I'M Sorry My Hubby

I'M Sorry My Hubby
Pria Menjijikan



Matanya membulat sempurna merasa kesal pada seseorang yang tengah lancang menggendongnya. Memberontak dengan mencoba menendang dan memukul dada pria ini. Namun nihil, semua usahanya sia-sia.


"Lepaskan, bajingan!" Dini memberontak namun tetap tidak digubris.


"Berisik, apa kau mau ibumu mengetahuinya, hah?" tanyanya dengan tersenyum menyeringai.


"Jaket siapa yang kau pakai? Apa kau bermain dengan pria lain selain pria tua itu, hah?!" bentaknya.


Tidak mendapat jawaban dari wanita yang dia ajak bicara membuatnya semakin geram. Dengan langkah cepat membawa Dini ke kamar, menutup pintu namun ia lupa untuk menguncinya. Melempar pada tempat tidur yang di hiasi sprei merah bermotif bunga rose.


Dini mulai menutupi tubuhnya dengan selimut dan mencoba lari dari pria pembawa Mala petaka bagi kehidupannya.


"Kumohon, Jangan!" pintanya ketika pria itu mulai melepas bajunya. Dini berdiri dan hendak berlari menjauh, namun sayangnya tangan laki-laki itu kembali Manarik dan membanting gadis yang mencoba lari dari keadaan.


"Enak sekali, kau yah?! Bersenang-senang dan membuatku cemburu!" cicitnya dengan membuka semua bajunya.


"Bajingan, lepaskan!" Dini memberontak ketika pria itu tengah mencoba melucuti pakaiannya.


"Tidak akan pernah! Bahkan aku sudah tidak bisa menyentuhmu sejak kejadian itu, sekaranglah waktu yang tepat untuk menikmati mu lagi!"


"Sialan!" geramnya ketika pria itu tengah berhasil melempar busana yang ia kenakan.


"Kau laki-laki paling menjijikan!"


Plak ...


"Diam, Kau!" bentaknya dengan menampar pipi mulus Dini.


Dini mengusap pipinya yang terasa perih, akibat tamparan pria di hadapannya.


"Sekali lagi kau memberontak akan ku rusak hidup sahabat mu!" ancamnya dengan meraup dagu Dini yang masih menolak untuk disentuh.


"Jangan kau bawa sahabat Ku, Bajingan!" geramnya dengan mencoba mendorong pria dihadapannya. Namun tak membuatnya bergeming.


"Jangan sok jual mahal, kau adalah wanita murahan!"


"Dan kau adalah pria yang sangat menjijikan! Lepaskan, aku! Aku sungguh tak Sudi disentuh olehmu!"


"Diam, Kau! Apa kau tidak merindukanku, Sayang?" tanyanya dengan tersenyum menyeringai.


"Cih, bahkan membayangkan wajahmu sangat membuatku jijik!"


"Baiklah, kau akan merasakan apa yang kau sebut menjijikan!" tukasnya dengan melepas celana yang masih melekat ditubuh nya.


"Tidak, aku tidak mau!" Dini berangsur menjauhkan tubuhnya hendak berlari. lagi dan lagi pria itu menarik tangannya dan mendorongnya hingga kembali tertidur.


Merasakan sentuhan yang sangat membuatnya muak. Dini sudah sangat membenci arti dari kata sek. Baginya hal itu adalah sesuatu yang sangat menyiksa dan memuakkan.


Ingin rasanya Dini berlari. Tubuhnya telah kaku dan terasa remuk. Setelah tadi tubuhnya dinikmati pria hidung belang dan sekarang dia harus merelakan tubuhnya kembali dinikmati oleh pacar dari iblis itu.


Dini POV


Jika mereka berkata bercinta adalah surga dunia. Bagiku ini adalah hal yang paling ku benci. Laki-laki ini seperti seorang binatang yang kehausan. Menikmati setiap inci tubuhku.


Ingin rasanya ku congkel matanya ketika dia memejamkan matanya. Jika aku memiliki kuasa maka akan ku bunuh dia saat ini juga. Tapi aku takut wanita iblis itu akan menyiksaku, sungguh aku ingin tertawa tentang sebuah kehidupan yang begitu menyiksa.


Mengapa hidupku sungguh sangat menjijikan. Dinikmati setiap laki-laki. Mendengar desahannya saja ingin rasanya ku robek mulutnya dan ku putuskan pita suaranya agar aku tidak mendengar desahannya seumur hidupku.


"Apa yang kalian lakukan?!" Ibuku berada diambang pintu dengan amarahnya.


Pria bajingan itu masih tak bergeming hingga wanita iblis itu menarik tubuhnya dengan kasar. Menyadari akan ada ancaman pria itu memeluk wanita yang adalah ibuku. Wanita iblis itu selalu berkata bahwa dia yang telah melahirkan aku. Kenyataannya itu semua adalah kebohongan.


Pria sialan itu memeluk wanita iblis itu dengan sesekali mengecup bibirnya dan itu sukses membuat aku merasa jijik. Aku berangsur menegakkan tubuhku duduk di ujung tempat tidurku. Menyelimuti tubuhku yang sudah tanpa sehelai benangpun.


"Sayang, kau tahu wanita itu telah menggodaku," ucapnya dengan memeluk tubuh wanita iblis itu dan masih tanpa mengenakan pakaian. Sungguh sangat menjijikan pria seperti itu.


Aku menatap wajah ibuku dan aku melihat amarah dari matanya. Tubuhku gemetar aku sudah merasa sangat takut.


"Bohong, Buk! Aku tidak menggodanya," sangkal ku dengan memeluk selimutku.


"Mana mungkin aku tergoda dengan gadis ini sayang, jelas kau lebih cantik dan tubuhmu lebih indah," cicitnya yang semakin membuat ku membencinya.


"Kau!" Aku menatap tajam dengan penuh amarah pada pria yang sangat tidak memiliki rasa malu.


"Buk, aku sungguh tak berbohong, percayalah, dia yang memaksaku melakukannya," tukas ku dengan Isak tangis.


"Cukup!" teriaknya dengan menutup telinganya.


"Dasar wanita jal*ng!" Dia berjalan dengan penuh amarah menjambak rambutku bukan hanya itu ia menampar kedua pipiku hingga rasa perihnya seakan menjalar ke seluruh tubuhku.


"Aku berani bersumpah, Buk!"


"Diam, Kau!" Dia kembali membentak ku.


"Jangan, Buk, aku mohon!" pintaku saat dia mengambil gunting dan akan menggoreskan nya ke wajahku.


"Stop!" teriakan pria tidak tahu malu itu menghentikan aksinya.


"Kau membela wanita jal*ng ini, hah?!"


"Bukan begitu! Kau lupa dia adalah aset kita kalau wajahnya hancur, kita tidak dapat menjualnya," cicitnya. Mendengar itu ingin rasanya aku mengambil gunting itu dan membunuh mereka berdua. Tapi bahkan aku tidak memiliki keberanian untuk melakukan hal gila.


Iblis itu tampak berpikir dengan ucapan pasangannya.


"Kau benar!"


wanita iblis melemparkan gunting itu tepat di sampingku. Ia mencengkram daguku dan mengancam ku agar tidak mendekati kekasihnya. Ingin rasanya aku berkata bahwa aku sangat jijik dengan kekasih kesayangannya jangankan untuk dekat melihatnya saja sudah membuat ku ingin muntah.


Mereka berlalu setelah pria menjijikan itu kembali mengenakan celananya. Namun tidak dengan bajunya yang masih tergeletak di atas tempat tidurku. Aku mengambil baju itu dan ku gunting hingga tak berbentuk. Aku mendekap kedua lututku aku menangis sejadi- jadinya.


Kesal, marah tapi pada siapa? Benci aku sangat benci kehidupan ini. Aku merasa aku dilahirkan hanya untuk menjadi pemuas nafsu laki- laki tak bertanggung jawab. Aku harus pergi, tapi kemana? Aku terus bergelut dengan pikiranku.


Aku masih teringat kenangan masa laluku. Terekam baik saat aku masih sangat kecil. Hidup dengan orang tua yang begitu sangat menyayangi aku.


Namun, sejak Ibu meninggal aku bahkan tidak merasakan arti sebuah kebahagiaan. Terlebih Ketika ayah memutuskan menikahi wanita iblis ini. Tanpa sepengetahuan ayahku dia mengajarkanku sebuah pergaulan bebas diusia ku yang masih remaja. Wanita iblis ini pintar bersandiwara.


Hingga karena wanita itu ayahku terkena serangan jantung melihat aku tengah bersama salah satu pelanggannya di sebuah kamar hotel dan itu semua memang rencana wanita iblis itu menjebak aku. Sehingga ayahku meninggal. Sungguh aku sangat membenci. Dia benar-benar menghancurkan kebahagiaan dan harapan ku.


Sejak kepergian ayah, aku sudah hidup menjadi wanita malam. Beruntung aku bertemu Arini dan Shinta. Meski iblis itu bersahabat dengan ibunya Arini karena sebuah tujuan yang pada akhirnya aku dan Arini harus terpisah. Namun mengenal Arini adalah hal terindah dalam hidupku.


TBC