
#4
Hari demi hari dilalui Beni, jadwal yang begitu padat biasa dilalui oleh seorang Beni Bagaskara. Untuk menjadi pimpinan di perusahaan ini memanglah tidak mudah. Dia seperti tidak punya waktu lagi untuk dirinya sendiri. Beni terkenal menjadi sosok yang workholic dan penuh wibawa. Beni sosok yang tertutup didukung dengan sifatnya yang begitu dingin.
Beni pov
Pagi ini aku terlambat menghadiri meeting dikantor karena keterlambatan flight ku dari singapura. Beruntung aku sudah membaca bahan presentasi yang disampaikan. Walaupun terlambat aku harus mengevaluasi setiap kinerja karyawan karyawanku.
Setelah meeting dikantornya sendiri dilanjutkan ia bertemu dengan para klien. Hingga sore hari Beni lupa membawa beberapa berkas yang ia perlukan.
Aku harus kembali ke kantor mengambil berkas tersebut. Jam kantor telah usai tak perlu ke baseman untuk parkir. Ku berhentikan di depan lobby karena hanya singgah kesini untuk sesaat.
Saat ku turun dari mobil suasa kantor sudah lumayan sepi. Ku langkahkan kakiku hingga ku lihat seseorang yang sepertinya ia kenal. Orang itu berjalan dengan memainkan ponselnya.
“Orang orang seperti ini yang bisa menubruk siapa aja yang ada didepannya.” batin Beni
Hingga sebuah angin menerpa rambut cewek itu sedikit tersingkap dan pandangan Beni terfokuskan pada cewek itu.
Dia.....
Yah dia......
Benar itu dia......
Sosok yang meninggalkanku hingga membuatku hampa......
Pandanganku seakan terkunci untuk melihat cewek yang masih melihat ponselnya. Cewek tersebut Anya. Sudah berapa lama tak bertemu dengannya rasa kaget, bahagia, gugup bercampur aduk di hati sang Beni Bagaskara.
Aku terus memperhatikanya, hingga pandangan kami bertemu.
Aku ingin sekali memeluknya saat ini. Namun kenapa dia seolah gak mengenalku. Apa dia bukan orang yang kumaksud. Hingga seorang driver memanggil nama cewek tersebut.
Sungguh senang mengetahui dia adalah Anya. Langsung ku langkahkan kakiku mendekatinya, menahan agar tidak keburu pergi.
Aku masih mematung memandangi Anya yang pergi setelah ku memastikan dia orang yang ku maksud. Namun Anya masih memanggilku dengan Pak
Sungguh pikiranku penuh dengan Anya. Sosok yang lama menghilang setelah sekian lama hingga ia bertemu kembali
“Apa kau melupakanku nya.” ucap Beni dalam hati.
Autor Pov
Weekend terasa masih lama. Seperti biasa Anya bekerja dengan berberapa deadline yang mengejarnya. Setelah beberapa hari ini dia tidak bisa tidur memikirkan pertemuan itu.
Untungnya setelah hari dimana pertemuan Anya dan Beni, Anya tidak bertemu kembali dengan pria tersebut. Jam makan siang sudah menarik perut Anya untuk segera minta diisi.
“Mbak makan di kantin apa dimana?.” tanya Anya ke Mbak putri yang menjadi soulmate di devisi ini.
“Bakso yuk keluar kantor.” balas Mbak Putri
“Gassquen pake mobil lo ya, gue bawa motor soalnya.” sahut Rendi yang selalu mengikuti kita.
“Lu nyetir yak”balas Mbak Putri
Sungguh beruntung Anya memiliki rekan yang baik. Dia sangat betah di devisi ini dan dia bersyukur dipertemukan orang baru seperti mereka.
Setelah makan siang selesai keluar dari mobil mereka masih tertawa dengan ocehan Rendi yang absurd.
“Dulu ya jaman gue sekolah suka ditantangin tuh makan pedes. Salah satunya makan di Bakso tadi kalian rasain kan sambelnya dia kaya apa tuang dikit aja udah pedes”cerita Rendi
“Iya tadi gue baru tuang satu sendok aja gak kuat” potong Anya yang pada dasarnya memang gak terlalu kuat sama sambel sih
“Lah gue nya dulu pernah di kasih 10 sendok coba bayangin mana habis itu gue harus les, parah bener temen gue dulu” lanjut Rendi
“Terus lu gimana habis itu” tanya mbak Putri
“Nih ya gue kasih tau aib gue” sejenak Rendi menelan ludah
“Lo tau gue pas les mules ditengah tengah ngerjain soal dan parahnya gue cepirit” ujar Rendi yang langsung disambut dengan tawa tiada henti oleh 2 cewek itu
“Mana gue hari itu pake celana baru gue beli dan celana bahan warna putih coba sungguh memalukan”lanjut rendi yang membuat Mbak Putri tertawa terpingkal pingkal dan mata Anya sampai berkaca kaca
“Udah yok naik gak kuat aku pegel ni pipi tawa mulu” ucap Anya dengan tawa yang masih belum bisa berhenti
“Asli lo tanggung jawab Ren kalau gue ngompol gara gara ketawa” sahut Mbak putri
“Apa’an yang ketawa lu kok gue yang suruh tanggung jawab ogahh, lo juga udah punya suami” jawab Rendi jalan duluan
“Apasih lo, kagak nyambung” ucap Mbak Putri
.
.
Hari semakin gelap, Anya masih disibukkan dengan laporan yang sudah mendekati deadline. Sepertinya Anya akan lembur sendirian. Benar saja rekan rekan kerjanya sudah selesai 30 menit yang lalu dan sekarang Anya sendiri diruangan ini.
Diruangannya yang hanya terdengar bunyi ketikan Anya fokus kepada layar komputernya menyusun setiap kata yang telah ada dipikirannya. Hingga tak menyadari ada sosok yang memperhatikannya
“Belum pulang?” tanya Beni yang membuat Anya kaget
“Be.. Belum Pak” jawabnya gugup
Akhirnya Beni mendekati kubikel Anya dan menarik salah satu kursi yang ada didekatnya
“Ada perlu apa Pak Beni kemari” tanya Anya dengan nada sopan
“Kamu beneran gak ingat aku?”
“Hmm maksud Bapak gimana? Saya ingat bapak atasan saya”
“Iya tau kamu itu Anya Kalista kan teman SMAku please deh jangan panggil dengan sebutan bapak kita teman Nya”tutur Beni dengan sedikit penekanan
“Tapi Bapak kan emang atasan saya dan ini juga masih dikantor”
“Berarti kalau diluar kantor kita teman kan?”
Hening
Anya tak menjawab dia mengalihkan pandangannya ke layar komputernya.
“Anya aku kangen” ucap Beni dengan tatapan penuh
Jantung Anya berdetuk kencang. Fokusnya hancur seketika akibat kata yang diucap Beni barusan.
“Anya kenapa dulu kamu tiba tiba menghilang?” tanya Beni
“Maaf pak saya mau menyelesaikan ini dulu kalau tidak ada keperluan tentang pekerjaan bisakah bapak meninggalkan saya sendiri” ucap Anya dengan penuh keberanian
“Kamu ngusir aku?!!”
“Bukan begitu pak saya...” ucapannya terhenti ketika tangan Anya ditarik oleh Beni untuk menghadapnya
“Aku salah apa sih dulu” ujar Beni mengutarakan isi hatinya
“...”
“Kenapa kamu tiba tiba lost contact dengan ku Anya”
“Maaf aku hanya ganti nomer waktu itu”
“Kenapa gak ngabarin aku, kamu simpan nomernya ku Anya!!” bentak Beni
“hmm aku ganti hp juga jadi gak ada nomer dulu” ujar Anya mencari alasan lain
“Kenapa gak cari tahu dari yang lain?!” tanya Beni penuh penasaran
“aku.. Aku fokus kuliah jadi gak sempat!” jawab Anya tegas
“gak sempat? Apa sebegitu gak berartinya aku dihidupmu Nya”
Anya diam sesaat dia bingung menjawabnya bagaimana.
“Kamu tau aku sampe frustasi kamu gak ada kabar, ditelfon disms gak ada yang dibalas kamu ngerti perasaanku gak sih”
“Maaf sebelumnya aku gak bermaksud bikin kamu seperti itu” ucap Anya
“Kamu gak mikirin perasaan ku Nya Haa!!” bentak Beni sambil mencengkram tangan Anya dengan kuat
“Memang kenapa harus dipikirin?” ucap Anya
“Karena kita.....” balas Beni dengan nada menggantung
Kita hanya teman batin Anya, teman yang selalu berbagi kasih, perhatian namun tak ada yg berani mengungkapkan rasa hatinya hingga akhirnya berpisah.
Rasa sayang yang tak berani diungkapkan, karena takut akan memecah pertemanan.