
31
Pagi hari yang cerah,
Suara ayam, burung mewarnai pagi ini. Yah dirumah Anya memang memelihara beberapa jenis hewan sebagai pewarna dirumah ini. Anya sedari pagi tadi sudah langsung pergi ke pasar bersama sang ibu. Dia sangat rindu makanan makanan kecil yang dulu ia sering beli. Makanan jajanan pasar dengan berbagai jenis macamnya.
Setelah pulang dari pasar Anya langsung ikut memasak bersama keluarganya. Bapak menyembelih salah satu ayamnya dibantu oleh kedua adik Anya. Sedangkan Anya ia membantu ibu menyiapkan bumbu dan memasak sayur pendamping yang nanti akan menjadi menu makan di hari ini.
Hingga jam 10 lebih Anya baru sempat mengecek ponselnya yang sedari kemaren malem tak ia sentuh.
~Beni have new message~
Sudah ada banyak notifikasi di ponsel Anya dan tentu paling banyak dari Beni.
Anya…………..
Udah bangun belum..
Yah sibuk yah…
Aku kerumah kamu jam berapa?
Sibuk amat neng gak bales bales
Heyy
Sayang…
Anyaku…..
Yahh enjoy your time aku mau cari sarapan dulu dah.
Reply me after you read this
Miss you……
Anya tertawa membaca setiap chat yang Beni balas. Beruntung dia mengerti keadaanku disini. Yah memang aku melupakan dia sejenak untuk quality time bersama keluargaku disini. Terlebih nanti malam aku sudah harus kembali lagi ke Ibu Kota.
“Mbakk……!!!” teriak adik Anya
“Iya….. ada apa” balas Anya lalu keluar dari kamar.
“Dipanggil bapak itu” sahutnya sambil menunjuk kearah luar.
“Owh ok” jawab Anya lalu keluar rumah menuju halaman rumah.
Anya langsung mendekati bapak dan ibunya yang sedang duduk santai di kursi yang berada di halaman rumah.
“Ada apa pak”
“Beni jadi kesini kapan?” tanya langsung bapak membuat Anya gugup.
“Hmm gak tau pak”
“Lah kamu itu gimana sih!” bentak ibu
“iya iya ini aku telfon” ucapku langsung menelfon Beni.
Hallo Anyaku sayangg….
[hallo Ben ini bapak sama ibu tanya kamu mau kesini jam berapa?]
10 menit lagi aku kesana
[ha?! Beneran?]
Tunggu yah salam buat calon mertua. 10 menit lagi…
~call ended~
Telfon dimatikan oleh Beni membuat Anya terperangah. Ini kenapa orang orang disekitarnya merupakan orang orang yang tak terduga. Lama lama Anya bisa sakit jantung kalau seperti ini.
“Gimana gimana?” tanya ibu saat Anya selesai menelfon.
“10 menit lagi katanya bu pak”
“Cepet juga tuh anak” sahut bapak santai.
“Weh kok ndandak banget sih. Buruan yok panasin sayur tadi buat dia makan” ucap riuh Ibu langsung menyeretku untuk ke dapur.
Benar saja belum selesai Anya dan Ibu menyiapkan hidangan yang tadi sempat mereka masak. Di luar sudah terdengar suara mobil datang.
“Gak tau bu. Bentar ini nanggung” ucap Anya yang sedang memindah opor ke dalam mangkuk.
“Yawes Ibu mau keluar dulu ini selesai’in sendiri yak” sahut ibu langsung keluar meninggalkan Anya yang sedang memasang muka cemberut.
Diluar sudah terdengar suara ibu yang menyambut kedatangan Beni. Entah kenapa hati Anya kini berdebar. Padahal dulu dia pernah beberapa kali membawa Beni kerumah saat mereka masih sekolah dan tentu dengan status masih berteman. Kini hatinya terus berdebar kala sang pacar bertemu dengan ke dua orang tuanya.
“Huftt kenapa jadi salting gini sih” ucap sendiri Anya.
Beni Pov
Setelah aku mendapat telfon dari sang calon istri aku langsung bergegas ke rumah calon mertua. Tak apa aku meninggalkan sarapanku yang baru saja ku pesan untuk segera bertemu dengan keluarganya. Yah walau perut ini merasa lapar sih.
Beruntung di rumah masih ada mobil tanteku yang bisa aku gunakan untuk kesana. Dijalan rasa gugup sempat menyeruak, gimana gak gugup mau ketemu calon mertua. Semoga mereka masih ingat denganku.
Tinggal satu belokkan lagi aku sampai ke rumahnya. Rasa gugupku bertambah hingga aku memutuskan untuk berhenti sejenak dan merapikan penampilanku.
Tak ada semenit aku langsung melanjutkan perjalanan yang tinggal satu belokan ini.
Dan benar saja dihalaman rumah Anya sudah terlihat sosok pria yang merupakan cinta pertama dari pacarku ini. Setelah mematikan mobil aku langsung turun dan menyalami beliau.
“Selamat Pagi bapak….”
“Pagi udah tambah tinggi aja ya Ben” balas bapak Anya yang memang dari dulu aku sudah memanggilnya Bapak.
Sejak berteman dengan Anya memang aku sudah disuruh untuk memanggil kedua orang tua Anya dengan sebutan Bapak dan Ibu, hal itu berlaku kepada semua teman Anya yang sudah pernah main kerumah Anya.
Tapi sekarang aku berubah bukan menjadi teman anaknya namun mennjadi calon menantu mereka hahaha.
“Eh nak Beni akhirnya datang juga………… Pangling ibu lho kamu tambah ganteng aja……!!!!” ucap Ibu Anya yang baru keluar dari rumah.
“Hehehe makasih bu”
“Duduk duduk dulu yah. Anya lagi siapin makan buat kamu. Pasti belum sarapan kan? Eh kalau udah ya anggep aja makan siang yah” sahut Ibu Anya yang sedari dulu memang tak berubah. Heboh hahaha sangat cocok dengan ibuku.
Akhirnya sesi introgasi dimulai. Kedua orang tua Anya mengajukkan beberapa pertanyaan tentang kehidupanku setelah lulus SMA dan beliau beliau juga menanyakan tentang kabar kedua orang tuaku. Beruntungnya diriku bisa langsung diajak mengobrol seperti ini.
Namun disisi lain aku menyiapkan hati dan pikiran untuk menjawab point dari kedatanganku kali ini. Hingga kemudian sang calon istri keluar membawakan minuman yang pastinya untuk ku.
Dia membawa dengan raut muka malu malu. Ah jadi gemas ingin sekali menghampirinya dan memelukknya.
Namun sayang disini ada kedua orang tuanya dan kita juga belum sah.
“Ini diminum” ucap Anya malu malu saat meletakkan minuman didepan ku.
Aku hanya membalas dengan senyum termanisku dan mengedipkan mata sebelah.
“Gak usah genit!” ucap Bapak membuatku kaget.
“Eh iya pak maaf. Habis putri bapak sih”
“Lah kok aku” protes Anya yang sekarang duduk di seberangku.
“Ya kamu sih” balasku.
“Kenapa emangnya dia?” tanya ibu ke Beni.
“Hmm bikin kangen terus pak bu hehehe” jawabku membuat ke tiga orang dihadapku terkejut dengan ekspresi yang berbeda beda.
“Iihh apa’an sih”
“Ya emang gitu kenyataanya…” balasku membuat Anya semakin tersipu malu.
“Udah diminum dulu!” potong bapak Anya membuatku berhenti menggoda anaknya yang sekarang sedang merah
“Jadi gimana!” Tanya tegas bapak mengarah kepadaku saat aku selesai menyeruput sedikit minumnya.
“Gimana apanya pak?” tanyaku dengan polos
Jantungku terasa lebih cepat berdetak saat bapak Anya tadi tiba tiba mengubah gaya bicaranya menjadi lebih tegas. Terlebih dengan posisi aku sedang minum sebisa mungkin aku menahan untuk tidak tersedak.
“Lah gimana sih” jawab bapak Anya membuatku semakin bingung dan langsung melempar pandangan ke Anya mencari petunjuk.