I Need You More Than Friend

I Need You More Than Friend
Episode 15



15 Maju tak gentar


Beni pov


Setelah beberapa hari yang lalu aku mengutarakan isi hatiku ke pujaanku, tapi malah sambut seperti itu. Kini aku harus lebih berani mendekati sang pujaan. Apapun akan aku lakukan agar dia bisa menjadi milikku seutuhnya. Toh dia juga sudah saatnya mencari pendamping.


Aku ingat betul impian Anya dulu  akan mencari jodoh bila sudah bekerja. Alasan lain, dia tidak ingin membuang waktunya untuk sakit hati karena putus cinta. Kalau aku lihat sampai saat ini sepertinya dia masih single. Eh tapi dia terlihat akrab Rendi rekan satu devisinya, semoga hanya sekedar teman.


Tapi kita juga selama ini cuma teman.


 


 


Dan kemungkinan besar juga he want more than friend with Anya like me. Aku harus bertindak cepat sebelum dia suka sama orang lain.


 


 


Banyak yang selalu aku pikirkan untuk menjadi lebih dekat dengan dia. Aku selalu takut jika dia tiba tiba menghilang seperti dulu.


 


 


 


 


Malam ini aku kembali mengunjungi pujaan hati, namun sesampainya di rumahnya tak ada tanda tanda ada orang di dalam. Ku coba mengubungi beberapa kali, namun sayang nomernya tak aktif.


Khawatir pasti, cemas dan sedikit panik. Hampir saja aku menelfon orangku untuk mencari nomer teman temannya. Ku lihat sebuah sepeda motor berhenti didepan.


Terlihat sosok yang ia tunggu turun dari motor itu, ia dibonceng oleh seorang pria.


Apa pria


Siapa dia


Ku yakini dia bukan driver ojol, dari dandanannya yang cukup stylish dan aku tahu betul harga motor yang pria itu gunakan. Motor pria itu setara dengan miliknya dan .............


Ash kenapa jadi bahas motor yak wkwkwk


Aku terus memandangi mereka berdua yang sedikit berbincang. Dan sebelum pria itu pergi, ia mengisyaratkan ke Anya bahwa ada aku disini.


 


 


 


 


 


 


Author pov


Anya yang menyadari bahwa ada Beni di depan rumahnya lalu mengajak masuk. Seperti biasa setelah menuangkan minum dan menyajikannya mereka berbincang di ruang tamu.


 


 


“Nomer kamu kok gak aktif?” tanya Beni langsung


“Iya lowbat ponselku nih.” jawab Anya menunjukkan layar ponselnya yang gak mau hidup.


“Terus tadi siapa? Bukanya langsung pulang malah keluyuran.” ucap Beni kesal


“Owh itu Raka, aku juga baru ketemu dijalan tadi ....”


“Baru ketemu udah boncengan? Dia orang asing Anya! Kamu gak takut diapa apain ha!” potong Beni kaget dan menggunakan nada tinggi


“Ish main potong aja dengerin dulu!” bentak Anya memotong ucapan Beni


“..............”


“Kenapa gak telfon aku kan bisa aku jemput!” potong Beni


“Kan ponselku mati bambank!!” sahut Anya dengan nada tinggi


Beni langsung terdiam karena Anya membentaknya.


“Mau lanjutin gak nih ceritanya.” ucap Anya dan Beni hanya mengangguk.


 


 


 


 


Jadi ketika Anya mengendarai motornya tiba tiba merasakan ban belakang berkelok kelok. Hal itu membuat tak nyaman saat berkendara. Kemudian Anya memutuskan untuk berhenti mengecek kondisi ban belakang motornya. Dan kempes bahkan terdapat sedikit robekan di sisi ban tersebut.


Saat itu Anya langsung membuka ponselnya untuk mencari tau bengkel terdekat atau bahkan menemukan nomer yang nanti bisa menjemput motornya. Saat membuka aplikasi itu tiba tiba ponselnya mati, kehabisan daya. Mau tak mau dia harus mendorong motornya untuk mencari bengkel terdekat.


Saat berada didepan minimarket Anya rehat sebentar sambil membeli minum. Didepan minimarket itu terdapat kursi. Setelah duduk sebentar dan menghabiskan minumnya ia kembali mendorong motor kesayangannya.


Tiba tiba ada pria yang mendekatinya dan menawari bantuan dia adalah Raka. Raka yang tadi juga sedang duduk beberapa kursi sebelah Anya. Dia mungkin melihat Anya yang sudah kusut dan menawari bantuan.


Setelah Raka menelfon seseorang dari bengkel yang ia kenal, akhirnya motor Anya dibawa oleh pihak bengkel. Anya dan Raka pun ikut menuju ke bengkel. Karena ada sobekan di ban belakangnya maka harus ganti ban yang baru. Terlebih hari mulai gelap, Anya memilih untuk meninggalkan motornya dibengkel besar ini. Oleh karena itu juga Anya akhirnya pulang dengan diantar Raka. Itu juga atas permintaan Raka katanya tujuannya searah dengan tempatku.


 


 


Beni yang dari tadi diam menyimak cerita Anya, dia merasa kasian sosok pujaanya harus merasakan kelelahan seperti itu. Terlebih dia tidak bersamanya saat itu.


 


 


“Mulai besuk kamu aku antar jemput aja, sama nanti aku belikan power bank biar kalau ponsel mati bisa di charge” ucap kesal Beni, ia tak suka Anya dekat dengan cowok lain selain dirinya.


“Gak aku gak mau, aku juga udah ada power bank kok, cuma lupa bawa.”


“Aku khawatir nya kalau terjadi apa apa sama kamu.”


“Halah aku ga bakal kenapa kenapa, udah gede udah bisa jaga diri juga. Buktinya ini juga sampe rumah. Kalau cuma ban bocor mah dulu sering pas jaman kuliah hehehe jadi gak usah khawatir.”


“Tapi kan...”


“Udah deh aku udah gede Ben bukan anak anak yaw.” ucap Anya dengan sombong


“Berarti udah bisa jadi ibu dari anak anakku nanti dong.” sahut Beni dengan mantap


“Ya emang aku bakal jadi ibu buat anak aku.” ucap Anya terbata


“Anakku anakmu juga.”


“Enak aja. Enggak mau anakku ya anak bapaknya nanti, suamiku.”


“Aku mau jadi suami kamu.” ucap Beni sambil meraih tangan Anya


“..............”


“.............”


 


 


Hening sesaat, detak jantung Anya terus meningkat. Dia tak bisa membalas perkataan Beni. Dia bingung harus apa. Anya berfikir kalau Beni pasti sedang menggodanya.


“Jangan bercanda ah udah malem, sana pulang.” ucap Anya langsung menarik tangannya dari genggaman Beni


“Aku gak bercanda, mulai malam ini aku bakal terus terang sama kamu. Kata kata tadi beneran bukan candaan. Satu lagi, bersiaplah klepek klepek sama aku. Kali ini aku bakal maju tak gentar untuk deketin kamu more than friend ingat itu.”  ucap Beni dengan tatapan mematikan


“............” Anya hanya diam ia tak bisa berkutik.


“Good night my future wife.” ucap Beni mengelus kepala Anya dan beranjak pulang


“Salah makan apa dia.” sahut Anya saat menutup pintu.