I'M Sorry My Hubby

I'M Sorry My Hubby
Semua Ada Hikmahnya



Astaga!" Teriakan sang ibu membuat Yuna terperanjat.


Seketika, ibunya berlalu lalu berkata, membuat Yuna menoleh, "Rotinya gosong," ucapnya dengan mengacungkan roti yang sudah berubah warna menjadi hitam legam.


Yang tadinya ia sedang bersedih, membuat ia terkekeh. Namun wajahnya kembali merenggut saat sang ibu melanjutkan ucapannya, "maaf, hanya ini roti yang tersisa," ucapnya tampak menyesal.


Yuna mengerjapkan matanya, tidak percaya, apakah ini kehidupannya, untuk makan saja sampai kekurangan. Apa kah benar langkah yang dia ambil? Oh, Tuhan." Wanita yang tengah hamil muda ini mengerang frustasi.


Mereka tidak pernah kekurangan makanan, bahkan di meja makan terbiasa berbagai jenis makanan tersaji, aneka buah tersusun rapi. Apapun selalu di layani. Sekarang bahkan sepotong roti pun tak ada. Bukan tidak memiliki apa- apa, ia bisa saja menarik sejumlah uang untuk memenuhi kebutuhannya, atau bahkan menunjang kehidupan mewahnya. Tapi, semua itu tidak ia lakukan, karena ia tidak mau akses keberadaannya di ketahui oleh siapapun.


Yuna menghampiri ibunya dengan perasaan yang tidak baik- baik saja.


"Buk, maafkan aku, karena keputusanku, kita jadi hidup susah. " Tampak kesedihan tersirat dari wajahnya.


"Tidak, masalah. Kau tenang saja, ibu akan memasak nasi goreng, rasanya ada sisa nasi semalam," ucapnya dengan tersenyum.


Hatinya terenyuh, ia tidak pernah menyangka kehidupan akan cepat berubah. Bukan, tepatnya ia yang memilih dalam keadaan sulit.


Ana semakin berdosa pada keluarganya. Kekhawatirannya bertambah saat dia teringat adik bungsunya. "Bagaimana dengan Arya? Dia belum terbiasa sarapan nasi di pagi hari?" tanyanya.


"Hey, kau jangan meremehkan aku! Bukankah, kau juga belum terbiasa sarapan nasi di pagi hari, kak?" tanyanya dengan terkekeh.


"Maafkan kakak, dek." ucapannya lirih.


"Sudahlah, yang terpenting kita bisa terus bersama, ini lebih baik. Dulu kita hidup mewah, tapi tidak pernah memiliki kesempatan untuk berkumpul," timpal ayahnya yang baru saja datang ke dapur.


"Maafkan aku, Yah. Tidak bisa mempertahankan perusahaan ayah, aku janji akan merebut kembali apa yang menjadi hak kita," ucapnya dengan mengepalkan tangannya.


"Sudahlah, itu sudah tidak penting lagi, nak." Ayahnya mengelus pucuk kepala kedua anaknya.


"Kalian adalah harta kami paling berharga," ucapnya dengan memeluk kedua anaknya.


"Seandainya, Andra masih ada," ibunya yang sibuk memasak tiba- tiba teringat anak tengahnya.


"Maafkan aku, bahkan aku tidak bisa menjaga-Nya dengan kekuasaan-Ku." Tampak kesedihan dari wajah wanita cantik ini. Merasa gagal menjadi seorang kakak.


"Doakan saja, Andra selalu bahagia." Ayahnya menimpali.


"Sudah sedihnya, ini nasi goreng buatan ibu." Ibunya mencoba mencairkan suasana ia tak ingin anak sulungnya terus merasa berdosa.


Semua duduk di meja makan, dengan semanagat melahap nasi goreng yang tampak menggoda. Hampir bersamaan mereka menyuapkan sendok pertama ke mulutnya.


Seketika, mata mereka melotot, saling bertatapan namun tak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka. Satu sendok nasi masih tertahan dari mulut mereka.


Ibunya masih sibuk menuangkan air ke dalam gelas, karna heran menatap ekspresi anggota keluarganya ia pun bertanya, "kenapa? Apa Tidak enak?" tanyanya dengan menatap satu persatu anggota keluarganya.


Dengan berat hati, mereka menelan suapan pertama nasi goreng yang sudah terlanjur masuk ke mulutnya.


"Enak," ucap mereka berbarengan dengan mengernyit dan menyambar air minum dari gelas yang baru saja di tuangkan ibunya.


"Mencurigakan!" Ibunya langsung melahap nasi goreng buatannya.


"Asin begini! Kalian bilang enak, Astaga!" Ibunya mengambil nasi goreng yang berada di hadapan anak dan suaminya.


Namun mereka menahannya, mereka tetap menghabiskan nasi goreng yang tingkat keasinan- nya tidak tertandingi, seperti memakan garam saja.


Terlebih Ana sedari tadi ia menahan mulutnya agar tidak memuntahkan isi perutnya yang terasa di aduk- aduk.


"Maaf, ibu tidak bisa memasak." Wajahnya tampak lesu. Memang sejak kecil dia hidup penuh kemewahan meski orang tuanya hanya seorang nelayan. Tapi, ia di asuh oleh keluarga konglomerat.


Mereka tertawa, benar memang masakan ini sangat tidak enak. Tapi, entah kenapa dengan memakannya membuat mereka bahagia. Dulu, memang banyak makanan tersaji memenuhi meja makan dibuat oleh para chef profesional. Tapi, hanya bisa menikmatinya sendiri. Bahkan, bisa di hitung dengan jari saat makan bersama.


"Minumlah," titahnya, saat Ana tengah mengenakan jaketnya.


"Aku tidak suka teh manis, buk." ucapnya.


"Teh ini bisa mengurangi rasa mualmu." Ana hanya mengangguk pelan, dan meminum teh buatan ibunya. Benar saja, ia merasa perutnya lebih hangat sedikit mengurangi rasa pahit pada mulutnya.


Seperti biasa ia mengantarkan adiknya, kemudian ke toko kue tempat ia bekerja.


Banyak resep baru yang ia ciptakan, yang membuat pengunjung di toko ini semakin meningkat. Sibuk dengan pekerjaannya hingga ia hampir lupa waktu sudah menunjukan jam istirahat untuknya.


Wanita cantik bertubuh mungil itu, membuka apron yang melekat indah ditubuhnya, menggantungnya di salah satu tempat penyimpanan. Ia mencuci tangannya, kemudian ia mengambil jatah kue yang di berikan pemilik toko pada karyawannya, saat jam istirahat.


"Yuna." panggilan itu tampak tidak asing di telinganya, ia tak bergeming tangannya masih sibuk menyuapkan potongan- potongan kue ke mulut mungilnya. Dengan santai ia duduk di bawah pohon dengan memangku laptopnya.


"Endelson," ucap wanita yang kini tengah berada di sampingnya, saat ia mencoba mengintip layar laptop temannya.


"Kau seperti mengerti saja melihat perkembangan perusahaan itu," ucapnya lagi dengan mendaratkan tubuhnya duduk di sisi Yuna.


Yuna melirik sekilas tanpa merubah posisinya.


"Mana CV-nya?" Yuna menadahkan tangannya, meminta pada temannya. Rina memberikan CV untuk melamar pekerjaan.


Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit semua sudah selesai, Email pun terkirim.


"Beneran sudah selesai?" tanyanya, Yuna hanya mengangguk pelan, ia memberikan sebuah Map berwarna biru pada temannya.


"Pelajari! Di sana sudah ada kunci jawabannya, jangan kau hapal isinya tapi materinya, kau paham?" Rina hanya mengangguk.


"Kalau ada yang kurang paham, kau tanyakan!" titahnya, namun ia masih fokus dengan layar di depannya.


"Tadi aku melihat kau sedang membuka artikel tentang perusahaan Endelson, sekarang kau melihat artikel tentang perusahaan Wilson." Rina tampak heran dengan temannya, tidak ada jawaban sedikitpun dari wanita di sampingnya.


"Apa kau mau melamar ke sana? Sudahlah, jangan mimpi itu perusahaan besar, kita hanya orang bawahan," cicitnya.


"Ariando Group yang sekarang membutuhkan banyak operator seperti kita," jelasnya. Yuna masih terdiam, bukan soal lamaran pekerjaan, ia masih memantau cara kerja anak buahnya yang masih tersebar.


Ia membuka satu persatu, artikel Ia juga membuka artikel tentang perusahaan ARiando group. "Mungkin dengan masuk ke perusahaan ini aku bisa dengan mudah menjalankan rencanaku," gumamnya.


"Kenapa? Kau sudah siap pindah kerja?" tanyanya.


"Tidak! Kau saja dulu, nanti aku menyusul!" titahnya dengan beranjak berdiri.


"Kalau aku bekerja di sana, kita akan bertemu di mana? Sedangkan, aku tak mengetahui alamat rumahmu," ucapnya dengan menatap sendu.


"Kau punya nomer untuk menghubungiku, bukan?" tanyanya.


"Iyah, tapi kan aku ingin lebih dekat denganmu, bukankah kita sudah berteman lama?"


"Belum saatnya kau tahu! Jangan terlalu banyak tahu tentang aku, itu akan merusak kesehatan mentalmu," ucapnya dengan terkekeh.


"Sudah akh, gue mau sholat!" ucapnya dengan beranjak dan menjauh.


"Apa hubungannya coba, woy " Rina berteriak, namun tidak ada jawaban dari temannya, wanita cantik itu tak bergeming ia tetap melanjutkan langkahnya menjauh hanya lambaian tangan dari Yuna tanpa menoleh sedikitpun.


"Gayamu, Yun! Seperti Sultini saja, Songong!" cicitnya.


TBC