
Berada di sebuah club' malam menjadi kebiasaan wanita cantik yang masih setia dengan anggur ditangannya.
Terbiasa hura-hura dan menghamburkan uang adalah hal wajib baginya. Kehilangan kepercayaan pada orang yang dia anggap sebagai pengganti ibunya yang sibuk mengurus adiknya menjadi hal terberat.
Kenyataan seorang wanita yang dia anggap Malaikat ternyata hanyalah seorang Iblis yang tengah menyamar.
Di temani dua orang pria yang masih sangat muda. Membayar pria tampan untuk melayani dan menemani dirinya itulah kebiasaan Arini.
Bukan tidak cantik hanya saja wanita yang terbiasa hidup dilingkungan metropolitan ini tidak pernah mau terikat dengan suatu hubungan percintaan. Karena melihat orangtuanya yang tidak pernah seperti keluarga pada umumnya. Uang dan kesibukan yang mereka jalani di setiap harinya. Begitupun dengan Arini hanya uang yang ia dapat sebagai bukti perhatian orangtuanya.
Mengingat sebelum wanita iblis itu datang dikehidupan orangtuanya. Keluarganya tampak harmonis saat ayahya masih merintis usaha.
Kebangkrutan tidak membuat ayahnya lebih baik. Malah semakin menjadi gila.
Terdengar dering ponsel yang nyaring dari tasnya. Namun karena asik menikmati musik di lantai yang penuh dengan gemerlap lampu yang memusingkan kepala dan suara musik yang keras membuatnya tidak menyadari beberapa panggilan yang masuk. Terlebih, membiarkan tasnya tergeletak di meja ruangan VIP. Sedang ia menikmati malam penuh dengan alunan musik yang menyakiti pendengaran.
Menggerakkan badannya dengan keadaan yang kacau berteriak dan memaki sepuasnya tanpa ada yang mendengar karena tertutup suara musik yang sangat keras.
Menyadari sudah tidak bisa menguasai dirinya. Kembali ke sebuah meja dan membenamkan wajahnya di sana dengan bertumpu pada kedua tangannya. Tawa dan tangis masih menguasai dirinya seperti orang gila. Masih meracau hanya menghabiskan dua botol anggur tidak akan membuatnya mabuk. Namun tingkahnya seperti orang mabuk berat.
Arini masih sadar namun ia meluapkan semua kekecewaan dan kekesalannya dengan terus berteriak seperti orang gila. Memejamkan matanya merasakan udara dingin dari pendingin ruangan yang menusuk kulitnya.
Mengambil tasnya berniat akan menyesap rokok. Merogoh tasnya tanpa sengaja ia memegang ponselnya. Dengan tersenyum dan tertawa dia membuka pola kunci benda persegi itu. Matanya membulat sempurna saat dia melihat banyak panggilan dari salah satu sahabatnya.
Meminta salah satu pria yang menemaninya untuk mengambil air putih.
Terus mencoba menghubungi sahabatnya. Merasa heran karena tidak biasanya Dini menghubungi dirinya jika tidak ada sesuatu hal yang penting. Apalagi ini sampai puluhan kali. Mengerang frustasi karena masih belum ada jawaban.
Seorang pria datang membawakan segelas air putih di tangannya dengan cepat Arini menyambar dan membasahi kerongkongannya yang terasa sangat kering.
Kembali menghubungi namun masih tidak ada jawaban. Baru akan melakukan panggilan kembali tiba-tiba ponselnya berdering. Segera mengangkat dan menempelkan benda persegi itu tepat di daun telinganya.
"Hallo, Arini!" ucap seseorang diseberang sana.
"Yah, ada apa?" tanyanya.
"Kau sudah baca pesan Dini? Tolong terjemahkan aku tidak mengerti bahasanya terlalu tinggi!" cicitnya.
"Turun dari mana, bodoh?" Tunggu sebentar.
Cukup lama Arini menunggu.
"Hey Lo lama sekali! Sedang apa?" Arini bertanya.
"Ini aku sudah turun dari tempat tidur dan membaca ulang masih tidak paham?" cicitnya.
"Astaga, Shinta! Menunggu lama ternyata hanya untuk mendengar aksi bodohmu?!" Arini berteriak merasa geram dengan temannya yang keterlaluan.
"Jangan berteriak, aku tidak tuli, hanya tulalit saja!"
"Hey, bodoh! Pesan apa?" Arini bertanya dengan menahan kekesalan temannya.
"Dia mengirimkan pesan padaku lewat LINE!"
"Gue lupa tidak menghidupkan data ponsel!"
"Dasar, bodoh! Kau tahu disini aku menggunakan pulsa reguler jadi sangat mahal!"
"Astaga, kenapa Lo permasalahkan biaya pulsa!" Arini tampak geram.
"Sudah kau aktifkan Datanya dan kau terjemahkan bahasa anak sastra itu yang membuatku gila!" tukasnya.
Tut
Tut
Sambungan terputus.
"Dasar gila! Dalam urusan yang penting dia masih perhitungan soal pulsa!"
TBC