I Need You More Than Friend

I Need You More Than Friend
Episode 29



29


Anya Pov


Kalau berdebat dengan Beni akan memakan waktu lama memang. Dia orang yang cukup keras kepala. Akhirnya aku lebih baik langsung mencar bahan yang akan ku butuh kan untuk memasak.


Koridor pertama yang aku hampiri adalah bagian daging. Entah kenapa aku ingin memasak daging hari ini. Tapi entah daging apa yang aku pilih.


“Hmmm, ayam apa sapi ya.” ucapku sendiri sambil mengitari mesin pendingin daging daging ini.


“Ayam aja lebih mudah ngolahnya.” sahut sesorang yang sudah disampingku.


“Eh, Indra.” balasku kaget dan dia hanya tersenyum sambil mengucap hai padaku.


 


 


“Lo belanja apa?” tanya Indra padaku mengarah pada keranjang yang masih kosong.


“Belum tau mau beli apa aja.”


“Jadi pilih ayam atau sapi?” tanya Indra padaku


 


 


Aku masih bingung memang mau masak apa, hingga tiba tiba bertemu Indra si cowok blasteran yang tak sengaja bertemu di bandara beberapa hari yang lalu. Ternyata Indra punya pengetahuan tentang masak memasak. Dia memberiku pilihan menu menu jika memilih daging ini. Kami sekilas mengobrol sambil memilah daging.


 


 


“Kamu tipe yang jaga pola makan engga?” tanya Indra padaku


“Gak terlalu sih, biasa aja.”


“Owh berarti gue kasih solusi, lo bisa ambil dua duanya. Biar gak bingung mending masak dua sekaligus hahaha.”


“Hahaha itu sih bukan solusi Indra......”


 


 


“Ekhm Ekhm.” suara orang berdeham didekat kami membuatku menoleh.


Dia berdiri tepat dibelakangku, dengan tangan menenteng beberapa camilan. Namun bukan itu yang menjadi perhatianku. Tatapan dia, yah dia seperti marah sekarang. Aku hafal betul raut muka orang ini.


 


 


“Owh mari kalau mau ngambi.l” ucap Indra bergeser beberapa langkah dan menarik lenganku untuk ikut bergeser.


 


 


Namun tangan Beni tanggap menarik lenganku yang satu.


“Saya mau ngambil istri saya.” ucapnya tegas pada Indra.


 


 


Aku yang berada ditengah tengah mereka dengan posisi lengan saling ditarik membuatku salah tingkah. Aku tak mau menjadi pusat perhatian, ini tempat umum.


“Bisa lepaskan tangan anda dari istri saya?” imbuh Beni ke Indra.


Indra langsung melepaskan tangannya dari lenganku. Detik itu juga Beni menyeretku lebih dekat denganya. Yah Beni merangkul pinggangku dengan erat.


“Udah ambil belum? Kita gak punya waktu lama... kasihan anak anak nunggu kita.” ucap Beni membuatku kaget.


“Kita....” sahutku ingin mengela namun dengan cepat dia mengambil daging ayam yang aku genggam dan dimasukkan ke keranjang.


“Kami permisi mau melanjutkan belanjaan kami” pamit Beni pada Indra yang sedari tadi hanya menatap heran dan terkejut ke arah kami.


 


 


Beni membawaku jauh dari Indra. Langsung saja aku melepaskan diri dari rangkulannya.


“Kamu kenapa bilang kaya gitu sama dia.”


“Lah kenapa? Aku cuma lindungin kamu dari orang asing.”


“Kita cuma sharing tadi, dia gak jahat sama aku.”


“Udahlah lanjut mau beli apa aku capek.” keluh Akbar mengalihkan pembicaraan.


 


 


Akhirnya aku secara cepat mengambil beberapa belanjaan yang aku perlukan. Kami masih berada dalam keadaan saling diam.


 


 


Hingga kini aku sudah sampai di apartemen milik Beni. Dengan sigap aku langsung ke dapur dan mempersiapkan segala sesuatu yang akan dimasak. Berharap aku bisa langsung pulang setelah ini.


 


 


Beni yang sudah keluar dari kamar, nampak mengunakan kaos hitam dan celana pendek santainya. Dia duduk di pantry sambil menungguku menyelesaikan masakan.


10 menit kemudian....


 


 


Author Pov


“Maaf buat tadi.” ucap Beni lirih membuat Anya berhenti sejenak


“hmm.” balas Anya singkat lalu menaruh nasi di piringnya


“Segini?” tanya Anya pada Beni lagi


Beni hanya mengangguk dan memulai untuk makan.


Mereka berdua makan dalam keadaan diam.  Anya merasa tak nyaman suasana seperti ini. Hingga ia memilih untuk membuka obrolan.


“Orang tadi itu kenalanku, kita gak sengaja ketemu di bandara waktu aku nganter kamu.” ucap Anya mulai menceritakan tentang Indra ke Beni.


Hingga Beni ingat dimana ia melihat story akun sosial media teman Anya. dalam hati Beni berkata ternyata orang tadi yang bikin aku pulang lebih cepat dari Singapura.


Beni mengusap kasar rambutnya, ia dipenuhi dengan rasa kecemburuan. Ia mengerutuki dirinya sendiri dimana memiliki pasangan tadi tidak bisa dipamerkan ditambah banyak pria yang dekat dengannya. Hal ini menjadi ancaman tersendiri bagi Beni. Ia harus segera memiliki Anya secara seutuhnya, bukan hanya sebagai status pacar.


 


 


“Anya will you marry me?” ucap Beni membuat Anya yang hendak memasukkan makanannya ke mulut terhenti.


“Trust me please, I will make you happy with me. I cant lose you.” imbuh Beni membuat Anya salah tingkah


“Menikahlah denganku Anya Kalista. Apa kamu mau menemani sisa hidupku, menjadi patner hidupku dan menjadi ibu dari anak anakku kelak?”  ucap lembut Beni sambil menggengam tangan Anya diatas meja makan.


“Ben....”


“Please, be mine Anya...” pinta Beni sambil menundukan kepala memohon ke Anya


 


 


Untuk Anya ini sangat mengejutkan, dia tak pernah membayangkan akan dilamar seperti ini dan secepat ini.


“Ben, aku gak tau harus gimana. Jujur aku belum ada pikiran untuk secepat ini. Aku juga gak tau apa aku pantas untuk kamu....”  ucapan Anya langsung dipotong oleh Beni


 


 


“No, dont say it. Kamu itu sangat berharga, kamu punya segalanya untuk mendampingku kelak. You are my dream patner for my life. Aku sudah mendambakan sejak dulu Anya. Aku yang merasa tak pantas untukmu karena aku ini pecundang. Apa kamu mau menerima pecundang sepertiku ini...”


“Aku tau kita baru beberapa hari ini menjalin hubungan more than friend, and now i need you for my life. Aku butuh kamu untuk menjadi pendamping hidupku. Kita bisa sama sama belajar untuk membangun rumah  tangga. Please be mine Anya........” ucap Beni yang sekarang sudah bersimpuh dilantai memohon ke Anya


 


 


Anya sudah tak bisa berkata kata lagi sekarang. Hanya air mata haru yang terus mengalir dari kedua mata Anya membanjiri pipinya.


 


 


Perlahan Anya mendekati Beni dan menggenggam tangan pria itu.


“Yes, I will....” bisik Anya lirih namun dapat didengar oleh Beni.


 


 


Beni yang mendengar itu seakan beban hidupnya seketika hilang. Perutnya serasa berbunga bunga. Air mata Beni bahkan melengos kebawah tanpa ia sadari. Sungguh ini hal paling membanggakan selama hidupnya sampai detik ini.


 


 


“Tapi, beri aku waktu untuk sampai kita akhirnya menikah. Hmm maaf sampai detik ini aku belum bicara apapun tentang kamu ke orangtuaku.”


Namun kebahagiaan Beni tak berlangsung lama. Ia lagi lagi terkejut mendengar ucapan calon istrinya ini.


Dalam hati Beni ada sesuatu yang mengganjal.


“What!!!” kaget Beni membuat Anya melepaskan genggaman tangan Beni.


“Why? Aku bahkan udah ngenalin kamu ke orangtua aku lho” imbuh Beni sedikit kecewa.


“Aku malu...” jawab Anya


“What!!! Kamu malu punya pacar kaya aku?” sahut Beni


“Engga gitu, I never have relationship more than friend with a man.” ucap malu malu Anya membuat kekesalan Beni perlahan memudar.


 


 


Beni kini beranjak dan melangkahkan kaki membuat Anya tertegun. Anya takut menyakiti hati pria itu. Namun rasa tertegun Anya berubah saat mendengar sesuatu dari mulut pria itu dengan sesorang di telfon.


 


 


“Hallo, Om aku sama Anya minta cuti 2 hari ke depan. Malam ini Beni sama dia  berangkat ke Jogja.”


“.....”


“Iya Om, besuk langsung mau ngelamar sama orangtuanya. Minta doanya ya Om.”