
Blair and Blair Advocate Manhattan New York
Thea sedang bersiap untuk pulang ketika dirinya melihat Hugo Melker berada di depan pintu masuk kantornya. Thea memang memiliki apartemen dekat kantornya yang dia cukup berjalan kaki sekitar sepuluh menit.
"Mr Melker? Apa yang anda lakukan disini?" tanya Thea bingung.
"Mengajakmu makan malam, Thea. Apakah kamu suka makanan Rusia? Yang halal tentu saja. Aku mengenal teman yang memiliki restauran itu di daerah Queens."
Thea menatap Hugo bingung. "Tapi ..."
"Thea, kamu kan sudah di luar jam kantor. Jadi tidak ada masalah..."
"Tapi..." Thea masih ragu-ragu karena bagaimana pun dia memiliki prinsip untuk tidak terlibat perasaan dengan kliennya meskipun belakangan ini dia juga mulai tertarik dengan Hugo. Menjadi profesional, Thea. Tolak Thea !
Hugo langsung menarik tangan Thea dan menggandengnya menuju mobilnya. "Ayo, temani aku makan malam. Aku lapar!" ucap Hugo sambil membuka pintu penumpang mobilnya dan menghela Thea masuk.
Thea pun tidak bisa menolak permintaan kliennya dan dia harus menjelaskan banyak ke Nelson besok kalau dia menanyakan.
Hugo berjalan memutari mobilnya dan duduk di kursi pengemudi. "Pakai seatbelt mu Thea."
Thea pun menarik seatbelt nya dan Hugo menstater mobilnya lalu menuju jalan raya ke arah Queens.
***
Thea dan Hugo tiba di sebuah restauran Rusia yang dikelola oleh orang muslim di daerah Queens. Gadis itu melihat banyak orang-orang Rusia disana apalagi ditunjang dengan percakapan mereka. Thea memang tidak paham bahasa Rusia tapi dia tahu cara berbicara dan wajah-wajah mereka.
"Kamu kenapa Thea?" tanya Hugo yang melihat gadis itu sedikit mundur.
"Aku... Agak ... Kurang nyaman" jawab Thea apa adanya.
"It's okay. Kamu akan aman bersamaku..." Hugo menyentuh punggung Thea dan keduanya masuk ke dalam restauran itu.
Vibe khas Muslim Rusia Ortodoks sangat terasa apalagi wajah dan kulit Thea yang eksotis lebih mirip dengan mereka, membuat diterimanya gadis itu.
Mereka pun duduk di meja yang sudah disiapkan dan Hugo bertanya pada Thea mau memesan apa. Thea yang sedang melihat menu, tampak tertarik dengan banyaknya menu lezat disana.
"Opening aku mau salad olivier, lalu pelmeni, lalu main course aku mau shashlik dan penutup blini. Minumnya sparkling soda" ucap Thea membuat Hugo tersenyum. "What?"
"Kamu pesannya banyak banget..." kekeh Hugo.
"Menunya membuat aku lapar ... " jawab Thea malu malu.
"Kita makan itu saja berdua. Karena disini, menunya bisa untuk dua sampai tiga orang."
"Aku ikutan saja deh... Tapi aku maunya itu." Jujur ini baru kali pertama Thea berada di restauran Rusia.
Hugo berbicara dengan bahasa Rusia saat memesan menu-menu yang diminta Thea. Gadis itu melihat sekelilingnya dan dia bisa tahu bahwa meskipun di ruangan itu ada Hugo, mereka semua mengacuhkan pria itu.
Baguslah.
"Thea, ada tambahan?" tanya Hugo.
"No, Mr Melker."
Hugo mengatakan sesuatu dan pelayan itu pergi. "Thea, kan kita tidak sedang di kantor dan jam kerja."
"Tetap Mr Melker, saya harus profesional dan saya memiliki prinsip akan..." Thea menggigit bibirnya.
"Prinsip apa Thea?" Mata coklat Hugo menatap mata coklat gadis itu yang hanya mengalihkan pandangannya dari pria itu.
"Ehem... Ada acara pribadi dengan klien" jawab Thea pada akhirnya.
"Well, ini tidak pribadi seratus persen Thea tapi kita mulai berdiskusi tentang Bila sambil menunggu hasil tes DNA yang dilakukan FBI. Apakah kamu punya kertas dan bolpoin?"
Thea mengambil notes dan bolpoin dari dalam tas kerjanya dan menyerahkan pada Hugo.
"Kita mulai dari awal. Aku bertemu dengan Bila lima tahun yang lalu usai aku harus rehabilitasi akibat ledakan di daerah konflik yang membuat aku bertemu pertama kali dengan Jovan Malkovich." Hugo menulis tahun dan inisial JM saat dirinya bertemu pertama kali dan pertama kali bertemu dengan Salsabila.
"Bisa dikatakan begitu dan Bila sangat manis, cute serta baik. Siapa yang tidak jatuh cinta dengannya" jawab Hugo sendu. "Dan karena kami sama-sama memiliki keturunan Serbia, jadi kami merasakan banyaknya persamaan."
Hugo lalu menulis tanggal pernikahan dirinya dengan Salsabila. "Pernikahan aku menyenangkan dan nyaris tidak ada konflik apalagi novel-novel aku mulai laris dan memiliki nama..."
"Apakah ada yang berubah di enam bulan terakhir?" Sebenarnya Thea sudah hapal jawaban Hugo tapi ada kalanya disaat kamu relaks dan santai, apa yang tidak teringat akan Ter recall dan bisa terungkap. Hal ini sangat berguna pada orang-orang yang mengalami kekerasan dan disaat relaks, apa yang terjadi sebelumnya bisa teringat kembali.
"Bila bekerja. Aku semakin sibuk dan dia tidak sanggup mengikuti ritme aku yang padat harus berkeliling Amerika. Terkadang aku tidak pulang ke New York beberapa hari bahkan Minggu. Bila merasa kesepian..."
"Dan apa hubungannya dengan JM ? Aku tidak bisa menyelidiki lebih lanjut karena dilarang oleh Bang Omar" ucap Thea.
"Itu yang harus kita ketahui Thea. Menurut mu, apakah bartender yang dibilang Larry itu juga tahu?" tanya Hugo.
"Bukankah bang Omar sudah bilang semua orang disana mencurigakan?" balas Thea.
Keduanya terdiam saat pesanan mereka datang dan Thea membenarkan ucapan Hugo. Salad Olivier ini sangat banyak !
"Wow banyaknya..." gumam Thea.
"Makanya aku bilang kita makan berdua karena menunya bisa untuk dua sampai tiga orang" kekeh Hugo sambil menyiapkan piring.
Thea pun membagi dua salad itu dan mulai memakannya. "Hhmmm enak meskipun agak terlalu asam di lidah aku, tapi aku bisa memakan nya."
"Aku suka kamu bisa makan masakan Rusia."
"Selama bukan yang eksotis macam kodok, ular atau serangga serta halal, aku masih bisa makan" jawab Thea.
Hugo tersenyum. "Salad Olivier itu Makanan terbuat dari beberapa campuran sayuran seperti kentang, acar, timun, kacang polong, dan telur, yang kemudian dipadukan dengan krim asam atau mayones. Macam salad pada umumnya."
Thea pun menghabiskan salad itu bertepatan dengan pelmeni. "Ini macam pangsit..."
Pelmeni
"Mirip tapi beda nama. Isinya biasanya daging sapi, jamur, domba dan salmon. Makannya bisa pakai kuah atau saus asam. Coba cicipi."
Thea pun mencicipi pelmeni dan gadis itu menatap Hugo dengan wajah berseri. "Enaaakk !"
Hugo tersenyum melihat ekspresi Thea. "Suka?"
"Suka sekali ! Duh kenapa aku baru tahu ada makanan seenak ini?" senyum Thea.
"Memangnya di Stockholm tidak pernah ke restoran Rusia?" tanya Hugo sambil lalu membuat Thea terdiam. "Ada apa Thea?"
"Aku tidak pernah bercerita kalau aku tinggal di Stockholm sebelumnya..."
Hugo melongo.
Thea Ramadhan
Hugo Melker
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️