I Need You More Than Friend

I Need You More Than Friend
Episode 6



#6


Setelah mobil melaju mereka berdua masih dalam diam hanya suara hujan yang mengisi suasana diantara mereka.


“Nya”


“Pak”


Mereka berdua saling panggil secara bersamaan


“Bapak duluan aja” sahut Anya


“Owh ok, ini kamu tinggal dimana?” tanya Beni


“Oh maaf pak lupa belum kasih alamat, saya di mess karyawan pak tau kan”jawab Anya dengan kikuk


“Hmm aku tau, kamu udah makan malam belum?”


“Belum pak”


“Mampir makan dulu gimana, aku laper terakhir makan siang tadi bareng client”


“Hmm boleh pak kalau gak ngrepotin”


Dengan semangat Beni akhirnya mengarahkan mobilnya ke cafe terdekat. Akhrinya mereka berdua makan bersama lagi setelah 4 tahun lamanya.


“Makan disini ga apa apakan” ujar Beni saat mereka sampai pada Cafe yang tidak terlalu ramai namun suasana vintage dan warm tetap menarik perhatian.


“Gapapa pak” jawab Anya sambil melepas seatbelt. Namun saat mau membuka pintu tangan Anya tertahan


“Bisa gak panggil aku tanpa sebutan pak” ucap Beni tegas.


“......”


“Ini udah gak dikantor Nya, panggil aku kaya dulu kita kan teman” pinta Beni dengan tatapan penuh ddan tangan masih memegang lengan Anya


“Ok ben” jawab Anya lalu menarik tangannya agar terlepas dari tangan Beni dan langsung keluar dari mobil.


Sedangkan Beni mendengar itu langsung tersenyum. Mereka akhirnya makan dengan sedikit obrolan disela kunyahan. Terlebih Beni masih mengingat minuman kesukaan Anya. Membuat Anya tak perlu bingung memilih minuman yang ia pesan.


Setelah makan malam selesai mereka bergegas menuju mess Anya. Ternyata disela perjalanan Beni memberitahu Anya tentang tempat tinggalnya disaat mereka melewati sebuah apartemen megah. Jarak mess yang digunakan Anya tidak terlalu jauh dari apartemen Beni. Namun yang membuat Anya tak enak karena Beni harus mengantarnya terlebih  dahulu padahal Beni sudah melewati tempat tinggalnya.


“Beneran kamu ga apa apa nganterin aku dulu? Ini udah lewat apartemenmu lo ben, aku bisa pesen ojol kok ”


“Ish kamu tu udah dibilangin aku mau nganter kamu titik, toh pake mobil nganternya gak jalan kaki santai aja napa sih” ngotot Beni.


Setelah makan malam tadi memang mereka sepakat untuk mengobrol dengan non formal layaknya dahulu.


Hingga mobil Beni akhirnya sampai didepan mess karyawan yang dihuni oleh Anya. Mess ini layaknya rumah kontrakan kecil dengan model sama yang berderet namun masih nyaman digunakan apalagi untuk orang yang belum berkeluarga. Ya walau memang sedikit susah kalau untuk parkir mobil karena halaman setiap rumah kecil hanya muat untuk sepeda motor. Hingga membuat Beni parkir ditepi jalan namun masih bisa dilewati oleh kendaraan lain.


“Terimakasih udah nganter sama traktirannya ya Ben hati hati di jalan” ucap Anya hendak turun dari mobil.


Tanpa diduga Beni ikut turun, untung jalanan depan mess Anya sepi sehingga gak ada kendaraan yang lewat saat itu.


“Jadi kamu tinggal disini” sambil menujuk rumah nomer 44.


“Iya, makasih ya” ucap Anya lagi sambil menjauh dari mobil Beni, namun tangannya lagi lagi ditahan oleh Beni hingga jemarinya digenggam olehnya. Beni menggenggam erat tangan Anya ia masih berat jika harus memutuskan waktu bersama sesingkat ini. Padahal hari esok masih ada.


“Nya aku yang makasih sama kamu, mungkin ini malam terindahku selama dikota ini”


“I really miss you, nya” imbuh Beni yang membuat Anya mematung


Banyak hal yang dipikirkan Anya kali ini, Anya juga gak mau ke besar kepala dengan kata kata yang diucap Beni.


“Hmm sama sama deh aku masuk dulu ya, udah malam” ucap Anya dengan sedikit terbata bata.


“Bolehkah aku meluk kamu?” tanya Beni dengan tatapan memohon namun membuat Anya tercengang.


Satu detik


Dua detik


Tiga detik


.....


Anya diam tak membalas permintaan Beni.


Beni yang tak kunjung mendapat respon, ia perlahan lebih mendekat ke arah perempuan didepannya ini.


Alas kaki mereka sudah berhadapan, menandakan jarak mereka semakin dekat. Tangan Beni siap merengkuh perempuan dihadapannya ini.


Meong...


Suara kucing berwarna putih dan gembul keluar dari halaman tetangga Anya menyadarkan Anya dan membuatnya mundur sedikit menjauh dengan pria dihadapannya ini.


Anya Pov


Aku melarikan diri dari permintaan Beni. Aku tak tahu harus bagaimana, bahkan memeluknya tak pernah terlintas dalam pikiranku. Terlalu dini hanya untuk memeluk satu sama lain. Bahkan kita baru bertemu beberapa kali setelah 4 tahun lamanya.


Pasti


Namun kita hanya sebatas teman, aku bahkan tak mau kegabah seperti dulu. Beruntung kucing itu keluar dan menyadarkankku.


Kini aku bersembunyi dibalik pintu yang sudah aku kunci.


Belum ada suara mobil sejak aku masuk ke rumah. Itu berarti Beni masih ada disana. Kenapa dia masih disana itu pertanyaan yang muncul dipikiranku.


Sedangkan jantungku masih berdetak kencang, bahkan pipiku ikut ikutan memanas. Mungkin efek grogi menjadi seperti ini.


Beberapa menit kemudian aku mendengar suara mobil, akhirnya Beni beranjak pulang.


Aku sedikit mengintip melalui jendela untuk memastikan. Benar sudah tidak ada mobil Beni didepan.


Lega


Aku akhirnya merasa sedikit tenang sekarang.


“Huft, dah sekarang waktunya tidur” ucapku sendiri dan beranjak untuk mengganti pakaian terlebih dahulu.


Untuk mandi aku sudah malas toh besuk pagi aku juga mandi, hari ini sudah cukup melelahkan untuk jiwa ragaku.


Beni Pov


Dalam perjalanan aku sungguh kesal akibat kucing itu tadi. Kalau kucing tadi tak bersuara aku sudah mendapat pelukan atau aku sudah memeluknya. Tidurku mungkin tak nyenyak kali ini.


Tringg tringg tringg


Ponsel Beni berbunyi menandakan ada orang yang menelfonnya.


[Hallo]


Hallo, ada apa


[gue di six bar, sini gue tunggu]


Sama siapa aja?


[sendiri Ben makanya gue nelfon lo buat kesini menemin gue]


Ok tunggu gue lagi dijalan.


Call ended


Setelah mendapat telfon dari Tara aku memutuskan untuk mampir sejenak. Mungkin bisa sedikit menenangkan hati disana.


Saat aku masuk ke bar itu, masih belum ramai yah baru jam segini. Bar ini akan ramai ketika mendekati tengah malam.


“What’s up bro!” seru Tara mengetahui ku berjalan ke arahnnya yang sedang duduk di bar.


“Kenapa lo” tanyaku langsung


“Gue ditolak lagi” ucap tara sedih


“Huft, derita lo emang. Sen gue kaya biasa” kataku sambil memesan minuman berharap bisa melupakan rasa kesalku barusan.


Tak lama Sen Sen menaruh gelas berisi minuman itu ke arahku yang duduk disamping Tara.


“Kenapa lo bos, kangen tu cewek lagi” ucap Sen sen bertender yang hafal denganku ketika aku meminum minuman seperti ini karena teringat sesuatu.


Yah aku tak pernah minum alkohol jika tidak sedang kangen berat dengan Anya. Walau berada dibar aku sering memesan jus jika kondisiku sedang baik baik saja.


“Hahaha, tau aja lo sen” balasku ke Sen sen yang berdiri dihadapanku dan Tara


“Lo masih gak bisa move on ke tu cewek Ben?” tanya Tara


“Ga tau”


“Lo tuh uang ada, tampan iya. Kalau lo kangen ya temuin dia ****. Udah berapa tahun gue kenal lo, selalu aja kaya gini. Kok gue mendingan gue ya ditolak cewek tapi bisa nemuin tu cewek” ujar Tara membuatku meminum minuman itu sekali tegak.


“Iya sih bos kenapa gak lo balik kesana cari dia, toh lo tau rumahnya jugakan” ucap Sen sen


“Gue habis makan sama dia malah” ucapku membuat kedua orang ini kaget


“Beneran?”


“Serius?”


“Iya” ucapku membalas pertanyaan kedua orang ini.


“Lah terus kenapa lo minum?” tanya Tara membuatku menambah gelas lagi dan membuatku menceritakan apa yang terjadi malam ini kepada dua orang ini.


Beruntung bar belum ramai, aku bisa cerita lebih nyaman. Setelah selesai cerita hingga kejadian malam ini sebelum ia datang ke bar ini. Tara dan Sen sen menanggapi dengan tertawa terbahak bahak.


Apa lagi kalau bukan karena kucing itu. Mulai saat ini aku tak menyukai kucing titik.