I Need You More Than Friend

I Need You More Than Friend
Episode 26



26


Beni sudah sampai di ibukota lagi. Benar saja setelah meeting ia langsung memesan tiket untuk pulang. Ia ingin memperbaiki hubungannya. Dia sudah tak kuasa berjauhan dengan Anya.


“Hallo kamu dimana?” ucap Beni di telefon.


“...”


“Tunggu disana, jangan pergi dulu.”


Beni langsung menutup telfon tanpa menunggu jawaban dari orang yang ditelfon.


Kini ia sudah mendekati mobilnya yang sedari sudah menunggu sang pemilik sejak satu jam yang lalu.


“Pak, saya bawa sendiri saja. Ini buat ongkos.” ujar Beni pada sopir yang membawa mobilnya ke sini


“Baik bos.” jawab sang sopir lalu pergi meninggalkan Beni dan mobilnya.


Beni mengendarai mobil dengan kecepatan penuh, ia harus segera bertemu dengan pujaan hatinya. Kini sampailah dia minimarket tak jauh dari rumah Anya.


Dari dalam mobil Beni sudah melihat perempuan itu menunggunya di kursi depan minimarket memangku kresek belanjaannya dan memainkan ponsel.


Sungguh hati ini merasa berbunga bunga saat melihatnya secara langsung seperti ini. Tanpa pikir panjang setelah parkir dengan benar, Beni turun lalu menghampiri perempuan itu.


“Anya....” ucap Beni sambil berjalan cepat menghampirinya.


“Lah kapan kamu...”


“Hah hah hah i miss you so much.” ucap Beni ingin memeluk Anya namun ia sadar sedang banyak orang disekitarnya membuatnya mengurungkan niat itu.


Tampak kekikuk an diantara mereka. Anya terkejut Beni tiba tiba sudah pulang ke sini padahal masih beberapa hari lagi Beni disana.


“Boleh aku minta?” tanya Beni sambil melihat botol minum yang sudah terbuka di samping Anya.


“Eh aku belikan yang baru aja.” ucap Anya mau berdiri namun tanganya dicegah oleh Beni.


“Udah ini aja.” balas Beni langsung meminum habis minuman milik Anya.


Anya hanya pasrah, bukan sekali ini Beni meminta sesuatu dari dirinya. Sudah sangat sering Beni selalu minta minum atau makan yang ia makan tanpa mau dibelikan atau dipesankan yang baru.


“Yuk pulang sama aku.” ajak Beni.


“Aku bawa motor ben.”


“Hufttt ... yaudah kamu duluan aku entar dibelakang kamu.”


Anya mengangguk dan mulai berjalan menuju motornya. Belum juga sampai di motornya tangan Beni sudah mengambil alih kresek belanjanya dan membawanya sambil mengantar Anya ke motonya.


“Ini biar aku yang bawa. Terus kamu pake ini.” ujar Beni meletakkan sejenak kresek itu lalu melepas jas yang ia pakai


Beni lalu memakaikannya ke Anya.


“Eh , gak perlu.”


“Udah diem, pake ini.” paksa Beni memakaikan jasnya yang begitu kebesaran untuk Anya.


“Udah sana gak usah ngebut, aku dibelakang kamu.” imbuh Beni selesai memakaikan jasnya ke tubuh Anya


Diperjalanan Anya mengendarai motornya dengan kecepatan sedang dan dibelakangnya ada Beni yang membututi menggunakan mobilnya.


Beni tersenyum kecil melihat pacarnya ini dari belakang yang terlihat begitu besar akibat jas miliknya. Jasnya menjadi menggembung karena tertepa angin, sungguh menggemaskan memang.


“Salah sendiri gak pake jaket.” ucap sendiri Beni dalam mobil masih terus memperhatikan pengendara motor didepannya ini.


Anya Pov


Aku benar benar terkejut melihat Beni yang menghampiriku di minirmarket tadi. Entah apa yang membuatnya begitu cepat kembali lagi kesini. Apalagi sekarang ia mengikuti dari belakang, wajahnya tampak lelah memang. Hal ini membuatku tak tega mendiamkan dia lagi.


Aku memarkirkan motorku dalam halaman rumah messku. Disebrang sana Beni sudah turun dari mobilnya lengkap membawa kresek belanjaanku.


Aku langsung membuka kunci pintu rumah, dan Beni sudah berada dibelakangku kali ini


“Aku kira kamu belanja makanan atau cemilan. Tau nya roti jepang.” ucap Beni sambil melihat isi kantung kresek belanjaanku


Bodohnya aku tadi mengijinkan belanjaanku dibawanya.


Malu.


Sungguh memalukan.


Mukaku sudah merah sekarang, terlebih aku membeli itu cukup banyak. Aku terbiasa menstock banyak memang.


Kini setelah pintu terbuka, aku langsung mengambil alih kresek itu dan meninggalkan Beni masuk ke rumah.


Aku tau Beni bakal masuk dengan sendirinya tanpa perlu aku persilahkan. Setelah meletakkan roti jepangku didalam kamar, aku langsung membuatkan minum untuk Beni.


Saat aku membawakan minum, Beni sudah merebahkan setengah badannya di kaki sofa dengan kaki yang selonjor di karpet bulu yang kemaren baru aku pasang. Beni terlihat sangat lelah, ia menutupi matanya dengan lengan tangannya.


Aku tak tega melihatnya seperti itu, ingin rasanya memindahkan posisinya agar lebih nyaman. Namun aku tak kuasa untuk mengangkat tubuhnya.


Dia tak merasa terganggu sama sekali saat aku memakaikannya selimut. Kemudian aku tinggal dia untuk ganti baju santai dan memasan makanan yang nanti bisa ia makan.


Sudah satu jam Beni tidur dalam posisi seperti itu. Aku hanya berharap semoga ia tak sakit saat bangun. Makanan yang aku pesan pun sudah dingin.


“Hmm mending aku panasin lagi aja deh.” ucapku meletakkan ponsel dimeja dan membawa makanan itu ke dapur


Author Pov


Tring.... tring... tring...


Ponsel Anya berdering, dan sang pemilik ponsel sedang sibuk di dapur.


Suara ponsel Anya membuat Beni bangun. Ia mendengar suara ponsel yang bukan miliknya. Sesaat ia mencari sumber suara, lalu ia menemukan ponsel itu.


~Caca calling~


Tanpa menunggu lama Beni menggeser ke tombol hijau untuk menjawab telfon


Hallo..


Ucap Beni membuka percakapan dalam telfon.


[Hallo, eh maaf Anyanya ada?]


Owh bentar, dia lagi di dapur


[Owh iya, terimakasih]


Tanpa menutup telfon Beni beranjak ke dapur Anya yang sejak tadi dia bangun terdengar aktivitasnya disana.


“Eh kamu ngagetin aja.” kaget Anya melihat Beni dibelakangnya dan memegang ponselnya


“Ini temen kamu telfon.” sahut Beni menyerahkan ponsel itu ke pemiliknya.


Anya yang melihat ponselnya sudah diangkat ia buru buru mengambil alih sambil meneruskan masaknya yang bentar lagi selesai.


Hallo maaf ya Ca.


[Hallo, siapa tadi hayooo]


Apa sih, ada apa nelfon.


[Ini kata Rendi, lusa Raka ultah. Nah ada rencana mau surprise’in dia gitu. Lo mau gak?]


Wih, aku sih ok ok aja.


[Yaudah kita mau ngado barengan apa sendiri sendiri? Kebetulan juga aku sama Rendi lagi di mall nih cuci mata]


Barengan juga ok tuh.


Sekalian kalian beli entar kalau ada yang cocok.


Aku gak tau dia sukanya yang gimana.


Rendi pasti lebih paham.


[Okay, siap sis entar kalau nemu aku send pic ke kamu]


Okay, entar kabarin aja terus gue tf.


[Ok ok, sans. Yaudah gue lanjut dulu. Entar gue teror lo siapa cowok tadi]


Haduh, semoga lo lupa.


[Gak bakal lupa, gue belum bilang Rendi juga. Kalau bilang sekarang pasti lo ditelfon sama dia]


Please jangan kasih tau dia.


Dia tu ember bocor.


Udah bye gue lagi masak.


Awas kalau sampe kasih tau dia.


[Hahaha ok ok silahkan dilanjut bye]


Call ended


“Kasih tau siapa?” tanya Beni yang sejak tadi duduk tak jauh dari Anya masak


“Kamu tuh ya, dari tadi bikin kaget mulu.” kesal Anya sudah dua kali ia terperanjat kaget akibat Beni


Dalam suasana kesal Anya menyuguhkan makanan yang tadi ia panaskan ke hadapan Beni. Sedangkan Beni terus memperhatikan raut kesal Anya dengan senang. Ia tak ada bosannya memperhatikan perempuannya ini.


“Nya kita nikah yuk.” ucap Beni


Anya yang sedang menyiapkan piring langsung mematung mendengar ucapan Beni kali ini.