I Need You More Than Friend

I Need You More Than Friend
Episode 30



# 30


Dalam perjalanan dari ibu kota ke jogja Anya terus merasa gelisah. Bagaimana tidak dia belum sempat bercerita apapun kepada orangtuanya mengenai Beni. Ia berharap tak ada spekulasi spekulasi aneh yang akan muncul nantinya.


 


 


“Kok diem mulu sih? Ada apa?” tanya Beni saat mereka berdua turun dari pesawat.


“Ha... Engga ada apa apa” balas Anya berusaha tersenyum. Sedari tadi memang Anya lebih banyak diam ditambah Beni juga sedang sibuk memeriksa berkas melalui tab yang dia bawa. Hal ini membuat Anya lebih banyak merenung memikirkan apa yang akan terjadi nanti.


 


 


“Mau makan dulu engga?” tanya Beni setelah mengambi ranselnya.


“Ha... Apa?”


“Kamu kenapa sih? Why? What happend?”


“Hmm maaf cuma masih kaget aja udah sampe sini hehehe.”


“Kamu bohong. Kenapa sini duduk dulu” ajak Beni mengajak Anya duduk di bangku yang ada di dalam bandara.


 


 


Anya beberapa kali menghela nafas dia gugup betul sekarang. Dia harus pulang secara mendadak dan membawa Beni. Perasaannya sekarangcampur aduk.


“Tell me why?” ucap lembut Beni sambil memegang tangan Anya.


Anya tak tau harus memulai dari mana. Ia akhirnya bercerita apa yang dia pikirkan selama diperjalanan. Terlalu banyak yang Anya pikirkan terutama omongan orang. Beni menanggapi dengan senyuman manisnya. Ia paham apa yang ditakutkan oleh wanita dihadapannya ini.


 


 


“Ok, makasih udah cerita. Ayo kita jalani ini, buang pikiran kamu tentang omongan orang. Anggap aja sekarang kamu lagi mau mudik gitu aja. Dan aku pikir kayanya aku gak langsung ke rumah kamu sekarang.” ucap Bnei membuat Anya kaget.


“Lah, apa maksudnya.  Teruss?” kaget Anya dalam hati ia berkata apa maksudnya ini. Apa Beni hanya mempermainkannya.


“Gini aku beri kamu waktu dulu buat ketemu sama keluarga kamu. I know keluargamu  pasti akan kaget kamu pulang tiba tiba kaya gini. Terlebih kamu juga sampe sekarang belum memberitahu mereka kan?” tanya Beni


Anya lalu menjawab dengan anggukan.


“Nah aku bakal tetep anter kamu, tapi aku ke rumah kamu besuk pagi. Aku beri kamu waktu untuk keluarga kamu terlebih dahulu. Syukur kamu mau cerita juga perihal hubungan kita, tapi kalaukamu belum mau cerita besuk pagi aku yang akan memperkenalkan diri langsung dan menjelaskan semuanya ke keluarga kamu. Gimana ga apa apa kan?”


“Terus kamu mau kemana nanti?”


“Aku bakal ke rumahku yang lama disana masih ada tante om aku.” sahut Beni membuat Anya mengangguk paham.


 


 


 


 


Akhirnya mereka berdua sudah didalam taksi, Langit sudah mulai menggelap,  Terlebih kalau menjelang malam suasana di desa rumah Anya tinggal sudah sepi.


 


 


Taksi berhenti di sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas. Tidak ada orang yang menyambutnya keluar. Kemungkinan efek suara taksi yang tidak bising.


“Makasih ya, salam buat tante dan om kamu. Terimakasih udah kasih waktu buat aku sama keluargaku. See you tomorrow.” pamit  Anya ke Beni lalu keluar dari taksi.


 


 


Anya melangkahkan kakinya menuju kerumahnya. Sebelum mengetuk pintu dia menaruh bingkisan ke kursi yang ada diteras.


Yah, sebelum keluar dari bandara ia sempatkan membawa sedikit makanan sebagai buah tangan walau dari daerah sini. Terlebih dia tak membawa barang lain selain slingbag  dari kantor.


Setelah menenangkan diri sejenak Anya perlahan mengetok pintu.


Tok tok tok...


Tak ada suara yang menyaut.


Tok tok tok


 


 


 


 


“Sebentar...” suara anak kecil cewek dari dalam sana.


Anya tahu betul itu siapa. Ia tersenyum lebar saat pintu itu dibuka oleh anak kecil itu. Yah dia adik bungsunya.


“Mbakkkkk....... !!!!” teriak histeris anak kecil itu melihat kakaknya yang datang.


“Hai Sina...” balasku memeluknya.


“Mbak Anya pulang........!!!!!!!!!!” teriaknya lagi saat mengeratkan pelukannya pada Anya.


“Ya ampun... kamu pulang nak.. kok gak kasih kabar” sahut ibu yang kemudian dibelakangnya sudah ada bapak dan Tasya si anak nomer dua yang sedang beranjak remaja.


“Maaf bu pak... mau kasih kejutan aja hehehe” ucap Anya sambil salim  dan memeluk kedua orangtuanya.


 


 


Dan jangan tanya kedua adik Anya sudah sibuk dengan bingkisan yang aku bawa tadi. Memang hobi mereka berdua adalah makan.


Anya Pov


Akhirnya aku sudah dirumah bersama keluargaku. Kami berkumpul bersama didepan televisi sambil makan secara lesehan dikarpet. Yah ini yang selalu ku rindukan saat bersama dirumah.


Momen momen sepeti ini yang selalu membuatku home sick.


“Cuti dua hari pak, udah kangen rumah” balasku


“Oalah kamu tu mbok ya bilang kalau mau pulang jadi ibu tadi masakkin enak gitu” sahut Ibu


“Hahaha kan seru kalau dadakan gini”


“Naik apa kesini mbak kok gak denger suara apa apa di depan” tanya Tasya padaku


“Taksi dong makanya gak denger”


“Wih gaya bener biasanya ngojek juga” balas Tasya


“Hahaha sekali kalilah kenapa masalah buat lo?” sahut ke ke Tasya. Udah lama emang gak berdebat dengan ini anak.


“Udah udah kalau ketemu pasti berantem” ucap bapak menghentikan aku dan Tasya.


 


 


 


 


Pukul 21.00


Suasana rumah sudah sepi, kedua adikku sudah tidur. Aku yang tadi setelah makan mengistirahatkan tubuhku dikamar beberapa menit.


Masih terdengar suara televisi dimana kedua orang tua ku masih asik menonton. Aku langkahkan keluar dan ikut bergabung dengan mereka.


“Gak tidur aja ndok?” tanya ibu padaku


“Belum mengantuk bu”


“Gimana kerjaan kamu disana?” tanya Bapak padaku


“Alhamdulillah pak, lancar sejauh ini ya walau mesti ada masalah sih tapi bisa diatas terus” jawabku


“Lingkungan kamu disana gimana” balik tanya Ibu


“Sejauh ini ketemu orang orang baik pak bu. Kalau di tempat kerja Anya udah ada temen deket bu pak yang sering aku cerita’in itu”


“Syukurlah kalau gitu. Tetep jaga diri aja ya ndok, jangan tergoda dengan kesenangan dunia. Karena itu sementara” ucap Ibu membuatku mengangguk paham.


 


 


 


 


Hening


Beberapa menit kami bertiga larut dalam tayangan televisi. Hingga iklan membuyarkan kami.


“Bapak ibu ada yang Anya mau ceritakan” ucapku memberanikan diri.


“Akhirnya ngaku juga dia bu” sahut bapak membuatku kaget.


“Lha ngaku apa pak” tanyaku kaget


“Ya bapak sama ibu tu udah tau kamu dari lahir. Kami udah hafal perilaku kamu. Udah sekarang jelasin kenapa pulang mendadak kaya gini. Gak mungkin ngajuin cuti terus pulang dadakan gini” jawab bapak membuatku memerah.


 


 


Akhirnya aku bercerita perlahan dimana aku bertemu dengan Beni sosok yang bapak sama ibu kenal. Yah kami memang sudah kenal dari jaman sekolah. Sempat beberapa pertanyaan yang orangtuaku lontarkan menanyakan tentang Beni. Mereka sempat terkejut pula saat mengetahui bahwa dia atasanku.


 


 


Hingga akhirnya aku bercerita ke inti masalah, bukan masalah lebih tepatnya inti tujuan aku pulang kali ini.


“Bapak ibu mohon ijin dan maaf Anya.... Anya sekarang menjalin hubungan dengan Beni....” ucapku terputus


“Hubungan gimana maksud kamu?” sahut Ibu.


“Hmmm maaf Anya baru cerita... Anya sama Beni udah menjalin hubungan pacaran beberapa bulan ini”


“Hufttt...” helaan nafas bapak membuatku takut. Yah ini pertama kalinya aku bercerita tentang cowok ke orang tua.


“Terus kamu udah ngapain aja sama dia” tanya tegas bapak.


“Jangan bilang kamu pulang karena...” imbuh bapak langsung aku potong


“Enggak pak.. . Maafin Anya udah menjalin hubungan tanpa tanya dulu ke bapak ibu. Maaf juga baru berani cerita sekarang. Anya sama Beni hanya sebatas menjalin hubungan pacaran secara wajar. Anya selalu berusaha untuk menjaga diri agar tidak mengecewakan bapak sama ibu”


“Kamu jujur dengan ucapan kamu?” tanya selidik ibu.


“Anya gak berani bohong ke Ibu bapak, ya Anya mungkin pernah beberapa kali hampir kelewat batas. Anya pernah merawat Beni saat dia sakit di apartemennya tapi Anya berani sumpah Anya gak melanggar norma...” ucapku berkaca kaca


 


 


 


 


 


 


 


 


Kami bertiga terdiam. Aku tak berani menatap kedua orangtuaku saat ini. Aku hanya menunduk ke bawah dan beberapa kali mencoba menenangkan diri dengan mengatur nafas.