
Restauran Jepang di daerah Central Park New York
Thea menatap Hugo yang masih saja terdiam pasca semua informasi diberikan Omar Zidane dan Billy Boyd. Ketiga tersangka itu akan mendapatkan hukuman maksimal di hukum pidana, yaitu hukuman mati karena membunuh, percobaan perampokan, Ter**RIS dan deretan kejahatan lainnya. Digabung dengan kejahatan federal, mereka semua tidak akan bisa bebas.
"Hugo..." panggil Thea.
"Hhhmmm..." sahut Hugo sambil memakan sushinya.
"Are you okay?" tanya Thea khawatir.
Hugo menghela nafas panjang. "Aku tidak tahu Thea. Rasanya tubuhku lemas semua ..."
"Karena kamu sudah merasakan kelegaan luar biasa... Kamu sudah mendapatkan jawabannya dan semua ketegangan yang dirasakan serta self defense mechanism dirimu, membuat mu lemas... Hugo, kamu tidak menyadarinya bagaimana rasa tegang, sakit hati, kecewa semuanya bercampur di dalamnya ditambah kamu berusaha Denial bahwa itu kamu yang salah... Benar kan?" Thea menatap lembut ke pria berdarah Serbia itu.
"Thea..."
"Ya?"
"Apakah benar kamu pengacara aku atau terapis dengan aliran Freudian? Cara kamu membuat psikoanalisa sangatlah Freud ( baca : Froid )... " senyum Hugo.
"Ya anggap saja aku dulu jaman kuliah kurang kerjaan membaca buku tentang Sigmund Freud yang menurut aku memang benar. Teori psikoanalisis klasik merujuk pada istilah yang dipopulerkan oleh Freud. Secara garis besar, teori ini menyatakan bahwa “ketidaksadaran” pada individu memiliki peran yang utama dalam diri seseorang... Dan itu yang terjadi padamu Hugo..."
Hugo Melker tersenyum. "Kau benar... Di bawah alam sadar aku... Selalu ada rasa keingintahuan siapa pelakunya... Apakah semua ini terjadi akibat kesalahan aku yang terlalu sibuk menulis dan tour..."
"Namun akhirnya?" Thea menatap Hugo sambil menyesap ochanya.
"Aku tidak kurang-kurang menjadi seorang suami. Aku tidak pernah mengatakan tidak kepada Bila, apapun yang dia minta. Aku selalu memastikan semua keinginan dan kebahagiaan nya terpenuhi... Tapi jika balasannya seperti itu... Bukan salahku Thea. Bila sendiri yang merasa tidak pernah puas, atau nostalgia yang membuatnya menjadi kebahagiaan semu padahal semua yang berawal dari infidelity, tidak akan pernah berakhir baik. Dan Bila sudah mendapatkan akibatnya..." ucap Hugo panjang lebar.
"Segala hal yang diawali dari yang tidak baik, kemungkinan besar akan berakhir tidak enak" ucap Thea.
Hugo memajukan tubuhnya. "Apakah kamu akan menemani aku saat persidangan kasus pembunuhan Bila?" pria itu memegang tangan Thea. "Aku rasanya tidak sanggup jika hanya sendirian di ruang pengadilan... Aku butuh seseorang yang bisa menahanku untuk tidak maju menghajar Lace dan Jovan."
Hugo tersenyum. "Terimakasih."
***
"Jadi sudah ditangkap semua Omar?" tanya Nelson Blair ke arah saudara iparnya.
"Sudah dan Hugo Melker secara resmi bebas dari semua tuduhan dan semua catatan di kepolisian dihapuskan yang berhubungan dengan kasus pembunuhan Salsabila."
"Syukurlah... Aku sudah mencopot Thea dari statusnya sebagai pengacara Hugo" ucap Nelson.
"Tapi Hugo sudah bebas Nelson" protes Omar Zidane. "Dan yeah, bahasa tubuh mereka memang menyiratkan adanya yang berbeda diantara keduanya. Aku melihat sendiri, Son."
"Aku tidak berani membayangkan jika Oom Adrian didatangi oleh Hugo perihal Thea. Bukan apa-apa, Hugo sangat jauh dari menantu idaman..." sahut Nelson.
"Kita kan belum lihat secara riilnya... Siapa tahu malah berbeda dari yang kita cemaskan?" timpal Omar Zidane.
"Maybe you're right, Omar... Maybe you're right..." gumam Nelson berulang.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Maaf pendek karena aku sudah ngantuk
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️