
Berjalan dengan dengan langkah lesu tangan menggenggam kertas yang membuatnya tersadar. Selama ini ia menghabiskan uangnya untuk Hura-hura bahkan tidak ada yang bermanfaat atau pun untuk memberikan makan pada orang yang membutuhkan.
Mulai mengingat sisa-sisa uangnya dengan terduduk di sebuah kursi tunggu. Udara dingin mulai menembus pori-pori kulitnya. Mengabaikan rasa dingin itu dia hanya terfokus pada biaya rumah sakit Dini.
Seorang pria berbadan tegap datang membawa selimut khas rumah sakit. Menyelimuti gadis itu tanpa banyak bicara.
"Ku pastikan Lo Jomblo abadi!"
"Kau mau daftar?"
"Ck, pria seperti Lo, bukan tipeku!" tukasnya Arini mencoba mengalihkan pikirannya.
"Memang dari mana kau tahu aku tidak pernah pacaran?" tanyanya polos.
"Yah, karena kau tidak romantis! Mana ada pria menyelimuti dengan selimut rumah sakit seperti ini! Sungguh tidak bermodal!" celetuk Arini.
Pria itu tidak menjawab dan hanya tersenyum tipis.
"Kenapa kau murung, biasanya kau marah-marah!"
"Aku ingat!" Tiba-tiba Arini bangkit dari duduknya.
"Ah, dimana ATM usang itu!" Arini merogoh tasnya dan membuka dompetnya memeriksa isi dompetnya yang penuh dengan kartu.
"Pantas saja kau begitu sombong, tampaknya kau horang kaya."
"Mantan orang kaya!" tukas Arini.
"Ketemu!" Arini beranjak dan meninggalkan tempat itu.
"Kau mau kemana?" tanyanya.
"Mencari ATM!"
"Orang kaya pergi ke ATM, aneh!" gumamnya yang didengar Arini.
"Gue sudah bilang, gue mantan orang kaya! Bukan orang kaya!"
"Oh."
"Gue ingat ada yang membayar hutang tiga tahun lalu, kalau tidak salah sekitar tiga puluh juta, lumayan, kan? Gue hampir lupa!" cicitnya.
"Uang tiga puluh juta kau lupakan? Kau bilang lumayan?!"
"Ia, memang tidak cukup untuk biaya Dini. Tapi setidaknya bisa untuk uang muka."
Pria berseragam hanya menggelengkan kepala. "Bahkan ibuku harus menjual tanahnya untuk biaya sekolahku menjadi seperti ini, kehilangan uang sepuluh ribu saja sudah membuat mamaku ngomel. Belum lagi, aku di kejar dengan sapu karena menghabiskan nasi karena adikku belum makan. Jadi kangen mamak, dan dia melupakan uang tiga puluh juta," gumamnya dengan membuntuti Arini yang berjalan setengah berlari.
Berdiri didepan mesin ATM seperti seorang pengawal. Khawatir karena pakaian gadis yang menjadi tanggung jawabnya saat ini sangatlah minim. Bisa saja dia meninggalkan gadis ini namun dia tidak berani melakukannya.
Arini keluar dengan wajah yang terbingkai senyuman. Tiba-tiba memeluk pria di hadapannya yang masih mengenakan seragam. Pria itu tampak kaku dan tidak membalas pelukan Arini.
"Uangnya ada lima puluh juta, ini lumayan! Aku senang! Bisa berguna untuk Dini," Arini menangis tersedu.
"Ko bisa? Bunganya begitu besar?" tanyanya dengan mencoba mempertahankan intonasi suaranya yang tegas.
Arini terkekeh, "Bukan, mungkin aku juga memiliki tabungan disana, itu kan rekeningku yang tidak memiliki M-bangking jadi uang disana tidak pernah ku pergunakan."
"Dulu kau sekaya apa sih? Hingga kau bilang uang itu lumayan!" Namun tidak ditanggapi.
"Ayo masuk!" Arini menahan malunya karena telah lancang memeluk pria yang baru dia kenal. Di tambah lagi pria itu tampak bersemu merah.
"Ya."
Arini berjalan menuju ruang Administrasi. Meski belum bisa melunasi Setidaknya sahabatnya bisa cepat ditangani.
"Bahkan Dini harus di Visum! Astaga, kenapa semua ini bisa terjadi. Sahabat macam apa! Gue janji Din, akan membiayai pengobatan Lo sampai sembuh." Arini terus bergumam setelah selesai memberikan uangnya pada petugas administrasi rumah sakit.
Masih menunggu hingga pagi menjelang. Tanpa terasa ia tertidur dengan bersandar di bahu pria berseragam. Matanya mulai mengerjap karena merasakan Bias sinar mentari yang menerobos masuk melalui celah jendela rumah sakit menembus kornea coklat miliknya.
Rumah sakit mulai terlihat ramai. Ia melihat tubuhnya yang tengah tertutup sempurna oleh selimut rumah sakit. Arini menegakkan badannya menyadari dirinya tengah tertidur bersandar di bahu seorang pria yang masih duduk tegap.
"Kau sudah bangun? Pulanglah dulu!" titahnya.
"Untuk apa gue pulang!"
"Orang tuamu pasti khawatir!"
"Ck, bahkan jika gue tidak pulang pun mereka tak peduli!"
"Dari tadi ponselmu berdering, aku tidak berani mengangkatnya dan tidak tega membangunkan mu," jelasnya.
Arini hanya membalas dengan anggukan kepala. Merogoh tasnya dan melihat banyak panggilan disana.
"Ah, baterainya sudah sekarat!" gumamnya.
Melihat siapa yang melakukan panggilan sangat banyak.
"Ya."
"Semalam aku bertanya bagaimana arti dari pesan Dini, kau tahu? Semalaman aku tidak tidur memikirkan apa maksud dari ucapannya! Memangnya benar Dini memelihara burung dan sayapnya tidak ada? Lalu apa hubungannya burung dengan sebuah bunga?!" celotehnya.
Arini menghembuskan napas kasarnya, entah harus memulai dari mana menjelaskan pada sahabatnya ini.
"Arini, jawab! Apa burung itu baik-baik saja? Kau harus memeriksanya!"
"Astaga, Shinta! Diamlah!"
"Oke, oke!"
"Pertama itu adalah perumpamaan, tidak ada burung ataupun bunga."
"Aku tahu soal kesucian, jangan bilang kalau Dini sudah tidak suci, ah tidak, itu bahaya. Tuh kan ku bilang juga apa pacarnya itu bukan pria baik-baik!" cicitnya yang semakin membuat Arini kesal.
"Shinta, Diamlah!" Arini berteriak dia tersenyum kaku saat menyadari semua yang berada di rumah sakit menatapnya.
"Kau dengar baik-baik, aku tidak akan mengulang!"
"Wanita iblis itu menjual Dini!"
"Maksudnya tente Brenda si Setan merah?"
"Ya."
"Lalu? Maksudnya menjual dengan kesucian. Astaga! Apa pikiran kita sama Ar?!" tanyanya.
"Ya."
"Yah kalau cuma menyuruh menjual bunga suci sih tidak masalah! Kalau di taman dia tidak ada di rumah lamaku ada bunga mawar putih, suci kan lambangnya putih! Ambil saja, aku rela!"
"Shinta Lo dimana sekarang?" tanya Arini dengan mengepalkan tangannya.
"Kau lupa, aku kan di China!"
"Jika kau disini gue bunuh Lo!" geramnya dengan meninggikan nada bicaranya. Dengan cepat pria berseragam disampingnya membekap mulut wanita yang tampak marah ini. Karena semua mata melihat ke arah mereka.
"Apaan sih!" Arini menepis tangan pria disampingnya.
"Jaga bicaramu!"
"Ah, semua ini gara-gara kutu kebun!" geramnya.
"Shinta yang jenius, Dini melakukan percobaan bunuh diri dan sekarang dia di rumah sakit masih ...," ucapnya terpotong.
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi! Dasar bodoh! Bagiamana keadaanya? Astaga kenapa bisa terjadi?" Arini menjauhkan ponselnya karena suara Shinta sangat nyaring terdengar. "kenapa dia bodoh! Memangnya sebegitu rendahnya pekerjaan menjual bunga!" cicit Shinta.
"Astaga! Belum mengerti juga! Shinta yang jenius, dengarkan aku! Dini bunuh diri karena Brenda si setan merah itu menyuruh Dini sebagai PSK, jelas!" Arini berbicara dengan perlahan dengan menahan rasa jengkelnya.
"Dasar gila! Pasti Dini terluka sekarang bagaimana keadaan dia? Pantas dia bunuh diri! Awas saja, si setan merah!" geramnya.
"Masih ditangani dokter, Tapi gue bingung, Shin, uang gue tidak cukup untuk biaya pengobatan Dini!"
"Berapa kurangnya?" tanyanya antusias.
"Entahlah, belum pasti. Karena setelah dia siuman, kami akan melakukan visum terhadap daerah kewanitaannya."
"Aku ada tabungan! Tapi tidak banyak, kau tahu Koh Danis sangat pelit padaku, kirim nomer rekeningmu. Nanti aku akan meminta Koh Danis mengantarku ke Indonesia," cicitnya.
"Heem, hanya rekening lama yang tidak terblokir!"
"Ia, aku tahu kau sekarang miskin, Ar!"
"Lo tidak perlu mengatai miskin!"
"Sudahlah, akui saja kau sudah miskin aku bisa menerima! Aku tutup yah, aku akan membujuk Koh Danis!"
"Terserah, menyebalkan!"
Tut
Tut
sambungan terputus.
"Dasar jelangkung! melakukan sambungan dan menutup seenaknya.
Tidak lama Arini mendapat notifikasi pesan dari ponselnya. Bahwa sejumlah uang telah masuk ke rekening pribadinya.
"Seperti jaman purba saja notif masuk melalui SMS," gumam Arini.
"Gue harus ke ATM lagi, mengambil uang dari Shinta dan memberikannya pada pihak rumah sakit.
TBC