
21 Terduga
Setelah semalam Anya benar benar menunggu Beni operasi. Kini ia kembali ke rutinitas untuk bekerja.
Sempat terfikir Anya kemarin akan menginap di rumah sakit, namun ia memutuskan untuk pulang bahkan sebelum Beni siuman. Ia masih tidak enak jika menginap di sana terlebih ada orangtua Beni yang sudah menjaganya. Sebagai gantinya dan ia sudah berjanji dengan orangtua Beni, Anya akan datang setelah pulang kantor.
“Kurang tidur ya lo, begadang?” tanya Rendi yang menyadari wajah ngantukku
“He’em, keliatan banget ya?” tanya Anya lalu dibalas dengan anggukan.
“Hayo begadang ngapain? Masih mikirin si bos?” tanya Mbak Putri
“Apa’an sih mbak, sttt.” ucapku sambil meletakan telunjukku didekat hidung.
“Gue tau dia tadi malam ke rumah sakit. Gue yakin lo jenguk bos kan?” tanya Rendi.
“Koklo tau?” ucap Anya keceplosan.
“Lah Raka telfon itu sampingnya ada gue hehehe.” ucap Rendi
“Wohh udah baikan neng?” tanya mbak putri membuat Rendi ikut dengan tatapan menyelidik
Semua kejadian tadi malam sudah Anya ceritakan kedua sobatnya. Memang ia tak bisa menyembunyikan cerita apa apa ke mereka.
Sore ini, setelah jam kantor Anya langsung menuju ke rumah sakit tempat dirawatnya Beni. Anya sempat tersenyum melihat pesan dari ibunya Beni yang memberitau bahwa anaknya dari tadi menunggunya.
Sebelum naik ke kamar inap Beni, Anya memutuskan membeli brownis coklat untuk buah tangan.
Tok tok.....
“Akhirnya datang juga, tuh dia dari tadi udah kaya cacing kepanasan. Kerjaanya liat jam terus.” ucap ibunya Beni membuatku tercengang
“Ini tan aku bawain brownis buat cemilan.” ucapku sopan setelah salaman dengan beliau.
Ibunya Beni pamit pulang setelah Anya datang untuk mengganti pakaian dan menengok rumah.
“Gimana keadaan kamu?” tanya Anya duluan
“Udah mendingan.”
“Kamu butuh apa aku cariin deh, mumpung lagi baik nih.” ucap Anya membuat suasana sesantai mungkin.
“Engga ada, kamu istirahat dulu aja baru pulang kan.” ucap Beni membuat Anya tersenyum karena Beni mulai bicara panjang
Anya lalu merebahkan di sofa yang berada sedikit jauh dari Beni. Anya sengaja berleha leha disana, terlebih tidak ada orangtua Beni jadi ia tak perlu sungkan. Setelah beberapa menit, Beni mulai bosan karena Anya asik sendiri disana. Padahal ia berharap akan diperhatikan oleh Anya, ia juga ingin kembali ke masa masa sebelum ia bertengkar.
Anya masih sibuk dengan kegiatannya, ia memang sengaja menjahili Beni. Beberapa kali Anya terkikik dengan ponselnya, membuat Beni semakin geram.
Banyak yang dipikirkan oleh Beni saat ini, ia ingin diperhatikan oleh sosok cewek satu ini. Hingga sekuat tenaga Beni mengalahkan gengsinya
“Anya.......” ucap Beni seperti merengek. Anya terkejut saat Beni memanggilnya seperti itu.
“Sini.” imbuh Beni sambil melambaikan tangannya agar mendekat.
Anya merasa aneh dengan nada yang Beni lontarkan. Ia seperti berhadapan dengan bayi yang manja.
Owh iya Beni memang akan manja ketika sakit. Seketika Anya ingat itu.
“Mau apa? Gue cariin.” ucap Anya yang sudah berada di dekat ranjang
“Mau ini.” ucap Beni menggenggam tangan Anya membuat terkejut sang pemilik tangan itu.
“Duduk sini.” kata Beni menyuruh Anya duduk di sisi ranjang.
“Huftt.” hembusan nafas kesal Beni
“Ini udah duduk loh.” bela Anya
“Iya deh iya.” pasrah Beni. Padahal ia ingin memeluk Anya saat ia mau duduk di sisi ranjang. Tapi ia tak mau egois, seperti ini juga ga apa apa.
Beni masih setia menggenggam tangan Anya dengan erat. Saat perawat masuk untuk mengecek kondisi pasiennya ini. Saat perawat masuk, Anya langsung menarik tanganya. Namun Beni tak mau lepas, ia bahkan melotot ke Anya yang masih berusaha untuk melepas genggaman itu.
Perawat terkekeh melihat dua sejoli ini. Ia terus tersenyum saat memeriksa. Saat perawat selesai memeriksa, ia menyuruh Beni untuk minum obat dan tertidur.
“Ben apa’an sih, malu tau tadi dilihat perawat gitu.”
“Santai aja kali, toh tadi gak kenapa kenapa kan.”
Anya kesal dengan perlakuan Beni yang seperti ini.
Kini Beni sudah tertidur pulas, dan masih gak mau lepas tangan Anya. terlebih kini orangtua Beni sudah berada diruangan ini. Awalnya ia salah tingkah saat beliau beliau masuk ke kamar. Saat Anya mencoba paksa melepas tangannya namun Beni seperti merintih mengeluh seperti kehilangan pegangannya. Dengan dorongan orangtua Beni akhirnya Anya membiarkan kembali tangannya digenggam Beni.
Entah sudah berapa lama ia stay di posisi saling genggam. Hingga tiba tiba Beni lengah dan membuat Anya bebas. Sungguh lega, jujur ia pegal.
Waktu menunjukkan semakin malam, Anya yang sedang makan malam bersama orangtua Beni. Banyak yang mereka bincangkan tentang masa lalu. Hingga Beni terbangun mendengar riuh percakapan mereka bertiga.
Beni melihat Anya bercengkrama dengan orangtuanya membuat hatinya sungguh senang. Ia semakin bulat menjadikan Anya untuk selalu disisinya.
“Yah.., bu...” panggil Beni ke orangtuanya. Membuat mereka bertiga berhenti bercakap.
“Eh anak ibu udah bangun, ada apa sayang?” tanya ibu Beni dengan lembut dan mengusap rambut anaknya.
Anya yang melihat itu sedikit tersenyum. Ia masih duduk disofa tersebut bersama ayah Beni.
“Aku mau ngomong sesuatu. Bisa semuanya ke sini.” pinta Beni membuat Anya dan ayahnya mendekat.
“Ada apa Ben.” tanya ayah Beni penasaran dan Anya hanya diam berdiri di samping ayah Beni.
“Sini.” Beni mengulurkan tangan untuk digenggam oleh Anya.
“Udah ga usah malu.” ucap ibunya Beni sambil mendorong Anya untuk lebih mendekat ke anaknya.
“Ayah, Ibu gimana kalau Anya jadi menantu kalian.” ucap Beni dengan santai sambil mencium tangan Anya
Semua terdiam sesaat kecuali Beni yang malah menciumi tangan Anya. Hingga Anya tersadar lalu menarik tangannya dengan paksa.
“Ben kamu masih ngigau ya.” tanya Anya dengan gugup membuat orangtua Beni tertawa
“Engga aku udah bangun.” ucap Beni kembali mengambil tangan Anya, namun Anya terlebih dahulu menghindar.
“Kita selalu dukung kamu nak, apalagi kalau itu Anya kami bakal senang sekali.” ucap Ayah Beni dengan lembut
“Iya ibu juga bakal senang sekali, tapi tergantung Anyanya mau nggak sama kamu.” ucap Ibu Beni dengan meledek anaknya.
Anya semakin gugup, dia sungguh bingung harus menjawab bagaimana. Tak pernah terfikirkan bakalan terjadi seperti ini. Walau beberapa kali Beni mencoba mengungkapkan rasa sukanya. Namun kali ini benar benar diluar dugaannya. Terlebih dihadapan orangtua Beni.
Anya tambah salah tingkah, semua mata tertuju kepadanya. Seperti menantikan jawaban dari mulut Anya.
“Jadi gimana nak?” tanya Ayah Beni menatap Anya dengan penuh harapan
Beni mencoba bangun dengan rasa sedikit kesakitan. Secara reflek Anya membantunya dan Beni langsung menggenggam tangan Anya dengan erat.
“Anya kali ini aku gak mau berakhir seperti kemaren, aku udah pernah ngomong sama kamu. Dan saat ini didepan orangtua aku...” Beni berhenti sesaat mengambil nafas dan menatap dalam sosok gadis didepannya
“Aku mau menjadikanmu pendamping hidupku. I need you more than friend. Be my wife Anya.” ucap tulus Beni yang telah ia pendam selama ini.