I Need You More Than Friend

I Need You More Than Friend
Episode 3



#3


Sepanjang jalan Anya lebih banyak melamun. Hanya beberapa obrolan  yang Mbak Putri ditanggapi Anya dengan anggukan, hingga akhirnya mereka berdua sampai ke supermarket yang mereka tuju.


“Lo kenapa dari tadi tiba tiba diem?.” tanya Mbak Putri


“Ga apa apa mbak mungkin efek capek, maaf ya jadi gini.” ucap Anya


“Lo bisa cerita sama gue kalau lo mau.”


“Thanks mbak ntar kalau udah siap yah, hmm alat kebersihan sebelah mana ya mbak?.” Anya berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Kalau lo butuh alat kebersihan bisa pake punyaku aja. Dirumah aku punya banyak tuh, bisalah ambil kan itung itung hemat gitu.”  tawar Mbak Putri ke Anya


“Wah tawaran bagus tuh, tapi kita udah disini mbak. Besok besok aja kalau aku butuh lebih ya.” tolak halus Anya


Mbak Putri hanya mengangguk, lalu saat berbelanja mereka lebih banyak bercerita tentang keluarga Mbak Putri saat mereka berbelanja. Hal ini membuat Anya lupa apa yang baru saja ia lalui.


Satu jam berlalu....


Mereka sudah selesai berbelanja dan sempat membeli makanan ringan dipinggir jalan dan dinikmatinya dimobil Mbak Putri.


“Terimakasih mbak tumpangan dan udah nemeni mau mampir dulu?.” tawar Anya


“Yuhuu, santai ajaa gue langsung balik aja, anak sama suami udah nunggu dirumah kayanya.” balas Mbak Putri lalu masuk kedalam mobil.


“Owh ok Mbak, salam ya buat keluarga.”  ucap Anya dengan sopan.


Setelah melihat mobil Mbak Putri menjauh, Anya masuk ke mess miliknya. Semua belanjaanya ia letakkan begitu saja.


“Hufttt... udah lupain jadi gak konsen ngapa ngapain.” ucap Anya sendiri.


~Skip~


Hampir seminggu dia bekerja dengan baik ya walau ada beberapa masalah namun bisa terselesaikan.


“Nya hari ini lu nemeni gue meeting ya, Mas Dino lagi nemuin klien di luar.” ajak Rendi


“Lah tapi gue kan baru.”


“Makanya gue ajak biar ngrasain meeting, toh lu juga udah tahu juga bahan bahannya.”


“Okedeh, deg deg an gue.” ujar Anya


“Apa? lo jatuh cinta sama gue?”balas Rendi sambil muka sok terkejut


“Gila lo!! Gue bilang deg deg an tau”  jawab Anya


“Kalau orang deg deg an disamping lawan jenis tuh tandanya lo cinta sama tu orang.” sahut Rendi


“Teori dari mana tu? Toh gue deg deg an karena pertama kali meeting kaya gini bukan karena lo.” ucap Anya membuat Rendi tertawa.


“Serius amat non, bercanda kali biar gak tegang tegang amat.” ucap Rendi menepuk nepuk lengan Anya untuk menenangkannya.


Ruang meeting


Rendi dan Anya sudah duduk di posisinya mewakili devisinya. Anya begitu cemas karena pertama kalinya dia mengikuti meeting dan bertatap muka dengan para atasan perusahaan ini. Yah ini evaluasi bulanan yang rutin dilakukan. Setiap devisi melaporkan hasil yang mereka bidangi demi melakukan sinkronisasi bila terjadi ketidaksesuaian.


Beberapa menit kemudian para petinggi mulai masuk ruangan.


Penyampaian laporan sudah selesai dan tinggal pengevaluasiaan. Anya sedari tadi fokus dengan apa yang ada di ruangan ini dan dia kagum sosok Rendi yang bisa juga menjadi serius disini. Sungguh berbeda aura Rendi kali ini, tak seperti saat bersama Anya dan mbak Putri. Seperti orang lain saat Anya melihat Rendi kali ini. Tiba tiba ada sosok pria yang masuk keruangan meeting ini dan membuat semua orang disanan berdiri menunjukkan hormat.


“ Mohon maaf saya terlambat, sudah sampai mana.” tanya pria tersebut duduk di kursi utama dan membuat orang orang itu  termasuk Anya duduk kembali.


Seketika Anya mematung seolah waktu berhenti, dia tak bisa mendengar apa yang terjadi di ruangan tersebut. Dia hanya fokus pada sosok pria gagah dengan jas hitam berada di kursi utama itu. Beruntung Anya berada di baris kedua dan sedikit tertutupi oleh karyawan didepannya. Dia menatap sosok pria ini, pria yang menjadi atasanya disini. Sungguh mata Anya tak dapat lepas dari pria itu, mungkin bila ia duduk didepan pasti pandangan mereka bertemu. Namun sayang alam belum berpihak ke Anya kali ini.


Anya masih dengan posisi hang. Tatapannya berulang kali kosong.


“Eh lu masuk angin?.” tanya Rendi saat bersama berjalan menuju ruangan devisinya.


“agak kagak.” jawab Anya spotan. Ia berusaha kembali ke alam normalnya.


“Aneh lu.” curiga Rendi. Membuat Anya melotot dan mengejar Rendi yang sudah berjalan duluan.


“Apa lo bilang?.” tanya Anya memastikan


“Budek lu.”


“What?!.” ucap Anya sedikit keras beruntung ia sudah diruangan devisinya membuatnya tak malu maluin.


“E buset kalau keriak bilang bilang kali, masuk kuping ini.” keluh Rendi karena mendengar teriakan usil Anya buat dan memang ia dekatkan dengan telinga Rendi akibat mengatainya budek.


“Biarin sekaian lo yang budek.” ucap Anya lalu duduk ke tempatnya bekerja.


Sepanjang hari ini Anya berusa fokus dari kerjaannya melupakan sosok pria tersebut. Dalam hatinya bertanya tanya akankah dia orang itu atau cuma mirip. Jika dia memang sosok yang Anya kenal apakah dia mengenalinya, apakah dia masih mau kenal dengan Anya.


Banyak pertanyaan yang memenuhi pikiran Anya. Makan menjadi tak enak, ia  berusaha tak menunjukkan kebingungannya didekat rekan kerjanya. Sungguh hari yang melelahkan untuk Anya karena pikiran Anya sendiri.


Jam kantor telah usai Anya bergegas untuk pulang. Ia membuka ponselnya lalu tertuju pada aplikasi andalannya. Seusai memesan ojek online ia menuju loby kantor. Jam pulang kantor memang membuat lalu lintas menjadi padat. Anya harus menunggu sedikit lama ojolnya datang.


Saat berjalan di daerah loby yang terlihat sangat sepi. Mungkin karena Anya keluar sedikit terlambat karena menyelesaikan kerjaanya. Anya dengan santai berjalan sambil memandangi ponselnya untuk melihat posisi driver ojolnya. Hingga ia sudah berada didepan pintu utama kantor ini. Driver ojolnya masih belum sampai membuat Anya kembali memeriksa ponselnya untuk melihat letak sang driver.


Namun saat itu ia tak menyadari ada sosok pria memandanginya dengan rasa terkejut. Pria itu baru saja keluar dari mobilnya.


Hingga sang driver ojol mendekat ke posisi Anya. Membuat Anya mendongakkan wajahnya untuk melihat sekitar.


Tanpa sengaja pandangan mereka bertemu, Anya dan pria itu saling diam dalam pandang.


Seperti waktu berhenti sejenak, semilir angin menerpa mereka berdua hingga.....


Suara muncul


“Dengan mbak Anya?.” tanya driver ojol yang menghampiri dan menyadarkan Anya.


“Eh iya pak.” jawab Anya terkejut dan memutuskan pandangan itu


Saat Anya akan menggunakan helm dari sang driver tiba tiba tangannya ditahan oleh pria tersebut.


“Kamu beneran Anya?.” tanya pria itu dengan tatapan tajam.


“Anya Kalista?.” imbuh tanya pria tersebut dengan pandangan penuh harap.


“Hmm maaf pak, iya saya Anya.” jawab Anya dengan gugup dan melepaskan genggaman itu.


“Kamu gak ingat aku?.” tanya tegas pria itu. Membuat Anya bingung harus bagaimana.


Anya hanya diam sambil melihat pria itu berbicara


“Aku Beni nya Beni!!.” dengan nada cukup keras


“Owh iya Pak Beni, maaf saya harus pulang kasihan drivernya sudah nunggu.” ucap Anya dengan sedikit gagap.


Anya mengalihkan wajahnya dari Beni sosok pria yang sudah lama tidak ia temui.


“Ayo pak jalan, saya permisi pak.” ucap Anya hormat meninggalkan Beni yang sedang mematung.


Dan akhirnya Anya bisa menjauh dari Beni yang terus memandangnya .......