
18
“Ketika diam menjadi pilihan terbaik dalam perseteruan, diam boleh menjauh jangan”
Anya pov
Sinar matahari telah menampakkan kilauannya. Weekend merupakan hari yang paling dinanti olehku. Karena aku bisa bangun sesuka hati dan sedikit memanjakan tubuhku untuk bermalas malasan. Terlebih hari ini belum ada rencana atau janji bersama orang lain.
Sekitar jam 9.30 ku niatkan untuk beranjak dari kasur ini. Ku ambil ponsel yang sejak kemarin ku biarkan hanya sempat mengunggah story saat main. Saat ku meraih ponsel mencoba membuka kunci layar teryata low bat. Setelah itu ku sambungan dengan daya dan ku tinggal untuk membuat sarapan dan beberes rumah ini.
Tak ku sangka cucian hari ini sangatlah banyak. Tanpa olahraga diluar sepertinya ini sudah cukup membakar kalori ku.
Menjelang tengah hari ku rehatkan sebentar tubuhku dan memain kan ponsel yang sedari tadi belum sempat aku cek.
Saat ponselku mulai hidup begitu banyak notifikasi mulai dari pesan sosmed, spam email, pemberitahuan update aplikasi, maupun iklan dari aplikasi belanja.
Saat ku membuka pesan aku terkejut dengan pesan yang dikirimkan Beni begitu banyak yang isinya hanya untuk mengangkat telfonnya atau menelfonnya kembali segera.
Pikiranku tertuju pada kejadian waktu dulu, apakah Beni sakit lagi.
Saat ku mencoba telfon sosok itu terdengar ketukan pintu diluar.
Dia yang sudah seminggu ini seperti mendiamkanku, dan aku biarkan itu terjadi tanpa bertanya mengapa.
Setelah Anya membuka pintu, Beni sudah masuk dalam rumah Anya .
Beberapa menit mereka diam setelah sebelumnya Anya menyuruhnya masuk.
“Mmm, maaf kemarin gak tau kalau kamu telfon. ini tadi baru aku mau telfon balik kamu malah udah kesini.” ucapku memberanikan diri memulai percakapan
“Owh.” ucap Beni singkat. Aku heran ada apa dengan dia tadi malam begitu banyak menelfonnya dan sekarang dia sudah dirumahnya hanya diam
“Kamu sakit?” tanyaku dan Beni hanya menggeleng lalu.
“Aku sehat kok.”
“Terus kenapa kemarin chat sama telfon aku banyak kali, aku kira kamu sakit kaya dulu.”
“Apa aku harus sakit biar kamu hubungi aku?” sahut Beni dengan menatapku penuh arti yang tak ku mengerti.
“Eh engga gitu. Maksud aku....”
“Apasih susahnya balas pesanku atau angkat telfon dari ku nya.” ucap kesal Beni yang sudah bertanduk sejak kemarin.
“Maaf, kemarin aku pergi main terus gak terlalu merhatiin ponsel, pas pulang langsung tidur.”
“Kamu asik asik main sampe lupain aku.” ucap ketus Beni.
“Ha? maksudnya?”
“Udahlah sekarang aku tahu, memang aku segitu gak berartinya buat kamu nya. Hah!” ucap Beni dengan sedikit penekanan dan hembusan nafas frustasi membuatku semakin bingung.
“Apa’an sih Ben?” tanyaku untuk mengerti maksudnya. Dia yang kemarin mendiamkan ku, terus tiba tiba menghubungiku kembali dan sekarang seperti ini. Aku bingung dengan sikapnya ada apa memang.
“Kamu mau tau aku kenapa?” ucap Beni dan membuatku menggangguk.
“Kamu yang bikin aku kaya gini nya, aku sengaja buat diemin kamu bentar eh kamu malah ikutan diem. Harusnya kamu nyamperin aku apa gimana. Tapi apa, kamu sekarang gak peduli sama aku, kamu ngertiin perasaanku gak sih. Kenapa kesannya kamu menghindar terus dari aku, kamu gak pernah yang duluan untuk hubungin aku. Selalu aku dulu, atau aslinya kamu gak suka aku didekatmu ha?!. Terus jalan sama cowok lain. Asik asikan sama cowok gak jelas itu dan mengabaikan aku gitu”
“Cowok gak jelas?” ucapku belum mengerti maksudnya.
“Ya cowok yang main sama kamu baru juga kenal udah mau aja diajak pergi. Gak nyangka ternyata kamu .....” ucap Beni terputus.
“Gampangan, murahan atau apa ? kamu mau bilang aku apa terserah. Raka sama Rendi itu bukan cowok gak jelas dia temenku. Apa salah kalau aku punya temen cowok selain kamu ha! Apa aku gak boleh punya temen baru!!” ucapku kesal dengan perkataan Beni.
“Asal kamu tau Ben aku disini butuh teman, aku perlu sosialisasi. Aku mau berteman sama siapa, mau pergi sama siapa itu hak aku. Dan satu lagi jangan nyebut teman temanku kaya tadi. Aku disini punya kehidupan sendiri.” imbuhku dengan perasaan kesal sampai diubun kepala.
“Tapi kamu bisakan ngabarin aku dulu sebelum bertindak.” ucap Beni membuat ku geram.
“Ha? Aku gak ngerti kenapa kamu dari tadi gini Ben. Satu kenapa aku harus selalu ngabarin kamu?. Dua, gak inget siapa yang tiba tiba diem gak jelas terus sekarang malah marah marah sambil ngatain orang.”
“Ben aku tau emang aku disini belum lama, kalau kamu khawatir sama aku tenang aku udah bisa jaga diri. Kamu gak perlu kaya gini, dan kalau butuh kamu pasti aku hubungin kamu kok” imbuhku mencoba meredakan ketegangan diantara kita berdua.
“Tapi aku mau tahu keadaan kamu Anya.”
“Aku baik baik aja.”
“Bukan hanya khawatir but i want you make me your priority.” ucap Beni dengan tegas.
“Why?”
“Cause I want you make me mine.” ucap Beni sambil mendekatkan diri ke arahku.
Detak jantung kami terus berdebar. Hingga tangan Beni meraih tanganku menggenggam erat.
“I want you, and Be mine Anya.” ucap Beni dengan tulus.
“I can’t.” ucapku lirih sambil melepas genggamannya.
“Why? What’ wrong? Kita udah kenal lama Anya, kita juga saling nyaman aku tau kamu juga merasakan hal sama saat denganku.” ucap Beni dengan tatapan memuja.
Anya befikir sejenak, iya dia memang nyaman berada dekat Beni. Tapi kelakuan Beni barusan membuatnya tak nyaman. Bahkan sangat, sikapnya yang gak jelas ini membuat Anya semakin yakin untuk mengubur kembali perasaanya.
“Aku gak bisa Ben, maaf aku bukan barang yang harus kamu miliki.”
“Aku gak anggap kamu barang Anya!!”
“Terus kenapa kamu mau miliki aku?” tantang Anya yang dengan kebodohannya menanyakan ini.
“Kamu gak paham maksud aku tadi?” ucap Beni dengan selidik.
Anya aslinya paham arah pembicaraan Beni. Namun dia merutuki dirinya sendiri saat perkataan itu terlontar.
Anya hanya diam dan menunduk.
“Kamu harus denger baik baik. Aku suka sama kamu, lebih dari rasa suka tepatnya Aku cinta kamu Anya. You are my first love, aku udah simpan rasa ini dari dulu bahkan dari awal ketemu kamu. Aku hancur saat dulu kamu tiba tiba gak ada kabar, dan sekarang kita ketemu lagi. Kita udah dewasa i want you seriously, more than friend. I know you know what i mean.”