cerita Omar dan Thea secara bergantian.


"Oke, anggap saja Lace cemburu... Tapi bukankah lebih mudah membunuh kakaknya?" celetuk Omar.


"Omar sayang, apakah kamu mampu menarik pelatuk ke arah Mas Nelson?" Nadya menatap serius ke Omar.


"No... I can't ( aku tidak bisa )..." jawab Omar akhirnya.


"Why ( Kenapa )?" tanya Nadya.


Nadya mengangguk. "Itu jawabannya. Ada bersaudara bisa seperti Qabil dan Habil yang kita tahu adalah pembunuhan pertama di muka bumi. Ada juga yang membunuh pengganti atau sumber utamanya, dan Salsabila adalah sumber utamanya."


Omar menatap istrinya sambil tersenyum lalu mencium bibir Nadya cepat. "Kalian memang wanita-wanita cerdas !"


"Kalau aku tidak cerdas, kamu mana mau Omar sayang" senyum Nadya sambil mengelus wajah suaminya.


"Seriously Nadya, aku tidak tahu bagaimana kalau aku tanpamu... " balas Omar.


"Okeeeee, kalian berdua ! Tolong, ini bukan ruanganmu mbak Nadya sayang. Kalau kalian mau ihik-ihik, jangan disini ! Mentang-mentang sudah halal jadi tidak masalah kena gep bolak balik bahkan sampai mengumbar kemesraan kalian yang tidak tahu tempat ! Please, ada jomblo disini !" omel Thea panjang lebar karena dirinya merasa sebal dengan pasangan bucin itu.


"Ih kamu nggak asyik Thea ... Yuk sayang, kita lanjutkan di ruangan aku saja." Nadya lalu berdiri dan menggandeng tangan Omar. "Besok ada libur panjang sekitar tiga hari, bagaimana kalau kita ke pondok Blair?"


Omar hanya pasrah digandeng istrinya lalu menoleh ke arah Thea. "Aku duluan Thea. Nanti aku kabari updatenya."


"Thanks Bang Omar." Thea tersenyum melihat pasangan bucin itu pergi meninggalkan ruangannya.


Cicit Gozali Ramadhan itu pun melanjutkan pekerjaannya apalagi akan ada long weekend, membuat Thea tidak mau saat bersantai di apartemen, dirinya harus memikirkan pekerjaan yang membuatnya stress.


Suara getar ponselnya terdengar di atas meja membuat gadis itu menoleh. Wajah Thea tampak bingung. Semoga tidak bertanya soal hasil test DNA sebab itu kewenangan bang Omar.


"Selamat siang, Mr Melker" sapa Thea saat menerima panggilan dari Hugo.


"Siang Thea. Maukah makan siang bersamaku? Aku baru saja dari penerbitku bersama Larry tapi dia masih ada urusan dengan editor dan desain cover. Hanya saja aku sudah lapar jadi aku keluar dulu." Suara Hugo terdengar di seberang.


"Anda berada dimana, Sir?" tanya Thea sopan.


"Central Park. Aku sebentar lagi tiba di kantor mu. Kita jadi makan siang kan?"


Thea hanya bisa memegang pelipisnya. "Saya tidak bisa menolaknya bukan?"


Hugo tertawa. "Aku butuh teman untuk makan siang Thea dan hanya kamu yang terlintas."


Wajah Thea sedikit menghangat. Apakah aku boleh merasa sedikit ge er?


"Why me, Mr Melker ?"


"Entahlah, aku hanya terlintas kamu..." jawab Hugo.


Thea tertawa kecil. "Lama-lama saya gemuk ini anda ajak makan terus."


"Kamu tambah dua tiga kilo juga nggak kelihatan" balas Hugo sambil tertawa. "Aku sudah sampai di parkiran basemen kantormu. Sebentar lagi naik lift. Aku tunggu di lobby ya Thea." Hugo mematikan panggilannya.


Thea hanya tersenyum smirk lalu mematikan laptop dan mengambil ponsel serta tas Prada nya lalu menunju lift untuk turun ke lobby usai mengunci pintu ruangannya.


Kacau benar ini!


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️