I Need You More Than Friend

I Need You More Than Friend
Episode 5



#5


Terjebak dalam Friendzone


Setelah kejadian itu Anya dan Beni sama sama tidak bisa tidur. Saling memikirkan apa yang terjadi pada masing masing.


Beni Pov


Setelah aku mengutarakan apa yang ada dipikiranku dulu, ku tinggalkan Anya dan bergegas pulang. Rasa rindu ini perlahan tersalurkan, namun bukan seperti ini yang aku inginkan. Sepanjang jalan ku renungkan semua perasaanku yang dulu selalu ku pendam, kepada sosok perempuan  yang mampu mengalihkan semua perhatianku hanya padanya, yaitu Anya.


Kita memang tidak punya hubungan lebih dari teman. Namun aku nyaman saat bersamanya dan aku selalu berusaha untuk dekat dengannya. I falling in love with her.


Dulu tak ada keberanian untuk berhubungan lebih dari teman. Karena aku masih belum percaya apa cinta itu, mungkin yang aku rasakan hanya rasa kagum. Hingga suatu saat dimana kita harus berpisah karena kepindahanku. Saat itu benar benar berat harus meninggalkan dia, ini pertama kalinya bagiku merasakan seperti itu. Bahkan saat itu aku tak segan untuk memeluknya erat dan aku... i am kiss her, its my first kiss. Owh maybe for we.


Setelah itu kami berdua masih sibuk dengan kegiatan diawal awal kuliah. Yah aku dan Anya beda kampus dan beda daerah aku kuliah di Bandung  sedangkan Anya di Yogyakarta. Hingga suatu hari ketika aku menguhubunginya disela sela kesibukkanku, i cant found her. Berawal dari itu kami tak pernah berkomunikasi lagi. Sama sekali, bahkan saat aku mencari tahu ke teman temanku sekolah tak ada yang memiliki nomer ponselnya. Sayangnya saat itu belum ada sosial media yang dapat menyambungkan antar penggunanya dengan mencari namanya. Kehilangan pasti, sangat kehilang ketika sama sekali tak bisa menghubunginya.


Karena jarak memisahkan ditambah aku tak bisa menghubunginya. Aku sempat frustasi sampai ingin mencari Anya ke jogja. Namun karena kesibukkanku  terus meningkat, ditambah keluargaku yang juga pindah di Bandung, jadi ku urungkan niatku saat itu. Namun sesalu ada penyesalan disaat ku merenung sendiri dan merindukannya.


Merindukan tatapan indahnya.


Merindukan senyuman manisnya.


Merindukan suara tertawa yang begitu renyah didengar.


Merindukan kebersamaan yang begitu membekas bahkan tak bisa dilupakan.


Yeah, everytime when i am alone, i miss her.


Hingga tuhan mempertemukan ku dengan dia kembali, di kantorku tepat saat dia akan pulang. Rasa senang bisa melihatnya kembali mengudara, namun seketika lenyap saat ia tak merespon pertemuan kami dengan raut yang bahagia seperti diriku. Dia bahkan  terkesan menghindar dariku. What wrong with me?


Inginku menuntut semua ini. iniginku memberontak padanya dimana ia menghilang dari ku selama ini. Namun aku sadar, aku seperti flatshoes yang tak punya hak. Yah aku tak memiliki hak untuk menyalahkan dia saat menghilang dariku. Karena kita tak ada hubungan spesial apapun, we just friend. But i cant...


Apakah dia juga ada rasa padaku? atau hanya aku yang memiliki rasa ini?


Yah pertanyaan itu selalu muncul sedari dulu dan aku takut mengungkapkan rasaku padanya. Namun aku selalu mendekatinya terus mendekatinya hingga kita berteman baik. Saat itu aku kira kita cukup pada hubungan itu. Karena saat bersamanya seperti itu saja sudah membuatku bahagia. Tapi saat kita harus terpisah jarak, aku benar benar merasa bahwa hubungan ini tak cukup sampai disitu.


Hingga saat dia pergi sebelum aku mengutarakan perasaanku, aku tak bisa apa apa. Serakahnya aku saat itu, i lost her kiss.


Apa itu yang membuatnya marah padaku?


Apa itu yang membuatnya pergi menghilang dariku.


Itu merupakan pertanyaan pertanyaan yang membuatku menyesali kejadian dahulu.


Kenapa penyesalan harus datang diakhir.....


Author Pov


“Anya, laporan minggu lalu udah selesai belum”  tanya Rendi yang sudah berada didepan kubikel Anya.


“Udah, mau langsung print apa dicek dulu gue kirim email”ujar Anya


“Kirim email dulu aja”


“Ok, siap”


Akhir bulan merupakan hari hari deadline menanti. Seperti hari ini saling tukar laporan untuk menyingkronkan data data terus bergilir. Seperti dikejar waktu semua sibuk dengan jobdesk masing masing. Hingga waktu menunjukkan pukul 21.00, Anya baru saja selesai dan bergegas untuk pulang.


Setelah membereskan barang barangnya Anya langsung memesan ojol berharap segera ada driver yang nyangkut sebelum hujan deras datang.  Padahal Rendi sudah menawarinya untuk nebeng namun karena hujan dan Rendi hanya membawa mantel untuk dirinya sendiri, akhirnya Anya memilih naik ojol untuk pulang.


“Hufttt..... ini kenapa pada gak ada yang nyangkut sih” keluh Anya yang sudah berada di depan lobby kantornya ditambah gerimis semakin rapat.  Suara gemuruh petir mulai terdengar, rasa dingin menembus blouse biru yang ia gunakan.


Hingga ada mobil hitam berhenti di area  drop off. Sosok Beni keluar dari mobil tersebut, langsung menghampiri wanita yang berdiri dengan memainkan ponselnya.


“Belum pulang?” tanya Beni membuat Anya kaget.


“Eh ini lagi nunggu ojol” ucap Anya dengan tenang, mulai sekarang sebisa mungkin Anya akan berusaha untuk biasa aja didepan Beni.


“Bareng aku aja bentar lagi hujan” ucap tegas Beni.


“Emmm makasih gak usah entar ngrepotin” sahut Anya dengan gugup.


“Engga udah gak terima penolakan, kamu bareng aku”


“Maaf pak, saya bisa pulang sendiri bentar lagi ojol saya dateng”


“Nggak, pokoknya bareng aku aja. Mana dari tadi gak ada yang nyangkut gitu drivernya” ucap Beni sambil mengarah ke ponsel Anya yang masih menunggu driver.


Anya salah tingkah lalu dari pada berdebat akhirnya dia mengangguk pasrah.


“Kamu mau ikut naik gak? Aku mau masuk bentar, ada berkas yang harus diambil” jelas Beni


“Saya tunggu sini aja pak”


“Ok bawa ini biar kamu gak bisa kabur, masuk dulu aja ga apa apa” Beni menyerahkan kunci mobilnya ke tangan Anya membuat Anya gak bisa melarikan diri kali ini.


5 menit kemudian, Beni akhirnya turun dan langsung mengajak Anya masuk ke dalam mobil.


“Kenapa gak masuk dulu, Kan udah aku kasih kunci biar kamu gak nunggu sambil kedinginan” tanya Beni saat masuk dalam mobil.


Anya hanya menggeleng malu hingga ia terperanjat kaget, Laki laki disampingnya ini menyampirkan jas yang ia kenakan tadi ke bahunya. Bau parfum khas laki laki melekat ke tubuh Anya kali ini. Ada sedikit rasa hangat saat ini bahkan sampai ke pipi Anya yang mulai memerah.


Kini Anya masih menunduk malu, ia bingung harus bagaimana. Apalagi setelah 4 tahunan kami tak bertemu dan kini dalam satu mobil. Duduk disampingnya, owh seperti nostagia jaman sekolah, berbedanya dulu menaiki sepeda motor dan kini berada dimobil dan bahkan dengan status berbeda. Status bos dan pegawainya.