I Need You More Than Friend

I Need You More Than Friend
Episode 17



17


“kalau marahan gak boleh lebih dari 3 hari, selain dosa jatuhnya kangen”


Sudah seminggu Anya dan Beni tak saling berhubungan. Saat dikantorpun Anya hanya memberi hormat saat berpapasan dengan pria itu. Beni pun menatapnya hanya sekilas, mungkin dia masih kesal.


Anya sendiri tak masalah dengan sikap Beni yang cuek dan dingin kepadanya. Terlebih tugas tugas Anya kali ini sedang sibuk sibuknya. Hingga Anya menyibukkan diri larut dalam pekerjaannya.


Kalau Raka, mereka masih berhubungan terlebih Rendi juga teman dekatnya. Setelah ngobrol asik yang mereka lalui di bengkel itu, mereka bertiga beberapa kali juga bertemu mengajak Anya menikmati jalanan kota ini.


Entah hubungan Anya dengan Beni akan kembali atau memang akan menjauh.


Sore ini Anya, Raka dan Rendi sudah janjian ingin menimati salah satu spot sunset di kota ini. Didepan kantor sudah ada Raka dengan motornya menunggu 2 orang itu.


Anya yang sudah mengenakan helm dan membawa jaket keluar dari basemant berboncengan dengan Rendi. Saat diluar mereka bertiga masih menunggu 1 teman dekat alias gebetan Rendi.


Hingga beberapa saat gebetan Rendi sudah sampai,  akhirnya mereka menaiki 2 motor besar itu. Rendi dengan gebetannya bernama Caca sedang Anya membonceng Raka. Mereka nampak seperti double date.


Tanpa mereka ketahui saat mereka menunggu didepan kantor terdapat mobil yang sejak tadi mengamati mereka. Sosok itu Beni, mulai mengamati Anya saat ia dan Raka keluar dari basemant.


Beni yang baru saja sampai ke kantor belum sempat turun dari mobil sudah melihat pemandangan itu. Ditambah rasa penasaran muncul ketika Anya dan Rendi malah berhenti mendekati seseorang yang duduk diatas motor dan bersalaman. Ternyata dia seseorang yang dulu pernah mengantar Anya tempo hari. Beni hafal betul dengan jenis motornya yang ia gunakan juga.


Dia terus mengamati Anya yang terlihat sangat akrab dengan Raka dan Rendi membuatnya panas meradang sampai lubuk jiwa.


Tangan Beni hanya menggenggam erat stir mobilnya. Ingin rasanya menyeret Anya dan memasukkannya dimobil ini. Dia tambah panas saat melihat Anya pergi dengan berboncengan dengan Raka. Hal itu yang selalu ia rindukan saat bersama cewek itu.


Namun ia hanya bisa kesal dengan dirinya sendiri.


Entah sampai kapan Beni akan begini. Beni begitu menginginkan Anya selalu bersamanya seperti dulu. Yah rasa bahagia yang selalu ia rasakan saat bersama Anya dan ia ingin merasakan itu lagi.


Cemburu membara


Anya pov


Sebelum sampai ketempat yang dituju kami berempat singgah sebentar ke minimarket untuk membeli beberapa cemilan. Yah dari informasi yang aku dengar dari Raka tadi  tempat yang akan dituju merupakan alam terbuka jadi lebih enak kalau bawa cemilan sendiri.


Beberapa snack, roti dan minuman yang cukup buat berempat sudah siap.


“Pake ini aja mbak”. ucap Raka dengan entengnya menyodorkan kartu debitnya


Aku hanya menatapnya cengo, sedangkan Rendi dan gebetannya sudah keluar dari minimarket itu


“Udah mukanya biasa aja lho, kaya gak pernah ditraktir aja.” ucap Raka menyadarkanku


“Uhh traktir cuma ginian aja sombong.” ucapku dengan sedikit tertawa.


“Ya besuk gue traktir yang lebih deh.”


“Gue tunggu.”


Aku akuin Raka orangnya memang easy going  setipe dengan Rendi. Mereka kalau dilihat seperti pendiam tapi kalau udah ngobrol gak ada jaimnya dan membuat orang sekitarnya  nyaman.  Hubunganku dengan Raka seperti hubunganku dengan Rendi hanya bedanya Raka bukan teman kerja.


Aku senang bertemu orang orang baik disini. Seperti saat ini petama kalinya aku diajak menikmati sunset dengan bermotoran di sore hari. Ini salah satu kegiatan favoritku dari dulu.


Sampainya ditempat tujuan, mereka sungguh senang. Dimana cuaca hari ini mendukung, tanpa ada awan mendung atau awan berlebih yang menutupi sang suya yang masih terlihat.


“Untung gak mendung yah.” ucap Caca saat mereka mulai duduk santai.


“Iya beruntungnya kita.” sahut Anya yang duduk disamping Caca.


“Keren banget.” ucap Anya sambil mengarahkan kamera ponselnya ke pemandangan yang ia sedang nikmati.


“Golden hour banget ini.” sahut Raka dengan seru.


“Foto yuk, mumpung masih golden hour.” ajak Rendi sudah mengarahkan kamera ponselnya untuk wefie.


“Yuk yuks.” seru Caca.


Setelah itu kami mulai berfoto ria untuk pribadi maupun kebersamaan bersama yang telah sampai tempat ini.


Cahaya emas hangatnya masih terpancar kemungkinan 20 menit lagi sudah akan hilang.


Perlahan tapi pasti langit mulai bergradasi dari gelap, ke orange an dan biru langit yang masih tersisa membuat pemandangan yang begitu mensahdukan mata.


Disela sela menikmati pemandangan ini kami berempat selalu bercerita dengan tawa yang menyenangkan. Dan disuguhi dengan pemandangan yang luar biasa ini sangat cocok untuk dibagikan melalui story akun sosmed.


Setelah selesai kami membereskan semua barang bawaan yang kami bawa, tentunya tanpa meninggalkan sampah disana. Hari semakin gelap, kami masih dalam perjalanan turun. Udara dingin menerpa.


“Dingin ya lupa bawa masker gue.” ucap Anya merasakan pipinya dingin lalu ia memasangkan selendang pendek yang ia ikatkan di tasnya.


“Mau pake helm gue? Tapi bekas mulut gue hahaha.” ajak Raka menawarkan helm fullface yang ia gunakan.


“Eh engga engga, bekas jigong lo bau.” kata Anya yang mengobrol dengan kepala bersampingan dengan Raka dalam posisi berboncengan.


“Enak aja wangi ya aku tu, kalau gak percaya coba lo cium gue.” tantang Raka dengan terkekeh.


“Aww, gila lo mau nyium aspal ha gak kira kira nyubit gitu amat.” protes Raka karena Anya mencubit perut nya.


“Daripada cubit mending dipeluk nya, biar gak dingin.” imbuh Raka. Sedangkan Anya membalas dengan menggadukkan helmnya kedepan.


“Ogah!”


“Eh kapan kapan gue ajak main lagi mau ya.”


“Tergantung.”


“Lah kok gitu, gue turunin sini nih.” canda Raka sambil memelankan gas motornya.


“Eh eh jangan, serem tau.” panik Anya membuat Raka terkekeh dan menambah gas lebih kencang..


Reflek Anya memegang jaket Raka dengan erat.


“Auwh sakit Anya.” keluh Raka karena Anya menjedukkan helmnya keras ke helm Raka.


“Makanya jangan usil, apalagi dijalan kaya gini.” keluh Anya membuat Raka terus tersenyum berseri dibalik helm full facenya.


Sepanjang jalan mereka berdua memang tak henti bercakap. Walau Raka sering menggoda Anya namun ia masih bisa menikmati perjalanan malam ini.


Anya sampai dirumah sekitar pukul 21.00 karena sebelum pulang mereka menyempatkan untuk makan malam bersama disalah satu lesehan langganan Caca gebetan Rendi.


Selama pergi Anya sama sekali tak mengecek pesan masuk. Ia membiarkan semua pesan itu, kalau ada yang penting pasti akan menelfonnya. Setelah membersihkan diri Anya bergegas tidur, dengan cepatnya Anya sudah sampai di alam mimpi. Mungkin efek lelah dia tertidur dengan mudah.


Hingga mengabaikan ponsel yang terus berkedip, menunjukkan ada beberapa pesan dan panggilan masuk. Sayangnya saat itu ponselnya dalam keadaan silent dan hanya muncul notifikasi dilayar.


34 messages from Beni


18 misscall from Beni