
#2
Anya Pov
Hari ini hari dimana tahap penandatangan kontrak kerjaku.
Setelah berpamitan dengan ibu bapak dan sekalian membawa 2 adikku yang nebeng sampai sekolah ku lajukan motor kesayangan ini dengan susana hati yang riang.
Jam 8.10 aku sampai di kantor tersebut. Ku langkahkan kaki ku ke resepsionis untuk konfirmasi kedatanganku. Masih punya waktu 20 menit sih sebenarnya tapi untuk mencerminkan sikap yang baik aku datang lebih awal.
“Baik mbak Anya disuruh menunggu di depan ruangan kemaren pas wawancara ya mbak.” ucap resepsionis dengan ramahnya.
“Ok mbak terimakasih.” balasku dengan tersenyum.
Sambil menunggu Anya melihat akun sosial medianya untuk mengisi waktu luangnya.
Ting
Suara lift terbuka disana ada 2 orang staff yang sepertinya akan menemuiku.
“Anya ya ini.” ujar seorang wanita yang kuperkirakan berusia 30 tahun-an.
“Iya bu.” jawabku dengan senyum termanisku.
“Langsung masuk aja ya.” ucap orang itu.
Aku pun langsung mengikuti beliau beliau yang mungkin akan menjadi seniorku.
“Baik ini silahkan dibaca kontraknya.” ujar seorang pria yang lebih tua dari ku.
“Kamu akan saya tugaskan di kantor pusat 2 minggu lagi apakah kamu sanggup?
” ucap Ibu Dewi yang kutahu dari nametagnya.
Kaget? Pasti. Namun senang bahkan sangat senang karena diterima diperusahaan ini.
“Sanggup bu.” ucapku percaya diri.
Sebelum itu saat wawancara kemarin juga sudah ditanyakan dan orang tua Anya juga memberikan kesempatannya untuk merantau. Dan aku mendapatkan lampu hijau.
Setelah semua rangkaian penandatangan kontrak kerja ku 2 minggu lagi aku akan bekerja dan menjadi anak rantauan ke ibu kota. Yah butuh 8 sampai 9 jam untuk ke ibu kota dari daerahku menggunakan kereta. Namun semua sudah ditangggung oleh perusahaan akunpun dapat mess dari perusahaan ini sungguh kebahagian yang aku rasakan semoga selalu ku rasakan.
~Skip~
Pagi hari yang cerah,
Ia bangun lalu melakukan aktivitasnya sebelum bersiap bekerja. Tadi malam tiba tiba ia memimpikan sosok itu. Bahkan ia bermimpi yang tak senonoh. Membuatnya sungguh tak nyaman ketika mengingat mimpinya itu.
Pernah suatu kali ia dijebak oleh wanita saat dibar, minumannya diberi obat yang membuatnya turn on. Beruntung ia memiliki ketahanan yang kuat, ia masih bisa menahan semuanya untuk segera keluar dan menjauh dari wanita itu. Hingga ia sampai apartemen melepaskan semua yang ia tahan dan menjadikan sosok yang selama ini ia rindukan itu sebagai fantasinya.
Kini ia menatap kaca yang ada diapartemennya, disantapnya kopi dengan memandang pemandangan kota ini. Untuk sejenak menenangkan dirinya.
“Why.....” ucapnya sendiri masih mempertanyakan apa yang terjadi sekian lama ini.
Sudah 4 tahun berlalu sejak kepergian sosok itu, bukan tak ada usaha untuk mencarinya. Namun waktu mengambil alih semuanya hingga membuatnya menjadi seperti ini.
Waktu sudah menunjukkan ia harus bersiap berangkat ke kantor. Ada beberapa agenda yang ia harus jalankan kali ini. Setelan jas hitam lekat dengan kemeja dark silver sudah ia kenakan, sepatu ala ala pria kantoran juga siap digunakan.
Jam tangan melingkar sempurna dipergelangan tangan kokoh ini. Rambut sudah disisir rapi memperlihatkan jidat sempurna menambah kesan cool.
Saat sampai dikantor, ia berjalan dari arah loby dan mobil sudah diparkirkan oleh petugas keamanan disana. Saat ia keluar dari mobil ia sekilas melihat sosok perempuan yang mirip dengan orang yang ia kenal.
Sudah 2 hari yang lalu aku berada di ibu kota dan hari ini,
Hari pertamaku bekerja, dari mulai bangun pagi dan memberikan kabar ke orangtuakku dan meminta doa untuk hari pertamaku aku pun menuju ke kantor yang membutuhkan waktu 10 menit untuk sampai kesana dengan ojek online yang sudah ku pesan.
Hari pertama, kerjaan pertama dan kesan pertama yang ku peroleh sangat menyenangkan terlebih mendapat rekan rekan kerja yang sangat ramah dan sangat membantunya.
Ada beberapa yang masih sulit ku pahami, namun beruntungnya aku masih diberi kesempatan bertemu orang orang baik dikantor ini.
Jam makan siang ....
“Nya yuk makan.” ajak mbak putri kepadaku yang masih berusaha menyelesaikan pekerjaan petamaku.
“Iya mbak bentar lagi tinggal save.” jawabku
Saat ini Anya ditemani Mbak Putri dan Rendi yah satu devisi ini ada 6 orang termasuk aku. Dua orang lain sedang tugas diluar daerah dan satu orang lagi sudah janji makan siang dengan orang lain. Disinilah aku bersama kedua orang ini.
Kantin kantor cukup ramai namun tak jarang beberapa memilih makan diluar.
“Mau makan apa lo berdua gue pesenin.” tanya Rendi
“Sekalian bayarin yak.” ujar mbak Putri tanpa dosa
“Dikasih hati minta jantung, buruan mau makan apa.” jawab Rendi
“Yang rekomended apa ya.” tanya Anya karena baru pertama kali makan disini.
“Yaudah gue sama’in aja ya soto bu inah enaknya nagih gimana.” tawar Rendi
“Okedeh gue juga butuh yang seger seger panas nih.” kata mbak putri dan aku mengangguk
Disela sela makan mbak Putri dan Rendi memberikan beberapa pertanyaan mengenai diriku. Kurasa aku bakal betah bekerja dengan mereka yang begitu mengasikkan dan juga ramah dengan orang baru sepertiku.
“Entar pulang lo naik apa?.” tanya Rendi penasaran.
“Ojol paling tapi nanti mau mampir supermarket dulu mau beli beberapa barang yang belum ada di mess.” jawabku menjelaskan, karena memang aku belum belanja sama sekali. Semua yang ada di mess hanya barang barang yang aku bawa dari rumah.
“Bareng gue aja, gue juga mau beli sabun dan kawan kawan nih.” ajak Mbak Putri
“Boleh deh ngirit ongkos hehehe. Tapi aku ngrepotin engga nanti.” kata Anya yang senang mendapat tawaran menarik.
“Kagak, cukup lo kasih bintang lima ke dia aja” ucap Rendi membuat Mbak Putri melotot.
“Lo kira gue ojol gitu, bintang gue lebih dari lima asal lo tahu.” ucap bercanda Mbak Putri.
Mbak Putri dan Rendi orang asli sini jadi mereka tidak tinggal di mess perusahaan sepertiku.
Jam 16.00 waktunya pulang, sebelum ke parkiran aku mampir sebentar ke toilet lalu menyusul mbak Putri yang sudah menuju mobilnya.
Saat keluar dari lift menuju basemen tak sengaja ku melihat seseorang pria di dalam mobilnya yang menghadap ke arahku dan melewatiku. Bagaikan slow motion didalam film film, aku melihat orang itu.
Jantung ini berdetak cepat, seakan seperti angin menghampiriku. Wajahku memucat, tubuhku mematung dan tatapanku masih tertuju pada mobil yang perlahan menghilang itu. Hingga ku dapat telfon dari Mbak Putri.
Tringg Tringg Tringg
~Mbak Putri Calling~
“Dimana lo ?, Nyasar nggak kok belum nyampe.” tanya Mbak Putri.
“Ini udah keluar lift mbak maaf.” jawabku langsung bergegas lari mencari mobil mbak putri....