I'M Sorry My Hubby

I'M Sorry My Hubby
Mulai Mempercayai



"Kau?" dengan mengarahkan jari telunjuknya pada seseorang yang tengah duduk dengan tatapan penuh kecurigaan.


"Alhamdulillaah, kau sudah membaik," ucapnya dengan tersenyum manis. Sedang Dini masih menatap tajam.


"Jika aku baik, kau akan membawaku pada si botak?!" tuduhnya dengan tersenyum sinis dan berkacak pinggang. Namun hanya dibalas dengan senyum tipis.


"Lihatlah, dia terus tersenyum. Mungkin dia gila!" caci Shinta pada Umar.


"Ayo kita pergi!" Arini menarik Shinta untuk menjauh dari sana dan membawanya ke kantin rumah sakit.


Shinta masih berdiri di depan meja tanpa duduk di kursi dengan terus menggerutu sedang Arini memesan makanan dan minum pada penjaga kantin rumah sakit. Setelah memesan dia kembali duduk di hadapan sahabatnya.


"Kau gila! Kenapa kita pergi? Bagaimana jika Dini di culik?" cicitnya dengan penuh kekesalan dan mendaratkan tubuhnya di kursi dengan keras dan mengerucutkan bibirnya.


"Ah benar juga." Arini menanggapi dengan begitu santai.


"Kalau tahu begitu, kenapa kau membiarkan dia sendiri? Dasar bodoh, aku mau kembali!" Shinta hendak beranjak namun tangannya di tahan oleh Arini. Sehingga dengan kesal mengurungkan niatnya.


"Lo tenang saja!" Arini berucap dengan menekan kedua bahu Shinta agar duduk kembali.


"Dia itu mata-mata, kau lupa?!" timpal Shinta dengan geram.


"Gue yakin, dia pria baik!" sahut Arini.


Mereka terus berdebat yang tepatnya Shinta terus memprotes tindakan Arini. Sedang di tempat yang berbeda seorang pria masih tetap tersenyum dan duduk setia di kursi tunggu di depan ruangan tempat Dini di rawat.


"Berapa bayaran yang diberikan si botak itu padamu untuk membuntuti ku?!" Dini bertanya dengan sinis. "darimana kau tahu aku dirawat di rumah sakit ini?!" Rentetan pertanyaan yang dilayangkan dengan nada mengintimidasi pun hanya di balas dengan senyuman.


"Hey, jawab! Kau gila? Kenapa terus tersenyum? Aku tidak memintamu menjadi model pasta gigi, jawab aku!" Dini sudah tampak geram.


"Duduklah, aku akan menjelaskannya," pintanya dengan masih mempertahankan senyumannya.


"Tidak perlu!" tolaknya. Umar hanya mengangguk pelan. Belum lama Dini berdiri dia sudah merasakan kepalanya sedikit sakit. Namun untuk duduk dia masih merasa canggung karena beberapa kali Umar memintanya untuk duduk dengan sinis di tolaknya. Melihat wajah Dini tampak pucat pria itu kembali berucap, "duduklah, aku tidak akan menyakitimu," ucapnya dengan tatapan penuh kekhawatiran.


"Baiklah, jika kau memaksa," sahutnya dengan nada bicara yang angkuh.


Dini duduk tepat di samping Umar. Namun Umar menggeser tubuhnya hingga duduk berada di ujung kursi, hingga jarak mereka terhalang oleh tiga kursi.


Umar POV


Malam itu setelah aku mengantarmu pulang. Dia menghubungi aku, dengan sigap aku pergi menemuinya di sebuah kamar hotel yang telah kau tinggalkan. Aku bisa melihat amukan dan amarahnya tampak dari kamar yang begitu berantakan. Pria itu yang menjadi bosku menanyakan keberadaan mu. Aku mengatakan hal yang sejujurnya bahwa kau telah aku antar pulang. Saat itu dia murka dan menamparku. Tapi bukan itu masalahnya.


Tiba-tiba asmanya kambuh, aku segera menghubungi dokter yang biasa menanganinya. Setelah melakukan pemeriksaan dia memintaku untuk menjemputmu agar mau datang menemaninya lagi. Dengan perasaan yang sebenarnya tidak tenang karena pekerjaan ini sangat bertentangan dengan sebuah kebenaran. Tapi aku terpaksa mengikuti kemauannya demi misi yang aku jalani.


Sampai di rumahmu aku kaget karena ada polisi di sana dan seorang wanita yang aku ketahui baru ini bahwa dia adalah sahabatmu yang begitu setia. Namun kembali di buat terkejut saat polisi itu bersembunyi. Sedang tidak lama dari itu terjadi pertikaian antara Arini dan orang yang keluar dari dalam rumahmu.


Aku tidak berani masuk. Karena jika aku menyampaikan maksudku sama saja saya menyerahkan diri. Hingga kejadian kau Terluka dan dibawa ke rumah sakit aku membuntutinya. Hampir setiap hari aku datang melihat sahabatmu yang terus menangis dan penuh kebingungan. Kau beruntung punya dia. Namun aku tidak berani mendekatinya.


Hingga saat aku dengar dia merasa kebingungan untuk menjagamu saat itu mereka akan pergi ke persidangan dan sebelum hari itu tiba aku datang untuk membantu mereka yang akan memberikan saksi dalam persidangan. Awalnya mereka tidak mempercayai aku. Tapi karena tidak ada yang dapat menunggumu lagi dia akhirnya terpaksa mempercayakan kamu padaku.


Jujur, aku memang diminta mencarimu dan membawamu pada dia. Tapi, aku tidak sejahat itu. Aku senang kau sudah membaik. Tapi sebaiknya kau segera tinggalkan kota ini. Aku mendengar mereka akan membebaskan orang yang berpengaruh besar terhadapmu. Tidak pernah meminta kau mempercayai aku. Tapi aku hanya minta padamu. Jika kau ingin berubah, aku mohon pergilah dari kota ini secepatnya. Sebisaku aku akan melindungi mu. Karena sampai detik ini dia masih mempercayakan pencariannya padaku.


Dini diam tidak merespon ucapan lawan bicaranya. Tidak tahu harus berbuat apa? Mencari keberadaan sahabatnya namun tidak melihat berada di sekitar sana. Mulai memberanikan diri menatap lawan bicaranya. Dia sadar, bahwa pria ini bersikap baik padanya saat pertemuannya yang pertama. Tidak bisa di pungkiri dia juga membutuhkan seseorang untuk membawanya pergi. Sedang Arini dsn Shinta langkahnya pasti sudah terbaca oleh ibunya. Dini sudah tidak memiliki orang terdekat untuk diminta bantuan selain kedua sahabatnya.


"Kenapa kau membantuku? Padahal kau tidak mengenalku." Akhirnya kata itu lolos dari mulutnya setelah sekian lama terdiam.


"Kewajiban sesama manusia," sahutnya dengan tersenyum namun tidak menatap wajah Dini hanya menatap lurus ke depan.


"Apa kau bisa di percaya?" tanyanya kembali.


"Serius, berhentilah bersikap menyebalkan!" keluh Dini.


"Aku serius, karena pada dasarnya manusia akan mengecewakan pada akhirnya."


"Tuh, kan. Kau bekerja untuk si botak!" tuduhnya.


"Bukan itu, maksudku. Bagaimana yah, itu sudah fitrahnya," jelasnya dengan sedikit bingung menjelaskan maksudnya.


"Sudahlah, kau sama saja."


"Begini yah, Nona. Manusia itu tidak sempurna kadang kita berjalan dengan berbeda pendapat, tanpa kita sadari terkadang tindakan kita membuat orang lain kecewa karena tidak berjalan dengan keinginannya. Aku hanya bisa berusaha membantumu sesuai kapasitas ku dan tidak menjanjikan sesuai keinginanmu. Hal itu mungkin membuat anda kecewa. Tapi, percayalah Tuhan akan membantu Anda jika berniat memperbaiki diri," jelasnya.


"Iya, aku tanya apa aku bisa mempercayaimu. Kau tidak bekerja untuk si botak, kan?" tanyanya memastikan.


"Aku masih bekerja untuknya."


"Kau penghianat!" Dini menatap benci.


"Ya, aku masih bekerja sebagai supirnya. Tapi tidak bekerja untuk membawamu ke sisinya, kau mengerti, Nona?" tanyanya dengan tersenyum manis. Entah kenapa mendengar kekesalan Dini membuatnya sedikit terhibur.


"Iya, itu maksudnya. Kau berbelit!" keluh Dini.


"Berbicara yang jelas, Nona."


"Ya, sudah, bawa aku pergi!" Dini berucap dengan lantang yang membuat pria itu tampak kaget dan dengan reflek melihat ke arah Dini.


TBC


Markonah : Eh Thor, ini kemana cerita Yuna?


Otor Keceh๐Ÿ˜‚ : Nikmati ajah, yah, alurnya. Nanti aku lanjut.


Markonah : Langsung aja Napa!


otor keceh : Terserah gue markonah! ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Markonah : Heleh๐Ÿ™„ otor ga ada akhlak.


Otor keceh. : ๐Ÿ˜‚ Kesel gue ma si Yuna kapan bucinnya ma Ricki๐Ÿคง


Markonah. : Lo yang nulis ajh kesel, apa lagi gue๐Ÿ™„


Otor Keceh. : Haha.


Markonah. : Jangan ketawa, gue sleding ban motor juga dah.


Kangen juga bikin Intermesso aku๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Tapi belom sempat mikirnya๐Ÿคญ


Bantu jejak jika ingin aku lanjut. Like, Komen, vote, tips๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Astaga otor Maruk๐Ÿคญ


Salam sayang dari aku ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜