I Need You More Than Friend

I Need You More Than Friend
Episode 7



#7 Flashback


Teng teng teng...


Pukul 7.00 upacara bendera yang rutin dilaksanakan setiap hari senin akan dimulai. Seluruh siswa bergegas menuju lapangan upacara termasuk Anya yang keluar dari kelas terakhir karena lupa naruh topi. Baru pertama kalinya Anya berdiri dibarisan paling belakang saat upacara biasanya di bagian tengah atau depan. Masih dengan nafas ngos ngos an Anya mencoba menenangkan dirinya terlebih dia tidak berada satu baris dengan teman teman dekatnya yang mana sudah baris lebih depan dibanding Anya.


Terlebih kelas Anya berdampingan dengan kelas jurusan IPS dan samping barisannya berisi siswa cowok semua. Untuk samping kanan Anya tak masalah karena dia berada di samping Roni teman sekelasnya. Namun untuk samping kiri Anya dia tak begitu kenal namun tahu.


“Hustt geser dong” suara cowok dengan nafas terengah engah yang datang terlambat


“Anjay lu main geser” cowok samping kiri Anya menjawab, lalu menggeser tubuhnya.


5 menit kemudian pengibaran bendera berlangsung


“Kepada sang merah putih Hormat Grakk!!!” ucap pemimpin upacara


Semua peserta upacara mengangkat tangannya untuk hormat pada sang merah putih. Hingga tiba tiba kepala Anya tersenggol siku tangan cowok yang datang terlambat tadi.


Dukkk


“Auw” ringis Anya pelan


“Ups Sorry” reflek cowok itu


Anya mengabaikannya karena dia takut ketahuan guru yang berjaga dibelakang barisan. Beberapa kali cowok itu membisikka kata sorry ditengah pengibaran bendera


“Sorry sttt oii sorry yak” bisik cowok itu berusaha mendapat perhatian dari Anya.


Anya masih fokus dalam upacaranya sebisa mungkin mengabaikan rasa kesalnya. Hingga saat istirahat ditempat cowok itu menyenggol lengan Anya.


“sttS...”


Anya masih memandang ke depan.


“Sttt... sttt” sambil menyenggol lengan Anya. Cowok ini memang lebih tinggi dan bukan hanya kakinya yang panjang namun tanganya cukup panjang terbukti bisa menyenggol lengan Anya tanpa bergeser dari barisan.


Karena sudah lelah menahan kesal dari beberapa kali senggolan lengan Anya menoleh ke wajah cowok tersebut.


“Maaf untuk tadi” ucap cowok tadi dengan suara pelan.


Anya hanya menangguk lalu fokus ke pandangan ke depan membuat si cowok geram.


Hingga upacara selesai masih ada 10 menit sebelum kegiatan belajar dimulai saat barisan dibubarkan Anya masih menunggu temannya Rara dan Sinta yang baris didepan. Namun tiba tiba cowok tadi berada dihadapannya.


“Aku minta maaf ya sorry tanganku kena kepalamu”


“Hmm” sambil mengalihkan pandangannya mencari teman temannya.


“Dimaafin gak nih” ucap cowok yang diketahui bernama Beni Bagaskara dari nametag yang berada diseragamnya.


“Iya” jawab Anya lalu menjauh dari Beni.


“Eh ikhlas gak?” sambil menahan tangan Anya.


Belum sempat menjawab teman teman Anya datang menghapiri langsung Anya melepas tangannya. Terlebih suasana masih ramai karena bubar barisan.


Sepulang sekolah Anya menuju parkiran untuk mengambil motornya dan suasana sekolah sudah sepi. Anya yang pulang terakhir akibat mengumpulkan tugas ke ruangan guru.


Diparkiran hanya tinggal beberapa motor memudahkan Anya untuk mengeluarkan motornya. Saat Anya memakai jaket ada cowok dengan motornya mendekati Anya.


Cowok itu Beni saat membuka helm full facenya.


“Oii” ucap Beni.


Anya hanya menatapnya sebentar lalu melanjutkan kegiatannya.


“Aku belum selesai tadi, sorry buat tadi pagi” ucapnya lagi.


“Iya tadi udah dimaafin”


“Ikhlas nggak? Masih sakit gak kepalamu?”


“Ikhlas, udah minggir aku mau pulang” ucap Anya ketus dan memakai helmnya.


“Makan dulu yuk,aku traktir buat permintaan maafku” ajak Beni.


“Enggak usah” jawab Anya lalu menstater motornya.


“Eh tunggu dulu” Beni menghadang motor Anya dengan motornya.


“Apalagi sih” kesal Anya.


“Nama kamu siapa, kenalan dulu”


“Aku udah tau kamu” jawab Anya.


“Tapi aku belum, namamu siapa eh aku baru disini”


Seketika Beni nyerahin ponselnya ke hadapan Anya.


“Nomer kamu”


Anya masih diam


“Minta nomermu kalau engga aku bakal hadang kamu gini terus. Atau aku bakal ngikutin motor kamu”


Dengan cepat Anya menyambar ponsel itu dan menulis nomornya ke ponsel itu. Berharap Beni bisa cepat minggir dan membiarkannya pulang.


Sejak hari itu Beni sering sekali mengirimi ia pesan. Tak tanggung tanggung ia bahkan beberapa kali menelfon untuk mendapat balasan dari chatnya.


Waktu terus berjalan, berawal dari rasa kesal hingga terbiasa. Setelah beberapa kali Beni mengganggu Anya, sampai akhirnya mereka akrab dan dekat bahkan sempat dikabarkan pacaran. Namun mereka sebatas teman yang selalu  bersama ketika saling membutuhkan.


Untuk Beni yang awalnya dari rasa bersalah karena kejadian itu sampai akhirnya nyaman dengan Anya dan tipikal Beni yang mudah bergaul dengan siapapun juga membuat perteman mereka menjadi dekat.


Hingga pada  saat setelah pengumuman kelulusan dan pengumuman penerimaan hasil seleksi masuk universitas Anya terlebih dahulu diterima di kampus impiannya, sedangkan Beni harus kembali berjuang. Namun dengan adanya Anya yang selalu menyemangati Beni akhirnya dia bersemangat belajar untuk tes masuk universitas. Beni sebenarnya sudah menaruh hati pada Anya setelah berjalannya waktu mereka berteman. Hingga tanpa sadar Anya selalu menjadi prioritas Beni.


Tetapi Beni tahu kalau Anya tipe orang yang gak mau membuang waktu untuk pacaran apalagi dia punya prinsip hanya akan menjalin hubungan ke calon suaminya kelak. Dia memilih menjadi jomblo abadi dimasa sekolahnya.


Beni yang tau prinsip Anya, dia tak berani mengungkapkan perasaannya takut memperenggang hubungan pertemanannya. Hingga saat mereka harus berpisah jarak karena Beni diterima di sebuah universitas di Ibu kota dan Anya di Jogja. Sudah terfikirkan bahwa Beni akan terus menjaga hubungan ini dengan baik sampai ia lulus dan bekerja. Dan saat itu ia akan mengungkapkan isi hatinya ke Anya.


Untuk Anya sendiri Beni merupakan sosok yang baik, sangat baik malah saat verifikasi pendaftaran dikampus Anya, Beni dengan sukarela mengantar dan menunggu dari pagi hingga sore akibat Anya belum hafal jalan. Anya juga merasa nyaman dengan sosok Beni hingga suatu saat temannya Rara bercerita kalau dia mengagumi sosok Beni. Saat itu Anya juga sudah memiliki rasa walau tak pernah dia sampaikan ke siapapun. Untuk asmara Anya memang gak pernah cerita karena dia sudah punya prinsip itu, dia percaya jodoh itu ditangan tuhan dan akan ada waktunya jodoh akan datang.


Hingga datang waktu dimana Anya dan Beni harus berpisah. Saat itu Beni yang meminta Anya untuk menegantarnya ke bandara. Beni memutuskan untuk berangkat ke Ibu kota menggunakan pesawat. Karena besuk pagi merupakan jadwal daftar ulang Beni. Ia tak mau dari jauh jauh hari di sana membuatnya memilih berangkat mepet seperti ini. Terlebih ayahnya merupakan pilot senior disalah satu maskapai terkenal, membuatnya tak sulit untuk mendapat tiket.


Ditambah saat itu Beni tak mau diantar oleh keluargannya, ia bilang akan diantar oleh Anya. Hal itu membuat Anya tak bisa menolak permintaan Beni didepan keluarganya saat Anya sampai dirumah Beni.


“yaudah, kalian hati hati ya. Anya tante titip Beni ya. Haduh ini kebalik ini harusnya. Ben walaupun kamu diantar Anya, kamu yang depan lho biar Anya yang bonceng” ucap Ibunya Beni dengan rempong.


“Iya tan, kalau gitu Anya pamit dulu ya” sahut Anya mengetahui Beni sudah lebih dulu berada dimotonya membawa koper kecil yang ia letakkan di bagian depan motor matic Anya.


Diperjalanan Beni dan Anya mengobrol dengan ceria, tak jarang mereka tertawa bersama diperjalanan. Hingga mereka berdua terdiam saat sudah berada diparkiran bandara.


Anya mengantar sampai ke tempat dimana berpisahnya pengantar dengan penumpang.


Sebelum masuk ke tempat check in, Beni mengajak Anya berhenti sembarang. Beruntung saat itu bandara sedang sepi.


“Makasih udah nganter aku” ucap Beni dengan nada lirih


“Iya, kamu baik baik disana ya. Kalau liburan jangan lupa balik” sahut Anya dengan senyum


“Iya...” kata Beni menatap lekat ke arah Anya.


“Yaudah sana masuk, tiket udah dibawakan?” tanya Anya sambil mengarahkan ransel Beni ke depan untuk mengecek tiket yang tadi ia gendong.


Setelah ketemu tiketnya Anya mendongkakkan kepalanya.


“Ini...” ucapan Anya terhenti karena mulutnya tertempel sesuatu.


Yah bibir Anya menempel dengan bibir Beni, tak lama hanya beberapa detik.


“Thank you. Hati hati dijalan ya. Aku bakal hubungi kamu terus” ucap Beni setelah melepaskan kecupan sesaat nya itu sambil mengambil tas dan tiketnya.


Disana Beni meninggalkan Anya yang mematung, ia sangat terkejut dengan apa yang Beni lakukan padanya. Namun sayang, Anya merasa tak marah. Padahal mereka tak punya hubungan spesial. Hingga Anya tersadar karena mendengar flight menuju ke Ibu kota bentar lagi lepas landas. Anya memperhatikan jendela kaca besar yang dapat melihat pesawat pesawat lepas landas.


Senyum terukir dari bibir  Anya


“Aku pasti bakal kangen kamu Ben, bye” ucap Anya sambil memandang pesawat yang mulai naik itu.


Saat diperjalanan pulang, Anya merasa sedih dan senang. Entah aneh memang. Ia sedih berpisah dengan Beni namun ia senang mendapat sesuatu tak terduga tadi.


Hingga ada salah satu teman Anya yang bernama Rara. Rara memang beberapa kali curhat ke Anya. Rara salah satu temanku yang juga kenal dengan Beni. Sore itu ia menangis dirumah Anya, ia mendengar kabar Beni sudah berangkat dan diantar oleh Anya. Ia sedih belum mengucapkan selamat tinggal dan ia sedikit kesal karena aku tak memberitahu jadwal berangkat Beni. Memang Beni selalu cuek saat bertemu dengn Rara, namun ketika bersama Anya Beni berusaha sebaik mungkin dengan teman teman Anya ini. Sudah sering Anya mendengar semua cerita Rara tentang Beni.


Hingga hari saat itu, saat Anya  pulang dari Bandara. Dirumahnya sudah ada Rara dengan raut muka tak mengenakkan. Anya langsung mengajaknya masuk ke kamar seperti biasa.


Disana Rara menyampaikan kekesalannya ke Anya karena tak memberitahu dan mengajakknya mengantar Beni ke bandara. Ia bahkan menangis dihadapan Anya. Membuat Anya sedih melihat Rara seperti ini.


Dulu timbul rasa tidak nyaman ketika Rara selalu mengeluh dia dicuekin sama Beni namun Anya selalu diberi perhatian. Anya merasa bersalah saat ini, bahhkan Rara menangis sampai tertidur. Dengan berat hati Anya berfikir mungkin sudah saatnya Anya menjauh dengan Beni. Berharap Beni akan melirik ke Rara. Ia tak tega melihat Rara seperti ini. Anya juga tak mau pertemanannya dengan Anya hancur jika Rara tahu kejadian tadi dibandara.


Beberapa bulan kemudian....


Tanpa sepengetahuan Rara, Anya sudah sedikit menjauh dengan Beni. Hingga suatu hari sepulang kuliah Rara kembali curhat kepadanya.


“Kesel tau Beni sama kamu baik mulu kalau sama aku dingin banget boro boro telfon diangkat chat aku kadang gak diread sama dia” ucap Rara.


“Mungkin dia pas sibuk kalau kamu pas hubungin dia” ujar Anya menenangkan Rara.


Banyak kali Anya selalu menenangkan Rara sahabatnya. Hingga suatu hari Rara menangis dan marah marah ke Anya tanpa alasan jelas. Rara menyebut kalau yang membuat dingin sikap Beni ke Rara itu karena Anya. Karena Anya dari dulu selalu bersama Beni hingga membuat Beni seperti selalu berpihak ke Anya.


Dari hari itu Anya sempat pusing mengatasi permasalahan ini akhirnya dia mengganti nomernya dan memutus kontak dengan Beni. Nomer baru Anya pun tidak pernah mau dimasukkan di grup Alumni sekolah. Hanya orang orang yang bertemu Anya dan dekat dengan Anya yang mempunyai nomer tersebut. Bahkan Rara kini tak  punya yah karena ia  menjauhi Anya, dan mereka juga tak berhubungan. Yah terjadi juga apa yang tak ingin Anya harapkan. Rara kini menjauhinya, dan Anya menerima itu makanya Anya mulai saat itu lebih menyukai sendiri.


Anya melakukan itu semua berharap hubungan Rara dan Beni bisa membaik. berharap hubungan Anya dan Rara akan membaik. Namun tak tahu waktu berkata lain. Anya melupakan rasa yang pernah ada pada Beni dan dia menyibukkan diri dengan kegiatan kuliahnya.