
27
Beruntung hari ini Anya dan Rendi tak ada lembur dan membuat mereka bisa pulang tepat waktu. Namun sore ini mereka tidak langsung pulang, mereka sudah bersiap untuk memberi kejutan untuk Raka dihari ulang tahunnya ini.
“Lo mau langsung kesana apa ikut gue jemput Caca” tanya Rendi saat di parkiran.
“hmm gue mau mampir beli sesuatu dulu, entar kita ketemuan aja didekat sana gimana?” balas Anya
“Ok ati ati lo.”
“Lo juga.”
Rendi sudah keluar terlebih dahulu dari parkiran, tak selang berapa lama sebuah mobil hitam mendekat ke arah Anya.
Sosok pria tampan dengan setelan jas hitam dengan dasi yang sudah entah kemana turun dari mobil tersebut.
“Kamu jadi pergi ini?” tanya langsung Beni saat turun dari mobil.
“Iya itu Rendi udah jemput Caca.”
“Hm.” balas malas Beni
Dalam lubuk hati Beni yang paling dalam, ia sangat berat membiarkan Anya memberi kejutan pada pria lain. Namun sayang Beni tak berani melarang Anya hanya karena alasan yang kekanak kanakan.
Anya yang memperhatikan Beni seperti tidak suka dengan apa yang akan dia lakukan, ia akhirnya memberanikan diri untuk selangkah mendekatinya.
Grep
Anya memeluk Beni dengan lembut, tak lebih dari 30 detik memang. Namun sudah membuat Beni tercengang. Akhirnya Beni bisa melepas Anya dengan perasaan sedikit lega.
Semenjak acara marahnya Anya karena perlakuan Beni tempo hari mereka berdua memang tak pernah skinship lagi selain memegang tangan. Hanya itu yang Beni berani lakukan saat berhadapan dengan pacarnya ini.
Beni sekarang menjaga betul setiap tindakan yang ia lakukan pada Anya, dia juga ingin menghormati Anya seperti wanita yang berharga. Yah Anya memang berharga dihidupnya. Oleh karena itu Beni tak berani merusak hal berharganya ini.
Dibengkel showroom milik Raka,
Sudah tiga puluh menit Anya, Rendi dan Caca menunggu sang tokoh utama dalam acara kejutan ini. Sudah melenceng dari rencana memang, yang harusnya mereka datang mengagetkan Raka malah sampai di bengkelnya Raka belum sampai disini.
“Buset dah udah setengah jam nih nunggu, apa gue telfon aja yak.” ucap Rendi yang sudah geregetan menunggu sobatnya ini
“Eh jangan, entar dia curiga kita mau ngasih kejutan. Mana aku tadi udah kirim chat ucapan selamat lagi.” keluh Anya
“Hmmm mending suruh karyawannya aja, bilang ada masalah disini.” ide dari Caca membuat Anya dan Rendi berbinar.
“Pinter tuuh.” ucap Anya.
“Ya jelas gebetan gue.” sahut Rendi malah mendapat dengkusan dari dua perempuan ini.
Akhirnya Rendi turun ke lantai dasar berbincang dengan kepala montir yang ada dibengkel ini. Beruntung rencana kali ini sukses, setelah ditelfon oleh kepala montir, Raka akhirnya mau datang ke bengkel ini.
“Girls, are you ready?!” seru Rendi saat menaiki tangga.
Langsung saja tiga orang ini bersiap siap, mereka sudah merancang lantai dua ini dengan sedikit pernak pernik khas ulangtahun. Terlebih kue ulang tahun sudah siap dari setengah jam yang lalu.
Brum brumm
Suara sepeda motor Raka sudah terdengar, membuat Anya, Rendi dan Caca berdebar. Mereka bertiga langung berdiri di posisi yang tak terlihat dari bawah namun begitu Raka naik ke lantai dua langsung dihadapakan oleh mereka bertiga.
“Gimana pak ada apa?” tanya Raka saat sampai dibengkelnya langsung menuju sang montir yang menelfonnya tadi
“Hmm itu pak tadi ada pelanggan rada ribet, te.. terus saya suruh nunggu diatas.”
“Emang ada apa?”
“Kurang tau bos, mending naik aja sekarang.” ucap montir yang tadi sempat di breafing oleh Rendi
Raka akhirnya naik ke ruangannya, ia menaiki tangga dengan memainkan ponsel untuk membalas beberapa pesan yang masuk.
“Surprise......!!!!” ucap tiga orang yang sudah menunggunya sejak tadi
“Weh apa’an nih.” kaget Raka yang langsung mendongkakkan kepalanya.
“Happy birth day bro, wish you all the best yaw. Sering sering traktir kita.” ucap Rendi sambil menyalami dan memeluk Raka sekilas
“thanks Ren, sae aja lo.”
“Selamat ulang tahun Raka, panjang umur semoga lekas didekatkan dengan jodoh.” ucapan dari Caca yang menyalaminya dan memeluknya sekilas juga
Lanjut ada Anya yang membawa kue ulangtahun dengan lilin 25 yang perlahan meleleh.
“Happy birth day yow, make a wish dulu nih terus tiup keburu leleh.” ucap Raka yang berharap mendapat pelukan dari perempuan ini namun tak seperti yang ia inginkan.
“Huffftt” Raka akhirnya meniup lilin.
“Yeyyy” sorak tiga orang disekitar Raka.
“Yuk foto buat kenang kenangan” ucap Caca yang sudah siap dengan ponselnya.
Mereka berempat melakukan wefie dengan posisi Caca berada di ujung kiri lalu sampingnya Rendi lalu Raka dan sampingnya Anya yang terlihat dirangkul oleh Raka.
Sebenarnya dalam foto itu kedua tangan Raka merangkul semuanya namun dalam foto itu hanya yang nampak tangan kanan Raka yang menempel di bahu Anya.
Caca yang sudah mengupload story dan mengetag akun media sosial masing masing orang yang ada disini. Kemudian Rendi dan Raka me reupload kembali story itu, Anya pun akhirnya ikut ikutan yang lain tanpa memikirkan siapa yang akan melihat status storynya.
“Yaudah yook gue traktir, mau makan apa kalian.” tawar Raka yang berbaik hati menawari ketiga temannya ini makan.
“Wahh bagooss, gak perlu gue sindir peka juga lo.” sahut Rendi
“Ya jelas di jidat lo udah ada tertulis minta traktiran tuh.” balas Raka
“Hahaha.” dercak tawa diantara mereka berempat mengalahkan bunyi ponsel Anya yang terus berdering.
“....”
“....”
Setelah beberapa kali pertimbangan mereka berempat makan bersama di tempat ini. Ditambah Raka tak hanya mentraktir ketiga temannya ini namun juga seluruh karyawanya yang ada dibawah.
“Enak nih bumbunya resep banget. Jadi kangen rumah aku.” ucap Anya menyantap bebek goreng dengan bumbu yang begitu gurih meresap dimulut.
“Dirumah lo suka masak kaya gini.” tanya Caca
“He’em Bapak sama Ibu aku dirumah melihara bebek, nah pas kalau pengen makan ya tinggal nyembelih terus dimasak kaya gini.” sahut Anya sambil mengangkat bagian bebek yang ia makan.
“Kalau gue ke rumah kamu boleh dong dimasakin ini.” ucap Raka membuat Rendi berdehem
“Ekhem ekhem hem.”
“Kenapa lo, keselek tulang?” sewot Raka
“Kagak, gue mencium bau bau....”
“Bau apa?” tanya Anya yang sudah selesai makan
“Bau mod...” ucapan Rendi terhenti karena Raka menyuapkan timun di mulutnya.
“Wahh gila lo gue anti timun tau.” sahut Rendi dengan timun yang sudah dikeluarkan dari mulutnya dan mengibas ngibaskan menggunakan tangannya.
“Bau apa tadi?” tanya kembali Anya yang masih penasaran
“Bau bumbu bumbu kasmaran” sahut Caca yang mengedarkan pandangan usil ke Raka yang sekarang salah tingkah.
Bahkan wajah Raka nampak memerah sekarang.