
"Biarkan kami menghubungi orangtuamu, Dek, kau mabuk."
Arini tidak hentinya memohon meski ia kesal dia mencoba menahannya.
"Sahabatku, Pak, dia mengirimkan pesan aku takut ibunya menyiksanya," jelasnya dengan Isak tangis.
" Apa serius? Masalahnya Nona tampak mabuk."
"Jangan lihat aku, Pak. Sumpah aku masih waras dan tidak mengada-ada. Ingin menolong temanku tapi aku tak berani menghadapi wanita itu sendiri, tolonglah, Pak," cicitnya dengan menangis tersedu.
Arini memang bisa diandalkan untuk melihat orang lain merasa iba. Kenyataannya memang dia itu pemarah namun dia juga orang yang pintar memainkan mimik mukanya.
"Pak, kumohon! Baiklah, kalau seandainya aku berbohong maka, silahkan laporkan atau bahkan masukan aku ke dalam penjara karena mabuk dan mengatakan laporan palsu. Tapi kali ini ikutlah denganku, tolong bantu aku," pintanya dengan mengatupkan kedua tangan.
"Kau bukan wanita yang menjebak polisi kan? Atau kau suruhan Mafia," tanya salah satu dari mereka yang sedari tadi hanya duduk diam.
"Astaga! Jangan terlalu banyak membaca novel deh, Pak! Cepat aku tak mau sahabatku celaka!"
"Bagaimana?" Pria yang tengah beradu argumen itu bertanya pada rekan kerjanya.
"Apa bisa dipercaya? Gadis ini mabuk!"
"Percayalah, aku waras!"
"Aku tidak bicara kau gila!" tukasnya.
"Hey, kau! Jangan mempersulit urusanku, jangan mentang-mentang kamu ganteng yah!" cicit Arini pada seorang petugas yang masih sangat muda dan memang sangat tampan. Pria itu akan menimpali.
"Sudahlah, kami ikut denganmu, Dek. Semoga kau tidak berbohong," ucap seorang yang lebih tua darinya.
"Terimakasih, Pak. Aku bawa mobilku kah?" tanya Arini.
"Enak saja! Bagaimana kalau dia menipu kita, kau ikut mobil kami!" tukas seorang yang Arini katakan tampan.
"Aku tidak berbicara denganmu!"
"Ia, Dek, kau ikut mobil kami," Arini mengerutkan dahinya.
"Tenang saja, Dek, kita akan diam-diam. Mobil polisi tidak seseram yang kau bayangkan," jelasnya.
"Terimakasih, banyak, Pak," ucapnya dengan bergegas menyambar tas miliknya.
"Oh, begini saja, Pak! Bagaimana kalau kita membawa dua mobil. Aku khawatir terjadi sesuatu dengan sahabatku dan biar salah satu dari bapak menangkap penjahatnya dan membantuku menolong temanku, aku melihat pesannya sangat menghawatirkan, aku takut, pak," Arini menangis kali ini dia sedang tidak berbohong entah kenapa hatinya merasa tak tenang dan mengatakan firasat yang buruk. Arini pun memberikan Pasan Dini lada polisi yang lebih tua dari lainnya.
"Jangan percaya, Pak," ucap yang lebih muda dan tampan.
"Tidak, dia benar! Aku tidak melihat kebohongan dari gadis ini, kita harus segera!"
"Baik, Komandan!"
Dengan terpaksa Arini satu mobil dengan pria yang dari tadi tidak mempercayainya. Arini mengakui pria di sampingnya masih sangat muda dan tampan. Arini memang penggila pria tampan. Tapi mengingat dia yang sangat menyebalkan membuat Arini menapik kenyataan sebenarnya.
"Akui saja, kau melihatku karena aku memang tampan!" cicitnya yang membuat Arini memalingkan wajahnya kesamping tanpa dia sadari dia menatap wajah pria itu sedari tadi.
"Kita belok ke kiri atau ke kanan?" tanyanya saat melewati jalan yang berbeda arah.
"Kiri," singkatnya tanpa bergeming. Pria itu melirik dengan ekor matanya dan tersenyum tipis. Di belakang mobilnya terdapat satu mobil lagi. Di sana ada dua orang petugas yang mengikuti Arini. Sebelum berangkat Arini memberikan pesan terakhir dari Dini, sehingga mereka yakin dengan laporan yang diberikan Arini.
Sampai disebuah rumah minimalis berwarna cat abu. Arini keluar dari mobilnya, karena penjaga itu sudah sangat mengenal Arini dia pun mempersilahkan gadis itu untuk masuk. Dia menatap heran saat ada dua mobil yang masuk namun tidak bisa berkata apa-apa saat melihat siapa yang berada didalam.
Arini meminta Anggota polisi yang tengah berbaik hati itu untuk mengumpat karena takut wanita itu akan kabur. Dia sudah hapal kelicikan dan drama iblis pemilik rumah ini.
Memencet bel cukup lama, hingga keluarlah seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik mengenakan gaun malam yang transparan. Memang sudah tua namun dia masih terlihat muda dan memiliki tubuh yang bagus. Jadi pantas dia bisa menggoda ayahnya dengan melihat penampilan wanita dihadapannya saat ini.
"Mau apa kau?!" tanyanya saat membuka pintu yang menampakan tubuhnya saja.
"Aku ingin bertemu Dini!" pinta Arini namun mencoba menerobos masuk.
"Pergi," usirnya namun Arini tidak bergeming.
"Kau anak tidak tahu diri! Bertamu malam-malam seperti wanita jal*ng!"
"Cih, Jal*ng teriak jal*ng!" Arini mulai meninggikan suaranya satu oktaf.
"Pergi!"
"Tidak!" Arini bersikukuh.
"Security!" panggilannya namun tidak ada jawaban dari penjaga rumahnya dia nampak heran. Namun tidak lama dia kembali berteriak.
"Sayang, Kemarilah, ada barang baru!" teriaknya dan tidak lama seorang pria yang Arini sangat kenal keluar dari rumahnya yang hanya mengenakan celana boxer berwarna hijau dan gambar kodok yang bertebaran.
"Apa Lo tidak memiliki kolor yang lebih bagus untuk digunakan?" ucapnya dengan terkekeh. Namun hanya mendapatkan tatapan tajam dari kedua orang dihadapannya sehingga dia mengentikan tawanya.
"Sebentar, bukankah kau pacar Dini?" Arini bertanya dia masih ingat bahwa mereka bercinta di mobilnya saat di Villa. "tidak, ini tidak mungkin," Arini menutup mulutnya dengan kedua tangannya melihat pria itu memeluk wanita iblis dihadapannya.
"Jadi, kau berselingkuh dari Dini?" tanyanya dia berpikir mungkin ini yang menjadi Dini frustasi pacarnya berselingkuh dengan ibunya.
"Haha, anak bau kencur tidak tahu rupanya!"
"Apa yang tidak aku ketahui, hah?" tanyanya dengan menahan rasa sesak. Dia bisa merasakan sakitnya di khianati jika dia berada di posisi Dini.
"Kau tega pada anak kandungmu? Cih, sebegitu kesepian kah? Dan Lo pria bajingan!" Arini menunjuk pria yang masih setia memeluk wanita tua ini.
"Jaga bicaramu pada kekasihku!"
"Apa? Kekasih? Benar-benar kau ibu yang sudah tidak waras! Dimana hati nurani mu pada anak kandungmu?!"
"Dia bukan anak kandungku! Bahkan dia adalah anak dari orang yang ku benci!" ucapnya yang membuat Arini benar-benar kaget.
"Jadi kau?!"
"Yah, aku yang menyebabkan kematian ibu kandungnya Arini karena dulu dia telah menabrak ayahku dan aku menikahi suaminya untuk menuntut balas dan sekarang aku puas karena aku menghancurkan hidup Dini, haha," tawanya memecah kesunyian.
"Kau benar-benar Iblis!"
"Lalu kenapa kalau aku benar-benar iblis, hah! Kau tahu, aku bahkan menjual sahabatmu!"
"Kepar*t, Kau, wanita siluman ular!" Arini hendak meraih rambut wanita tua dihadapannya namun ditahan oleh pria yang sedari tadi setia memeluk wanita yang kejahatannya melebihi Iblis.
"Apa yang kau lakukan pada sahabatku?!" Arini bertanya selain dia ingin tahu dia ingin mengumpulkan bukti sebanyak-banyaknya.
"Aku menjualnya pada pria kaya! Tanpa kau ketahui dia sudah melakukan prostitusi semenjak usia lima belas tahun, itu hebat bukan!"
Arini menutup mulutnya dan menahan sesak di dadanya. Dia tidak menyangka sahabatnya yang terkesan lebih dewasa dan pendiam memendam kesedihan yang amat dalam. Amarah sudah menguasai dirinya.
"Ku habisi, kau siluman Ular!" Arini hendak menampar wanita itu. Namun lagi dan lagi ia di tahan dan tangannya di kunci ke belakang oleh pria yang dia anggap pacar Dini.
"Tadi kau bilang aku Iblis! Sekarang kau bilang aku siluman ular? Jadi mana yang benar?!" tanyanya dengan.
"Karena Iblis lebih baik darimu!"
"Kenapa jadi bernegosiasi hal tidak penting, kita apakan gadis ini?!"
"Bawa dia kedalam! Kita bisa menjualnya besok!" Arini terus memberontak dengan menendang-nendang pria yang menahannya. Namun, dia tidak memiliki tenaga yang cukup hingga ia berteriak.
"Tolong!"
"Tolong, aku!" teriaknya.
"Tidak akan ada yang menolong mu, anak sombong!"
"Kemana mereka," gumam Arini.
TBC