I Need You More Than Friend

I Need You More Than Friend
Episode 10



#10


Anya Pov


Pagi ini rasanya sungguh besar gaya gravitasi yang ada di kasurku, setelah sholat subuh ku putuskan untuk kembali untuk berbaring mumpung weekend. Aku memutuskan untuk hari ini ku luangkan waktu untuk mengurus rumah dan mungkin sore hari untuk belaja persediaan makanan.


Hari menjelang siang, setelah beberapa kali bangun sebentar dan tidur lagi ku langkahkan kakiku menuju dapur.


Ting....


Ponselku berbunyi menandakan ada pesan masuk


~Beni:


Pagi....


Hari ini ada acara ngga?


Pagi juga, hmm mau beberes rumah aku


Ada apa?


Aku free hari ini, bosen gak tahu mau ngapain


Hmm aku bantu beberes gmana


Eh jangan


Kenapa?


Aku gak enak, pokoknya jangan kesini pas aku beberes


Kalau kesini gak akan ku bukain pintu


Yaudah nanti kalau udah beres semuanya kabari ya


Ku letakkan kembali ponselku, dan menyelesaikan sarapan rangkap makan siangku. Hari ini memang aku butuh me time lagi.


Hari menjelang sore, setelah seharian melakukan kegiatan rumah kini ku bersiap untuk ke supermarket terdekat. Dompet, ponsel dan jaket tipis sudah siap ku bergegas mencari driver di ponselku.


*Supermarket


Anya memasukki supermarket langsung mengambil troli. Saat memilih perlengkapan mandi tiba tiba ponselnya bunyi. Siapa lagi kalau bukan Beni,


Beni calling


[Haloo..... udah beres belum?] tanya Beni to the point


Udah kenapa


[Kok gak ngabarin]


Maaf lupa


[Yaudah aku kesana ya]


Eh aku lagi keluar


[Kemana?, kok gak ajak aku kan bisa aku anter]


**Udah terlanjur, aku di supermarket I


Aku mau belanja dulu, kalau mau kerumah sana juga gpp**


[Aku kesana, tunggu!!]


Terserah


Anya mematikan telfon dan melanjutkan belanjanya. Disisi lain, Beni memang semakin mencari cara untuk mendekat diri ke Anya. Seperti saat ini ia harus segera menyusul Anya di Supermarket. Dalam perjalanan Beni mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia tak mau kehilangan jejak lagi. Hanya perlu beberapa menit Beni  sudah sampai ditempat yang dimaksud.


.


.


.


Beni calling...


[kamu disebelah mana]


Eh beneran kesini?


[aku di pintu masuk ini, buruan kamu disebelah mana]


Bentar aku bakal ke depan


[Ok]


Setelah Anya memberi tahu posisinya dan melambaikan tangan Beni bergegas menyusulnya.


Kini mereka sedang berada dilorong bahan makanan. Beni yang membantu Anya mendorong troli dan Anya berjalan disebelahnya.


“Mau masak apa hari ini?” tanya Beni


“Entah aku belum kepikiran, paling beli minyak, garam sama bumbu pokok dapur dulu aja. Kamu ada yang mau dibeli?”


“Belum tahu  sih, nanti aku dimasakin yak. Aku belum makan dari pagi” ucap Beni cengengesan sambil menorong troli membuat Anya kaget.


“Lah kok belum makan?”


“Ya tadi mau ngajak kamu sarapan tapi kamu sibuk”


“Aku maunya makan sama kamu” ucap Beni membuat Anya blushing lagi.


Setelah memasukkan bumbu dapur, mereka bergegas memilih sayuran. Saat sibuk memilih tiba tiba ada yang memanggilnya.


“Anya..!!” panggil mbak Putri dengan mendorong troli berisi balita cowok lucu yang dimasukkan dalam troli.


“Eh mbak, lagi belanja juga?” tanya Anya sambil mendekat ke mbak Putri.


“Ini anakmu mbak, siapa namanya?” imbuh Anya sambil memegang tangan balita itu.


“Dio aunty” jawab mbak Putri.


“Hallo Dio” sapa Beni yang sudah berada dibelakang Anya.


“Eh pak Beni” sapa mbak Putri sambil menunduk kepala sejenak. Ia kaget bosnya ada disini. Sedikit pangling melihat bosnya kini menggunakan pakaian santai, celana pendek selutut, sandal dan rambut yang dibiarkan terurai begitu saja, berbeda dengan dikantor yang ditata klinis ke belakang khas pria pebisnis. Namun masih terlihat menawan.


Mbak Putri kaget saat mengetahui Beni belanja bersama Anya. Tatapannya penuh selidik dia arahkan ke Anya. Saat Beni mencoba berinteraksi dengan Dio anaknya, Mbak Putri langsung menarik Anya sedikit menjauh ke mereka.


“Lu belanja bareng bos?”


“Hmm iya”


“Kalian ada hubungan apa?”


“Besuk gue ceritain mbak” jawab Anya yang sedikit gugup apalagi Beni sudah melihatnya yang sedang  bisik bisik dengan mbak Putri.


“Pokoknya besuk gue tagih!!” ucap mbak Putri tegas.


Anya hanya mengangguk. Mereka kembali melanjutkan belanja.


Saat semua belanjaan sudah masuk dalam troli, Anya dan Beni menuju ke kasir.


“Ini udah semua?” tanya kasir


“Udah mbak” jawab Anya


“Total semuanya .....” ujar kasir


“Pake ini mbak” ucap Beni menyodorkan kartu kreditnya.


“Eh jangan mbak, ini aja” ucap Anya langsung menaruh uang cash ke meja kasih itu dan menjauhkan tangan Beni.


“Udah pake punyaku aja Anya”tawar Beni


“Engga engga, ini belanjaan ku jadi aku yang bayar”ketus Anya


Disela sela perdebatannya sang kasir akhirnya memotong perdebatan dua sejoli ini.


“Jadi ini mau bayar pake yang mana pak,bu?” tanya kasir bingung menatap mereka.


“Ini aja” jawab mereka berdua secara bersamaan.


“Nih mbak udah ini aja cash” Anya menyodorkan uangnya ke kasir dan mengambil kartu kredit Beni.


“Mau dibayarin suami kok gak mau sih bu?”ucap kasir sambil menerima uang dari Anya.


“Dia bukan suami saya!” ucap cepat Anya.


Beni akhirnya hanya diam dan terkekeh melihat sifat ngotot Anya yang masih sama seperti dulu. Saat mereka berdua ke parkiran.


“Aku gak mau kamu kaya tadi” ucap Anya sambil menyerahkan kembali kartu kreditnya.


“Kenapa sih, kan aku tadi juga belanja” sahut Beni saat meneriima kembali kartunya.


“Cuma beli cemilan 1 doang, masa mau bayar semua pokoknya aku gak suka. Besuk lagi aku gak mau belanja sama kamu” sahut Anya dengan muka kesalnya.


“Loh loh kamu mau ngajak aku belanja lagi emang? Hmmm aku sih seneng seneng aja kalau diajakin lagi”


“Eh engga, bukan mau ngajak. Aku juga tadi gak ngajak kamu. Intinya aku gak suka kamu bayarin aku kaya tadi” kesal Anya.


“Kan aku yang mau, toh cuma habis segitu gak langsung bikin aku bangkrut”


“Sombong!” ucap Anya membuat Beni terkekeh.


“Udah dong keselnya, iya maaf buat yang tadi” ucap Beni.


“Hmm”


“Padahal kamu bisa hemat lho kalau tadi aku bayarin, kan bisa buat yang lain” jelas Beni


“Engga! aku nggak mau, selagi itu kebutuhanku dan aku bisa bayar sendiri ya bayar pake uang aku, kecuali entar kalau udah berkeluarga nah itu beda” ucap Anya masih kesal


“Yaudah besuk kalau kita udah berkeluarga belanja yang banyak ya”ucap Beni dan tangan kirinya mengelus kepala Anya namun tatapan fokus ke jalan untuk menyetir.


“Lah kenapa ngajak aku? Ya kamu ajak istrimulah” sahut Anya dengan menhindarkan kepalanya dari tangan Beni.


“Ya kamu kan gak mau aku bayarin, yaudah kamu jadi istri aku aja biar aku bisa bayarin kamu belanja” ucap Beni dengan entengnya membuat Anya kaget.


deg


deg


deg


Pipi Anya sudah memerah, detak jantung sudah tak karuan. Namun Anya mengalihkan pandangannya ke kaca mobil sampingnya melihat jalanan kota.


“Ngaco ih” ucap Anya


“Emang kamu gak mau?” tanya Beni