
Bab 32
Beni Pov
“Jadi gimana!” Tanya tegas bapak mengarah kepadaku saat aku selesai menyeruput sedikit minumnya.
“Gimana apanya pak?” tanyaku dengan polos.
“Lah gimana sih” jawab bapak Anya membuatku semakin bingung dan langsung melempar pandangan ke Anya mencari petunjuk.
Tik
Tok
Tik
Tok
Hening sejenak hanya suara detik jam yang menghiasi. Disana Anya hanya menghela nafas dan menunduk malu. Aku berfikir kerasselama 4 detik itu dan seketika aku paham apa yang dimaksud oleh calon bapak mertua ku ini.
“Saya mau meminta putri bapak sebagai pendamping hidup saya!” aku berucap dengan tegas dan mantap saat itu juga. Namun sayang aku membuat ibu Anya tersedak saat minum karena kaget dengan ucapanku yang sedikit bernada tinggi layaknya anak buah laporan dengan komandannya.
“Uhuk uhuk…” ibu Anya masih terbatuk batuk dan dibantu olehAnya melalui tepukkan ringan di pundak.
“Maaf bu gak bermaksud bikin kaget…” ucapku khawatir saat melihat calon mertuaku masih batuk batuk.
“Hufftt gak apa apa Ben, ibu cuma kaget aja tapi seneng kok” ucap ibu setelah batuknya reda.
Anya bahkan tak melihat ke arahku sekarang. Aku tahu dia sedang merona sekarang terbukti dengan pipinya yangsudah berubah menjadi merah sekarang. Rasanya ingin ku makan tu pipi saking gemasnya melihat calon istri saat seperti ini.
“Kamu udah punya apa?!” Tanya ayah membuatku langsung kaget karena sedang memandangi pujaan hati tiba tiba sang ayahnya bertanya seperti itu.
“Hmm saya… saya..” aku masih bingung ingin menjawab apa. Kalau secara finansial aku sudah sangat siap untuk membangun rumah tangga tapi aku masih menerka apa yang dimasud dari pertanyaan ini.
“Kenapa tiba tiba meminta anak saya jadi istri kamu? Padahal kalian belum lama bertemu kembali kan? Bisa kamu jelaskan?”
Belum juga satu pertanyaan aku berhasil dijawab sudah muncul pertanyaan pertanyaan baru yang membuatku semakin gugup. Rasa gugup ini bahkan melebihi ketika aku bertemu dengan klient ketika membahas proyek besar. Ini lebih dari itu rasanya ingin meledak. Namun aku tak mau meledak karena aku harus mendapatkan pujaan hatiku ini.
“Karena saya sudah mencintai anak ayah sejak dulu, hanya saja nyali saya belum cukup untuk mengutarakan rasa ini ke putri ayah. Ayah tadi sempat menanyakan saya punya apa. Hmm saya punya rasa yang tak bisa diungkapkan ke Anya putri ayah yang luar biasa ini. Saya memang tak berani berjanji apa apa untuk kedepannya. Tapi saya akan berusaha membuat Anya aman, nyaman dan saya juga berusaha membuatnya selalu bahagia. Hanya itu yang bisa saya usahakan untuk putri anda. Saya sangat membutuhkan putri anda disisa hidup saya, dan saya akan menjaga dengan baik putri anda selama hidup saya” ucapku dengan menatap ayah Anya untuk meyakinkan kalau aku memang menginginkan Anya disisa hidupku.
Author Pov
Keramaian ibukota sudah kembali menghiasi, Anya yang baru saja sampai di parkiran disana sudah ditunggu oleh Rendi dengan pose sok cool nya.
“Tumben dateng pagi” ucap Anya saat melihat Rendi.
“Kemana aja lo ha…”
“Heh, lo tu ya dihubungin susah amat. Terus tiba tiba cuti tanpa ngasih kabar. Aneh lo ada apa lo sama si bos ha!!” hadang Rendi dengan merentangkan kedua tangannya saat pintu lift terbuka.
Dengan polos Anya masuk dengan posisi sedikit menunduk melalui bawah lengan Rendi. Beruntung ia memiliki tubuh ramping jadi memudahkan untuk menghindar.
Rendi langsung jengkel kepada rekan kerjanya satu ini. Semenjak Anya dipanggil dan tiba tiba cuti dia dan Mbak Putri khawatir dan penuh cemas. Sekarang ketika bertemu orangnya malah main rahasia rahasiaan seperti ini. Raut muka jengkel Rendi begitu tercetak jelas. Bahkan selama di lift dia langsung bukan lengkap dengan ekspresi marahnya. Sedangkan Anya dia beberapa kali melirik untuk mencari perhatian namun digapai oleh Rendi. Fix ini orang ngambek, tapi Anya bersikap bodoamat.
Ting
Pintu lift sudah terbuka, Rendi keluar duluan dengan berjalan cepat. Sedangkan Anya dibelakangnya dengan senyum senyum kemenangan bisa membuat rekan kerjanya badmood seperti ini.
“Kusem banget tu orang kenapa?” Tanya mba Putri yang datang beberapa menit kemudian ke arahku.
“Tau tuh kaya anak kecil ngambekan” jawab Anya.
Mbak Putri langsung menuju meja kerja Rendi menggodanya.
“Utututu ngapa bos kusem amat muka lho” Tanya Mba Putri.
“Tau tuh adek lo mba udah gak kawan lagi!” balas Rendi dengan nada menggerutu.
“Emang kenapa?”
“Kenapa lo bilang?! Mba dia habis cuti tiba tiba dan lo lupa ha?! Busetdah” kesal Rendi akibat kedua rekan kerjanya ini. Sungguh malang nasibnya diantara kedua wanita ini.
“Owh iya lo kenapa sih kemaren dihubungi ga respon sama sekali?” Tanya selidik Mba Putri ke Anya yang sudah was was.
“Ada urusan mba… maaf ya ga bales chat kalian”
“Urusan apa e sampai lo gak bisa bales cuma diread lagi kesel gue” sahut Rendi yang sekarang juga mendekat ke meja Anya.
Kini Anya sudah dikepung oleh kedua rekannya, membuatnya ga bisa lari lagi.
“Ada urusan… urusan keluarga…. Kemaren aku balik ke rumah ada urusan keluarga”
“Kenapa emang orang tua lo sakit apa ada apa?” Tanya Mba Putri sedikit panik.
“Engga mba emang waktu itu aku harus pulang untung dikasih ijin”jawab Anya
“Urusannya sama si bos juga ga?” Tanya sinis Rendi.
“Ha?” ucap Anya bingung mau menceritakan atau tidak.
Belum sempat Rendi menanyakan kembali, beberapa rekan kerja sedevisi mulai berdatangan membuat kami bertiga bubar dan kembali ke tempat masing masing.
Tring…
Ponsel Anya berbunyi menandakan ada pesan masuk.
~Rendi new messages~
Utang cerita lo awas gue tagih entar
Anya tak membalas pesan itu, pandangannya kembali ke meja Rendi dengan sang pemilik meliriknya dengan tajam. Sungguh nanti bagaimana Anya masih sungkan untuk bercerita dengan kedua rekannya ini.
Disisi lain, Beni sudah kembali ke rutinitasnya, bahkan nanti sore ia harus terbang ke Singapura untuk menemui klientnya. Berat memang sekarang untuk dirinya ketika akan pergi jauh. Padahal dulu setiap ada tugas diluar Beni selalu enteng pergi kemanapun. Namun sekarang berbeda, ada seseorang yang membuatnya tak ingin pergi jauh, lebih tepatnya tak mau jauh dengan Anya.
Beginilah ketika hati sudah terjatuh ke seseorang, akan terasa aneh ketika ingin meninggalkannya pergi walau pasti kembali. Ingin rasanya mengajak Anya kemanapun Beni pergi, namun sayang hal itu tidak bisa ia lakukan sekarang. Pertama, Anya pasti tidak akan mau. Kedua, belum bisa membawanya jauh dalam status seperti ini. Beni perlu ijin kepada kedua orangtua Anya apalagi membawanya dengan alas an tak bisa jauh dari Anya itu sungguh bisa Beni bayangkan apa respon dari kedua orangtua Anya. Bisa bisa dia dicoret dari calon mantu mereka.
Beni berusaha kuat agar tidak bersifat egois, dan menahan semua rasa sesak ini saat jauh dari Anya. Beni berjanji kelak kalau Anya sudah menjadi miliknya ia tak akan mensia siakan perempuan yang paling berharga itu selain ibunya.