
22
Akhir bulan merupakan masa masa dimana kantong mulai menipis dan kerjaan lagi menumpuk numpuknya. Sungguh membutuhkan mood yang sangat besar dalam menjalani setiap detik, menit dan jamnya untuk menyambut awal bulan yang cerah.
Entah sudah berapa kali pengecekan data yang Anya lakukan dalam setiap kerjaanya. Terus berkutat didepan layar komputer membuatnya pegal mata pegal pikiran.
“Makan dulu yuk, buat tambah tenaga dulu.” ajak Mbak Putri
“Hayooklah gue udah lemes juga nih.”
“Cuzlah.” sahut Rendi
Saat perjalanan dari ruangannya menuju kantin mereka berpapasan dengan Beni dan sekertarisnya di lift. Anya menyadari suasana di dalam lift begitu tegang. Beberapa kali kedua temannya menyikut lengan Anya untuk mencoba memecah ketegangan. Namun Anya hanya balas dengan tatapan tajam kebingungan.
Setelah mereka sampai di lantai dasar, Anya dan rombongannya berpisah dengan Beni.
“Eh lo sama bos masih ngambek an?” tanya Rendi
“Gak tau.” sahut Anya cuek
“Jangan jual mahal lo, entar dia belok ke orang lain nyahok.” kata Rendi bawel
“Cewek jual mahal salah, jadi murahan juga salah. Emang laki laki.” ucap Mbak Putri sewot
“Lah gue emang laki laki dari lahir, baru sadar lo.”
Anya hanya menggeleng melihat kedua sobatnya ini saling debat. Lumayan menjadi hiburan dikala suasana melelahkan.
Sudah beberapa hari setelah kejadian di rumah sakit. Kini Anya dan Beni masih saling diam. Bedanya memang Anya yang meminta waktu untuk sendiri dan berfikir.
Beruntung orangtua Beni sangatlah friendly dan ramah. Beliau beliau juga tidak memaksakan kehendak untuk menerima anaknya. Itu membuat Anya tersentuh.
Jam pulang kantor sudah lewat 30 menit yang lalu. Anya baru saja selesai dengan kerjaannya. Saat Anya bergegas menuju parkiran, ia lihat Beni juga berjalan menuju tempat parkir mobilnya. Anya yang berada di belakang Beni, ia hanya bisa menatap punggung sosok itu. Bohong bila Anya tak merindukan kebersamaan mereka yang baru bertemu kembali setelah sekian lama.
Namun ego Anya masih sangat tinggi. Dia tidak ingin salah mengambil keputusan. Anya begitu takut dengan resiko yang akan terjadi dimasa depan.
Saat itu Anya langsung mendekati sepeda motornya. Ia bersiap untuk berkendara. Saat memakai helm tiba tiba dibelakang Anya sudah ada sosok tadi yang sudah berada didekatnya.
“Astagfirullah ! Ka...kamu.” ucap Anya kaget melihat Beni dibelakangnya dengan tatapan sayu. Sepertinya Beni sangat kacau, lingkar mata begitu jelas mungkin dia begadang.
Sedangkan Beni masih dengan tatapan dan diamnya. Beni masih menatap dalam sosok pujaanya dengan harap. Ia sudah tidak betah berada di situasi seperti ini.
Beni yang tadi juga menyadari ada yang menatapnya dari belakang, ia menoleh memperhatikan sosok itu. Hingga ia sadar Anya yang sudah berjalan menuju motornya.
“Maaf pak ada apa?” tanya Anya dengan hormat, ia masih sadar kalau ini masih dikantor.
Beni masih diam ia setia dengan tatapannya.
“Pak.. permisi pak ada perlu apa? Mohon maaf saya sudah mau pulang.” ucap Anya dengan lirih dan pandangan mereka bertemu.
Anya yang masih tak mendapat respon dari bosnya ini, ia langsung memakai helmnya dan jaket dengan benar. Hingga tiba tiba ada tangan yang memeluknya dari belakang.
grep
Anya kembali terkejut sosok tadi memeluknya dari belakang, dan menumpukkan kepala di atas kepala yang sudah dilingkupi helm.
“Aku gak kuat lagi kalau kaya gini nya....” ucap Beni dengan tulus sedangkan jantung Anya sudah berdetup sangat kencang. Matanya sudah berkaca kaca.
“Please jangan siksa aku kaya gini. Maafin aku... maafin aku Anya. maafin aku.” imbuh Beni dengan bergetar.
Beni melepas pelukannya lalu memutar tubuh Anya untuk menghadapnya. Sedangkan Anya tak berani menatap sosok didepannya.
Beni meraih tangan Anya dan menggengamnya. Anya masih tak berani memandang Beni, ia terus menunduk. Hingga Beni berlutut didepannnya untuk melihat wajah Anya.
Anya menyadari Beni berlutut didepannya, ia salah tingkah. Anya sungguh tak enak diposisi ini terlebih bagaimana jika ada yang melihat posisi ini.
“Eh pak jangan begini.” ucap Anya kelabakan mencoba membantu berdiri Beni.
Namun Beni masih berlutut didepannya
“Please dont call me like that, i’m Beni.”
“Tapi jangan dibawah kaya gini, nanti kalau ada orang liat gak enak.” resah Anya masih ingin membantu Beni beranjak.
“Engga aku bakal kaya gini sampe kamu maafin aku.”
“Bapak gak ada salah sama saya, bapak gak perlu minta maaf bahkan sampai kaya gini.” ucap Anya lalu berjongkok untuk menyamakan posisi.
“Maafin aku Anya, aku gak kuat kalau kita kaya gini. I am very need you.” ucap Beni memandang Anya dengan mata berair.
Anya sungguh terkejut melihat Beni menangis. Ia sangat bersalah membuat seorang laki laki yang biasanya tegas, telihat dingin tapi kali ini ia menagis dihadapan Anya.
Anya mencoba kembali mengajak Beni untuk kembali berdiri. Dengan lemas Beni kembali berdiri dan mengusap pipinya karena air mata. Beni sudah tidak memperhatikan penampilannya. Dia sudah tak memperdulikan dirinya, dia hanya perlu Anya. Bahkan Beni sampai menangis karena begitu menginginkan Anya.
“Ben...” ucap Anya lirih dan mengusap lengan Beni.
“Kamu gak ada salah sama aku, justru aku yang....” Anya terdiam sebentar lalu.
“Aku yang terlalu gengsi dengan perasaanku.” air mata Anya sudah mengalir deras saat mengatakan ini.
Beni mendengar perkataan itu dan melihat Anya menangis ia juga ikut menangis. Beni sangat tidak suka saat Anya menagis, hatinya seakan teriris saat melihat pujaanya mengeluarkan air mata.
“I'm sorry Ben.” ucap Anya lirih membuat Beni menunduk ia tak kuasa menatapnya.
Kemudian Beni mulai melepas genggamannya dan mundur satu langkah. Ia terus menunduk sekarang. Beni bersiap jika mendengar hal buruk, dan ia harus menerima semua jawaban dari pujaanya.
“Maafin aku Ben, maafin gengsi aku yang sudah nyakitin kamu. I think i need you too.” ucap Anya dengan tulus, ia menatap Beni dengan air mata yang terus mengalir. Butuh energi ekstra saat mengatakan ini semua. Anya harus mengalahkan egonya sendiri.
Beni mendengar itu langsung tercengang, ia langsung menatap Anya. Saat pandangan mereka bertemu
“I love you Ben, more than friend.” ucap Anya saat Beni menatapnya.
Akhirnya rasa Beni berbalas juga, Beni langsung memeluk erat Anya menyalurkan rasa bahagianya ini. Sungguh tak bisa diungkapkan dengan kata kata rasa yang ia rasakan saat ini.
Beni melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah Anya. Mata, alis hidung, pipi dan bibir Anya ia tatap penuh memuja. Gadis yang ia idam idamkan akhirnya menjadi miliknya, ya walau belum seutuhnya. Namun setidaknya ia sudah ada hak lebih dari teman ke Anya.
Wajah Beni perlahan mendekat ke Anya hingga jarak bibir mereka tinggal beberapa senti mata Beni tercolok kaca helm yang digunakan oleh Anya.
“Auwh.” ucap Beni saat matanya mengenai kaca helm Anya.
Anya yang mengetahuinya panik ia mencoba melihat mata Beni yang masih ditutupi oleh tanganya.
“Maaf gak sengaja, sini aku liat dulu.” maaf Anya karena ia Beni tercolok kaca helm, padahal Anya menahan ketawa atas kejadian barusan.
“Jangan ditutupin dong.” imbuh Anya
“Perih yang....” ucap manja Beni membuat Anya blushing dan malah mematung di tempat.