I Need You More Than Friend

I Need You More Than Friend
Episode 13



#13 Inginku selalu


Anya pov


Pagi harinya, untuk pertama kali aku berangkat menggunakan sepeda motor kesayangan untuk berangkat ke kantor. Beruntung dia hafal jalan menuju ke kantor.


Sesampainya di kantor aku terlebih dahulu mampir ke pantry untuk membuat kopi hangat. Yah rasa kantuknya masih tersisa hingga sampai di kantor. Mungkin karena dia baru sampai rumah menjelang jam 11 malam dan dia baru bisa tertidur sekitar jam 1 pagi.


“Wih sekarang udah jadi anak motor nih.” ucap Rendi yang baru saja masuk ke pantry.


“Hehehe anak motor ala ala.” ucapku menduga Rendi pasti melihat motornya di parkiran kantor.


“Kalau dijalan pokoknya hati hati, jangan sein kanan tapi belok nya kiri ya.” Ucap Rendi sambil meyenggol lengan Anya


“Lo kira gue emak emak yang ada di meme meme itu.” ucap Anya kesal


“Hahaha lu kan juga bakal jadi emak emak.”


“Ya gak gitu juga kali wkwkwk.”


Seperti biasa kerjaan terus berdatangan silih berganti. Ya namanya juga kerja hehehe. Hari semakin siang, diluar sana pasti sedang teri teriknya. Saat Anya berjalan menuju devisi marketing, tak sengaja mendengar obrolan salah satu karyawan dengan sekertaris Beni. Mereka membicarakan perihal Beni sang bossnya tidak hadir karena sakit. Oleh karena itu sekertaris Beni mengeluh karena banyak jadwal yang harus diundur.


Anya mendengar samar obrolan mereka merasa senang dan khawatir. Dia senang karena Beni menurut pada omongannya untuk beristirahat dulu dan khawatir karena kondisi Beni apakah belum membaik sampai sekarang. Ingin rasanya menengok kembali Beni ke apartemennya untuk memastikan. Namun sayang, ia tak memiliki keberanian saat ini.


Satu, saat ini masih jam kantor dan gak mungkin dia membolos untuk menjenguk sang boss. Bisa jadi gosip dikantornya karena memang gak ada yang tau bahwa mereka berdua teman lama, selain Mbak Putri dan Rendi.


Kedua, dia juga takut mengunjungi seorang pria yang tinggal sendiri. Begitu banyak pikiran Anya, dia memang khawatir namun tak berani terlalu menunjukkannya. Seperti tadi malam, kalau bukan Beni yang memintanya, Anya gak akan berinisiatif ke sana sendiri. Mungkin lebih tepatnya malu dan gengsi. Namanya juga cewek, Anya terlalu malu menunjukkan perhatiannya ke sosok teman sekolahnya itu.  Bukan hanya teman sekolah, tapi teman yang pernah tak sengaja masuk dalam hatinya.


Anya lalu membuang semua pemikiranya, dia tak mau berada di siuasi seperti dulu. Fokusnya sekarang dia harus bekerja keras dan membahagiakan keluarganya dikampung.  Habis itu terus nikah, eh apa nikah?  calon aja belum ada hahaha.  Anya menertawakan dirinya sendiri.


“Nya mau langsung pulang?” tanya Mbak Putri.


“He'em mbak, kenapa?” balik tanya Anya sambil merapikan tasnya bersiap untuk pulang.


“Main ke rumah gue yuk, kemaren mertua dateng bawa banyak makanan. Gak kuat kalau cuma dihabisin gue sekeluarga.” ucap Mbak Putri menerangkan.


“Gue juga ajak Rendi juga, jadi kalian bisa motoran bareng.” imbuh Mbak Putri.


“Udah ayokk jarang kita qtime after office, mumpung gratis.” ucap Rendi sudah siap untuk pergi


Akhirnya mereka bertiga sampai di rumah Mbak Anya yang bertipe modern minimalis. Saat masuk kerumah sudah disambut oleh anak kecil berpipi gembul itu


“Hai aunty nya nya!!”ucap Dio dengan keras mengetahui Anya masuk bersama ibunya.


“Kok mama gak disapa.” keluh Mbak Putri.


“Om Rendi juga gak disapa, kita gak cs lagi lho io.” ucap Rendi pura pura kesal


“Ya kan ini peltama kali aunty nya nya ke sini.....” ucap Dio sambil mendekati Anya lalu merengkuhnya minta digendong.


Saat menunggu Mbak Putri berganti baju, Anya dan Rendi bermain dengan Dio diruang tengah.


“Kalian udah pantes lho punya buntut.” ucap Mbak Putri tiba tiba


“Apa’an sih mbak.” ucap Rendi dan Anya bersamaan


“Cie barengan, awas lu Ren saingan lu berat inget tu.”


“Issh apa’an sih, Dio main itu yuk. ” keluh Anya kesal lalu mengalihkan pembicaraan dengan mengajak Dio.


“Ayuk!”


Acara dirumah Mbak Putri telah selesai. Anya dan Rendi sudah berpisah karena arahnya berbeda. Anya menyempatkan diri mampir ke minimarket untuk membeli beberapa barang.


Saat keluar minimarket telfon Anya berdering


Beni is calling.....


[ Halo, ada apa Ben? ]


Nya bisa kesini lagi?


[Kamu belum baikan?]


Gak tau, ini lemes lagi


[Oke aku kesana sekarang]


Selesai menelfon, Anya langsung ke tempat Beni lagi. Yah dia senang diperlukan lagi oleh Beni. Sesampainya di apartemen Anya langsung diberi kartu akses masuk oleh resepsionis. Mungkin Beni yang menyuruhnya sebelum ia sampai disini.


Saat membuka pintu, unit Beni masih sepi seperti tadi malam. Ia beranjak menuju ke kamar pria itu.


Pintu terbuka, Anya melihat pria itu masih bergelung dengan selimutnya. Saat didekati Anya mengecek suhu di kening Beni. Sungguh panas dan tubuh Beni sedikit bergetar, mungkin dia menggigil.


“Ben...” panggil Anya sambil menepuk pelan selimut itu.


“Hemm.” jawabnya bergetar dan mencoba membuka matanya.


“Kita periksa yuk, ini kamu panas banget lho.”


“Di...dingin.”


Anya mendengar itu langsung mencari selimut lainnya. Dia tak peduli membuka lemari Beni tanpa ijin. Setelah ketemu, dia langsung merangkapkan ke tubuh pria tersebut.


Anya masih panik karena panas Beni gak turu turun. Dia sudah mencoba mengkompres dan meminumkan paracetamol namun tak ada perubahan.


Beni akhirnya membuka mata, saat itu juga Anya berusa bernegosiasi agar Beni mau diajak untuk periksa. Dengan sedikit ancaman akhirnya Beni mau untuk dibawa ke rumah sakit.


Setelah memakaikan kaos kaki rangkap 2 dan jaket tebal, Anya memapah Beni keluar dari unitnya. Walaupun sedikit kesusahan karena badan Beni berat, namun Anya masih semangat untuk mengatar Beni periksa.


Anya memutuskan untuk menggunakan taksi online, tak mungkin ia memboceng dengan sepeda motornya atau malah menyetir menggunakan mobil Beni dia tak bisa. Didalam taksi Beni terus memeluk Anya dengan erat, ia masih menggigil membuat Anya membiarkan posisi Beni sekarang.


Saat diperiksa Beni selalu menggenggam tangan Anya dengan erat. Ia seperti takut ditinggal oleh Anya. Sedangkan Anya sendiri merasa sangat bersalah karena tadi malam meninggalkan Beni sendirian dalam keadaan sakit.


Beni positif terkena tifus, mau tidak mau dia harus di rawat inap.


Saat berada di kamar rawat Anya telaten menyiapkan keperluan yang mungkin akan diperlukan Beni nanti saat bangun. Setelah itu dia mengamati Beni yang masih tertidur setelah meminum obatnya tadi. Pria yang biasanya gagah, tegap itu sekarang pucat dan lemas di kamar rawat rumah sakit.


“Anya...” gumannya membuat Anya kaget.


“Anya...”


“Iya ini aku Anya.” ucap Anya sambil memegang tangan Beni memberikan isyarat bahwa dia ada didekatnya.


Beni yang merasakannnya langsung memeluk tangan Anya seolah gak mau lepas. Anya membiarkan itu, ia merasa kasihan melihat temanya dalam kondisi seperti ini.


Beni pov


Anya yang tertidur bersandar di kursi yang ia sengaja dekatkan dengan ranjang Beni dan tangan masih dipeluk Beni. Entah ini jam berapa, aku terbangun karena haus mendapati posisiku dan Anya begitu dekat. aku tersenyum senang, ingin rasanya setiap membuka mata melihat sosok ini setiap hari.


Sepertinya aku memang harus segera mengikat wanita ini dengan hubungan yang paling serius. Tapi bagaimana kalau Anya tidak menerimaku atau dia malah suka dengan orang lain.  Aku gak bisa terima itu, pokoknya Anya akan jadi milikku.


Saatku mencoba meraih gelas, Anya terbangun kaget akibat ulahku.


“Eh Ben.”


“Maaf aku ngagetin kamu, aku cuma mau minum.”


Anya langsung mengambil minum dan menyodorkan ke arahku. Jadi begini ya enaknya dilayani.


“Kamu bisa bangunin aku biar aku aja yang ngambil.” ucap Anya


“Gak tega aku,maaf udah ngrepotin kamu.” kata Beni memandang dalam Anya


“Udah santai aku juga gak merasa repot kok.”


“Gimana udah enakan? Ada yang sakit?  mau aku panggilin dokter?” tanya Anya beruntun


Beni masih memandang Anya dengan lekat


“Ben ada yang sakit?” Anya menyadarkan Beni


“Eh engga, udah enakan dikit.”


“Yaudah buat tidur lagi aja, kamu harus istirahat.”


“Dari tadi aku tidur nya, kamu gak liat?” ucap Beni membuat Anya diam sejenak


“Eh maaf, mau butuh apa nanti aku cariin.”


“Gak butuh apa apa, cukup ada kamu disini udah segelanya buat aku.” ucap Beni percaya diri


“Ha ?” Anya kaget mendengar itu


“Ga apa apa lupakan, kayanya aku ngantuk.” kata Beni mengalihkan pembicaraan


Lagi lagi Beni tak berani mengungkapkan rasanya pada Anya. Padahal dia pernah menggoda Anya untuk jadi istrinya, namun saat seperti ini dia tak punya nyali.


Sepertinya nyalinya luntur karena infus ini.