If You Met Me First...

If You Met Me First...
Siapkan Mental mu



Kediaman Keluarga Ramadhan Jakarta


"Jadi Thea sudah mau sama kamu?" tanya Arya Ramadhan.


"Alhamdulillah sudah mau Mr Ramadhan..." jawab Hugo.


"Hugo, kalau Thea menikah sama kamu, tetap kamu ijinkan bekerja kan?" Amberly menatap lekat ke pria berdarah Serbia itu.


"Saya tidak akan mengekang Thea bekerja sebagai pengacara karena saya tahu itu passion-nya. Lagipula, kantor Thea dan perusahaan penerbit tempat buku-buku saya diterbitkan dekat. Jadi tidak ada masalah..."


Arya dan Amberly saling berpandangan. "Bagi kami adalah kebahagiaan Thea. Dan karena kamu sudah seperti ini, muter-muter macam gasingan, saya minta kamu harus membuat Thea bahagia. Yang namanya hidup berumahtangga, apalagi kamu sudah pernah berumah tangga, pasti ada pasang surutnya. Saya minta, jika kamu dan Thea ada berselisih paham, harus mengalah salah satu. Thea itu keras kepala tapi dia memiliki sisi lembut dan tidak tegaan sebenarnya tuh anak satu. Hanya saja karena profesi nya sebagai pengacara, dia harus bisa tega" ucap Arya panjang lebar.


"Kamu harus ingat bagaimana kamu berusaha seperti ini untuk mendapatkan restu. Jangan sekali-kali kamu mengkhianati kepercayaan kami, Adrian dan Lovisa serta Stefan, terutama Thea. Sebab jika kamu, amit-amit, mengkhianati Thea, maka kepercayaan itu akan luruh seperti halnya saat kamu tahu istrimu berselingkuh kan?" sambung Amberly.


"Saya akan ingat itu Mrs Ramadhan. Bagaimana pun saya sudah pernah merasakan dikhianati dan rasanya sangat menyesakkan hati..."


Arya dan Amberly mengangguk. "Jika kamu serius, lamarlah Thea dengan benar. Bicarakan pada Adrian, mau dimana acara lamarannya. Insyaallah kami bisa hadir ..." senyum Amberly.


Hugo menatap kedua opa dan Oma Thea dengan tatapan tidak percaya dengan diberikan restu padanya. "Alhamdulillah... Tidak salah dengar kan saya?"


"No Hugo. Buat cucuku bahagia..." senyum Arya Ramadhan.


Hugo langsung bersalaman erat Arya dan Amberly. "Terimakasih... Terimakasih..."


***


Pabrik Bir O'Grady, Boston Massachusetts


Shane dan Apsarini sedang menikmati makan siang di cafetaria pabrik dengan santainya. Semua pegawai sudah tahu jika mereka berdua pacaran dan akan segera menikah.


Shane sudah memberitahukan bahwa mereka sudah mengenal lama dan sejak setahun ini mereka menjadi dekat. Shane sengaja mengumumkan hubungan mereka berdua agar tidak terjadi fitnah dan rumor membuat kedua pihak tidak nyaman.


Apsarini sendiri sudah memutuskan untuk mundur dari pabrik Shane jika mereka menikah nanti. Gadis itu berencana terus menjadi konsultan akuntansi online.


"Kamu mau menikah di Maine sebelah mana?" tanya Shane sambil menatap wajah cantik Apsarini.


"Kalau di cottege yang kita menginap itu, apa bisa menampung banyak keluarga ?" balas Apsarini.


"Kalau tidak cukup, disana banyak hotel, villa atau cottege yang dekat-dekat situ..."


"Kita pakai jasa wedding organizer saja ya. Aku tidak paham Maine..." senyum Apsarini. "Bagaimana?"


"Iya, cari praktisnya saja Sari. Kita sudah banyak pekerjaan. Kira-kira mau kapan?" tanya Shane. "Mengingat keluarga mu yang mau menikah pada mengantri."


Apsarini tertawa. "Habis mas Shinichi bagaimana? Tapi tahun ini jadi padat banget ya?"


Dalam setahun ini jadwal generasi keenam klan Pratomo memang sudah padat. Sebelumnya Damian dan Reema, Dewa dan Alina, Jayde dan Inggrid, Radhi dan Raine double wedding, lalu Nelson dan Marisol, dilanjutkan Shinichi dan Kedasih.


"Kalau Desember, pas musim dingin, Maine dingin banget lho Sari..." senyum Shane.


"Seru kan dingin-dingin sambil menikmati malam tahun Baru di sana?" kerling Apsarini.


"Good idea. Habis acara, pasti pada bergelung di kamar masing-masing" gelak Shane. "Termasuk kita..." Suara Shane terdengar dalam membuat wajah cantik Apsarini memerah mendengar godaan yang seduktif disana.


"Shane..." cicit Apsarini yang membuat pria Irlandia itu tertawa gemas melihat wajah malu tunangannya.


***


Jakarta Indonesia


"Kamu nginap dimana Go?" tanya Radyta saat mereka berdua usai mengunjungi keluarga Ramadhan senior dan makan siang bersama. Amberly malah meminta agar Hugo segera membuat sequel novelnya yang selalu membuatnya penasaran.


"Yup. Oh, apa kamu lama di Jakarta?" Radyta menoleh ke arah Hugo sambil menyetir mobilnya menuju Hotel Pullman.


"Sekitar dua tiga hari. Aku ingin refreshing sejenak sambil mencari ide untuk bahan menulis aku selanjutnya. Kenapa?" balas Hugo.


"Well, aku ingin memperkenalkan kamu dengan saudara Thea di Jakarta. Mumpung kamu disini sih..."


"Sure. Tidak masalah. Bukankah mengenal keluarga Thea lebih dulu, itu lebih baik kan? Mumpung aku disini."


Radyta mengangguk. "Good. Bagaimana besok malam, kamu aku jemput dan kita akan kumpul di RR's Meal. Kami biasa berkumpul disana jika ingin suasana yang private."


"No problemo."


***


Kamar Hugo di Hotel Pullman Jakarta


"Kamu di Jakarta?" seru Thea heboh saat Hugo menghubungi nya melalui FaceTime.


"Di Jakarta, sayang. Lihat!" Hugo memperlihatkan pemandangan kota Jakarta dari kamar hotelnya.


"Kamu dijemput siapa?" tanya Thea yang tahu kekasihnya tidak memiliki kenalan disana.


"Dijemput Radyta. Stefan yang meminta tolong pada sepupumu itu untuk menjemput aku..." jawab Hugo santai.


Thea memegang pelipisnya karena dirinya merasa bingung kenapa Hugo ada di Jakarta. "Tunggu Hugo. Kamu pamit ke aku mau ke Stockholm ketemu mommy dan Daddy... Terus kamu tidak pulang ke New York karena..."


"Karena aku pergi ke Coventry..."


Thea terbelalak. "Kamu ketemu Stefan? Kok dia tidak cerita padaku !"


"Aku yang melarang Stefan bercerita padamu dan aku bilang aku hendak menyendiri untuk menulis bukan?" senyum Hugo. "Padahal aku sengaja ke Coventry dan sekarang aku ke Jakarta untuk menemui Opa dan Omamu."


"Uuuuhhhh kamu menyebalkan !" omel Thea kesal.


"Demi restu Thea, apapun aku lakukan... Lagipula, aku belum pernah ke Stockholm, Coventry dan Jakarta jadi sekalian jalan-jalan lah..." cengir Hugo. "Oh, Radyta bilang, mumpung aku di Jakarta, dia minta aku bertemu dengan para sepupumu."


Thea mengerenyitkan dahinya. "Tunggu ! Back off ! Kamu sudah ketemu Opa dan Oma. Bagaimana dengan reaksi mereka?"


"Mereka memberikan restu, Thea. Jadi kamu tenang saja."


"Alhamdulillah. Terus kamu mau bertemu dengan para sepupuku di Jakarta?" Thea menatap Hugo dengan perasaan antara senang tapi juga khawatir. Senang calon suaminya berusaha dekat dengan keluarga besarnya, khawatir menjadi bahan bully mereka, mengingat semuanya minus akhlak kalau bertemu dengan orang baru.


"Iya... Kenapa Thea?" Hugo melihat perubahan wajah gadisnya dengan perasaan bingung.


"Oke... Aku berikan gambaran. Saat kamu diinterogasi oleh NYPD dan bang Pedro, itu tidak ada apa-apanya dibandingkan pada saat kamu diinterogasi oleh semua sepupuku yang di Jakarta. Mereka itu ... Orang-orang yang minus akhlak dalam hal menistakan calon anggota keluarga baru. Jadi, saranku, siapkan mental bajamu !" jawab Thea dengan wajah serius.


Hugo melongo. Apakah segitu horornya?


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️