
waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa Rina pun sudah diterima bekerja di perusahaan yang dia cita- citakan. Seminggu tengah berlalu ia tidak bertemu sahabatnya yang tengah berbaik hati mengantarnya hingga dapat masuk ke tempat ini.
Pertemuan singkat dirinya dan Yuna menjadikan Rina orang yang sangat beruntung dapat bertemu Yuna. Karena bantuan temannya ia bisa masuk ke perusahaan besar.
Saat ini ia tengah bekerja, tempat baru kadang membuatnya merasa asing terlebih ia tidak memiliki pengalaman bekerja di sebuah pabrik industri tapi karena tekadnya untuk merubah nasib ia selalu bersemangat menjalani hari-harinya di perusahaan ini.
Dulu, kesehariannya selepas pulang sekolah ia bekerja di toko kue dari sana juga ia bisa membiayai sekolahnya dan membantu kebutuhan ibu pantinya.
Alarm tengah terdengar tanda ia harus siap menjalankan pekerjaannya.
__________________**______________________
"Apa papah bercanda?" tanya gadis cantik yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Tidak, Nak, itu kenyataannya," jelas seorang pria parubaya yang mencoba memberikan pengertian.
"Aku tidak mau tahu! Aku tidak mau mobilku di jual!" Gadis cantik itu hendak berlalu namun tangannya di cekal oleh sang ibu.
"Kumohon, mengertilah," ucapnya dengan tatapan sendu yang tampak pilu.
"Kalian ini kenapa sih! Menyebalkan, sudahlah aku mau ke kampus!" tukasnya hendak menyambar kunci di atas meja makan. Yah, pagi ini mereka tangah sarapan bersama.
"Kami butuh mobilmu untuk biaya pengobatan adikmu, nak?" pintanya dengan memohon.
"Tidak, kau tahu ini adalah mobil kesayanganku! Lagipula kalian selalu rela menghabiskan banyak uang untuk dia, sedang padaku? Aku hanya punya mobil dan kalian ingin merampasnya?!" cicitnya dengan muka yang memerah.
"Arini! Lancang kamu yah!" Seorang pria paru baya berteriak dan menatap tajam.
"Apa, kenapa? Papah yang salah, bukan aku! Mengurus perusahaan saja tidak bisa! Sampai harus bangkrut dan sekarang aku yang jadi korban kebodohanmu!" bentaknya dengan mengepalkan tangannya.
"Hentikan Arini! Kenapa kau berlaku kurang ajar pada papahmu?!" bentaknya, kali ini sang ibu angkat bicara.
"Memangnya kenapa? Aku sudah muak dengan keadaan ini, aku muak, muak, muak! Aku benci keadaan ini! Semua ini Karena papah, aku benci papah!" Ia terus berteriak frustasi.
"Cukup, Arini!" Suara menggelar keluar dari mulut papahnya, ia hendak melayangkan tangannya pada pipi mulus anaknya.
"Hentikan!" Seorang wanita yang kerap di sapa ibu itu pun berteriak dan menahan tangan suaminya agar tidak mengenai wajah anak sulungnya.
"Tampar aku, pah, tampar!"
"Bunuh saja aku sekalian, bunuh! Kenapa diam, Ayo!" gadis itu kembali berteriak.
"Arini kenapa kau jadi seperti ini!" Amarah nampak memuncak dari gurat wajah ibunya.
"Kanapa, kalian tanya kenapa? Tanya sama papah!" tukasnya dengan menatap tajam ayahnya.
Seketika ayahnya bungkam.
"Kami sudah tidak punya apa- apa lagi, tolonglah, pinjami kami mobilmu adikmu sedang kritis, nak, ibu takut."
"Sudahlah, buk, jangan mengemis! Kita cari cara lain untuk pengobatannya." Ayahnya
berkata dengan nada bicara melunak.
"Haha Anda sangat pandai bersandiwara," ejeknya dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Arini cukup! Kenapa kau jadi kurang ajar begini, hah?!"
"Arini!"
Plak ...
Gadis cantik berambut lurus, berwajah mungil mungil dan bermata sipit yang sedang mengenakan dress berwarna soft pink yang tengah menangis menatap tajam wanita paruh baya yang tengah melayangkan tangan pada pipi mulusnya.
"Maaf, Nak," ucapnya lirih dengan mata yang berkaca ia menutup mulutnya. Nampak penyesalan yang mendalam dari sorot matanya.
Namun, Arini hanya tertawa dengan menyambar kunci mobilnya.
"Sudahlah, aku sudah muak dengan sandiwara ini! Semoga, ibu tidak akan pernah menyesal membela pria ini!" ucapnya dengan menatap tajam dan berlalu.
Gadis blasteran Jepang itu memasuki mobil mewahnya, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Berniat pergi menuju kampus ternama di ibukota tapi niatnya berubah. Tidak mungkin dia masuk kelas dengan keadaan seperti ini.
Memarkirkan mobilnya di sebuah cafetaria, tidak ada pergerakan dalam dirinya untuk keluar. Ia membenamkan wajahnya pada setir mobil, kadang memukul stir mobilnya dengan kedua tangannya, tangisan masih membasahi wajah cantiknya.
Ia membayangkan keutuhan keluarganya sebelum musibah itu terjadi menimpa keluarganya meski ia tak pernah mendapatkan kehangatan. Cerita uang bahkan dia tidak pernah kekurangan sedikit pun, Mobil dia bisa membeli dengan uang bulanannya dan tidak perlu menunggu waktu lama untuk mewujudkan segala keinginannya. Hidup mewah sudah ia rasakan sejak kecil.
Adiknya memang memiliki penyakit sejak kecil dan itu juga yang membuatnya selalu membenci. Ia tak pernah di perhatikan, hanya materi yang ia dapat untuk menyenangkan dirinya. Clubing setiap malam sudah menjadi kebiasaannya.
Tapi kehidupan berubah secara drastis, matanya merah penuh amarah, ia teringat penghianatan ayahnya beberapa bulan lalu.
Setiap malam Minggu ayahnya selalu tidak ada dirumah. Alasannya, klasik! Bahwa banyak proyek dan pekerjaan yang menyebabkan dia harus pergi keluar kota.
Bodohnya, Ibunya selalu percaya, Arini memejamkan matanya mengingat kenangan menyakitkan.
Malam Minggu ia memang sudah berencana pergi ke puncak bersama teman- temannya. Wanita kelahiran Jepang itu sudah terbiasa mengendarai mobil meski malam hari.
Melajukan mobil dengan bernyanyi, tikungan dan tanjakan serta jurang yang curam tidak membuatnya gentar. Malam dengan diiringi gerimis manja menemani perjalanan mereka.
Tujuan mereka saat ini adalah daerah puncak Bogor, malam semakin larut hampir ia sampai disebuah villa kediaman keluarganya di daerah itu.
Arini menghentikan mobilnya di sebuah swalayan karena jika sudah memasuki daerah vila keluarganya akan sangat sulit mendapatkan bahan makanan.
Pergi bersama kedua sahabatnya, Ia tak pernah mempermasalahkan jika kedua teman dekatnya itu membawa pasangan. Kebebasan adalah hidupnya, Arini pergi tanpa pasangan. Baginya, ia tidak pernah mau terikat akan suatu hubungan yang akan membuat hidupnya terbatas. Ia bisa berganti teman kencan dan memilih yang paling tampan setiap malam asal hidupnya masih melimpah. Orang tuanya? Tidak akan peduli kehidupannya karena mereka sibuk dengan adik dan pekerjaannya.
"Sin, masuk sana! Belikan gue minuman seperti biasa!" titahnya pada temannya yang duduk di sampingnya dengan memberikan kartu kredit.
"Ogah, akh, minuman mu aneh!" tukasnya.
"Sekalian beli bahan makanan nanti biar penjaga Vila gue yang masak!" titahnya kembali tak mengindahkan tolakan temannya.
"Jangan aku, yah, lagian minuman anehmu mana ada di sini! Suruh ajah mereka Ia memutar kepalanya menunjuk kebelakang namun ia terkaget dan menutup mulutnya, "Astaga!" Ia menutup mulutnya merasa kaget dan membuat Arini menoleh.
"Gila loh, yah!" Arini melempar botol air mineral kosong kepada temannya. "Jangan mesum di mobil gue!" geramnya. "pergi sana, beliin gue minuman kesukaan gue dan bahan makanan!" titahnya melempar kartu kredit ditangannya.
Wanita yang di sebut tamannya itu tersenyum dengan merapihkan kausnya yang tengah berantakan.
"Buruan!" titahnya dengan tanpa melihat kedua pasangan gila di belakangnya.
"Dasar gila!" gerutunya.
"Kamu juga gila! Wanita ko hobi minum!" protes temanya.
"Berisik, Lo!" bentaknya, sehingga membuat sahabatnya bungkam.