
Satu
Sudah 6 bulan setelah kelulusan Anya belum mendapat pekerjaan. Sudah 6 bulan juga dia menjadi pengangguran. Beberapa kali dia mendapat undangan interview namun restu orang tua terkadang menghambatnya. Yah, itu cita cita banyak orang tua yang menginginkan anaknya menjadi orang sukses.
Setiap hari yang Anya lalukan saat tidak membantu orangtuanya yaitu melamar berbagai lowker yang sering muncul di sosial medianya. Entah sudah berapa lamaran yang ia coba berharap ada yang nyatol ke Anya.
Ting.....
Anya membuka hp terdapat email dari salah satu perusahaan ternama yang mengundang untuk interview. Dengan senangnya Anya mendapat email tersebut.
Hari ini, dengan pakaian yang rapi dan sepatu docmart hitamnya menuju ke kantor cabang yang berada di daerah tersebut.
“Selamat pagi saya Anya mendapat undangan wawancara.”
Ku tunjukkan email yang masuk di ponselku ke reseppsionis kantor ini.
“Baik silahkan menuju lantai 4 disana nanti bertemu dengan pak Dimas.”
“Terimakasih."
Ku langkahkan menuju lift dan naik ke lantai 4.
Dengan rasa deg deg an yang semakin tinggi ku panjatkan doa setiap langkah berharap bisa mendapat pekerjaan kali ini. Anya sudah bosan dirumah.
Saat keluar dari lift ternyata ada 2 orang yang terlebih dulu datang yang kuduga juga akan wawancara seperti diriku.
“Pagi mbak mau wawancara juga?.” tanya ku pada mbak mbak yang duduk didepan suatu ruangan.
“Iya mbak nanti jam 9 kan.” ujarnya.
“Owh sama panggil saya Anya aja mbak.” ucapku dengan tersenyum
“Yaudah panggil saya Rara juga aja kayanya kita seumuran.”
Beberapa menit kemudian sesorang yang bernama Pak Dimas datang menghampiri kita dan memberitahu urutan wawancara.
20 menit wawancara berlangsung dan aku puas dengan jawaban dan respon para pewawancara itu. Namun masih tetap menunggu pengumuman selanjutnya akan diberi tahu 3 hari kedepan.
Sepulang dari kantor tersebut ku lalui jalan menggunakan motorku menuju tempat makan dekat kampus ku dulu. Yah banyak kenangan di sepanjang jalan dan sudah lama dia tak hang out dengan teman temannya dulu. Beberapa sudah ada yang pulang kampung halaman dan beberapa juga sudah sibuk dengan pekerjaannya.
Teringat saat setelah lulus SMA dulu begitu diterima di kampus ini aku yang masih sulit mengingat jalan ada seseorang yang dia diam diam rindukan.
“Sekarang dia kaya apa ya?.”
Dan tiba tiba ia teringat sesuatu yang membuatnya terus tersipu malu. Bahkan sampai saat ini dia tak bisa melupakan kejadian itu.
Dia yang mengambil first kiss ku dan mungkin juga he is my first love and he dont know it.
Setelahitu lamunannya berganti dengan makanan favoritnya datang.
Butuh1 jam perjalanan pulang menuju kerumah. Hal yang paling Anya suka adalah saat ia berkendara terkena angin walaupun panas menerpa. Hal sepele ini yang dia suka.......
Ia kembali mengingat masa masa indah saat bersama lelaki itu. Berboncengan berduaan melintasi jalanan, menikmati angin yang mereka lalui. Terkadang helm mereka saling tumbuk membuat keduanya
tertawa.
Saat Anya berhenti sejenak karena lampu merah, ia tersenyum melihat arah spion. Dulu dirinya pernah merasakan malu malu kucing saat ditatap melalui spion. Dan kini hanya tinggal kenangan saja. Ia tak tahu bagaimana keadaan laki laki itu sekarang. Apakah ia masih mengingat ini juga. I dont know.
Anya pov
“Udah pulang kamu, gimana lancar nggak?.” tanya bapak
“Alhamdulillah lancar pak tapi masih nunggu 3 hari lagi buat lolos apa enggaknya.” ucapku
“Yaudah doanya aja dikencengin semoga ini jodohmu.” ucap ibuk yang muncul dibelakangku.
“Amin jadi ini aku nanti kalau lanjut direstui kan?.” tanya Anya menggoda orangtuanya.
“Tegantung dia baik apa engga.” jawab bapak dengan sedikit menyengir.
“Ini omongiin apa sih jadian, ini kerjaan lho pak buk. Bukan yang lain.” ucapku bingung karena keluar dari topik
“Iya iya apapun hasilnya sana deh kerja.” kata bapak
“Ngusir nih ceritanya udah bosen liat Anya dirumah terus yee.” jwab Anya
“Ni anak gimana sih maunya ha!.” jawab ibu sinis
“Hahaha sante bu bos, terima kasih pak bos, bu bos doakan anakmu ini lekas kerja, lekas gajian, lekas punya rumah dan lekas punya jodoh.” ucap Anya sambil menuju kamar.
Yah ini lah keluargaku yang menampungku selama ini bersyukur dilahirkan di keluarga
ini yang tidak selalu menuntut dan membebaskan anaknya untuk melangkah walaupun
bebas bersyarat.
Seperti ini mungkin bapak ibuk merestuiku bekerja karena perusahaan ini cukup terkenal hingga beliau percaya anaknya bisa sukses.
Yah doa orang tua, restu orangtua adalah kunci dalam hidupku. Semoga kelak ku bisa membahagiakan keluargaku.
“Udahlah tidur sebelum 2 bocil pulang sekolah berisik ni rumah.” ucapku sendiri di dalam
kamar.
Dilain tempat,
Hari ini sudah 3 kota yang ia sambangi. Hidupnya penuh dengan meeting dan meeting. Ini sudah menjadi hal biasa baginya dua tahun belakangan ini. Bermula dari kegiatan magangnya kemudian ia sudah dilirik karena kinerjanya dan beberapa skil yang ia kuasai. Bahkan seusai magang, ia sudah ditawari posisi cukup menjanjikan. Tak ingin membuang kesempatan ia akhirnya menerima tawaran itu. Beruntungnya dia, kampusnya menyediakan kelas malam yang biasanya digunakan untuk mahasiswa yang memang sudah bekerja. Kuliahnya diubah menjadi non reguler dengan jadwal kelas menjadi malam hari dan beberapa perubahan seperti kuliah di akhir pekan.
Hingga kini ia sudah menduduki posisi yang cukup penting di perusahaan sebesar ini. Memang usaha tak menghianati hasil. Ia selalu menyibukkan diri memang setelah kehilangan seseorang. Dia merasa ditinggalkan saat belum sempat ia miliki. Dari saat itu juga ia selalu dingin terhadap cewek yang mendekatinya.
Karir cemerlang, wajah tampan, penampilan fashionable dan gaya bicara dia begitu mengasikan. Sungguh menjadi dambaan setiap wanita. Hidup di kota metropolitan, lingkungan eksekutif pergaulannya tak dapat
dipungkiri dari dunia malam.
Berawal diajak oleh salah satu koleganya saat itu ia tak dapat menolak hingga saat ini untuk menjalin relasi lebih banyak dan memudahkannya dalam berbisnis. Mau tak mau ia harus masuk dalam tempat seperti itu. Hingar bingar dengan musik yang menggelegar. Terlebih banyak perempuan yang menggodanya dengan sukarela menawarkan
kenikmatan kepadanya. Namun ia sama sekali tak tergoda, bahkan saat ia dalam keadaan benar benar mabuk sekalipun. Tak ada yang berasil menggoda pria ini.
Hanya satu yang selalu membuat dirinya mabuk berat. Saat ia teringat kembali ke seseorang yang tiba tiba menghilang beberapa tahun yang lalu.
Dan kata yang selalu terucap sebelum ia tertidur saat mabuk itu adalah
“Why you leave me?.”
“Why?.”
“ I miss you...”