
"Kapan kamu akan lulus kuliah? Tahun ini bahkan kamu terancam di D.O!" Temannya itu mencoba memberikan pengertian.
"Yah, kalau di DO tinggal cari kampus baru, bereskan?!" tukasnya dengan santai.
"Astaga! Sampai kapan kamu akan terus bermain-main? Aku sudah bosan menasehatimu! Lusa aku pergi ke China, ku harap kau bisa berubah tanpa ada aku!" jelasnya.
"Pergi, yah, pergi saja! Gue ga peduli!" ucapnya dengan membuang muka. Namun, hatinya merasa sesak, saat ini hanya Shinta yang mengerti keadaanya dan selalu menemaninya. Hanya sahabatnya ini yang rela mengurus saat dia sakit dan membantu kuliahnya.
Saat ini, Shinta memang sudah lulus sedang Arini kuliahnya benar- benar terbengkalai. Ia kembali ke China karena meneruskan bisnis keluarganya di negara ibunya.
"Arini...," panggilnya, namun gadis yang dipanggil masih setia menatap luar jendela, matanya tengah berkaca ia benar- benar tidak menerima kenyataan ini.
Seketika Shinta memeluknya dari belakang tidak ada balasan dari Arini. Matanya sudah memerah.
"Maafkan aku, semoga nanti kamu mendapatkan sahabat lebih baik dari aku," ucapnya dengan membenarkan rambut sahabatnya yang tengah berbalik menatapnya.
"Gue ikut ke China," pintanya yang membuat Shinta terkekeh.
"Bagaimana dengan kuliahmu?" tanyanya.
"Yah, gue akan pindah ke sana!" jawabanya enteng.
"Kau selesaikan dulu kuliahmu, kalau sudah nanti kau bisa membantuku mengelola perusahaan papahku," jelasnya dengan tersenyum. "Tapi, kau kan punya perusahaan yang besar melebihi aku. Berhentilah, main- main! Ingat pesanku, Jangan minum!" titahnya.
"Lu mau gue mati, hah? Melarang gue minum bisa dehidrasi lah!" tukasnya.
"Berbicaralah dengan lebih sopan, Ar!" titahnya.
"Janji, yah, stop mengkonsumsi minuman berarkohol!" cicitnya kembali, "Ku ga mau kamu sakit saat aku tidak ada disini!"
"Yah, gue akan mencobanya! Tapi tidak untuk malam ini, cuaca di sini dingin dan gue butuh sesuatu yang hangat," tukasnya yang membuat sahabatnya menggeleng pelan.
Suara pintu terbuka menghentikan kesediaan mereka, sepasang kekasih membawa sebuah belanjaan dikedua tangannya. Satu dari mereka memberikan kartu kreditnya pada Arini. Dengan sigap Arini mengambilnya, jika sampai lupa bisa habis isi di dalamnya.
"Lo kenapa, Ar?" tanyanya yang membuat Arini mengusap ujung matanya yang basah.
"Kelilipan gue! Mana minum gue!" pintanya dengan merongoh satu persatu kantung belanjaan, sedang sahabat yang duduk di sampingnya hanya menggelengkan kepalanya.
"Jalan, yuk, sudah malam!" ajaknya dengan menarik tangan Arini.
Arini kembali melajukan mobil kesayangannya, tidak berapa lama setelah melewati empat tikungan akhirnya mereka sampai di sebuah Vila mewah dua lantai dengan bercat putih. Meski malam namun masih terlihat dengan jelas bangunan di hadapan karena lampu penerangan yang menghiasi taman- taman bangunan.
Ia memasuki laman parkir yang luas dengan semanagat dia melajukan kendaraannya. Namun, sampai di bagasi mobil, matanya terbelalak menatap heran apa yang dilihat, "Bukankah itu mobil papah?" gumamnya.
Teman- temannya hendak beranjak dan keluar dari mobil, namun Arini menahannya. Shinta mengerutkan dahinya ia sedikit merasa curiga.
"Mobil papah!" bisiknya pada Shinta.
"Aku ikut!" tukasnya yang membuat Arini mengerutkan dahinya sebelum mengangguk.
"Bukankah, papah-Mu pergi menangani proyek?" tanyanya dengan penuh keheranan.
"Ia, dia bilang begitu, tapi aku yakin itu mobil papah!" jelasnya.
"Mungkin proyeknya dekat sini," ucapnya mencoba menenangkan sahabatnya.
Masuk ke dalam Vila yang mewah, tangan mulusnya memutar kenop pintu. Mendorong daun pintu secara perlahan, suara khas kayu jati terdengar menusuk telinga.
Sampai di lantai dua terdapat empat kamar yang saling berhadapan. Karena luas ia terus menyusuri kamar ujung yang jarang sekali di tempati.
Shinta memegangi tangan sahabatnya ia merasa takut, penerangan tidak sempurna karena tidak semua lampu kamar atas dinyalakan. Dalam hatinya merasa yakin bahwa ada keberadaan sang papah di Vila ini. Mengetahui itu adalah mobil kesayangan papahnya mobil itu yang selalu menemani perjalanan.
Tiba di sebuah ujung kamar matanya menelisik ia seperti mendengar tawa seorang perempuan. Shinta tampak ketakutan ia berpikir bahwa rumah yang jarang ditempati pasti ada penghuninya. Berbeda dengan Arini yang tidak mempercayai hal- hal mistis.
Langkahnya pasti, mendekati pintu diujung ruangan. Kamar itu memang jarang sekali di gunakan karena letaknya yang berada di sudut. Pintu kayu bercat hitam dengan penerangan yang minim semakin membuat Shinta mengeratkan pegangannya pada tangan sahabatnya.
Arini melirik dan menggelengkan kepala.
Pray...
Terdengar suara benda jatuh dari kamar yang akan mereka tuju.
"Ar, balik lagi, yuk!" ajaknya.
Tidak ada jawaban dari lawan bicaranya yang terus melangkah sesekali Shinta menarik tangan Arini sehingga langkahnya terhenti yang membuat sahabatnya merasa geram dengan tingkah sahabatnya ini.
Di tempat yang berbeda Ketika saat ini Arini dan Shinta di Landa ketegangan dan ketakutan. Berbeda dengan kedua sepasang sejoli yang tengah asyik berdua di mobil yang tengah terparkir.
"Sayang, hentikan! Kalau Arini tahu kita disini berbuat yang tidak- tidak bisa digorok kita!" Seorang wanita cantik berambut sebahu berhidung mancung terus menggerutu saat seorang pria terus menggodanya.
"Arini pasti lama!" tukasnya, "mungkin juga dia ketiduran di sofa bersama Sinta dan lupa mengabari Kita," jelasnya dengan seenaknya berasumsi.
"Ayolah, sedikit saja!" pintanya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"No!" tolaknya, "Aku harus menyusul Arini!" Wanita itu hendak membuka pintu mobil.
"Kau berani menolak keinginanku? Kau tahu akibatnya?" ancamnya dengan menarik tangan kekasihnya.
"Tidak, jangan ku mohon!" ucapnya dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Kalau begitu, menurut dan ikuti kemauanku!" tukasnya yang membuat wanitanya menghela nafas berat.
"Ingat satu hal, tubuhmu adalah milikku dan kau tidak akan pernah bisa lari dariku! Kau diam dan nikmati saja! Atau aku akan berlaku lebih dari yang kau bayangkan!" Pria itu terus mengancam dengan menatap tajam. Wanita dihadapannya hanya mengangguk pasrah.
"Tapi, ku mohon, jangan disini!" tolaknya.
"Diam Kau!" bentaknya sehingga membuat wanita itu bungkam.
Saat ini Arini tepat berada di depan pintu, Ia semakin yakin dengan apa yang ia pikirkan. Shinta tidak sanggup melanjutkan langkahnya, Ia berdiri jauh dari tempat Arini berada.
Arini semakin jelas mendengar suara di balik pintu yang masih tertutup, menajamkan pendengarannya, dia seperti kenal suara dari dalam, ingin ia membuka pintu namun ia mengurungkan niatnya. Takut, yah, ia takut menerima kenyataan.
Dengan mencoba menghirup udara di sekitarnya sedikit membuat hatinya tenang.
"Tidak terkunci," gumamnya.
Tanpa ragu ia membuka pintu dan mendorong dah pintu.
Matanya membulat sempurna atas apa yang dilihatnya. Tidak mungkin, Yah, memang tidak mungkin. Tapi ini kenyataannya.
"Astaga, Papah!" Kata itu keluar dari mulut mungilnya.