I Need You More Than Friend

I Need You More Than Friend
Episode 24



24


Anya akhirnya sampai di apartemen Beni. Saat membuka pintu, Beni dengan sigap memeluk Anya setelah mendengar suara pintu terbuka.


“Kaget tau ben” keluh Anya mendapat serangan mendadak dari Beni dengan rambut basahnya.


“Kangen tau yang.” ucap Beni menenggelamkan mukanya dileher Anya.


“Basah baju aku Ben, udah lepas. Aku mau masak.”


“Aku bisa kok bikin kamu lebih basah.” ucap Beni membuat Anya tak paham


"Awhh, Beni!!!!” desah Anya saat Beni mencium leher Anya dan sedikit menghisapnya. Namun sayang hanya sesaat karena Anya lebih dulu meneriakinya dan menarik telinga Beni layaknya anak kecil yang dijewer oleh ibunya.


“Sakit yang, sakit...” keluh Beni sambil memegang telinganya yang tadi ditarik Anya


“Siapa suruh kamu gituin aku ha!” ucap kesal Anya lalu meninggalkan Beni menuju ke dapur.


 


 


Walaupun Beni sudah menjadi pacarnya, Anya tak mau jika Beni melakukan hal hal seperti itu padanya.


 


 


“Maaf, maafin aku.” kata Beni mengekor Anya


“Aku gak suka kamu seenaknya kaya gitu, aku udah biarin kamu peluk aku. Tapi kalau lebih dari itu aku gak bisa. Kita tu belum muhrim.”


“Aku berasa murahan tau gak.” imbuh Anya sambil menghetak hentakkan tangannya saat memotong bawang.


Beni tak berani bersuara sekarang, benar yang dikatakan oleh Anya. Sungguh merasa bersalah Beni selama ini sudah main sentuh ke Anya. Dijaman sekarang apalagi, Beni kira dengan berhubungan pacaran pelukan cium dan apa yang dia lakukan barusan itu hal yang wajar. Namun tidak untuk Anya dia menjaga sekali walau hanya skinship dengan pacarnya. Sungguh tak salah Beni memilih wanita yang begitu menghargai dirinya sendiri ini.


Sungguh merasa bersalah Beni ke Anya, kini ia duduk diam di meja makan menunggu perempuan itu selesai masak.


Dalam makan malam Anya dan Beni masih saling diam. Anya masih kesal dengan perlakukan Beni, dan Beni masih takut dan menyesal dengan apa yang dia lakukan. Secara tidak langsung Beni telah membuat Anya terluka.


Pukul 20.00 WIB mereka sudah menuju ke Bandara, sesuai dengan permintaan Anya juga mereka mengendarai sepeda motor milik Anya.


Mereka mengendarai motor dengan diam, tak ada obrolan panjang lagi diantara mereka. Beni merasa tersiksa sekali disaat ia akan pergi malah sekarang keadaan mereka sedang tidak baik.


Anya mengantar Beni sampai ke batas pengantar, mereka berdiri berhadapan sekarang. Bahkan Beni sekarang tak berani menggenggam tangan Anya.


Hingga suara announcer menandakan pesawat yang ditunggangi Beni akan segera berangkat.


“Udah sana, hati hati. Jangan lupa makan yang penting.” ucap Anya sambil mengusap lengan Beni.


“Hufttt, maaf maafin sikap aku tadi. Aku.. aku gak..” ucapan Beni terpotong oleh Anya


“Udah sana buruan, jangan bahas itu lagi. Aku butuh waktu. Safe filght ya.” sahut Anya dengan mendorong Beni untuk masuk ke pintu check in.


Beni melangkah lesu saat sudah masuk ke gate. Anya masih setia memandanginya diluar sana. Bahkan Beni beberapa kali menengok ke belakang dengan pandangan sendunya.


Berpisah dengan suasana seperti ini sungguh lebih menyakitkan. Sepanjang perjalanan Beni hanya dirutuki penyesalan.


Anya Pov


Setelah mengantar Beni aku tak langsung pulang. Ku sempatkan untuk menenangkan diri disalah satu coffeshop yang ada dibandara ini. Berharap dengan segelas kopi bisa membuat hatiku lebih baik.


Aku duduk tak jauh dari pintu masuk coffeshop ini. Tujuanku memang hanya sebentar kesini. Pengunjung datang silih berganti, aku sibukkan untuk memainkan ponsel sambil menyeruput kopi yang aku beli.


Hingga tiba tiba terdengar seseorang kebingungan mencari sesuatu. Aku arahkan pananganku ke sekitar.


Pandanganku bertemu dengan sosok pria berjaket hitam, celana pendek abu abu dan sneakers dengan membawa koper besarnya. Sesaat aku meneliti penampilannya, dia tiba tiba mendatangi mejaku.


“Maaf , apa boleh saya pinjam uang cashnya 45 ribu.”


“Ha ?”


“Nanti saya bayar, saya gak bawa cash dan dompet saya tak tau dimana. Saya mohon sebentar lagi saya ganti.”


Aku tak ingin berlama lama terus menjadi pusat perhatian pengunjung disini, akhirnya aku membantu pria ini.


Sekarang pria ini bahkan duduk berhadapan denganku. sempat terlintas untuk langsung pergi setelah membayar, namun sayang kopi yang aku beli belum habis terlebih aku sedang mendowload offline tayangan di youtube menggunakan wifi coffeshop ini.


Tinggal 20% lagi selesai, aku siap siap memasukkan dompet power bank yang tadi sempat aku keluarkan dari tas dan sekarang aku masukkan kembali sebelum pergi.


“Eh bentar, bisa tunggu sebentar. Saya bakal ganti uang tadi.” ucap pria itu yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya.


“Udah gak usah ganti ga apa apa, saya bentar harus pulang.” sahut Anya menjelaskan


“Give me 15 minutes please...”


“Saya ga apa apa kok, saya ikhlas.”


“Wait.. wait.”


“...”


“Where are you now? Kenapa lama banget sih.”


“...”


“10 minutes or you die.”


Ucap pria itu ke orang yang ia telfon membuatku kaget, sedikit mengerikan memang. Aku tak berani menatapnya lagi sekarang.


Hingga ku putuskan fokus ke layar ponselku lagi.


Tring... tring.. tring...


~Raka Calling~


Beruntungnya aku Raka menelfonku hingga bisa ku gunakan untuk alasan pergi dari sini.


[Hallo Anya]


Hallo, ia bentar lagi pulang


Ini udah mau balik


[Gue gak nanya itu]


Iya iya bentar ini udah siap siap


[Kok gak nyambung sih lo]


~call ended~


aku sudah tak memperdulikan respon Raka, biarlah yang penting aku segera menjauh dari pria asing ini.


“Maaf saya sudah ditunggu, saya pamit pulang.” ucapku sambil membungkuk dan pergi


Baru dua langkah pria itu sudah menghalangi jalannku.


“Bentar lagi, orang suruhan saya datang please.”


“Maaf, saya ikhlas kok. Saya harus pulang.” ucap Anya kembali melanjutkan langkah namun ponselnya diraih oleh pria itu


“Ehh!!!” kaget Anya


Pria itu menuliskan nomornya diponsel ku dan memanggil hingga ponsel pria itu berdering.


“Itu nomer saya Indra, saya tak ingin punya hutang. Hubungi saya setelah ini. Terimakasih untuk bantuannya, maaf sudah membuat anda menunggu.” ucapnya saat mengembalikan ponsel ke arahku dan aku balas dengan anggukan.


Aku langsung pergi meninggalkan pria yang bernama Indra tersebut. Hari macam apa ini, setelah bertengkar dengan Beni malah bertemu sosok pria yang sedikit menakutkan.


Tringg.. tringg... tringg..


~Raka calling~


Hallo


Hei, thanks ya udah nelfon disaat yang tepat


[Lo aneh, gue telfon malah gak nyambung jawabnya tadi]


Sorry, tadi ada sesuatu. Untung lo telfon


Owh iya ada apa?


[Sini mampir bengkel gue]


[Ini ada Rendi sama Caca nih]


Wah seru tuh


Tapi gak bisa lama gue


[Yaudah buruan sini]


[Atau gue jemput?]


Eh gak perlu


Gue otw dari bandara


[Gak usah bercanda buruan sini]


~call ended~


“Yaelah, emang bener dari bandara malah dibilang bercanda.” ucapku sendiri saat sampai di parkiran.