
20 Aku butuh kekuatan
Sesampainya di rumah sakit, Anya langsung menuju ke kamar inap Beni. Pandanganku beredar mencari bangsal dari ruangan tersebut.
Setelah bertanya dengan perawat yang sedang berjalan, akhirnya ketemu. Sebelum mengetok pintu, Anya beberapa kali mengatur nafas. Walaupun ia tak tau apa yang harus ia lakukan didalam. Terlebih ada kedua orangtua Beni juga disana.
Tok tok tok
Anya Pov
Sosok Pria yang sudah berumur membukakan pintu kamar itu, yah sosok itu ayah Beni. Dulu saat SMA aku memang sudah berapa kali bertemu dengan beliau, namun semenjak pertemuanku kembali dengan Beni baru kali ini bertemu lagi.
Saatku dipersilahkan masuk dan sedikit bercakap dengan orangtua Beni. Kini kami ditinggal berdua diruangan ini. Orangtua Beni memintaku menemani anak laki lakinya ini, beralasan ada yang harus diurus sebelum operasi.
Beni yang tadi sempat terkejut melihatku datang. Sepertinya ibunya Beni memang tak memberitahu kedatanganku. Raut wajah Beni yang awalnya terkejut lalu berubah menjadi cuek, ia bahkan buang muka saat aku menyapanya. Kami masih terdiam beberapa menit awal. Hingga Anya melihat Beni mencoba bangun untuk mengambil ponsel yang berada diujung nakas.
“Udah aku aja yang ambilin, kamu diem aja.” ucapku sambil mengambilkan ponsel itu.
Beni masih terdiam dan menerima ponsel itu. Kini Beni malah asik dengan ponselnya dan mendiamkan aku yang duduk didekat ranjang rawat Beni.
Beruntung ada televisi yang sejak tadi sudah menyala membuatku bisa sedikit menyibukkan diri dengan melihat tayangan yang ada ditelevisi itu.
Tringg... Tringg ...Tringg ....
Suara ponsel ku berbunyi.
Aku kemudian mengangkat telfon dengan sedikit menjauh dari Beni. Ternyata yang menelfon adalah Raka, ia menanyakan keberadaanku sekarang. Namun sayang aku tak bisa menemaninya mencari kado untuk keponakannya, karena aku ada disini.
Author Pov
Disisi lain, Beni yang tahu ada orang yang menelfon Anya ia sedikit penasaran. Bukan sedikit namun memang penasaran, ia ingin tahu siapa yang mengganggunya bersama gadis pujaan hatinya ini. Ya walau Beni sedari tadi jual mahal terus dan malah mendiami Anya dengan sibuk memainkan game online diponselnya. Namun Beni masi enggan untuk mengeluarkan suaranya bahkan hanya untuk sekedar bertanya.
Beni juga takut kalau ia harus ditinggal Anya secepat ini, ia berharap Anya akan menjaganya sampai selesai operasi. Tadi saat Anya masuk ke ruangannya dengan ekspresi khawatir membuat Beni senang. Ia senang gadisnya ini khawatir pada dirinya.
Namun sekarang Beni tak tau harus bagaimana. Pikirannya masih kacau, dia takut salah bertindak lagi. Dan dia masih kesal dengan Anya.
Selesai menelfon Anya memasukkan ponsel ke saku jaketnya, lalu kembali duduk mendekati Beni.
“Kalau ada acara pergi aja ga apa apa, nanti aku pamitin ke orangtuaku.” ucap Beni ketus dan lesu ketika hati dan mulut tak sejalan. Ia pun tak berani menatap Anya.
“Engga kok, tadi cuma Raka nanya doang” ucap Anya membuat Beni panas hati mendengar nama cowok lain.
“Aku beneran ga apa apa ditinggal, bentar lagi paling perawat masuk, sana Raka butuh kamu” ucap Beni sambil melihat jam dinding. Padahal masih ada waktu 45 menit sebelum ia dibawa ke ruang operasi.
“Hufttt, kamu maunya apa sih Ben...” ucap Anya terpotong.
“Gue ga apa apa Anya! Raka butuh lo.” potong Beni dengan kesal.
Sejenak Anya mengatur nafas, ia tak mau ribut lagi malam ini.
“Toilet sebelah mana!” tanya Anya bingung mencari letak toilet dalam kamar ini. Hanya dijawab dengan arah dagu Beni.
Saat Anya berada di toilet, Beni senyam senyum sendiri. Ia merasa senang Anya lebih memilih disini daripada dengan Raka.
“Sepertinya Anya memang lebih suka aku dibanding laki laki itu.” ucap Beni sendiri dengan senyum dan masih fokus pada game ponselnya.
Sekeluarnya Anya dari toilet Beni kembali ke mode diamnya. Dia masih seperti anak kecil yang merajuk. Dia ingin dirayu, dibujuk untuk baikan sama Anya. Namun sayang Anya juga sama batunya dengan Beni.
Masih tak ada obrolan lagi diantara mereka, hingga orangtuanya Beni kembali ke kamar bersama para perawat.
“Udah waktunya Beni masuk ke ruang operasi.” kata ibu Beni saat mendekat ke arah mereka.
Beni mulai gugup, dan terlihat jelas Anya pun ikut gugup. Sampai saat ini Anya masih tak tau apa yang diderita oleh Beni hingga harus operasi. Anya hanya melihat sedikit jahitan dipelipis Beni dan perban perban di tangannya. Mungkin ada hal serius yang membuat Beni harus dioperasi akibat kecelakaan itu.
Anya masih tak kuasa untuk bertanya secara detail. Ia lebih bertekad akan menjaganya malam ini karena rasa bersalahnya pada Beni.
Saat Beni akan di pindahkan Anya mengikuti sampai pintu masuk ruang operasi.
“Berhenti bentar.” pinta Beni saat mendekati ruang operasi membuat heran semua orang.
“Anya sini” ucap Beni lirih karena sudah diberi obat bius membuatnya lemas dan meminta Anya lebih dekat denganya.
Sedangkan orangtua Beni paham dengan kemauan anaknya. Mungkin adanya Anya disini bisa jadi penawar rasa takut Beni yang memang baru pertama kali operasi.
Saat Anya berada didekat Beni, ia langsung menggengam tangan Anya dengan erat. Lalu diletakkan di depan mulutnya. Membuat Anya kaget.
“Bentar kaya gini aja dulu, aku butuh kekuatan” ucap Beni membuat Anya tersipu malu. Terlebih ada orang lain disini dan ada orangtuanya Beni yang menatapnya seperti memohon ke Anya untuk menuruti kemauan Beni.
Sudah 10 menit Beni masuk diruang operasi. Anya bersama kedua orangtua Beni setia menunggu di depan ruangan.
“Anya terimakasih udah mau datang ya nak.” ucap Ayah Beni dengan tulus lalu diangguki juga oleh ibunya.
“Mmm, iya sama sama om, tan. Maaf saya malah baru datang setelah ditelfon sama tante.” ucap Anya malu.
“Ga apa apa, yang penting kamu udah dateng. Kami gak tau kamu sama Beni lagi ada masalah apa. Tapi terimakasih udah kesini.”
“Eh iya tan maaf kami memang beberapa hari ini sedang renggang.”
“Iya namannya juga hubungan gak mungkin baik baik terus.” ucap ayah Beni.
“Owh iya kalau boleh tau, hmm Beni itu kenapa ya om tante.” tanya Anya dengan malu. Ia memang tak tau apa apa dengan keadaan Beni sebenarnya.
Setelah ibunya Beni bercerita bahwa Beni mengalami kecelakaan, namun ia tak cidera parah. Kemudian saat pemeriksaan ternyata Beni beberapa hari terakhir mengalami sakit perut yang luar biasa. Dan saat di periksa di rumah sakit karena kecelakaan itu, Beni juga merasakan sakit perut kembali. Lalu dilakukan pemeriksaan lanjut, ternyata dia usus buntu.
Anya mendengar itu antara ingin tertawa atau ikut prihatin. Anya mengira Beni mengalami hal yang lebih parah dibanding ini. Karena ekspresi Beni yang begitu takut saat perjalanan dari kamar ke ruang operasi. Anya bahkan sempat berfikir buruk kalau Beni akan meninggal ketika operasinya gagal.
Sungguh ia tak tahu jalan pikirannya sendiri. Yang terpenting ia sudah disini, setidaknya sampai Beni keluar dari ruang operasi.