I Need You More Than Friend

I Need You More Than Friend
Episode 14



#14 Masih sakit ?


Setelah beberapa hari menginap di rumah sakit, akhirnya Beni diizinkan untuk pulang. Anya selalu mendampingi hingga mengantar ke unit.


“Ini bawaan kamu aku taruh sini ya, owh iya tadi sempet aku bawa’in sedikit makanan nanti tinggal diangetin kalau mau makan.” ucap Anya seperti ibu menasehati anaknya.


Anya berperilaku seperti itu selain dia care sebagai teman, dia juga diberi mandat untuk merawat laki laki itu saat sakit oleh orang tua Beni. Orang tua Beni sudah bertemu dengan Anya saat Beni masih di rumah sakit. Namun karena salah satu saudara Beni di Kalimantan sedang menyelenggarakan pernikahan maka orangtua Beni harus pergi ke sana untuk menjadi wali dari saudaranya itu. Disisi lain orangtua Beni juga senang akhirnya bertemu kembali dengan Anya yang dulu sering diceritakan oleh anak laki lakinya itu.


Kini Anya bersiap untuk pulang karena hari sudah sore.


“Udah bereskan, aku pamit pulang ya jangan lupa minum obat eh makan dulu baru minum obat.” ucap Anya sambil mengambil tasnya.


“Yaudah aku antar.”


“Engga kasihan nih driverku udah nunggu.”


“Owh ok terimakasih banyak, gak tau kalau aku tanpamu bakal gimana.” ucap Beni dengan menggenggam tangan Anya di depan pintu unitnya.


Anya mematung mendengar perkataan itu. Hening setelah Beni berucap, seakan waktu berhenti. Mungkin hanya detak jantung mereka yang memang berdebar ketika saling menatap. Beni melihat Anya mematung dia perlahan mendekatkan kepalanya dengan kepala Anya. Hembusan nafas mereka saling mengenai permukaan kulit wajah. Wajah mereka semakin dekat Anya masih mematung dengan tatapan terus tertuju ke sosok didepannya.


Ting.......


Bunyi lift terbuka, seketika mereka berdua kaget dan saling menjauhkan diri. Pipi kedua sosok itu memerah.


“Hmmm aku pamit dah.” ucap Anya lalu berlari ke arah lift.


Anya pov


Sejak pagi tadi hujan tak berhenti menjatuhkan airnya hingga siang ini. Pagi tadi Beni memang menawakan untuk menjemputku karena cuaca hujan. Namun aku sudah dalam perjalanan, sebernanya berangkat bareng Beni membuatku tak kehujanan tapi aku merasa tidak enak jika terlalu sering bersamanya saat di lingkup kantor.


Beni kini sudah seperti sediakala, sudah bisa mengusili dan menggodaku. Setidaknya dia tak manja lagi seperti saat sakit. Terlebih semenjak keluar dari rumah sakit dia rutin menghubungiku saat tak bertemu entah tiba tiba mengajak video call sebelum tidur dan akan meneror pesan jika belum dibalas. Terkadang aku mematikan ponsel demi ketenangan jantungku.


Siang ini karena hujan masih belum reda, aku dan 2 sobat kerjaku memilih menyantap soto bu inah yang memang rekomended saat hujan begini.


“E buset dah cucian numpuk malah ujan gak berhenti dari tadi.” ucap Mbak Putri mengeluh tentang hujan.


“Iya mbak, untung gue belum nyuci.” ujarku selesai mengunyah soto


“Halah tinggal laundry beres kan pasti kering. Gitu aja repot.” sahut Rendi lalu memasukkan sendok ke mulutnya.


“Cowok mah emang gak tau hemat kali ya.” ucap Mbak Putri


“Lah gue hemat kok.” sahut Rendi


“Coba deh hitung biaya laundry lu berapa nah jumlahin deh sebulan, sayang banget uangnya kalau masih bisa nyuci sendiri.” ucapku


“Nah lu berdua coba hitung berapa yang lu keluarin buat skincare coba.” tantang Rendi


“Yee itu beda cong, cewek kalau gak dirawat entar buluk.” bela Mbak Putri


“Bukannya cewek ada yang cantik apa adanya ya.” tanya Rendi


“Semua cewek pasti punya cara masing masing buat ngerawat diri ren, kalau lu masih penasaran coba aja jadi cewek.” ucapku sambil terkikik


“Bener tuh hahaha.” tawa Mbak Putri.


Saat mereka bercanda tawa, tiba tiba sesorang duduk di sampingku.


“Eh pak.” ucap Rendi kaget lalu menundukkan kepala memberi simbol hormat yang diikuti dengan Mbak Putri yang duduk disebelahnya.


“Dilanjut aja gak usah sungkan.” ucap Beni lalu menyerutup minum milikku.


“Pak itu minum saya.” ucap Anya. Enak aja ni orang main minum pesen sendiri gak bisa apa.


“Minta dikit, haus aku.” jawab Beni sambil mengelus lehernya berlagak orang kehausan


Ku lihat 2 orang dihadapanku kini yang pura pura sibuk makan dengan diam. Padahal sebelumnya kita makan sambil bercanda tawa. Setelah ku senggol kaki Rendi akhirnya dia bertanya


“Bapak mau makan disini? Mau pesan apa saya pesankan.” ucap Rendi dengan sopan


“Engga usah saya makan ini aja.” ucap Beni lalu mengambil mangkokku yang masih tersisa setengah porsi dan langsung memakanya dengan wajah tanpa dosa.


“Eh...” ucapku terhenti aku masih ingin sopan dengan atasanku ini yang seenaknya mengambil makananku.


“Gimana mau makan pak orang makanannya direbut gitu.” ucapku kesal.


“Yaudah ini aaaa.” ucap Beni sambil menyodorkan sendok ke arahku


“Apaan sih pak.”ucapku menjauh dari sosok ini


“Ini makan bareng.” sahut Beni dan membuat Anya merah padam.


“Gak, gak saya udah kenyang, silahkan bapak makan aja.”


Mbak Putri dan Rendi melongo melihat adegan yang dibuat bossnya itu. Biasanya mereka hanya bisa melihat tatapan dingin kini sangat berbeda ketika menatap Anya.


Setelah jam istirahat selesai mereka bergegas kembali menuju ruangannya, dan berpisah dengan sosok yang tiba tiba tadi bergabung.


“Sini aaaa.....” ucap Mbak putri mempraktekkan adegan yang tadi beberapa kali Beni lakukan saat di kantin


“Hmm enak yank.” sahut Rendi berpura pura menerima suapan dari Mbak Putri.


“Ishh kalian ngapain sih.” kesal Anya


“Lo tu tadi harusnya kaya gue barusan, sok jual mahal lagi padahal kalau dibelakang kita pasti manja manja gitu sama bos.” kata Rendi sambil menyenggol lengan Anya


“Udah sampe mana hubungan lo sama boss, gue yakin udah ngapa ngapain nih.” kata Mbak Putri dengan lirikan menyelidik.


“Engga ada apa apa mbak, beneran deh. Manja apaan dia yang manja ke gue beberapa hari yang lalu pas sakit.” ucap Anya keceplosan.


“Ha? Berarti lo yang rawat bos pas dia ijin sakit itu.” ucap Rendi kaget


Anya hanya mengangguk lalu dengan paksaan Mbak Putri akhirnya dia menceritakan kejadian belakangan hari ini. Setelah menceritakannya kedua sobat Anya ini bilang kalau Beni dan Anya saling suka terbukti dengan perilaku mereka. Namun gengsi Anya mengalahkan semuanya Anya masih pada pendiriannya dia menganggap sebagai teman.


Malam hari saat selesai mandi dan membereskan dapur setelah makan malam, rumah Anya kedatangan tamu. Yah Beni datang berkunjung dengan membawa oleh oleh dari keluarganya yang telah balik dari Kalimantan.


“Ini titipan dari mama buat kamu katanya ucapan terimakasih udah ngerawat aku.” ucap Beni saat Anya membawakan minuman dan ikut duduk diruang tamu.


“Ya ampun malah jadi repot repot gini. Bilangin mama kamu makasih kembali.” sahut Anya sambil tersenyum.


“Aku yang ngerepotin kamu Anya.”


“Aku gak repot kok santai, itu diminum keburu dingin.”


Beni menyukai semua yang berbau Anya, mulai dari berdekatan dengannya, makanan buatannya, minum buatannya pokoknya semua tentang Anya. Sebenarnya hal ini sudah ia rasakan dari dulu, namun dulu ia belum sadar bahwa sosok cewek ini begitu berarti untuk dirinya. Beni tersadar saat mereka mulai lost contact ia merasa hampa dan mulai menyibukkan diri dengan ini itu. Berharap bisa melupakan, namun ia tak pernah bisa melupakkan sosok cewek ini. Hingga kini ia bertemu kembali bersamanya.


“Ben.......... kok bengong.” ucap Anya melihat Beni bengong setelah meminum minumannya.


“Eh engga.”


“Ada yang salah dari minumanku po? Gak enak ya?”


“Eh engga ada, aman kok.” ucap Beni


“..........”


“Anya ada yang mau aku sampein ke kamu.”


“Iya ada apa.”


“............”


Hening sejenak, Beni mengambil nafas dalam dalam mempersiapkan diri untuk mengutarakan isi hatinya.


“Anya gimana kalau kamu jadi pedamping hidupku, menemani sisa hidupku.” ucap Beni dengan tatapan sendu


Anya mendengar kata kata itu tergejolak kaget. Detak jantungnya meningkat lebih cepat, pipinya memerah. Dia berusaha tersadar dia gak mungkin pingsang disaat seperti ini.


Anya mendekat ke arah Beni


Kemudian dia meletakkan telapak tangannya ke kening Beni


“Kamu masih sakit?” tanya polos  Anya


“Tapi gak panas, apa kamu gak punya riwayat sakit parah atau yang lainkan?” imbuh Anya membuat Beni melongo.