I Need You More Than Friend

I Need You More Than Friend
Episode 11



#11 I need you


Hari senin merupakan waktu sibuk semua orang untuk kembali beraktivitas, setelah sejenak menikmati hari libur tiap minggunya.


Kondisi lalu lintas terutama di kota kota besar kembali padat. Anya baru saja sampai dikantor 10 menit sebelum waktu jam kantor mulai, ia langsung menuju ruangannya untuk bersiap diri.


Pagi ini akan diadakan monitoring perusahaan yang dihadiri oleh semua karyawan. Oleh karena itu Anya berangkat lebih pagi dibanding biasanya.


“Rajin bener dah, berangkat jam berapa lo” tanya Mas Dani salah satu rekan satu devisi Anya yang baru saja sampai di ruangan.


“Ini baru juga sampe aku mas hehehe”jawab Anya sambil memutar kursinya.


Setelah kedatangan Mas Dani lalu disusul rekan kerja lainnya. Waktu berkumpul sudah tiba, Anya berjalan bersama Mbak Putri dan juga Rendi, mereka yang sudah menjadi sobat dekat  Anya dari hari pertama ia bekerja. Selain itu dalam satu devisi mereka bertigalah masih berumur kepala 2, maka dari itu membuat mereka dekat.


Suasa ruangan monitoring masih ramai, setiap devisi duduk berdekatan. Tugas utama mereka saat ini yaitu mendengarkan setiap penjelasan seseorang yang berbicara di panggung itu.


“Stt..... stt.....” bisik Mbak Putri ke Anya, padahal acara belum dimulai.


Anya menaikkan alisnya dan menoleh ke arah Mbak Putri


“Nanti Pak Beni bakal ngomong disana lho, pasti keliatan keren” ucap Mbak Putri sambil cekikikan ia mengirim sinyal ke Anya untuk menagih janji cerita kemarin.


“Owh” jawab Anya membuat Mbak Putri kecewa bukan itu jawaban yang ia harapkan.


“Owh? gitu doang. Hmmm gue tau pasti lo udah liat yang lebih wownya pak Beni ya....” goda Mbak Putri seakan mengingatkan pertemuan mereka di supermarket weekend kemarin. Yah disana Beni memang tampil santai namun terlihat sexy, secara menggunakan setelan jas saja terlihat menawan dan saat menggunakan pakaian santai lebih terlihat sexy.


“Apasih mbak, udah diem tuh mau mulai acaranya” ucap Anya membuat mbak Putri diam.


Setelah acara monitoring selesai, semua kembali ke ruangan masing masing untuk kembali melanjutkan kerjaannya.


“Mbak ini kok datanya aneh, beda sama yang dilaporin sama bagian marketing” tanya Anya mendekatkan kursinya ke kubikel Mbak Putri.


“Mana?” sahut Mbak Putri sambil mengecek berkas yang dimaksud.


Setelah pertimbangan dan perdiskusian Anya dan Mbak Putri menemukan titik temu, mereka berdua beranjak ke kantin karena waktu menunjukkan jam istirahat makan siang.


Kalau sudah dikantor memang susah untuk Anya menghindar dari sosok Mbak Putri yang sudah seperti soulmate 4 3v3r hahaha. Mbak Putri juga menganggap Anya sebagai adik dan sahabat walau mereka belum lama kenal.


“Lo masih utang cerita sama gue” tanya Mbak Putri mengingatkan Anya disela makan siang mereka berdua.


“Iya mbak aku inget” sahut Anya terus menunduk.


“Yaudah cerita buru, gue penasaran sampe kebawa mimpi tau gak?”


“Enggak”


“Anya!!!” sebal Mbak Putri.


Anya tertawa melihat ekspresi wanita yang sudah seperti kakaknya ini.


“Iya gue bakal cerita sekarang, tapi jangan sampe cerita sama yang lain kejadian kemarin ya” pinta Anya


“Iya siap lo tau gue gak bakal cerita sama yang lain”jawab Mbak Putri dengan muka meyakinkan.


Ketika Anya bersiap mengambil nafas untuk bercerita


“Cerita apaan oyy” sahut seseorang mendekati mereka berdua. Membuat mereka terkejut.


“Kalian tu tega banget sih sama aku. Main tingal tinggalan, ini apa lagi, ada cerita apa ha?” tanya Rendi penasaran.


“Rahasia, ini urusan kaum cewek” ucap Anya


“Ish gak asik main rahasiaan, gue kan se genk sama kalian” sahut Rendi dengan muka kesal, membuat Anya dan Mbak Putri tertawa.


“Gue kemarin mergoki ni bocah sama boss belanja bareng” ucap Mbak Putri dengan entengnya.


“Mbak......!!” rengek Anya.


“Wihh gilaaaa keren juga lo nya main sama bos, dibeliin apa aja lo tas, sepatu apa perhiasaan?” antusias Rendi.


“Heh jupri mereka belanja disupermarket beli bahan makanan bukan di mall, makanya dengerin dulu cerita gue” ucap Mbak Putri setelah memukul lengan Rendi.


“Lo serumah sama si bos?” tanya Rendi menyelidik.


“Gila lo, enggalah!!” ucap tegas Anya mengarahkan sendoknya seperti mau melempar ke arah Rendi.


“Terus gimana ceritanya” tanya Rendi.


Mbak putri akhirnya menceritakan pertemuan mereka kemarin, dengan diteruskan cerita Anya.


“Yakin kalian cuma temen?” tanya Rendi.


“Tapi kok boss kayanya deket banget sama lu waktu itu sampe nyusulin kesana. Gue yakin pasti ada hubungan lain sebelum ini”


Anya memang sudah menceritakan kepada sobat sobat kerjanya ini tentang hubungannya dengan Beni sebatas teman satu SMA, lalu bertemu tidak sengaja di lobby kantor dipertemuan pertamanya disini.


“Dulu emang kita akrab, bisa dibilang sahabatan” ucap Anya karena diteror banyak pertanyaan.


“Kok gue gak yakin cewek sama cowok sahabatan” ucap Rendi


“Lah kita apa?”sahut Anya langsung.


“Kita bertiga mah girls squads baby, hahaha” ucap Mbak Putri membuat Anya ikut tertawa membuat Rendi kesal.


Tringg......


Ponsel Anya berdering menujukkan nomer yang tak dikenal menelfonnya.


“Siapa?”  tanya Rendi


“Gak tau ini” jawab Anya sambil mengarahkan layar ponselnya ke hadapan teman temannya.


“Angkat aja dulu, sapa tau penting”


Anya mengangkat telfon tersebut. Ternyata dari pihak pengiriman yang memberitahukan bahwa sepeda motor Anya sudah sampai dikota itu. Beberapa hari yang lalu, orangtua Anya memang sudah memberitau perihal pengiriman. Sepulang jam kantor, akhirnya Anya ditemani Rendi menuju tempat salah satu jasa pengiriman yang ada di kota ini.


Anya Pov


Senang rasanya kembali mengendarai motor kesayangannya ini. Beruntung jalan menuju kerumah dari tempat pengambilan motor tidak terlalu jauh dan mudah diingat dan setelah mendapat penjelasan dari Rendi. Yah aku memang belum hafal jalanan kota ini.


Sesampainya di rumah langsung ku masukkan sepeda motorku kedalam karena langit sudah menunjukkan gelap. Setelah itu aku mulali dengan ritual sehari hari setelah pulang kantor yaitu mandi.


Pukul 18.30 WIB aku makan dengan sepiring nasi dan telur mata sapi dengan kecap diatasnya. Malam ini aku malas masak sayur, karena sudah lelah dengan hari ini.


Selesainya makan Anya membuka ponselnya untuk melihat beberapa pesan. Salah satunya ada pesan dari Beni. Beni mengirimkan 10 pesan yang memang belum sempat aku buka.


~Beni


Anya.... udah pulang belum (17:50)


P(17:55)


P(17:55)


P(17:57)


P(17:58)


Kamu sibuk gak(18:00)


Kamu lagi pergi? (18:02)


Anya ...................... (18:02)


I need you.... (18:05)


Anya lo gak buka Hp yah, kalau udah baca telfon aku ya I really need you (18:05)


Anya awalnya tersenyum melihat chat ini namun ia heran, tidak seperti biasanya Beni mengirim pesan beruntun seperti ini. Akhirnya Anya memutuskan untuk membalas pesan tersebut. Namun tak kunjung ada balasan.


Setelah selesai mencuci piring, Anya memeriksa ponselnya kembali.


Beni masih belum membalas pesan Anya. Kemudian ia memutuskan untuk menelfon pria itu.


Drrrt drtt masih bedering......


Kali ke dua Anya menelfon akhirnya tersambung


[Ha..loo nya..] suara lirih Beni


-Halo Ben ada apa maaf baru buka hp tadi-  ucap Anya


[An....nya] sahut Beni berat dan terdengar rinngisan


-Hei, kamu kenapa? Kok kaya orang sakit–


[Sstt, im sick............. kamu bisa kesini] pinta Beni terdengar lemas dan meringis kesakitan.


-Mm, yaudah kirim alamatmu disana ada obat gak? Kalau enggga ada, kamu ngrasain apa aja kirim pesan aja entar aku mampir apotek sekalian- ucap Anya.


Anya sedikit khawatir dengan keadaan Beni. Bukan karena dia bosnya, Anya memang tak berani menolak permintaannya. Namun Anya ingat Beni sudah baik selama Anya disini dan mungkin ini juga bisa membalas salah satu kebaikannya.