I Need You More Than Friend

I Need You More Than Friend
Episode 28



28


Suasana kantor masih seperti pada umumnya. Anya yang tadi sempat bangun kesiangan namun beruntung tak sampai dia telat.


Siapa lagi kalau bukan karena Beni yang mengetuk pintu rumah messnya dan membuatnya bangun. Sempat juga terjadi perdebatan diantara dua sejoli ini. Namun ego Anyalah yang menang. Anya mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan penuh sedang Beni mengikuti dengan rasa khawatir. Sangat khawatir bahkan rasa jengkel menggerogoti dada akibat punya pacar yang terlalu mandiri.


 


 


“Anya dipanggil Pak Seno.”  ucap Mas Dino ketua devisiku


“Ha? Ada apa mas.” kaget Anya karena dipanggil pihak HRD


“Gak tau coba kamu kesana aja, saya cuma disuruh manggilin kamu.” jelas Mas Dino


“Lo gak berencana resend kan?” tanya Mbak Putri panik ke pada Anya


“Yakali mbak baru masuk juga. Haduh doa’in gue gak napa napa ya.” ucap Anya yang sudah beranjak dari tempat duduknya.


“Gue bantu doa nya.” seru Rendi sambil cengengesan.


 


 


Anya sudah berjalan menuju ruang HRD. Ia merasa tak ada masalah sebelumnya namun kenapa ia dipanggil.


Tok tok tok


Anya mengetuk pintu pelan


 


 


“Masuk.” sahut Pak Seno dari dalam


 


 


Anya perlahan membuka pintu ruangan ini dan menundukkan kepala rasa hormat.


“Anya Kalista ya.” ucap Pak Seno saat Anya masuk.


"Iya pak saya Anya.” balasnya sopan.


“Okay, silahkan duduk disana.” perintah Pak Seno mengarahkan tangannya ke sofa yang berada di samping meja kerjanya


 


 


Saat Anya mendongkak melihat arah yang dimaksud Pak Seno.


 


 


Deg


 


 


 


 


Anya Pov


Beni sudah duduk santai disana dengan senyum cerahnya.


“Sini duduk.” ucap Pak Seno lagi menyadarkan ku pada keterkejutan ini.


Aku langsung mengembalikan sikapku sebiasa mungkin dan duduk bersama mereka.


Saat aku sudah duduk di sofa yang berada seberang Beni dan Pak Seno beliau duduk di single sofa yang berada di samping kami berdua.


 


 


“Jadi ini Ben.” ucap Pak Seno bertanya pada Beni


“Iya, gimana?” balas Beni membuatku heran apa yang dimaksud mereka


“Om sih setuju setuju aja. Orangtuamu gimana?”


 


 


Om


Aku tak salah dengarkan. Pak Seno menyebut dirinya om pada Beni, membuatku terkejut dan mengedarkan pandangan ke arah Beni.


“mereka sih udah kenal lama sama dia. Iya gak yang?” ucapan Beni membuatku tambah terkejut dan membulatkan mata.


 


 


Rasa kagetku belum reda Beni sudah beralih duduk disampingku.


“Pak Seno ini adik dari Ayah aku. Dan Om Seno ini pacar aku soon to be my wife.” ucap tegas Beni yang berada disampingku


“Aww, sakit yang.” imbuh Beni karena aku cubit lengan tangannya.


“Hmm maaf Pak Seno saya tidak ber...” ucapanku terpotong


“Panggil saya Om saja, sama kaya Beni memanggil saya.”


“Baik pak, eh Om.”


“Kamu yang sabar ya ngadepin Beni.” ucap Pak Seno.


“Lah emang Beni kenapa?” sahut Beni.


“Ya kamu kaya gitu.”


“Gitu gimana Om, jangan jelek jelek in Beni di depan Anya. Susah ini dapetinnya. Butuh bertahun tahun baru...”


“Kamu yang sabar ya Anya, kalau dia bandel terus gak tahan sama dia. Tenang Om masih punya keponakan yang gak kalah gantengnya dari dia.” potong Pak Seno membuat Beni tambah geram.


 


 


Sedang aku yang berada diantara dua pria ini hanya bisa mengedarkan pandangan secara bergantian ke mereka.


“Udah ah, Om udah aku kenalin sama pacar aku. Udah percaya kan kalau aku ini masih normal?!” ucap Beni kesal


 


 


 


 


“Gak usah ketawa, aku tau kamu nahan ketawa.” keluh Beni ke arahku.


 


 


Aku hanya menggelengkan kepala dan mengatur mimik mukaku agar terlihat biasa saja.


“Yaudah sana kalau mau pergi. Om udah ijinin kalian berdua. Awas jangan macem macem sama calon keponakan om.” ucap Pak Seno sambil berdiri dan kembali ke meja kerjanya.


 


 


Aku terkejut, ini maksudnya apa


“Kamu ambil tas sana. Kita cuti setengah hari, aku tunggu kamu di parkiran.” ucap Beni saat kami hendak keluar dari ruangan Pak Seno.


 


 


Kini aku harus kembali ke ruanganku untuk mengambil tas. Entah apa yang harus ku katakan pada rekan rekan kerjaku.


 


 


Mbak Putri dan Rendi tak henti hentinya memberiku pertanyaan, namun aku tak tahu harus bilang apa. Aku hanya menjawab mereka dengan


“Besok aku cerita’in, gue pulang dulu bye semuanya maaf ya gue ijin setengah hari.” pamitku pada seluruh rekan devisiku


 


 


Beni Pov


Sejak pulang dari singapura aku memang belum qtime an bersama Anya. Bahkan aku punya banyak pertanyaan yang harus aku tanyakan padanya yang mengumpul di pikiranku beberapa hari ini.


Kini aku sudah menunggu sang pujaan hati disamping motornya.


“Loh kamu kok disini, mobil kamu mana?” tanya Anya kaget melihatku sudah menggunakan jaket dan menenteng helm yang baru saja aku beli demi rencanaku kali ini.


“Mobil aku udah di apart tadi aku suruh sopir kantor bawa kesana. Yuks keburu jam makan siang entar karyawan lain turun.” ucapku memakai helm dan menaiki motor Anya


 


 


Akhirnya kami berdua berboncengan kembali menggunakan motor ini.


“Kita mau kemana?” tanya Anya padaku


“Mampir supermarket dulu ya terus ke apart, aku kangen masakan kamu.”


 


 


Baru juga beberapa hari tak makan masakan Anya aku memang sudah sangat merindukannya. Entah kenapa apapun yang berhubungan dengan Anya selalu menjadi candu untukku.


 


 


 


 


Kami berdua sudah sampai di supermarket yang berada tak jauh dari apartement tempatku tinggal. Kini aku mengambil troli untuk memudahkan membawa belanjaan.


“Eh bawa keranjang aja, gak belanja banyak juga kan.” ucap Anya saat aku henda mengambil troli.


“Banyak juga gak apa apa, sekalian buat stock kulkas.” sahutku.


“Emang kamu sering masak?”


Aku hanya menggelengkan kepala.


 


“Tuh kan, udah belanja seperlunya aja.”


“Kan bisa buat nanti nanti?” Protesku lagi.


“Gak, gak. Terlalu lama disimpen di kulkas juga gak baik. Paling berakhir sampe kadaluarsa, orang kamu gak pernah masak juga.”


“Ya kamu yang masak buat aku tapi di apartemen aku.” pintaku dan sedikit merajuk pada Anya. Dia hanya geleng geleng kepala lalu mengambil keranjang merah dengan roda dibawahnya dan meninggalkanku.


“Lah kok ditinggal.” ucapku membuntuti dirinya.


 


 


Saat aku mau menyusul Anya sempat melewati rak snack kesukaanku dan berhenti sejenak untuk mengambil beberapa untuk cemilan.


 


 


Setelah itu aku bergegas mencari calon istriku yang sudah tak terlihat sekarang. Aku mengitari beberapa koridor yang mungkin akan dia kunjungi.


“Huh, ketemu juga.” ucapku sendiri melihatnya di bagian daging.


“Eh sama siapa tuh.” imbuhku.


 


 


Disana Anya sedang memilih daging dan sedikit berbincang dengan seorang pria.


Tiba tiba aku merasakan gerah


Gerah hati


Bahkan mereka tertawa bersama walau sejenak.


Aku harus segera kesana.