I Need You More Than Friend

I Need You More Than Friend
Episode 19



19 Gelisah


Anya tak berani menatap sosok dihadapannya kali ini. Dia takut terlena dengan perasaannya. Jauh dilubuk paling terdalam dia merasa sangat senang perasaannya seakan tersambut. Namun Anya sudah berjanji untuk mengubur rasa itu sejak lama. Dia sudah bertahan beberapa tahun ini, dan kini akankah dia mesti menyerah dan kembali menumbuhkan hatinya untuk sosok ini.


Beni yang sedari tadi terus menggebu gebu, ia merasakan kesal yang luar biasa beberapa hari ini. Ia kesal dengan dirinya sendiri. Pertama, sikapnya yang mendiamkan Anya berharap Anya akan datang kepadanya namun malah tak ada hasil. Kedua, melihat Anya dekat dengan laki laki lain apalagi mereka terlihat sangat dekat. Ketiga, ketika Beni mencoba menghubungi Anya untuk memperbaiki sikapnya, malah dia seperti diabaikan oleh Anya karena ia sedang asik asikan bersama laki laki itu.


Tak ada lagi percakapan diantara mereka hingga Beni akhirnya pamit pulang. Anya hanya menanggapi dengan anggukan, dan mengantar sampai pintu tanpa kata.


Beni pov


Pikiranku kacau malam ini. Aku menyesal tadi sempat membentak Anya seperti itu. Ku abaikan rasa lelahku, demi bertemu dengannya.


Kini tinggalah rasa sesal yang membara. Ku buka sedikit jendela mobilku, untuk menikmati angin malam. Berharap dapat mendinginkan pikiranku. Ingin rasanya memutar waktu kembali. Seharusnya aku tak seperti itu malam ini.


Ku tancap gas sekencang mungkin, untuk mengalihkan pikiranku sejenak. Beruntung malam ini lalu lintas sudah mulai sepi. Tak banyak pengemudi yang melintas, membuatku semakin mengemudi dengan kecepatan maksimal.


Hingga saat melewati persimpangan yang sudah dekat dengan apartement, aku kehilangan kendali.


Cittttt .............


Brukkk....


Terdapat pengendara sepeda motor yang tiba tiba datang dari arah berlawanan. Beruntungnya si pengemudi sepeda motor dapat menghindar. Namun tidak dengan Beni, mobilnya ia tabrakkan ke sisi kiri jalan dan mengenai salah satu pohon besar di sisi jalan tersebut.


Saat itu aku sudah tak tahu apa apa, mendadak aku lemah. Aku hanya mendengar beberapa orang membantuku keluar dari mobil, dan aku mulai tak sadarkan diri.


Anya pov


Rutinitas bekerja kembali. Setelah kejadian itu, aku tak berhubungan kembali dengan Beni. Dia juga tak mengirim pesan maupun menelfonku kembali.


Sedangkan hari mingguku kemarin diisi dengan kedatangan teman temanku (Raka, Rendi dan Caca) yang memang sudah janjian untuk main ke rumah. Kini aku berkutat kembali dengan berkas dan kumpulan angka berjibun.


“Guys, nanti habis makan siang langsung ke auditorium ya.” ucap Mas Huda.


“Wih, ada apa nih.” ujar Mbak Putri mewakili pertanyaan kita semua.


“Gak tahu, ini tadi cuma dikasih tau sama pihak atas suruh gitu.” sahut Mas Huda


Seusai jam makan siang kita semua berkumpul di auditorium kantor ini. Beberapa pimpinan setiap devisi berada di atas panggung. Aku masih penasaran kenapa kita dikumpulkan disini, pasti ada kejadian atau pengumuman penting yang akan disampaikan.


Setelah beberapa petinggi grub perusahaan memberikan sambutan dan penyampaian terkait pergantian posisi jabatan akibat para petinggi beberapa pensiun. Saat ku melihat jajaran bos, ada yang kurang. Aku tak melihat bos kantorku sendiri, ya aku tak melihat sosok Beni berada di rentetan itu.


Apakah ia ikut digantikan posisinya. Aku masih bertanya tanya sendiri. Sependengaranku tadi utuk kantor bagianku tak ada pergantian.


“Mbak bos kita ganti gak sih.” tanyaku memastikan.


“Lo tuh gimana sih, gak dengerin apa gimana?” sahut Mbak Putri.


“Ya denger beberapa aja hehehe. Jadi punya kita ganti nggak?” ucapku.


“enggalahE orang masih seger gitu. Lo yang gebetannya jangan sok gak tau deh.”


“Ish apa’an sih mbak, orang kita cuma temen biasa doang.”


“Masa ?” ucap Mbak Putri dengan raut muka mengejek.


“Tau ah. Males gue.” ucapku kesal mengakhiri percakapan.


Saat semua karyawan mulai berjalan kembali ke ruangan masing masing, aku masih mencari sosok itu. Mungkin saja dia terselip di antara jajaran yang lain.


“Woy balik kandang yok.” ucap Rendi membuyarkan scaningku mencarik sosok tadi.


“Lo cari si bos ya.” imbuh Rendi, aku tanggapi dengan gelengan.


“Tadi gue gak liat bos juga sih kayanya disana.” ucap Mbak Putri.


“Pak bos nggak masuk, kayanya cuti.” kata Mas Huda.


“Eh bos kenapa tumben cuti.” tanya Mbak Putri ke arahku.


“Lah mana gue tau.” sahutku.


“Masa lo gak tau?” imbuh Rendi.


“Suer deh gue gak tau urusan bos, siapa gue.”


“Ya kan lo doi nya bos.” ucap Mbak Putri membuatku kesal karena ini masih bersama rekan kerja yang lain.


“Ish gue bilang engga...” ucapku terpotong saat.


“Boss cuti sakit, dia opname di rumah sakit.” ucap Mas Huda membuat kita berhenti berdebat.


“Sakit apa emang?” tanya Rendi seakan mewakili pikiranku.


“Gak tau ini cuma baru baca di grub sebelah katanya dirawat di RS gitu.” ucap Mas Huda sambil memperlihatkan chat grub di ponselnya.


“Lo juga gak tau?” tanya Mbak Putri menyikutku lalu ku balas dengan gelengan.


Setelah mendengar kabar itu, aku tak fokus bekerja. Ingin rasanya aku menghubunginya untuk menanyakan kabarnya. Terlebih tadi malam dia telah bertengkar dengannya. namun, aku tak punya nyali saat ini untuk langsung menjenguk atau sekedar mengirim pesan padanya.


Sepulang dari kantor, aku menemani Mbak Putri untuk belanja bulanan dan sedikit cuci mata.


“lo sama bos gimana?” tanya Mbak Putri


“gak tau mbak.”


“Lah gimana ni anak? Jadi lo beneran gak tau si bos kenapa?” tanya Mbak Putri dengan tatapan mautnya. Lalu ku balas dengan anggukan.


“Gue ..........” ucapku terhenti tak tau harus cerita atau engga.


“Cerita deh gue gak bakal ember bener dah.” ucap Mbak Putri meyakinkan.


Lalu aku menceritakan pertemuanku dengan Beni kemarin malam


“Gue udah tebak emang boss cinta mati sama lo, eh tunggu jangan jangan dia masuk RS karena lo gantungin perasa’anya?” ucap Mbak Putri membuatku melotot ke arahnya.


“Gue gak gantungin dia mbak, tapi gue juga takut kalau dia sakit karena gue juga.” ucapku frustasi.


“Lo udah tanya kabarnya belum?”


“Gak berani gue.”


“Lah kenapa?”


“Ya gue takut kalau....”


“Sekarang gue tanya, lo khawatir gak sama doi?”


“Ya iyalah mbak, gue masih punya hati mbak.”


“Tuh kan.”


“Ya kan wajar mba kalau temen kenapa kenapa kita khawatir.”


“Iya gue tau, tapi kayanya lo dri tadi sempet gak fokus gue yakin lo mikirin si bos.”


“Auh ah gue bingung harus gimana.”


“Tanya aja hati lo gimana? Semoga aja gak ketutup gengsi lo itu.”


Ucapan Mbak Putri ini membuatku tambah kepikiran dengan Beni.


“Gue penasaran lo sama siapa tadi, temennya Rendi?”


“Raka.”


“Iya sama Raka, lo sama Raka gimana?”


“Cuma temen.”


“Temen aja mulu tau tau demen kaya lo sama bos.”


“Aish gue gak tau mbak, gue masih mau cari temen dulu.”


“Temen hidup maksudnya?”


“Engga mbak.”


“Kok gue ramal Raka bakalan suka sama lo. Lo siap siap aja ya bakal ada cerita part 2 temen jadi demen.”


“Coba liat aja nanti.” ucapku ngejek.


“Wah wah lo ya.”


Selesai berbelanja kita langsung berpisah menuju rumah masing masing.


Setelah selesai bersih diri, aku beranjak untuk sekedar duduk santai sambil nonton TV.


Tiba tiba ponselku berdering.


+62-875******** calling


Nomor tak kenal, aku ragu untuk mengangkatnya. Hingga panggilan ke dua nomer itu mencoba menelfonku aku putuskan untuk mengangkaynya.


[Hallo] ucapku perlahan


{hallo, akhirnya diangkat juga}


[maaf sebelumnya ini siapa ya]


{Anya ini tante Yuna, ibunya Beni}


[owh maaf tante, Anya gak ngenalin suaranya]


{iya ga apa apa, ini tante nelfon mau minta Anya ke sini bisa}


[ada apa emang tante, maaf Anya belum sempat jenguk Beni tan]


{iya, makanya tante minta kamu ke sini sekarang bisa? Nanti jam 8 Beni mau operasi...}


[apa operasi? Sakit apa Beni tan?] ucapku dengan nada kaget


{makanya kamu kesini temeni dia, dari tadi dia gelisah maklum pertama kali operasi. Tante suruh nelfon kamu malah gak mau. Yaudah tadi tante cari kontak kamu di hpnya}


[        ] belum sempat aku berfikir untuk menjawab


{kamu bisa kan kesini sekarang?}


[eh iya tan, aku siap siap dulu]


{yaudah nanti tante chat ruangannya, jangan lama lama ya nanti jam 8 Beni udah masuk ruang operasi}


[iya tan] ucapku menutup telfon lalu bergegas menuju rumah sakit.