I'M Sorry My Hubby

I'M Sorry My Hubby
Aku Baik- Baik Saja



"Yuna." panggilan seseorang membuatnya bergeming, baru saja mengantarkan pesanan dan memarkirkan motornya.


"Ada apa?" tanyanya acuh.


"Aku mendengar ada lowongan pekerjaan di sebuah perusahaan sparepart mobil terbesar," ucapnya antusias.


"Lalu?" timpalnya acuh, dengan mengangkat box besar yang memenuhi kursi penumpangnya dan berjalan melewati lawan bicaranya.


"Ish, Kau tahu gajinya besar! Kau tidak perlu bekerja di dua tempat lagi." Gadis itu terus berbicara membuntuti kemana Yuna pergi.


"Ayolah, ini kesempatan emas!" ucapnya dengan menggoyang tangan temannya yang baru saja selesai meletakan box besar di tempatnya.


"Jam kerjaku sudah habis, aku mau balik!" ucapnya dengan membuka topi kerjanya dan meletakkan di sebuah loker kecil.


"Yuna, pokonya aku mau bekerja disana!" timpalnya dengan bersedekap.


"Kerja, yah, kerja saja! Kenapa kau begitu repot, tinggal kirim Email beres!" Yuna berlalu mengambil helmnya tapi di tahan oleh temannya.


"Kita kerja bareng, yah? Pasti seru kalau kerja bareng- bareng, ingat! Gajinya besar lebih dari cukup untuk biaya keluarga dan sekolah adikmu."


Yuna duduk di sebuah teras depan toko, ia menatap sahabatnya. Ini memang kesempatan besar untuk masuk ke salah satu perusahaan dan melancarkan rencananya. Tapi, ini bukan waktu yang tepat saat kondisinya yang sedang hamil muda dan tentunya tanpa pengetahuan temannya ini.


"Gimana? Kau mau kan?" tanyanya kembali.


"Maaf," ucapnya dengan nada menyesal.


"Kenapa?" Gadis itu mengerutkan dahinya, kemudian ia kembali berucap, "ini kesempatan emas loh, masuk sana sangat sulit, tapi saat ini mereka membuka land baru untuk produk terbaru mereka jadi, besar kemungkinan kita di terima," jelasnya.


"Kau masuk duluan saja, Rin!" Nanti aku menyusul," ucapnya dengan tersenyum manis.


"Awas, yah! Kau janji, nanti kita akan kerja bersama lagi!" Ia mengacungkan jari kelingkingnya dan dengan terkekeh Yuna menyambut dan melingkarkan jari mereka.


Memang tidak adanya kemewahan dalam kehidupannya saat ini, tapi ia lebih bersyukur meski harus bekerja keras hanya untuk sesuap nasi. Tapi, ia mendapatkan teman yang tulus tanpa ada rencana dibalik kata sahabat. Itu salah satu harta berharga dalam hidup melebihi materi.


Meski belum genap sebulan bertemu, tapi keakraban dan rasa kasih sayang sudah erat pada diri Rina dan Yuna. Mereka sama- sama bekerja di toko kue bedanya Yuna sebagai koki dan dia sebagai pelayan disana. Namun, di restoran cepat saji ini mereka sama- sama menjalani prosesi sebagai kurir.


Hidup sebatang kara, membuatnya harus bekerja keras. Ia tak pernah tahu dimana orangtunya. Ia hidup di panti asuhan dan karena pantinya mengalami kebakaran ia jadi hidup terlonta- lonta. Melanjutkan pendidikan menengah Atas saja ia sambil bekerja paru waktu.


kehidupan pahit, sudah terbiasa Rina rasakan. Namun, ia wanita yang pantang menyerah dan selalu bekerja keras. Kuliah, tidak ia tidak bisa melanjutkan kuliahnya. Karena, Ia harus mengirimkan sebagian uangnya untuk adik- adik pantinya yang kini tinggal di rumah panti yang tengah di bangun kembali dan tentunya lebih kecil.dan sempit dari sebelumnya.


"Aku balik, rasanya remuk badanku!" Yuna berdiri dengan berpamitan.


"Besok, ajarkan aku bagaimana caranya test tulis!" pinta Rina, yang mendapat anggukan dari temannya.


"Besok! Aku akan membawa laptopku ke toko, aku bantu kau melamar pekerjaan!" ucapnya dengan mengenakan helmnya.


"Rina memeluk Yuna erat, tak terasa bulir suci itu membasahi wajahnya, "aku berjanji tidak akan melupakan kebaikanmu selama ini dan semoga kita bisa menjalin persahabatan," ucapnya dengan terus memeluk Yuna.


Entah kenapa mendengar kata sahabat membuat hati Yuna berdesir, sesak tiada tara, ia teringat kejadian malam yang menyakitkan itu. Sebuah penghianatan suami dan sahabatnya.


"Jangan berjanji, Rin! Kata sahabat itu berarti sangat luas!" ucapnya dengan melepas pelukan Rina dan berlalu pergi.


Rina mengerutkan dahinya, kenapa tiba- tiba temannya mendadak dingin, ada apa? Ia terus berkutat dengan pikirannya. Rina juga tidak pernah tahu dimana alamat rumah temannya itu. Bahkan tak ada satu orang pun yang tahu. Ia juga baru melihatnya di daerah sini. Entahlah, Yuna selalu menjadi misteri. Begitulah, yang di pikirkan orang- orang di sekitarnya.


Pagi ini Yuna muntah hebat, keringat membasahi pelipisnya. Wajahnya pucat, bagaimana tidak sejak subuh ia terus memuntahkan isi perutnya yang kosong.


Hampir ia terhuyung, tubuhnya sudah lemas tak berdaya. Ia memegangi perut dan kepalanya yang sudah mulai terasa berkunang- kunang.


Ibunya yang sedang memanggang Roti, menghampiri anak sulungnya, ia menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik anaknya.


"Ada apa, Nak?" tanyanya dengan membantu Yuna duduk di meja makan yang belum lama ini ia beli.


"Tidak, apa- apa," jawabnya dengan menyunggingkan senyuman.


"Ibu adalah ibumu, Nak! Ibu tahu, dan lagi ibu adalah seorang perempuan. Sekarang jawab dengan jujur, apakah kamu hamil, Nak?" tanyanya dengan mengelus pucuk rambut anaknya.


Ana menatap dengan tatapan sendu, Ia tidak bisa berkata apa- apa lagi. Ingin ia menangis, dalam keadaan seperti ini ia sangat merindukan kehangatan dan perhatian Edward. Dulu ia sangat antusias ingin memiliki buah hati, tapi setelah akan memiliki calon. Kenapa takdir begitu kejam. Sakit, yah, sangat sakit saat melihat suaminya telah berada di bawah tubuh perempuan yang tengah tak memakai busana dan itu adalah sahabatnya sendiri.


Saat ini ia ingin sekali menangis, meluapkan semua rasa sesak yang ia pendam. Rasa rindu pada suami tercintanya begitu menyiksanya, namun rasa sesak itu juga menghancurkan harapannya. Matanya sudah memerah, ingin segera di tumpahkan tapi ia tak pernah bisa menangis, ia terus menahan sesak di dadanya. Tidak tahan, ya itulah rasa yang menguasainya saat ini.


"Menangislah! Setidaknya itu akan membuatmu merasa lega, Nak," titahnya.


"Tapi, Buk." Wanita ini tampak ragu.


"Sayang, ingat! Sekarang kau bukan Ana, kau adalah Yuna anak ibu, wanita biasa yang bisa menangis kapanpun kau mau! Tidak perlu lagi, kau takut terlihat lemah oleh orang lain. Mulai sekarang, jadilah dirimu sendiri." Ucapan sang ibu entah kenapa membuka belenggu pada dirinya.


Seketika, tangisan pun pecah, sudah lama ia tahan. Ia memeluk ibunya dengan erat. Menangis sejadi- jadinya, ia menangis tanpa ada yang di tahan. Entah kenapa berada pada diri Yuna membuat dia bebas mengekspresikan emosinya.


"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!" tanyanya dengan mencium kening anaknya.


"Ana menggeleng pelan." Ia tidak ingin mengetahui tentang penghianatan suaminya. Ia tidak mau orangtuanya sampai membenci Edward. Karena, sampai detik ini ia masih sangat mencintai suaminya dan saat ini ia sedang merasakan rindu yang menggebu, namun jika teringat kejadian itu seketika rindu itu berubah menjadi rasa sesak dan kepedihan.


"Hey!" Panggilan sang ibu membuyarkan lamunannya.


"Tidak apa- apa, Buk, aku hanya merindukan Edward," ucapnya lirih.


"Kalau begitu, kenapa kau meninggalkannya, Nak? Apa suamimu memiliki kesalahan?" tanyanya penuh keheranan.


"Tidak, Buk. Hanya saja, aku ingin nyawa calon bayi kami selamat," ucapnya dengan tersenyum.


"Alhamdulillah." ibunya menutup mulutnya, ia kaget tampak gurat bahagia dalam wajahnya,


matanya berbinar menatap wajah anaknya.


"Benarkah, Nak?" tanyanya seakan tak percaya.


Yuna hanya mengangguk pelan dengan tersenyum.


Kebahagian itu sedikit menyusut, saat mereka mencium bau gosong.


"Astaga!" Teriakan sang ibu membuat Yuna terperanjat.


TBC