
Dini POV
Hidup ini seperti mimpi buruk bagiku. Berjalan dalam kegelapan tanpa sedikitpun cahaya. Merasa semua ini sangat mencekam.
Kenangan yang terpatri dalam benakku memutar semua sisa-sisa klise kehidupan yang indah. Berjalan dengan naungan kasih sayang masa kecil yang tidak bisa ku rasakan lebih lama. Mereka pergi tanpa alasan menuju surga Tuhan.
Aku hanya bisa menangis dalam kesendirian. Tidak akan ada yang pernah mengerti kesedihanku. Mereka hanya menyalahkan akulah semua penyebab kekacauan.
Saat ini tubuhku kotor, Akankah Tuhan Yesus mengampuni aku. Mimpi hanyalah mimpi jangankan untuk meraihnya, menepi pun aku tak mampu. Tangisku memecah di keheningan saat semua orang berkata akulah wanita murahan yang bekerja di kegelapan.
Tahukah mereka aku sungguh tidak ingin menjadi wanita penghibur. Keinginanku sederhana menikahi lelaki baik hati dan memiliki banyak anak, menyambutnya dengan pelukan hangat saat dia kembali dalam perkerjaannya dengan membawa setangkai mawar merah untukku. Namun itu akan menjadi angan-angan saja. Siapa laki-laki yang Sudi menikahi wanita seperti ku.
Umar entah kenapa aku mengingat nama itu. Membayangkannya membuat jiwaku tenang. Dalam hidupku aku baru merasakan di perlakukan seperti wanita baik-baik hanya oleh dirinya. Rasa takut akan Tuhannya membuat aku ingin mengenal siapa Tuhannya. Entah kapan aku bisa bertemu pria baik hati seperti itu lagi. Karena aku sudah tidak sanggup bertahan dalam keadaan ini.
Masih tanpa bergeming dan bergelut dengan semua pikiranku aku mengambil ponselku yang masih berada dalam tasku. Mencoba menghubungi salah satu sahabatku namun tidak ada jawaban. Ku kirimkan pesan pada kedua sahabatku. Air mata pun menetes tanpa seijin ku. Ingin rasanya aku mendengar tawa dan keceriaan Arini dan Shinta lagi. Namun, aku sungguh tidak pantas berada disisi mereka.
Jiwaku sudah kalut aku sudah tidak memiliki keberanian dan semangat untuk hidup. Aku merasa hidupku tidak berarti bahkan tidak ada yang mengharapkan kehadiran ku.
Aku berjalan mendekati lemari ku mengambil kaus putih tanpa lengan dan celana hotpants mengenakannya dengan pikiran yang masih kosong.
Aku berpikir tanpa seorang sahabat hidupku tak berarti, entah setan apa yang merasuki ku.
Ataukah aku yang memang sudah menjadi setan.
Perlakuan Iblis itu membuat aku benar-benar seperti sampah dan kini keputusasaan mulai merajai jiwaku.
Perlahan aku mendekati ranjang mengambil gunting yang tergeletak disana.
Dengan langkah yang tertatih karena aku merasakan bagian kewanitaan ku berdarah. Bagaimana tidak aku selalu mendapatkan perlakuan yang tidak baik oleh semua pelanggan wanita iblis itu.
Benda tajam itu sudah dalam genggamanku. Aku berjalan menuju kamar mandi. Menyalakan shower dan mengguyur seluruh tubuhku.
Akankah ini akhir?
Ataukah ini awal?
Entahlah ....
Aku hanya ingin terlepas dari cengkraman iblis.
Aku merasakan rasa perih mulai kurasakan di sekujur tubuhku, aku masih bisa menangis dengan keras melampiaskan kemarahan pada keadilan duniawi.
Kepalaku terasa berat, pandanganku terasa kabur, tubuhku semakin bergetar hebat, lemah sudah raga dan jiwaku saat ini, saat ini membayangkan senyum ibu dan ayahku di sisa napasku adalah hal terindah.
"Ibu, tunggu aku, sebentar lagi kita kan bertemu," lirihku.
Badanku sudah kelu. Namun, aku masih bisa melihat tetesan darah mengalir deras dari tanganku. Air yang mengalir berubah menjadi merah pekat. Aku mulai memejamkan mataku dengan terduduk di pojokan dengan mendekap lututku dengan satu tangan dan tangan kiri ku biarkan terus mengeluarkan darah. Merasakan rasa perih dan dingin juga rasa sakit yang tidak ada bandingannya dengan pahitnya kehidupan yang ku jalani.
Aku ingin disisa hidupku mengingat kedua sahabatku. Membayangkan wajah mereka, senyum mereka dan keceriaan yang kita jalani. Tawa candanya memenuhi otakku.
"Selamat tinggal, kenangan."
Hanya air mata yang membasahi wajahku yang bercampur dengan darah segar yang terus mengalir menjadi saksi penderitaan ku.
Aku berharap di kehidupan yang akan datang aku bisa bertemu dengan orang-orang baik dengan kehidupan yang lebih baik.
"Maafkan aku, Arini, Shinta," lirihku. Saat sudah merasakan kaku di sekujur tubuhku.
TBC