
#12 Please Stay
Setelah memarkirkan sepeda motor Anya langsung menuju ke bagian informasi yang berada di lobby apartemen ini.
“Selamat malam, maaf saya ingin bertemu dengan penghuni sini bagaimana ya prosedurnya?” ucap Anya dengan sopan.
“Unit berapa bu, saya coba check an sudah ada akses ijin apa belum” balas resepsionis.
“Hmm saya gak tau temen saya sakit tadi suruh saya kesini. Namanya Beni Bagaskara”
“Baik, mohon ditunggu sebentar bu saya check”
“Owh ini beliau belum memberi akses, saya hubungi beliau dulu. Kalau boleh tau dengan ibu siapa?”
“Saya Anya Kalista”
Setelah telfon terhubung, akhirnya Anya diantarkan sampai lantai unit Beni tinggal. Anya menyusuri lorong tersebut mencari unit nomor 304.
Anya beberapa kali memencet bel unit tersebut. Namun belum juga dibukakan pintu. Anya mendengus kesal karena menunggu lama.
Klik
Pintu terbuka menampilkan sosok pria dengan rambut berantakan dan sedikit bersandar di dinding dekat pintu. Jika dilihat pria itu seperti tak punya daya.
“Maaf aku lupa belum beri akses” ucap Beni lirih dan berjalan mencari pegangan.
“Sejak kapan kamu kaya gini” ucap Anya sambil membantu Beni jalan untuk masuk ke kamarnya.
“nggak tau” ucap Beni dengan lirih.
Beni yang masih dipapah oleh Anya mengarahkan menuju ke kamarnya. Beni memang tak sanggup untuk lama berdiri.
Anya berhasil membaringkan tubuh Beni kembali ke kasurnya. Saat tangan Anya menyentuh kening Beni terasa panas. Beni memang demam tinggi kemungkinan efek kelelahan.
“Ke rumah sakit aja po? Kamu panas banget” ajak Anya khawatir.
“ Hufttt, enggak mau” ucap Beni lalu menutupi mukanya dengan selimut.
Anya terkikik melihat sikap Beni yang seperti anak kecil. Beni sangat tidak suka di periksa. Dia lebih memilih mengkonsumsi obat aja.
Anya beranjak dari kamar itu untuk mencari perlengkapan untuk mengkompres Beni. Selain itu Anya juga menyiapkan sedikit makanan yang tadi sempat dia bawa dari rumahnya.
Beni Pov
Saat ini kening ku terasa dingin. Ku raba terdapat sapu tangan kecil warna biru muda yang bertengger di keningku. Aku tersenyum, ini pasti Anya.
Entah berapa lama aku tertidur kembali setelah membukakan pintu untuk Anya tadi. Saat ku ingin beranjak dari kasur sosok perempuan itu datang dengan membawa nampan berisi makanan dan segelas air putih.
“Eh udah bangun” ucap Anya saat memasukki kamar Beni.
“Ini aku kamu makan dulu terus minum obat, tapi aku gak buat bubur tapi ini nasinya lemes kok tadi pagi aku pas masak nasi kebanyakan air jadi agak lembek dikit” cerocos Anya yang sudah duduk disamping ranjangku.
“Lidah ku pait nya” ucapku
“Makanya dipaksa makan biar sembuh terus lidahmu gak pait lagi” Anya menyodorkan piring ke arahku.
“Hfttt” aku hanya membuang nafas dan memangku piring sedikit panas yang berisi nasi dan sayur sop.
“Ayok dimakan malah diliatin doang” protes Anya dan gak peka.
“Dipaksa makan lah, mau sakit terus emang?”
“Suapin....” ucap ku dengan manja
Anya kaget dengan balasanku yang merengek seperti anak kecil. Apakah laki laki kalau sakit berubah menjadi manja seperti anak kecil. Entahlah tapi aku memang mau dimanja kalau sama Anya.
“Yaudah, aku gak mau makan” ucapku karena Anya tak merespon permintaanku tadi sambil menaruh piring itu ke nakas sebelah ranjangku. Lalu aku kembali berbaring dan menutup dengan selimut.
Author Pov
Anya yang melihat kelakuan Beni yang seperti orang merajuk akhirnnya menarik selimut tersebut dan bersedia menyuapi bayi besar itu. Hanya 5 sendok yang masuk dalam perut Beni. Setelah itu Beni sudah tak mau lagi.
Setelah itu Anya kemudian memberikan obat untuk Beni meminumnya, sambil beranjak untuk kembali ke dapur membereskan peralatan makan ini. Selesai dengan mencuci piring Anya kembali ke kamar tersebut, dia akan pamit untuk pulang karena sudah malam.
Beni yang masih bersandar di atas ranjang melihat Anya mulai berkemas. Padahal ia sudah disuruh untuk tidur agar obatnya bekerja dengan baik. Tapi dia tak rela kalau ditinggal sendiri, hingga menunggu Anya selesai mencuci piring dan kini memperhatikan Anya yang sudah siap untuk pergi.
“Ben, aku pulang dulu ya. Udah malam kamu juga udah minum obat habis ini buat tidur sapa tau besuk udah mendingan” ucap Anya.
Beni hanya memandangi wajah Anya tanpa menjawab perkataannya.
Anya kemudian meletakkan tangannya ke kening Beni untuk memeriksa kembali sebelum ia pergi. Saat menjauhkan tangannya, tiba tiba tangan Anya di genggam oleh kedua tangan Beni.
“Anya” ucap Beni
“Apa?”
“Please stay with me tonight” ucap Beni masih menggenggam tangan Anya dan membawanya di depan keningnya lagi.
Hening ...
Anya mulai ragu untuk pulang, dia masih khawatir dengan kondisi Beni yang masih belum pulih. Namun hari semakin malam dan di sini cuma ada mereka berdua. Anya masih berfikir positif namun dia juga bakal canggung jika semalaman disini. Apalagi kalau sampai menginap. Owh tidak.
Tapi dia juga tidak tega melihat wajah pucat teman baiknya ini.
“Ben....” ucap Anya melepas gengaman Beni membuat pria ini seperti kehilangan peganga.
“Maaf aku harus pulang, ini udah malam” ucap Anya
Beni menampilkan raut sedih, namun dia tak bisa memaksakan egonya karena dia juga tak memiliki hak kepemilikan Anya. Akhirnya, genggaman itu mengendur dan Anya bisa melepaskan tangan satunya itu.
“Oke hati hati, makasih udah rawat aku” ucap Beni dengan lesu.
“Iya sama sama, cepet sembuh ya kalau ada apa apa hubungi aku” sahut Anya
“Aku antar sampai kamu dapet ojol” ajak Beni yang mencoba turun dari ranjang.
“Eh nggak usah aku bawa motor kok, tadi sore motorku baru sampe jadi kesininya aku pake motor”
“Owh kalau gitu sampe parkiran”
“Udah enggak usah kamu diem disini, tidur aja kamu tuh biar cepet sembuh jangan bandel besuk kalau masih sakit gak usah kerja dulu istirahat titik” ucap Anya
Beni mendengar Anya memperhatikannya membuat sedikit senang. Kemudian Beni membiarkan gadisnya itu pulang sendiri.
Anya yang sedari tadi menahan rasa deg deg an nya saat bersama dengan Beni akhirnya bernafas lega, walau masih khawatir. Namun setidaknya dia tidak berada di kamar berdua dengan Beni. Dan Anya sudah keluar dari unit itu. Ia berharap Beni segera pulih.