
#9
Tak terasa jam kantor telah usai 1 jam yang lalu, Beni bergegas turun bisa bisanya ia lupa mau mengajak pulang bareng Anya.
Beni melangkah menuju ruangan devisi Anya, berharap Anya masih berada di kantor. Namun sayang ruangan itu sudah sepi tak nampak sosok wanita yang ia cari.
Langkah Beni lanjutkan ke parkiran mobil, tempat yang dituju langsung ke rumah mess Anya. Setelah turun dari mobil ia berulang kali mengetok pintu dan memanggil penghuni rumah tersbeut. Namun tak ada tanda keberadaan sosok yang ia cari.
30 menit kemudian Beni bergegas pulang untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Beni Pov
Masih dengan rasa penasaranku, kini ku kemudikan motor kesayangan ku ke rumah Anya lagi. Berharap Anya sudah pulang.
Sudah 1 jam lebih aku berada didepan rumahnya.
“Kemana sih ini anak, bikin khawatir aja” batin Beni saat menunggu.
Hingga terdengar suara sepeda motor berhenti dihadapan rumah ini. Nampak sosok berjaket hijau dan seorang perempuan turun dari motor sambil melepaskan helm.
Rasa dingin seketika menghilang, berganti rasa yang pernah ada sampai saat ini belum tersampaikan. Eh maksudnya rasa senang melihat Anya akhirnya sampai dirumah.
“Ben...” sapa Anya lirih dengan raut muka seperti orang heran.
“.........” Beni masih diam sambil tersenyum.
“Ada perlu apa?” tanya Anya.
“Udah lama?” imbuh Anya sambil melihat Beni.
Beni masih terdiam hanya pandangannya terus tertuju ke Anya.
“Ben...... Ben....Beni!!” ucap Anya sambil menepukkan tangan tepat di depan muka Beni.
“Ehh iya” sadar Beni.
“Ngapain disini? Udah lama?” tanya Anya lagi, sambil mengarahkan kunci untuk membuka rumah.
Kleek
Pintu rumah terbuka belum juga menjawab Anya sudah menyuruhnya masuk ke dalam. Beni masuk dan melihat isi rumah mess yang Anya tinggali nampak bersih dan rapi.
“Sini duduk maaf aku tinggal ganti baju dulu ya. Itu remote tv di sana” sambil menunjuk remote yang berada di samping sofa panjang dan kecil itu.
“Owh iya” sahut Beni.
Setelah beberapa menit Anya datang menghampiri Beni yang duduk dengan membawakan teh hangat dan cemilan yang dia punya. Cukup nyaman untuk ruang tamu Anya walaupun hanya ada 1 sofa, meja, kursi kecil dan TV 19 inch. Sederhana namun nyaman.
“Nih diminum mumpung belum dingin” ucap Anya meletakkan cangkir teh di meja.
“Terimakasih jadi ngrepotin”
Anya hanya senyum.
“Jadi ada perlu apa? Kok tadi udah didepan?”
“Owh tadi aku cari di kantor tapi kamu udah gak ada yaudah aku kesini tadi sore, eh rumah kosong trs aku pulang bentar terus kesini lagi” ucap Beni terus meminum teh buatan Anya.
“Berarti kamu kesini dua kali?” heran Anya
“He’em” guman Beni sambil mengangguk.
“Terus ada perlu apa? Bukannya tadi pagi aku udah bilang mau pulang sendiri”
“Hmm aku lapar mau ngajak kamu makan” ucap Beni. Semenjak pagi tadi entah Beni selalu ingin makan ditemani oleh Anya
“Yuk makan diluar” ajak Beni.
“Aduh aku tadi habis jajan, pulang kantor tadi aku mampir ke mall” ucap Anya.
“Sama siapa?”
“Sendiri, niatnya mau liat liat doang tapi tadi pas lewat xxi eh ada film bagus yaudah terus nonton” ujar Anya membuat Beni sedikit kesal karena tidak diajak.
“Besuk kalau mau kemana mana sama aku aja, bahaya kalau sendiri” ketus Beni sambil menghabiskan tehnya.
“Hmm” belum sempat Anya berkata Beni langsung memotong.
“Yuk makan aku laper nih, aku bakal traktir wes” ajak Beni.
“Eh”
“Please lah Nya aku udah lama lho nunggu kamu tadi. Bahkan dua kali aku kesini” ujar Beni dengan muka melas memohonnya
“Aku ada mie gimana kalau aku masakin aja”
“Mie gak sehat buat tubuh Anya, ntar kalau kamu masak tambah capek”
“Udah buruan ambil jaket aku udah bawain helm juga, hargain aku dong” ucap Beni.
Anya akhirnya mengangguk dan bergegas mengambil jaket, hp dan dompet. Walaupun sebenanya tau kalau bakal dibayarin sama Beni tapi dompet selalu dia bawa untuk berjaga jaga.
Setelah 15 menit berkendara akhirnya Beni dan Anya sampai di street food yang entah Anya tak tahu apa nama daerah ini. Maklum Anya masih baru di ibu kota ini.
Saat menyusuri setiap stan makanan Anya selalu berada dibelakang Beni. Mengekor layaknya anak unggas ke induknya. Suasana malam ini cukup ramai.
“Masih suka nasi gorengkan?” tanya Beni.
“Masih” jawab Anya sambil mengangguk.
“Duduk sini dulu aku mau pesen”
“Oke”
Sambil menunggu Beni yang sedang memesan, Anya melihat sekitar dia berasa seperti jaman kuliah dulu. Mebuat Anya rindu dengan masa masa itu.
Setelah beberapa menit akhirnya pesanan datang.
“Hmm m enak” guman Anya
“Jelas dong kalau gak enak ngapain kamu bawa kesini” ujar Beni dengan tersenyum.
“Iya deh” ucap Anya lalu mengambil bungkusan kerupuk yang dikemasi kecil kecil.
Saat ingin membuka kerupuk itu cukup sulit mana gak ada gunting lagi. Kalau tidak ada pengunjung di samping kiri kanannya mungkin Anya bakal sobek dengan menggunakan giginya. Namun dia masih harus jaga image.
Beni yang melihat Anya kesusahan membuka plastik kerupuk tersebut langsung mengambil alih dari tangan Anya. Akhirnya plastik itu dapat disobek.
“Kalau gak bisa, minta tolong ke aku” ucap Beni sambil menyodorkan ke Anya.
Anya tak membalas perkataan itu, dia melanjutkan makannya dan mencomot kerupuk itu.
Setelah semua selesai makan Beni beberapa kali mengajak membeli jajanan yang lain. Namun perut Anya sudah tak sanggup menerima.
Saat hendak menuju ke tempat parkir Anya beberapa kali terhalang oleh orang saat mengikuti Beni yang berada didepannya.
Beni sadar kalau Anya sempat kehilangan jejak akibat desakan orang yang berkunjung di tempat ini. Akhirnya Beni mengambil tangan hangat Anya dan dia genggam dengan erat.
“Biar gak ilang” ucap Beni sambil tersenyum.
Anya seketika kaget dengan genggaman Beni. Dia hanya diam pipinya terasa panas dan mengikuti arah tangannya.
Saat di jalan menuju rumah mess Anya banyak yang mereka obrolkan mengenai kota ini. Anya lebih banyak menjadi pendengar, dan Beni dengan senang mencerikatan apa yang menarik dari tempat yang dilalui mereka.
Sesampainya dirumah Anya langsung turun dan mengarahkan helm ke Beni.
“Makasih udah nemenin aku makan” ucap Beni.
“Eh harusnya aku yang makasih udah ditraktir juga”
“Kan aku yang maksa kamu”
“Hmm iya sih, yaudah sama sama ntar kapan kapan aku yang traktir” tawar Anya
“OKE!!, aku tunggu”
“Hmm, sana pulang udah malem” ucap Anya
“Ngusir nih”
“Eh gak bermaksud aku...”
“Hehehe iya iya tapi bentar aku ada yang mau disampein”
“Apa?”
Hening beberapa saat....
“Nya kalau aku mau kita lebih deket kaya dulu gimana?” ucap Beni dengan gugup.
Anya kaget dengan ucapan Beni, namun sebisa mungkin dia harus tetap terlihat biasa aja.
“Yaelah ini kita udah deket nih, ya kali aku dempet kamu gini hahaha” ucap Anya sambil medekatkan sikunya ke lengan Beni dengan tertawa
“Hmm maksudku...” ragu Beni
“Udahlah sana masuk entar jangan lupa kunci pintu” imbuh Beni sambil mengacak acak rambut Anya.
Kemudian motor itu meninggalkan Anya.
Jantung Anya sedari tadi ketika tangannya digenggam Beni sudah berdetang tak karuan. Hingga pernyataan barusan yang ia dengar membuat Anya merasakan hal aneh, namun malah membuat dia senang. Sepertinya ada yang salah dengan diri Anya.