I Need You More Than Friend

I Need You More Than Friend
Episode 25



25


Anya akhirnya sudah sampai di bengkel milik Raka, disana dia sudah disambut sumringah oleh Caca yang kebetulan sehabis dari toilet yang berada di dekat parkiran. Mereka berdua akhirnya naik ke lantai dua bengkel ini dimana ruangan milik Raka berada.


“Ada acara apa nih tumben ngumpul.” tanya Anya saat duduk


“Tuh mereka yang tiba tiba kesini.” sahut Raka sambil mengarahkan dagunya ke Rendi dan Caca yang duduk berdampingan.


“Cuma mau ngumpul aja, semenjak maen itu kita belum meet up an lagi kan.” ucap Rendi.


“Lah gue hampir tiap hari ketemu lo juga.” kata Anya sambil membuka botol mineral.


Entah kenapa botol ini sulit dibuka, biasanya Anya bisa membukanya. Berulang kali tangan Anya memutar botol itu hingga tangan Raka mengambil alih dan


Klek


Sekali putar langsung terbuka,


“Kalau gak bisa, minta tolong. Jangan sok nyusahin diri sendiri.” ucap Raka saat menyodorkan botol mineral ke arah Anya.


“Biasanya juga gue bisa buka sendiri.” sahut Anya


Obrolan mereka berempat tanpa disadari memakan waktu cukup lama. Anya yang awalnya hanya ingin sebentar ikut bergabung, malah dia ikut larut dalam obrolan ini.


Hingga pukul 22.45 kalau bukan karena Rendi yang tiba tiba kebelet poop, dan membuat kami semua menghentikan obrolan. Terlebih Anya juga harus segera pulang, ia lupa waktu beruntung belum sampai tengah malam.


“Anya... aku antar gimana, udah jam segini.” ajak Raka saat kami semua berada di parkiran


“Iya nya, kamu dianter Raka aja.” sahut Caca yang bersiap naik ke motor Rendi


“Ho’oh sorry gue gak bisa anterin. Bye gue buru buru.” pamit Rendi sudah menacapkan gas motornya sebelum gas dalam perutnya keluar.


Rendi memang tidak bisa poop kalau bukan di rumahnya. Beruntung rumah Caca tak jauh dari rumah Rendi membuatnya tak kerepotan walau mengantar gebetannya ini.


“Belum terlalu malem juga kok...” ucap Anya sambil membuka layar ponselnya yang ternyata sudah mati akibat kehabisan daya.


“Udah ayok, aku ikutin dari belakang kalau gitu.” sahut Raka yang sudah siap memakai helmnya.


Akhinya Anya sampai rumah dengan bantuan Raka yang terus mengawasinya dari belakang.


“Thanks ya hati hati dijalan....” ucap Anya


“OK!”


Brum brumm


30 menit kemudian...


Baru beberapa persen ponsel Anya terisi, ia sudah menghidupkan kembali ponselnya. Takut orangtuanya menghubungi.


Anya Pov


Setelah ponsel menyala, langsung banyak kali bunyi notifikasi menghiasi kamarku.


Terdapat chat grup yang hanya mengshare info info sekitar, ada chat dari Caca dan Rendi menanyakan keberadaanku. Chat dari Raka yang mengabarkan dia sudah sampai di rumahnya dengan selamat. Dan chat dari Beni yang memberitau bahwa dia sudah sampai di Singapura.


Aku masih enggan membalas chat chat itu. Hari yang melelahkan memang kali ini. Hari dimana aku ditinggal dinas ke luar negeri oleh Beni dan hari dimana kita bertengkar untuk pertama kalinya setelah menjalin pacaran.


Aku masih belum terbiasa memang untuk hubungan skinship, ya dia memang sudah menjadi pacar. Namun baru pacar, kami masih belum halal. Aku tak mau menambah dosa berlebih dihidupku. Dan aku juga tak mau khilaf larut dalam kepuasan dunia sebelum menjadi sah dengannya.


Walau aku memang beberapa kali khilaf karena mengizinkan Beni menciumku, dan aku tak mau lebih sebelum kami memang benar benar sah.


“Hufttt, salah gak sih. Tapi kalau Beni ninggalin aku... arghhh!” ucapku sendiri menenggelamkan diri dibantal.


Mataku perlahan sudah menunjukkan tanda tanda ingin tidur. Langsung ku charge kembali ponselku di samping tempat tidur. Belum sempat melepaskan ponsel dari tangan


Ting...


Pesan dari nomer kontak bernama Indra.


Pria yang tadi di bandara.


 


New Message from Indra


 


Selamat malam, maaf baru menghubungi. Hmm saya ingin mengganti uang kamu. Besok ada waktu?


Sudah ku ikhlaskan uang itu, namun kenapa pria ini kekeh untuk menggantinya. Aku tak mau berlanjut dalam chat ini lebih lama, karena mataku sudah tak tahan untuk dibuka.


[Besuk jam 12.00 saya free


Kalau anda bisa datang ke cafe X]


Setelah balas pesan aku sudah tak mempedulikan ponselku kembali. Lebih baik aku menyelam dialam mimpi agar besuk tak terlambat bangun kerja.


 


Beni Pov


Sudah semalam aku di negara ini, dan sudah semalaman juga aku tak berinteraksi dengan Anya. Dia bahkan tak membalas pesanku sampai saat ini.


Dan aku juga tak berani mengirimi dia pesan lagi. Karena aku tak tahu harus bagaimana sekarang, aku begitu menyesal dengan apa yang aku perbuat malam itu. Namun penyesalan datang di akhir dan membuatku harus berjauhan sementara dengannya. Berjauhan jarak dan hati.


Kini aku sudah siap untuk bertemu clientku di restoran yang berada di lantai dasar hotelku menginap.


Saat turun menggunakan lift baru juga sampai di lantai 3 ada orang ikut masuk dalam lift.


“Beni?” ucap orang itu lirih namun aku bisa mendengar.


Langsung saja aku mengarahkan pandanganku pada orang itu.


Dia adalah sosok perempuan yang dulu satu sekolah denganku dan kini tanpa sengaja dipertemukan disini dinegara lain.


“Rara.” ucapku memastikan perempuan yang sekarang satu lift denganku ini orang yang aku kenal atau bukan


“Hei long time no see.” ucapnya ingin mendekat seperti ingin memelukku,


“Yeah , kamu ngapain di sini.” tanyaku dan langsung sedikit menjauh agar dia tak dapat memelukku


“Owh aku cuma lagi liburan disini. Kamu?”


“Aku ada urusan kantor..”


Ting


Pintu lift terbuka menandakan kami sudah sampai di lantai dasar.


“Langsung kerja ini?” tanya Rara memastikan


“Iya, bye gue duluan ya.” ucapku pamit ke Rara dan meninggalkannya didepan lift


Perempuan ini cukup kenal denganku, yah aku mengenalnya karena dia teman Anya. secara tak langsung kami kenal begitu saja dengannya.


Rara orangnya cukup easy going, bahkan dia tak segan segan mengajakku berbicara ataupun mengechatku terlebih dahulu menciptakan obrolan obrolan.


Hanya itu yang aku tau dari Rara.


Author Pov


Anya kini sudah berada di Cafe X yang terletak diseberang kantornya.


“Lo emang janjian sama siapa sih sampe makan siang harus ke sini.” tanya Mbak Putri yang ikut Anya ke cafe ini


“Itu mbak kemaren pas aku dari bandara ada orang yang  pinjem uang ke aku pas beli minum. Terus dia mau balikin uang itu sekarang padahal udah aku bilangin gak usah tapi dia ngotot mau balikin” jawab Anya menjelaskan


“Jadi bener lo tadi malam otw dari bandara?” tanya Rendi


“Ya bener lah, lo kira.”


“Gue kira lo cuma ngomong doang, pantes lama sampenya.”


“Lo ngapain ke bandara? Ngitung pesawat?” imbuh Rendi


Belum sempat Anya menjawab, sosok Indra dengan kemeja kotak kotaknya datang menghampiri meja kami.


“Maaf yah lama... hai saya Indra.” ucap Indra duduk disamping Anya lalu menyapa Mbak putri dan Rendi yang duduk depannya.


“Gue Putri.”


“Rendi."


Pandangan Indra kini mengarah ke Anya seperti menunggu sesuatu.


“Apa ?” tanya Anya pada laki laki disampingnya ini


“Nama. Kemarin kamu belum kasih tau nama kamu.”


“Dia Anya, Anya Kalista.” sahut Rendi dengan tegas


Indra hanya mengangguk dan mengambil ponselnya mengetikkan sesuatu disana


“Dah, sekarang udah aku save nomer kamu sesuai nama kamu.” ucapnya mengarahkan ponselnya ke Anya


“Owh ok.” jawab Anya kikuk


“Ini uang kemaren, sama ini aku ada sesuatu buat kamu. Hmm bisa dibagi juga buat kalian. Sorry gue gak tau Anya bawa temen.” ucap Indra menyerahkan uang ke Anya dan paperbag yang berisi coklat belgia diatas meja.


“Eh kok jadi..” sahut Anya namun terpotong


“Udah ga apa apa, ini anggap aja oleh oleh.” potong Indra sambil tersenyum


“Wahh thanks ya ndra.” seru Mbak Putri saat membuka paperbag tersebut


Sedang Rendi ia kini masih meneliti pria dihadapannya ini. kemudian Rendi membuka ponselnya dan secara diam diam memotret pemandangan didepannya lalu mengirim ke seseorang


[picture]


Rak, saingan lo nambah nih


Disisinya mbak Putri justru sibuk mengabadikan coklat hasil pemberian Indra melalui story di sosial medianya. Kemudian ia juga membuat video story sosial medianya nampak mbak Putri yang memamerkan dirinya memegang paperbag coklat dan mengarahkan kameranya ke Indra tersenyum manis dan Anya duduk disampingnya terlihat sedang meminum kopinya.


30 menit kemudian,


Beni yang sedang melakukan perjalanan menuju tempat selanjutnya, ia iseng membuka akun sosial medianya. Niatnya ingin melihat Anya mengupdate sesuatu atau tidak.


Baru satu hari Beni sudah rindu berat pada sosok pacar rahasianya ini. Ditambah Anya sedang mendiamkan dirinya sekarang.


Saat membuka story akun Anya terlihat ia memposting 3 cup ukuran large ice coffe dan mengetag akun kedua rekannya. Lalu saat menslide status selanjutnya beberapa teman Beni kemudian terakhir sebelum ia menyudahi melihat lihat. Ada story baru dari akun bernama PutriK_ tak lain teman dari Anya yang beberapa waktu lalu baru aku follback.


Disana slide pertama memperlihatkan coklat dan slide kedua memperlihatkan video kegiatan mereka.


Deg


Anya


Yah disana memang ada Anya, Beni akhirnya  mengulang ulang terus story itu.


Anya duduk berdampingan dengan pria yang belum pernah aku ketahui. Bahkan pria itu tersenyum manis saat sang pembuat story mengarahkan kamera ke padanya.


Hatiku tiba tiba seperti terbakar, aku tak pernah mengetahui pria itu siapa. Sejak kapan pula Anya kenal pria itu.


“Aku harus pulang, aku gak kuat lagi.” ucap Akbar dalam hati