
23
Setelah seminggu berjalan hubungan baru antara Anya dan Beni membuat hari hari mereka terus berwana. Anya yang biasanya menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri sekarang harus membuat dua porsi. Yah Beni selalu minta dibuatkan sarapan oleh Anya.
Dan seminggu ini Beni tak pernah absen untuk sarapan di mess Anya. Sejauh ini hubungan mereka berjalan lancar, dan Beni semakin manja ke Anya.
Malam itu setelah perasaan Beni berbalas dan mereka official taken Beni sudah memanggil Anya dengan sebutan sebutan sayangnya. Beni sangat bahagia malam itu, bahkan ia pulang bersama Anya menggunakan sepeda motor Anya. Karena Anya tak mau diajak diantar oleh Beni, dengan alasan Anya membawa motor dan lebih memilih motornya dibanding ikut dengan Beni.
Benilah yang mengalah, ia memilih meninggalkan mobilnya dikantor dan meminjam helm milik satpam kantornya. Di perjalanan mereka seperti remaja kasmaran, maklum baru saja jadian jadi masih manis manisnya.
Saat makan malam, Beni sudah siap untuk mengabadikan moment mereka berdua di media sosialnya. Namun Anya mencegahnya membuat Beni bingung.
Anya belum siap jika harus publish ke teman temannya. Terlebih status mereka yang bekerja sekantor dan hubungan atasan dan karyawan membuat Anya takut. Anya terlalu parno dengan kejadian kejadian seperti yang Anya pernah baca di novel percintaan yang menceritakan hubungan bos dan karyawannya.
Hingga Beni menyanggupinya dengan terpaksa. Ia juga tak mau Anya terluka atau disakiti oleh orang lain. Dan mereka sudah berhasil menjalankan hubungan bacstreetnya selama seminggu ini.
Beni Pov
Pagi ini seperti biasa aku sudah berada di tempat tinggal pacar kesayanganku ini. Rutinitas baruku ini memang aku buat agar aku selalu memiliki waktu berdua setiap harinya. Yah karena aku dan Anya tak bisa bermesraan di kantor, sedang kalau pulang kantor terkadang aku berada diluar kantor membuat waktu yang singkat kurang untukku.
Terlebih aku tak mau menyita waktu istirahat Anya yang sudah seharian bekerja dikantor. Ingin rasanya aku segera mempersuntingnya agar ia tak perlu bekerja seperti ini. Cukup dirumah menungguku pulang kerja dan bermain dengan anak anaku kelak.
“Nanti malam aku berangkat ke singapur.” ucap lesuku saat menyantap sarapanku dihadapan Anya
“Wih, enak tuh sekalian jalan jalan. Bisalah bawain oleh oleh hehehe.” sahut Anya malah antusias
“Kok kamu seneng.”
“Lah terus?”
“Ya kamu kan gak ketemu aku, aku disana 5 harian kayanya. Ada yang perlu diurus.”
“Ya ga apa apa, toh kamu juga balik sini lagikan. Cuma lima hari doang.”
“Cuma kamu bilang?” ucapku sedikit menunjukkan rasa kesal, lalu aku mendekat ke arah Anya dan memeluknya dari samping.
Aku menyandarkan tubuhku ke lengan Anya, sungguh nyaman seperti ini. Sebetulnya aku berharap dia merengek kepadaku karena aku tinggal pergi jauh. Namun ternyata dia tak begitu dan malah aku yang sekarang merengek kepadanya. Aku tak kuasa jika harus berjauhan dari perempuan ini.
Ku peluk erat dia dan ku hirup dalam aroma tubuhnya yang sangat menenangkanku.
“Aku ga apa apa Ben, itu udah pekerjaan kamu. Toh kita masih bisa chat, telfon kalau kangen ya video call gitu aja kok repot.” jawab Anya sambil mengelus rambut belakangku.
“Tapi aku gak mau jauh dari kamu Anya, kita baru seminggu pacaran masa udah LDR an aja.”
“Halah bahasa kamu LDR an cuma lima hari doang! udah deh dulu jauh dari aku aja kamu bisa baik baik aja. Ini cuma kaya gini aja kamu lemah bos.”
“Lemah ? Apa perlu aku tunjukkin seberapa tangguhnya aku sekarang? Ha? Aku gak keberatan kok.” godaku tersinggung akibat Anya bilang aku lemah.
“Apaan sih.” jawab Anya lalu melepaskan diri dari dekapanku.
Namun aku memang lemah tanpa mu Anya ucapku dalam hati.
“Udah udah selesain ini sarapannya, sebagai gantinya nanti aku anter ke bandara.” ucap Anya membuatku sedikit lega mendengar tawarannya.
Seperti biasanya juga Anya akhirnya berangkat ke kantor dengan sepeda motornya dan aku mengikutinya dari belakang. Sesekali aku juga menggunakan sepeda motorku berharap Anya mau membonceng sampai dikantor namun sayang ia masih kolot dan membuatku bersabar.
Author Pov
Sesampainya dikantor Anya dan Beni langsung disibukkan dengan jobdesknya masing masing. Mereka bekerja secara profesional, terlebih dalam pekerjaannya mereka tak berhubungan secara langsung membuat Anya merasa aman.
“Anya nanti ambil data di bawah ya, ini yang kemaren kayanya masih ada yang kurang.” ucap Mbak Putri ke Anya menyodorkan berkas berkas.
“Owh ok mbak habis ini gue kesana.” sahut Anya dan menyimpan pekerjaannya terlebih dahulu sebelum turun ke bawah.
Saat Anya keluar dari ruangannya dan menuju lift, ia tak sengaja bertemu Beni dalam lift itu. Yah ruangan Beni berada diruangan yang berjarak beberapa lantai dari ruangan Anya.
“Eh selamat siang pak.” ucap Anya sopan ke Beni karena disitu juga ada sekertaris bos yang bernama Damar.
“Siang , jadi masuk nggak?” tanya Beni dengan nada datar namun menahan ketawa.
“Eh iya iya.” ucap Anya langsung masuk ke lift dan memencet lantai 3 yang berada dibawah lantai ruangan Anya.
Anya berdiri di dekat tombol lift itu dengan samping kirinya adalah Pak Damar dan Beni sang bos berada dibelakangnya.
Ting...
Suara lift terbuka membuat Anya ingin langsung melepaskan pelukan itu, namun tangan Beni lebih cepat menekan tombol tutup lift dan menghentikannya sebentar.
Beruntungnya didepan lift tadi tidak ada orang. Namun kini disebelah Anya persis ada sekertaris Beni yang masih terkejut.
“Udah liatinya, hadap sana. Dan jangan bilang ke siapapun tentang ini.” ucap tegas Beni dengan menatap tajam sekertarisnya namun masih memeluk Anya erat.
“Pak maaf bisa lepas nggak.....” kata Anya terpotong oleh Beni langsung
“Bentar aja, please aku butuh asupan energi.” sahut Beni dan menghirup lekat ke arah leher Anya membuat sang pemilik geli.
“Udah saya mau bekerja.” kesal Anya dengan Beni ia melepas pelukan itu dengan kasar.
Beni kaget dengan respon Anya ia hanya memandang dengan tatapan kosong karena terkejut.
“Ini gimana bukanya.” keluh Anya saat lift masih terjeda akibat ulah Beni.
Hingga Beni sadar dan terkekeh melihat raut kesal Anya yang justru menambah kesan imut. Ingin sekali ku gigit itu pipi yang sekarang sudah merona itu.
Anya sudah keluar dari lift, ia bisa bernafas lega sekarang. Namun mukanya masih merah, ia mampir ke toilet dulu sebelum mengambil data ke ruangan devisi itu.
“Lama amat lo ambil data, nyasar lo.” ucap Mbak Putri saat aku sampai diruanganku membawa map berisi perintah orang dihadapannya ini.
“Engga cuma tadi... tadi terselip jadi nyari dulu.” sahut kikuk Anya takut salah omong.
Beruntung Mbak Putri sedang sibuk jadi ia tak diintrogasi lebih lanjut olehnya.
Author Pov
Jam pulang kantor, jalanan ibu kota begitu padat. Tak heran memang jalanan ibu kota selalu macet, akibat lalu lalang penggununa kendaraan.
Beruntung kantor Anya memang tak jauh dari rumah mess-nya jadi tak perlu memakan waktu yang lama untuk sampai ke rumah. Setelah memasuki rumah, Anya langsung bersiap untuk menepati janjinya. Ya walau masih 3 jam lagi jadwal flight Beni, namun ia sudah diminta untuk ke apartemen Beni terlebih dahulu. Beni meminta Anya untuk dimasakan untuk makan malam.
Tring... Tringg... Tring...
~My Bos Ben Calling~
Iya Hallo
[Kamu udah sampe rumah?]
Udah ini baru selesai mandi
Bentar lagi aku kesana
[Pake baju dulu, baru kesini]
Apa’an sih, orang udah pake baju
[Tadi bilang baru habis mandi... mau dong mandi bareng hehehe]
Mulut ya....
[Bercanda doang juga. Aku ini baru sampe, nanti langsung masuk aja. Kartu aksesnya masih kamu simpankan?]
Eh bentar, lupa aku taroh mana
[Wah , parah kamu yang. Cari dulu sana]
Tanpa menutup telfonnya Anya mencari keberadaan kartu akses untuk masuk ke Apartemen Beni yang dulu pernah ia gunakan untuk menjenguknya saat sakit.
Didompet tak ada
Ditas yang biasa ia gunakan juga tak ada.
[Gimana ada nggak yang? Kalau gak ada nanti aku jemput ke bawah. Udah buruan sini]
Anya menghiraukan suara dari telfon itu, ia masih mencari cari kartu tersebut. Hingga akhirnya ketemu juga di saku jaket yang ia gunakan. Beruntung jaket ini belum ia cuci.