
"Lalu apa? Aku berpikir, Dini dibawa kabur setan merah," jawabnya dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena melihat perubahan ekspresi sahabatnya.
"Memangnya gue belum cerita kalau setan merah itu di jebloskan ke penjara?" tanya Arini.
"Entahlah, aku lupa! Lagi pula, aku berharap wanita terkutuk itu mati tertabrak kereta dan terpental ke danau buaya!" geram Shinta.
Mereka menghentikan debatnya karena seorang pria datang. Pria berkulit putih khas orang China. Matanya sipit dibalik kacamata yang membingkai matanya, rambutnya hitam, hidungnya tidaklah mancung tapi cukup tampan dengan bentuk wajah yang rupawan.
"Selamat siang, Ko Danis," sapa Arini dengan membungkuk hormat.
"Siang, Ar, kau tampak berbeda dengan mengenakan gaun ini," ucapnya dengan tersenyum manis dan tatapan yang hangat.
"Ya, seperti ondel-ondel!" tukas Shinta dengan terkekeh.
"Diam, kamu Shinta!" bentak Danis pada adiknya.
"Di depan Arini ajah so manis depan adiknya seperti singa gundul," gumam Shinta dengan terus menggerutu.
"Kau pasti belum makan? Sekarang makanlah, Ar!" titahnya dengan menyodorkan makanan cepat saji pada Arini. Ingin menolak tapi tidak enak hati atas kebaikan kakak dari sahabatnya.
Arini menikmati makan siangnya. Entah dari mana kakak dari sahabatnya ini bisa mengetahui makanan kesukaan Arini.
Seusai makan Arini menceritakan semuanya tentang Dini. Arini juga mengatakan bahwa Dini mengalami koma karena depresi yang berat yang dideritanya.
Arini juga mengatakan bahwa akan menjual mobilnya untuk biaya rumah sakit Dini. Mendengar semua cerita Arini membuat Shinta semakin menangis. Tidak pernah menyangka bahwa kehidupan kedua sahabatnya akan begitu sangat buruk.
Shinta meminta bantuan kakaknya untuk meringankan beban Arini. Karena tabungan Shinta sudah habis di transfer ke rekening Arini semalam.
Arini tidak bisa berharap banyak pada sahabatnya Shinta. Karena, mengingat kelurganya baru merintis kembali usahanya yang di China. Sedang Kakaknya memang memiliki toko perhiasan sendiri di Indonesia. Tapi tidaklah mungkin memberikan bantuan begitu saja. Mengingat, kakak dari sahabatnya ini sangat perhitungan terhadap uang.
"Gimana yah, Ar ...."
"Tolonglah, aku membutuhkan biaya untuk Dini," Arini memegang tangan Danis dengan memasang wajah melas, sehingga membuat pria yang baru disentuh wanita ini pun membuat jantungnya terasa maraton dan mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Oh, betapa dia imut sekali, seperti kelinci," gumamnya di dalam hati.
"Koh, kenapa mukamu merah begitu?" Shinta bertanya dengan memegang kedua pipi kakaknya yang memerah seperti kepiting rebus.
"Anak ini!" geramnya didalam hati.
Arini menatap wajah pria dihadapannya. Benar, wajahnya memerah dan melihat tangan kakak dari sahabatnya bergetar membuat Arini menahan tawanya.
"Jadi gimana, Koh?" tanya Arini dengan menatap wajah pria yang tengah tersipu malu.
"Ar jangan dekat-dekat, kakakku tidak pernah menyentuh ataupun disentuh perempuan! Lihatlah, pasti dia sedang menahan hawa ingin buang air kecil," goda Shinta pada kakaknya dengan tertawa. Namun seketika terdiam saat melihat wajah murka kakaknya.
"Baiklah," ucapnya yang membuat kedua wanita yang jahil ini saling bertatapan dan tertawa dengan sangat keras dengan mengangkat kedua tangannya.
"Kau berbakat jadi wanita penggoda, Ar!" cicit Shinta.
"Sialan! Ku hajar kau, kalau tidak ada kakakmu!" Arini mengancam.
"Hajar saja, Ar! Aku juga kesal padanya." Danis menimpali dengan tersenyum mengejek.
TBC