
Ruang Kerja Adrian di Koenigsegg Factory Stockholm Swedia
"Hugo, saya belum memberikan restu sepenuhnya sama kamu dan saya ingin melihat bagaimana kesungguhan kamu dengan Thea. Saya juga belum berbicara langsung ke Thea bagaimana perasaan dia sama kamu sebenarnya dan kamu juga harus berhadapan dengan mamanya dan Stefan, saudara kembarnya. Sanggup kamu?" tanya Adrian dingin.
"Insyaallah saya siap, Mr Ramadhan. Saya akan berkunjung ke rumah anda dan bertemu dengan Mrs Ramadhan juga. Setelah ini saya akan ke Coventry untuk menemui Stefan" jawab Hugo tegas.
"Good. Besok malam, datanglah kamu ke rumah saya..." Adrian memberikan share lokasi rumahnya. "Jam tujuh malam. Dan jangan terlambat !"
"Baik Mr Ramadhan."
***
Coventry, Inggris
"Jadi Hugo ke Stockholm?" tanya Stefan ke Thea saat mereka melakukan panggilan video. Coventry lebih dulu lima jam dari New York dan sekarang pukul tujuh malam di kota tempat Stefan bekerja sebagai insinyur mesin Land Rover.
"Iya, katanya mau menemui Daddy dan Mommy..." jawab Thea.
"T, apa kamu yakin dengan Hugo? Pertama, dia duda dengan kasus hukum meskipun akhirnya terbebas dari jerat hukum karena memang tidak bersalah. Kedua, Daddy dan mommy pastinya akan jauh lebih ketat menginterogasi Hugo. Mereka tidak mau kamu mendapatkan pasangan yang tidak baik .." ucap Stefan yang memiliki fisik berbeda dengan kembarannya.
Jika Thea mirip sang mommy dengan kulit eksotis, Stefan kebalikannya. Fisiknya sangat-sangat scandinavian seperti leluhur ibunya. Kulitnya campuran dengan kulit Asia sang ayah yang putih. Tak heran banyak yang tidak percaya jika Thea dan Stefan adalah saudara kembar.
"Insyaallah yakin Stefan. Hugo pria baik dan aku sudah menyelidiki saat dia masih bersama dengan almarhum istrinya, dia dikenal setia. Begitu juga saksinya Larry, yang juga editor nya bilang hal yang sama."
"T, apa Larry bilang begitu karena dia teman Hugo?" Stefan menatap adiknya yang beda beberapa menit.
"No, Stefan. Bang Omar juga bilang kok ... Kan tidak mungkin bang Omar bohong..."
Stefan menghela nafas panjang. "Kamu benar-benar jatuh cinta dengan Hugo?"
"Awalnya karena... Bingung kenapa sih pria sebaik dia dikhianati sedemikian rupa... Tapi semakin kesini aku semakin melihat bahwa dia memang baik, Fan. Dia gentleman..." senyum Thea dengan wajah memerah.
"Kalian sudah tidur bersama?" Stefan menatap serius ke Thea.
"Astaghfirullah ! Nggak Fan ! Aku masih menjaga diriku sendiri... Bisa dihajar Daddy aku !" Thea menatap judes ke Stefan. "No, Fan, aku tidak mungkin segila itu !"
"Aku hanya ingin adikku tetap..."
"Stefan, meskipun kita tidak keturunan langsung keluarga Pratomo, tapi kita semua dibesarkan dengan cara keluarga Pratomo. Aku yakin, tidak hanya orang tua kita yang ngamuk, tapi juga semua kakak perempuan kita" potong Thea.
Stefan tersenyum. "Alhamdulillah... Bukan apa-apa Thea, duda itu menggoda..." goda pria berambut pirang itu.
"Stefaaann !!!" pekik Thea kesal.
***
Rumah Keluarga Ramadhan di Stockholm Swedia
Hugo akhirnya tahu darimana Thea mendapatkan kulit eksotis nya, karena Lovisa Wallin Ramadhan memiliki kulit yang sama dengan putrinya. Hugo melihat saudara kembar Thea yang sangat berbeda dengan kedua orangtuanya meskipun kulit putihnya didapat dari Adrian yang memang putih untuk ukuran orang Asia.
"Selamat datang Hugo..." senyum Lovisa. "Bagaimana Stockholm?"
Hugo Salim ke Lovisa seperti yang diajarkan Thea. "Sangat berbeda dengan New York dan disini lebih segar udaranya."
"Negara Skandinavia boleh dibilang lebih memikirkan lingkungan hidup agar tidak banyak polusi meskipun kami juga dikenal memiliki pabrik" senyum Lovisa.
"Saya hanya tahu IKEA, Spotify, H&M dan Koenigsegg" balas Hugo.
Lovisa yang berjalan menuju ruang makan menoleh ke arah Hugo. "Ternyata kamu tahu juga kalau Spotify dari Swedia..."
"Saya mencari tahu..." jawab Hugo kikuk.
"Sudah datang sayang?" tanya Adrian yang baru keluar dari ruang kerjanya. "Halo Hugo. Sorry, tadi saya ada panggilan dari pabrik. Ayo, duduk ..."
Adrian dan Lovisa duduk di kursi makan yang diikuti oleh Hugo. Pria itu melihat menu makan malam ini sangatlah Swedia.
"Aku sebutkan dulu aturan makannya. Opening Ärtsoppa & Pannkakor atau sup peas ( semacam kacang polong ), lalu Swedish Meatballs macam di Ikea dan dessert ada ostkaka atau Cheese cake dan kladdkaka atau chocolate cake" ucap Lovisa.
"Kedengarannya lezat semua" senyum Hugo.
"Masakan istriku sangat enak, Hugo. Dulu pernah sekolah culinary sebelum banting setir jadi ibu rumah tangga" senyum Adrian sambil menggenggam tangan istrinya.
Tak lama pelayan, mengeluarkan opening food dan Hugo mengakui bahwa masakannya sangat enak. Apalagi main course nya Swedish Meatballs yang lebih lezat dari yang di Ikea. Hugo memiliki kladdkaka sebagai dessert dan mereka sedang menikmati kopi dan teh sambil menyantap dessert.
"Jadi kamu yang author novel Stranger in Windows?" tanya Lovisa. "Aku suka cerita itu."
"Mrs Ramadhan juga membacanya?" Hugo tidak menyangka ibu nya Thea membaca novel pertamanya.
"Yes. Aku sangat suka dengan alur ceritanya dan kamu membuatku kesal, Hugo !"
"Kenapa sayang?" tanya Adrian yang tidak sempat membaca novel atau pun komik karena padatnya pekerjaan.
"Aku salah menebak siapa pembunuhnya ! Aku suka cara kamu membuat alur ceritanya, mirip Agatha Christie hanya saja plot twist kamu sangat lebih kompleks dari ratu misteri itu" jawab Lovisa manyun.
Adrian menggelengkan kepalanya. "Astaghfirullah... Kirain. Hugo, aku ingin bertanya padamu. Jika kamu sanggup membuat cerita misteri, kenapa kamu tidak menyadari perilaku istrimu?"
"Saya tidak pernah berpikir jelek soal Bila, Mr Ramadhan. Saya sangat percaya pada Bila... Hampir lima tahun kami bersama, tidak ada perubahan... tapi yang berbeda memang enam bulan terakhir dan saya tidak aware tanda-tanda yang sudah tampak..." jawab Hugo.
"Karena kamu sangat percaya pada Bila?" tanya Lovisa.
"Iya. Saya tipe pria jika sudah mencintai seseorang, maka saya akan mencintai nya seumur hidup. Tapi saat tahu faktanya Bila berselingkuh dengan orang yang juga penjahat, rasa cinta saya ke dia langsung lenyap tanpa bekas. Yang ada kekecewaan paling dalam..." jawab Hugo dan Pasangan Ramadhan itu bisa melihat raut wajah sedih... Bukan... Amarah yang luar biasa.
"Hugo, jika Thea bersamamu, dan ... Semoga putri kami tidak seperti Bila, apakah kamu akan merasakan hal yang sama?" Mata Lovisa menatap tajam ke arah Hugo.
"Mrs Ramadhan... Saya tahu Thea tidak sama dengan Bila. Thea adalah wanita yang independen, cerdas dan baik. Kepribadian Thea jauh berbeda dari Bila... Dan satu lagi yang membedakan..."
"Apa itu?" tanya Adrian.
"Thea adalah anggota keluarga Pratomo dan saya yakin, didikan keluarga anda yang turun temurun dikenal sangat tegas dan bagus, tidak akan membuat Thea menjadi wanita yang sama dengan Bila. Thea adalah Thea dan saya sangat mencintai putri anda berdua ... Dia gadis yang hebat..."
Adrian dan Lovisa saling berpandangan.
***
Land Rover Manufacturing company Coventry Inggris ... Dua Hari Kemudian
"Stefan !" panggil seseorang ke Stefan yang sedang menikmati makan siang di cafetaria.
"Ada apa?" jawab pria itu.
"Ada yang mencarimu."
"Siapa?"
"Hugo Melker. Novelis itu."
Stefan tersenyum.
***
Hugo menunggu di lobby Land Rover dan melihat seorang pria dengan struktur khas Skandinavia tapi ada khas Asianya, berjalan menghampiri nya.
"Welcome to Coventry, Hugo. Aku Stefan Ramadhan, saudara kembar Thea" senyum Stefan yang tampak mirip dengan Thea sambil mengulurkan tangannya.
"Hugo Melker. Akhirnya aku bertemu denganmu, Stefan" balas Hugo sambil menyambut tangan Stefan.
Introducing Stefan Ramadhan
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️