
"Biayanya lumayan juga," Arini bergumam.
Sebenarnya ini bukanlah masalah jika keluarga Arini tidak mengalami kebangkrutan. Arini berjalan mendekati pria berseragam yang masih setia menemaninya. Meski dia sangat menyebalkan tapi Arini akui dia pria yang baik. Entah karena memang tugasnya yang mengayomi masyarakat. Kepeduliannya cukup di acungi jempol.
"Apa tidak bekerja?" tanya Arini yang berdiri tepat di hadapan pria itu.
"Tidak, aku jaga malam!"
"Bolehkah meminta bantuan sekali lagi?" tanyanya dengan melepas selimut yang membungkus tubuhnya sedari tadi dia mengenakan selimut itu kemanapun dia pergi.
"Bantuan apa, Nona?" tanyanya.
"Panggil gue Arini, bolehkah gue tahu nama Lo?" tanya Arini.
"Dadang," singkatnya.
"pa Dadang, pa Dadang, Yeah ...," Arini bernyanyi dengan menirukan gaya group band yang selalu memakai kacamata hitam. Entah kenapa Arini rasanya senang menggoda pria kaku di hadapannya.
"Kau tidak waras!" makinya namun hanya di balas tawa yang renyah oleh Arini.
"Thank." Arini berucap dengan tulus.
"Sudah menjadi tugasku!"
Arini meminta pria berseragam itu mengantar dirinya ke rumah Dini. Mengambil baju ganti sahabatnya. Tidak berniat sedikitpun untuk pulang kerumahnya. Rasa bencinya pada pria yang adalah ayahnya membuat dia tidak betah di rumah.
Sampai di kediaman Dini. Arini disambut oleh security yang menanyakan kabar Nona- nya. Masuk kedalam rumah seorang wanita paruh baya tengah berdiri membukakan pintu dengan tersenyum hangat. Namun terlihat jelas tatapannya tampak takut melihat Arini. Semua tahu, jika gadis ini sangat menyeramkan ketika dia marah.
Menatap tajam wanita paruh baya yang Arini ketahui mengasuh Dini sejak kecil. Itulah yang di katakan Dini padanya.
Arini masuk dan duduk tanpa dipersilahkan dengan berjalan angkuh melewati wanita dihadapinya. Diikuti pria berseragam yang masih berdiri. Meski kehidupannya sudah jatuh miskin rasa percaya diri dan jiwa konglomerat nya masih kental melekat pada karakternya.
Wanita itu meminta ijin akan pergi membuatkan Minum. Namun, dengan cepat Arini memintanya untuk duduk.
Wanita itu duduk di lantai dan melipat kakinya hingga Membungkukkan badannya pada Arini. Pria yang tengah berdiri pun membangunkan wanita paruh baya untuk tidak merendahkan dirinya. Menatap tajam Arini karena prilakunya tampak angkuh.
"Duduklah!" titahnya dengan menyilangkan kakinya sehingga pahanya terekspos sempurna. Pria berseragam melempar bantal sopa tepat pada paha Arini.
"Wanita paruh baya itu akan duduk di bawah namun Arini menatap tajam.
"Kenapa harus di bawah! Tidak perlu takut jika tidak salah!" ketusnya.
"Maafkan aku, Nona," lirihnya.
"Kau tahu Dini di perlakukan tidak baik oleh iblis sialan itu, hah!" Arini sudah tidak bisa menahan Amarahnya.
"Sopan lah berbicara pada orangtua!" Pria yang berdiri itu membuka suara.
"Diam! Kau tidak tahu apa-apa. Wanita ini adalah orang terdekat Arini tapi kenapa dia diam saja!" bentak Arini.
"Kau juga sahabatnya! Kemana kau selama ini? Berhentilah menyalahkan orang lain!" Dadang tidak terima Arini berlaku tidak sopan pada wanita yang lebih tua dari mereka. Arini menyadari tingkahnya dan mencoba menurunkan nada bicaranya.
"Kenapa tidak bicara padaku?" tanyanya dengan memegang bahu wanita paruh baya itu dengan kedua tangannya dia sudah tidak bisa membendung air matanya. "Bibi tahu? Keadaan Dini sangat buruk! Jika terlambat, dia akan mati! Kenapa? Kenapa kau tidak memberitahuku!"
"Maaf Nona, Aku tidak tahu akan seperti ini!"
"Bibi, Dini di jual wanita itu. Bibi tahu bukan?" lirihnya dengan menangis tersedu mengingat kondisi Dini yang lemah. Wanita tua itu hanya diam.
"Nona melarangku memberitahu siapapun," jawabnya.
"Meski begitu, Bibi beritahu Ar!" sesalnya dengan Isak tangis.
"Sial!" Arini melempar semua bantal di ruangan ini.
"Keparat, kau Brenda! Akan gue pastikan membusuk di penjara dan memilih mengakhiri hidup." geramnya.
"Nona bolehkah, aku melihat Nona Dini, saya berjanji akan merawatnya. Tapi jika disini aku takut dengan Nyonya."
"Ya."
"Terimakasih."
"Jangan pernah sembunyikan apapun! Karena aku tidak akan mengampuni bibi lagi!" ancamnya dengan berlalu meninggalkan ruang tamu dan menuju kamar sahabatnya.
Rumah ini adalah kediaman rumah Dini sejak kecil. Arini masih ingat siapa pemilik asli rumah ini. Dialah sahabat baik ibunya Tante Hana yang adalah ibu kandung Dini. Hana adalah ibu yang lembut. Senyumnya sangat hangat.
Dulu Arini dan Dini tidaklah akrab. Karena Dini orang yang dekat sekali dengan orangtuannya. Sampai kejadian mengenaskan itu terjadi ketika Tante Hana meninggal terjatuh dari tangga rumah ini tanpa ada yang mengetahui penyebabnya.
Dini tumbuh menjadi anak yang pendiam dan tertutup. Sering ibunya datang ke rumah ini untuk melihat keadaan Dini. Dini sangat tertutup berbeda dengan Arini yang selalu ceria dan manja. Beberapa kali, Arini mengajak Dini bermain namun tidak ada tanggapan. Hanya diam dan tertunduk sehingga membuat Arini jengkel dan menjauh. Arini sudah tidak datang lagi ke tempat Dini karena ibunya melahirkan adik laki-laki dan ternyata memiliki penyakit sejak lahir. Semakin sibuk mengurus adiknya hingga ibunya melupakan kebiasaannya dengan Arini.
Semenjak saat itu Arini tidak pernah menyukai adik laki-lakinya. Terkadang Arini merasa kasihan pada adiknya yang selalu mengajaknya bermain yang tak pernah ditanggapi. Namun, rasa tak sukanya lebih tinggi dari kasih sayangnya.
Tepat pada hari ulang Tahun Dini yang kesepuluh Tahun. Ayahnya meminta ijin pada gadis kecilnya untuk menikahi seorang wanita yang adalah teman dari ibunya Hana.
Awalnya Brenda ibu yang baik, namun ternyata itu semua adalah sandiwara. Hingga pada akhirnya Dini menjadi hancur akibat ibu tiri berhati Iblis.
Semenjak kehadiran Brenda Dini sering diajak main ke rumah Arini. Mulai membuka diri dengan Arini sehingga mereka menjadi teman dekat. Shinta adalah tetangga rumah Arini yang selalu menginap dan bermain sedari kecil Shinta sudah lebih dulu dekat dengan Arini.
Berteman sejak kecil namun Dini masih merahasiakan hal terpahit dalam dirinya. Itu cukup membuat Arini kecewa. Apalah arti kata sahabat selama ini.
***
Tidak ingin membuang waktunya Arini segera mengambil baju ganti untuk dia dan Dini. Memasukkannya pada tas besar yang berada di atas lemari besar milik sahabatnya.
Mengambil charger dan ponsel milik sahabatnya. Dia tidak berniat untuk meninggalkan sahabatnya walah hanya untuk mengambil baju ganti. Maka dari itu, dia mengambil pakaian ganti untuk beberapa hari ke depan.
Menuruni tangga dengan perasaan yang sulit diartikan mengingat kehidupan yang berubah dari dalam hidup mereka. Rumah ini menjadi saksi kekejaman ibu tiri.
Seorang wanita paruh baya sudah siap dengan tas di tangannya. Menemani majikan yang dia anggap seperti anaknya sendiri. Namun memiliki kesalahan tidak pernah bisa melindungi Nona- nya.
Pria berseragam ini hanya menggelengkan kepalanya. Arini baru saja meluapkan amarahnya dan sekarang sudah bisa bersikap seperti biasa. Sebelum turun dia sudah membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya.
Sedikit Longgar baju yang di gunakan. karena tubuh Arini sangat mungil. Tidak ada pakaian yang cocok dengan style-nya.
Dini adalah pribadi yang feminim kesehariannya mengenakan dress sedang Arini biasa berpenampilan casual style dengan mengenakkan hot pant. Dengan terpaksa mengenakan dress karena Hot pant milik Dini tidak cocok dengannya.
TBC
Terimakasih sudah dukung karya recehku😍
Maafkan, Author. Jika nanti Up-nya lama.
Kenapa?
Jujur otor lagi kejar tayang dulu di sebelah. Tapi aku akan berusaha untuk Up tepat waktu.
Terus dukung dan tunggu kelanjutannya
salam sayang otor receh yang keceh😂😂🤭