
Ana melepas kacamata yang melekat indah menutupi kornea coklat miliknya, menutup layar di depannya kemudian ia menggeser kursinya, perlahan berjalan mendekati Jordan yang tengah menunggunya. Nampak jelas ketegangan Jordan, saat menghadapi Nyonya muda di hadapannya.
"Kau selama ini tidak bekerja?"
Jordan mengerjapkan matanya, ia tidak tahu harus menjawab apa, tapi pesan dari kakaknya adalah jika berhadapan dengan Nyonya Anastasya bersikap lebih tenang. Karena wanita di hadapannya ini membaca seseorang dari mata dan gerak tubuhnya.
Jordan terus berpikir kemana arah bicara Nyonya- nya. Lama ia berpikir sampai membuat Ana berdecak.
Perlahan Jordan membuka mulutnya, Ia mencoba bersikap tenang disini dia tidak bersalah, tidak melakukan penghianatan.
"Aku bekerja di bawah perintah-Nya."
Ana menatap tajam, pria ini sungguh berbeda dengan James. Bagaimana bisa, dia bisa bekerja di bawah seorang penghianat.
"Apa kau tidak belajar dari kakakmu?" Ana duduk berhadapan dan memeriksa berkas yang di bawa Jordan.
"Kau orang yang jujur dan setia tapi kau salah! Gunakan otakmu, jangan terlalu menghargai! Kau ingat, kau bekerja di perusahaan ini, bukan dengan atasanmu, paham!" tuturnya dengan tak mengalihkan pandangannya dari berkas di tangannya.
"Aku mengerti, aku salah."
"Kau tahu dia menghianati ayahku?" tanyanya penuh selidik.
"Aku tidak tahu, aku terus di sibukkan dengan banyak pekerjaan pengawasan terhadap cabang baru." jelasnya.
"Itu adalah pengalihan Isu!" Ana berucap dengan menutup berkas di tangannya.
"Berapa banyak yang masih setia padaku?" tanyanya dengan menatap mata adik sahabatnya.
"Ini nyonya," Jordan memberikan semua bukti, selama ini dia diam- diam menaruh curiga pada Bambang, dia mengumpulkan bukti, Ia patuh pada Bambang untuk sebuah penyelidikan siapa saja penghianat di perusahaan ini.
"Kerja bagus! Kau memang tak seperti James tapi kau juga tak seburuk yang ku pikirkan."
"Aku akan pergi!"
Jordan mengerutkan dahinya, dia berpikir keras bagaimana bisa kakaknya bekerja den wanita seperti ini, Ana tersenyum.
"Jangan terlalu di paksakan, kalau kau tidak mengerti ya kau tanyakan, buat apa kau pura - pura paham padahal kau sendiri tak tahu arah bicaraku."
"Ini tugasmu selama aku pergi!" Ana memberikan chip kepada Jordan. Semua sudah jelas, aku percayakan padamu.
"Apakah tidak berlebihan jika Anda mempercayakan kepada ku?" tanyanya.
"Jaminannya adalah kakakmu!" Ana tersenyum smrik.
"Aku tidak akan mengecewakanmu, nyonya." Ia berbicara dengan penuh keyakinan.
"Dengarkan aku baik- baik, kau buat jaringan seluas- luasnya. Tutup akses Eric di setiap negara, perkuat jaringanku. Kau mulai dengan USA. Masuklah, dalam organisasi besar. Selain itu, kau jadikan dirimu orang kepercayaan Eric! Dia tidak akan bisa mempercayai Bambang." Ana berucap dengan menatap kornea biru pria di hadapannya.
"Apa aku mampu melakukannya, Nona?" Tampak keraguan dari adik sahabatnya ini.
"Keyakinan dan tekad yang kuat itu adalah dasar! Semua strategi sudah aku siapkan dalam chip yang kau pegang saat ini."
"Bagaimana bisa Anda membuat rencana secepat ini, Nyonya?" Ia merasa heran karna baru saja ia dan nyonya- nya mengadakan rapat.
"Itu sudah ku buat sejak lama, segala kemungkinan sudah ku perhitungkan dan ku buat penyelesaiannya. Termasuk, keputusanku untuk menghilang, segala kemungkinan yang akan datang kedepannya sudah aku prediksi."
Jordan menatap kagum, pantas saja kakaknya bisa memiliki kecerdasan dan prediksi yang hampir tepat. Ternyata, mereka mengambil keputusan penuh dengan perhitungan yang matang.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya.
"Besok pagi kabar kematianku harus sudah tersebar di seluruh dunia. Tidak boleh ada yang tahu termasuk suamiku!" titahnya.
"Kalau kau bisa bekerja tanpa James, tidak masalah dia tidak tahu. Tapi ku rasa kau membutuhkan bantuannya."
"Aku akan menghubungi kalian di waktu yang tepat. Jika, kau bekerja dengan sungguh- sungguh maka saat aku kembali kita sudah siap untuk melakukan penyerangan balik," tegasnya.
"Pergilah! Ingat! Kau jaga chip dan nyawamu baik- baik. Dalam hal ini, tidak boleh ada yang kau percaya, hanya James tidak ada alasan apapun untuk membela kelalaian mu! k
Kau mengerti maksud ucapanku, bukan?"
Jordan hanya mengangguk pelan, ia mendapat misi yang sangat berat. Dia tidak tahu kapan nyonya- nya kembali. Hanya kata setia pada Nyonya-nya, yang ia pegang.
"Pergilah! Siapkan semuanya! Aku akan membawa keluargaku," jelasnya.
"Kau sudah pastikan tidak ada yang mengenal wajah Orangtuaku saat ini bukan? tanyanya.
"Aman, Nyonya," jawabnya.
Jordan membungkukkan badannya dan pergi berlalu meninggalkan Nyonya-nya dengan perasaan yang sulit ia artikan.Baru saja ia bekerja dengannya, menegangkan dan entah kenapa membuat dia senang.
Di tempat yang berbeda, Ana tengah sibuk berkutat dengan pekerjaannya. Banyak yang harus ia kerjakan untuk perusahan ini. Bahkan, ia memeriksa hasil kerja Jordan terhadap karyawannya.
Ia memeriksa semua berkas yang ada di tempat ini, aset perusahaan ia simpan pada chip yang ia pegang saat ini. "Mereka bisa mengambil perusahaan ini, tapi ku yakin tidak akan ada yang bisa menangani saat mesin ini mengalami kerusakan. Bahkan perancangnya adalah kakek dan aku." Ana tersenyum penuh kemenangan, dengan memasukan semua hal- hal yang penting ke dalam tas kerjanya.
Bukan cuma itu, Anastasya memblokir semua akses.
Hari sudah hampir malam, ia meminta kepala pelayan di rumah Ayahnya untuk menyiapkan kepergiannya. Ana kembali, sampai di rumah ia melihat keluarganya sudah siap dengan koper mereka. Ana menaiki tangga menuju kamarnya, untuk berkemas. Tidak banyak yang ia bawa, sebagian besar yang ada di kopernya adalah berkas- berkas penting perusahaan. Ana menuruni anak tangga dengan langkah pasti, melihat arloji yang melekat indah di pergelangan tangannya.
Mereka belum mengetahui apa yang terjadi, namun meminta penjelasan anak sulungnya saat ini bukanlah waktu yang tepat. Mereka percaya bahwa, apapun keputusan anaknya sudah melalui perhitungan yang matang.
Ana menghampiri kepala pelayan di rumah utama milik keluarganya, "Pak, aku titip rumah ini," pintanya dengan tersenyum.
"Maaf, jika saya lancang. Anda akan membawa Tuan dan nyonya kemana?" tanyanya dengan sedikit takut.
"Ke suatu tempat, Jika aku telah tiada, " Ana menghirup udara di sekitarnya, sebelum melanjutkan kalimatnya. "Bantu Jordan sebisa kalian, ikuti apa yang ia perintahkan!" titahnya.
"Kami pamit, Jaga diri kalian baik- baik!"
Sampai di ambang pintu, ia bertemu dengan Jordan. Pria bertubuh tinggi, kekar itu membungkukkan badannya.
"Heli sudah siap, Nyonya," ucapnya dengan menundukan kepalanya.
Ana terkekeh, "Kau sudah urus rencana ku bukan? Sekarang aku akan mengendarai mobilku sendiri."
"Tidak mungkin Anda memakai mobil kuno itu, nyonya." Jordan tidak percaya dengan keputusan nyonya- nya. Kehilangan satu perusahaan tidak membuatnya bangkrut. tapi kenapa mereka harus repot menggunakan mobil tua dan bahkan tak membawa sedikit pun kemewahan.
"Lakukan tugasmu dengan baik! Aku pamit, kau ingat! besok pagi kabar itu sudah tersebar di seluruh dunia.
"Aku paham! Apa aku boleh tahu, di mana anda tinggal?!" tanyanya dengan penuh rasa penasaran.
"Tidak!" sentaknya.
Ana membuka mobil Mercedes Benz, mobil yang sudah sangat tua. Bukan tanpa alasan dia memakai mobil yang hampir tidak memiliki harga baik di pasaran.
Kepala pelayan dan Jordan membantu kedua orang tuanya. Sungguh sangat sempit, mobil sekecil ini harus membawa dua kursi roda yang di ikat di atas mobil, bahkan bagasi pun gak mampu menampung koper mereka. Membuat isi mobil ikut penuh.
Arya sang adik duduk di depan sembari terus berceloteh dengan keputusan kakaknya yang sudah menggila menurutnya.
Ana hanya terkekeh pelan, dengan masih fokus memegang stir mobilnya. Mendengar ocehan adiknya.
TBC